Tradisi Hutan Tailan
| Tipe | Silsilah Dhamma |
|---|---|
| Aliran | Buddhisme Theravāda |
| Pembentukan | sekitar 1900; Isan, Tailan |
| Kepala Silsilah |
|
| Maksim Pendirian | Kebiasaan para mulia (ariyavaṃsa) Praktik Dhamma yang selaras dengan Dhamma (dhammānudhammapaṭipatti) |
| Tradisi Hutan Tailan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Biku | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Sīladharā | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Artikel Terkait | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tradisi Hutan Kammaṭṭhāna Tailan (dari Pali: kammaṭṭhānacode: pi is deprecated [kəmːəʈʈʰaːna] yang berarti "tempat kerja"), umumnya dikenal di Barat sebagai Tradisi Hutan Tailan, adalah sebuah silsilah dari sangha (persaudaraan monastik) dalam tradisi Theravāda di Tailan.
Tradisi Hutan Tailan dimulai sekitar tahun 1900 bersama Ajahn Mun Bhūridatto, yang ingin mempraktikkan monastisisme buddhis dan praktik-praktik meditasinya, menurut standar normatif dari Buddhisme awal. Setelah belajar dengan Ajahn Sao Kantasīlo dan mengembara menyusuri timur laut Tailan, Ajahn Mun dilaporkan menjadi seorang Anāgāmī dan mulai mengajar di Tailan Timur Laut. Ia berjuang untuk kebangkitan Buddhisme Awal, bersikeras pada ketaatan yang ketat terhadap kode monastik buddhis yang dikenal sebagai Vinaya dan mengajarkan praktik jhāna serta realisasi Nibbāna.
Awalnya, ajaran Ajahn Mun mendapat perlawanan sengit, tetapi pada 1930-an kelompoknya diakui sebagai faksi resmi Buddhisme Tailan, dan pada 1950-an hubungan dengan kemapanan kerajaan serta keagamaan membaik. Pada 1960-an, siswa-siswa Barat mulai tertarik pada gerakan ini, dan pada 1970-an wihara-wihara cabang dari tradisi ini mulai didirikan di Barat.
Sikap yang mendasari Tradisi Hutan Tailan mencakup ketertarikan pada efektivitas empiris dari praktik tersebut, perkembangan individu, dan penggunaan keterampilan dalam praktik serta kehidupan mereka.[1]
Sejarah
Gerakan Dhammayut (abad ke-19)
Sebelum otoritas dipusatkan pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, wilayah yang saat ini dikenal sebagai Tailan merupakan kerajaan negara-kota semi-otonom (bahasa Tailan: mueang). Kerajaan-kerajaan ini semuanya diperintah oleh gubernur lokal turun-temurun, dan meskipun independen, membayar upeti kepada Bangkok, negara-kota pusat paling kuat di wilayah tersebut. Setiap daerah memiliki adat istiadat agamanya sendiri menurut tradisi lokal, dan bentuk-bentuk Buddhisme yang secara substansial berbeda hadir di antara mueang.[2]: 2–5 [3]: 16, 21 Meskipun semua ragam lokal dari Buddhisme Tailan regional ini mengembangkan elemen adat mereka sendiri yang berkaitan dengan pengetahuan roh lokal, semuanya dibentuk oleh masuknya tradisi Buddhisme Mahāyāna dan Tantrik India, yang tiba di daerah tersebut sebelum abad keempat belas.[2]: 5 Selain itu, banyak dari kaum monastik di desa-desa terlibat dalam perilaku yang tidak konsisten dengan kode monastik buddhis (Pali: vinaya),[3]: 16 [4] termasuk bermain permainan papan, dan berpartisipasi dalam perlombaan perahu serta perang air.[2]: 29 [5]: 51–52

Pada tahun 1820-an Pangeran muda Mongkut (1804–1866), calon raja keempat dari Kerajaan Rattanakosin (Siam), ditahbiskan sebagai seorang biku sebelum naik takhta di kemudian hari.[3]: 21 [6] Ia bepergian di sekitar wilayah Siam dan dengan cepat merasa tidak puas dengan kualitas praktik buddhis yang dilihatnya di sekitarnya.[7] Ia juga prihatin mengenai keaslian silsilah penahbisan, dan kapasitas badan monastik untuk bertindak sebagai agen yang menghasilkan buah kamma baik (Pali: puññakkhettaṃ, yang berarti "ladang kebajikan/pahala").[8]
Mongkut mulai memperkenalkan inovasi dan reformasi kepada sejumlah kecil biku, menggantikan praktik magis dengan ajaran rasional berbasis kitab suci. Ia dan para elit Siam lainnya memiliki ketidaksetujuan yang sama terhadap sifat takhayul Buddhisme pada masa itu, yang mendorong reformasi Mongkut yang mengambil inspirasi dari kontaknya dengan kaum intelektual Barat.[2]: 6–7 [web 1] Ia menolak adat istiadat dan tradisi lokal, lalu sebaliknya beralih ke Kanon Pali, mempelajari teks-teks dan mengembangkan gagasannya sendiri terkait hal itu.[2]: 6–7 [9]: 89 [web 1] Oleh karena meragukan keabsahan silsilah yang ada, Mongkut mencari silsilah biku dengan praktik yang otentik, yang ia temukan di antara orang-orang Mon Burma di kawasan tersebut.[2]: 6 [3]: 34 Ia ditahbiskan kembali di kelompok ini, yang membentuk dasar bagi gerakan Dhammayut.[web 1] Ia kemudian pergi ke Sri Lanka untuk mengumpulkan catatan otentik mengenai Vinaya dan memulai kelompok studi untuk mempromosikan pemahaman tentang prinsip-prinsip Buddhisme Klasik.[10][web 1] Istilah "Dhammayut" dalam bahasa Pali ("Thammayut" dalam bahasa Tailan) berarti "Penganut Dhamma."[11]: 902 [2]: 6
Reformasi Mongkut bersifat radikal, memaksakan ortodoksi kitab suci pada berbagai bentuk Buddhisme Tailan pada masa itu, "berusaha membangun identitas nasional melalui reformasi agama."[2]: 8 [web 1][note 1] Sebuah poin yang kontroversial adalah keyakinan Mongkut bahwa Nibbāna tidak dapat dicapai di zaman kita yang telah merosot ini dan bahwa tujuan ordo buddhis adalah untuk mempromosikan cara hidup bermoral serta melestarikan tradisi-tradisi Buddhis.[12][web 1][note 2]
Saudara laki-laki Mongkut, Nangklao, Raja Rama III, raja ketiga dari Kerajaan Rattanakosin, menganggap keterlibatan Mongkut dengan orang-orang Mon, yang merupakan etnis minoritas, sebagai sesuatu yang tidak pantas, lalu ia membangun sebuah wihara di pinggiran kota Bangkok.[13] Pada tahun 1836, Mongkut menjadi kepala wihara pertama di Wat Bowonniwet Vihara, yang kemudian menjadi pusat administrasi ordo Thammayut hingga saat ini.[11]: 696 [14]
Para partisipan awal gerakan ini terus mengabdikan diri pada perpaduan studi tekstual dan meditasi yang telah mereka temukan dari teks-teks yang mereka terima. Namun, Thanissaro mencatat bahwa tidak satu pun dari para biku tersebut yang dapat membuat klaim yang membuktikan bahwa doktrin tersebut secara definitif mengarah pada pencerahan.[13]
Gerakan reformasi Dhammayut mempertahankan pijakan yang kuat kelak saat Mongkut naik takhta. Selama beberapa dekade berikutnya para biku Dhammayut terus melanjutkan studi dan praktik mereka.[11]: 902
Periode pembentukan (sekitar 1900)
Tradisi Hutan Kammaṭṭhāna dimulai sekitar tahun 1900 bersama Ajahn Mun Bhūridatto, yang belajar dengan Ajahn Sao Kantasīlo, dan ingin mempraktikkan monastisisme buddhis, serta praktik-praktik meditasinya, menurut standar normatif dari Buddhisme awal, yang diistilahkan oleh Ajahn Mun sebagai "kebiasaan para mulia".
Wihara Wat Liap dan reformasi Pemerintahan Kelima
Saat ditahbiskan dalam gerakan Dhammayuttika Nikāya, Ajahn Sao (1861–1941) mempertanyakan ketidakmungkinan mencapai Nibbāna.[web 1] Ia menolak orientasi tekstual gerakan Dhammayut dan mulai mempraktikkan Dhamma secara nyata.[web 1] Pada akhir abad kesembilan belas ia ditugaskan sebagai kepala wihara Wat Liap, di Ubon. Menurut Phra Ajahn Phut Thaniyo, salah satu murid Ajahn Sao, Ajahn Sao "bukanlah seorang penceramah atau pembicara, melainkan seorang praktisi," yang sangat sedikit berbicara saat mengajar murid-muridnya. Ia mengajari murid-muridnya untuk "Bermeditasi pada kata 'Buddho,'" yang akan membantu mengembangkan konsentrasi (samādhi) dan perhatian-penuh (sati) pada objek-objek meditasi.[web 2][note 3]
Ajahn Mun (1870–1949) pergi ke wihara Wat Liap segera setelah ditahbiskan pada tahun 1893. Di sana, ia mulai mempraktikkan meditasi kasiṇa, yang di dalamnya kewawasan (sati) diarahkan menjauh dari tubuh. Meskipun ini mengarah pada keadaan samatha (berdiam-tenang), itu juga mengarah pada munculnya penglihatan-penglihatan dan pengalaman di luar tubuh.[15] Ia kemudian beralih menjaga kewawasan pada tubuhnya setiap saat,[15] melakukan pemindaian penuh pada tubuh melalui praktik meditasi berjalan,[16] yang mengarah pada keadaan berdiam-tenang yang lebih memuaskan.[16] Selama masa ini, Chulalongkorn (1853–1910), penguasa kelima Kerajaan Rattanakosin, dan saudaranya Pangeran Wachirayan, memprakarsai modernisasi budaya di seluruh wilayah tersebut. Modernisasi ini mencakup kampanye berkelanjutan untuk menyeragamkan Buddhisme di antara desa-desa.[17] Chulalongkorn dan Wachiraayan diajar oleh tutor-tutor Barat dan memiliki rasa ketidaksukaan terhadap aspek-aspek mistik Buddhisme.[18][note 4] Mereka meninggalkan pencarian Mongkut atas pencapaian mulia, dan secara tidak langsung menyatakan bahwa pencapaian mulia tidak lagi mungkin diraih. Dalam sebuah pengantar kode monastik buddhis yang ditulis oleh Wachirayan, ia menyatakan bahwa aturan yang melarang biku mengklaim pencapaian yang lebih tinggi sudah tidak lagi relevan.[19]
Selama masa ini, pemerintah Tailan memberlakukan undang-undang untuk mengelompokkan faksi-faksi ini ke dalam persaudaraan monastik resmi. Para biku yang ditahbiskan sebagai bagian dari gerakan reformasi Dhammayut kini menjadi bagian dari ordo Dhammayut, dan seluruh sisa biku regional dikelompokkan bersama sebagai ordo Mahā Nikāya.
Anagami yang mengembara
Setelah masa tinggalnya di Wat Liap, Ajahn Mun mengembara menyusuri kawasan Timur Laut.[15][20] Ajahn Mun masih mendapat penglihatan,[20][note 5] ketika konsentrasi (samādhi) dan kewaspadaannya (sati) hilang, tetapi melalui proses coba-coba ia akhirnya menemukan metode untuk menjinakkan pikirannya.[20]
Seiring pikirannya memperoleh stabilitas batin yang lebih kokoh, ia perlahan-lahan menuju Bangkok, berkonsultasi dengan teman masa kecilnya Chao Khun Upali mengenai praktik-praktik yang berkaitan dengan pengembangan kebijaksanaan (Pali: paññā, juga berarti "wawasan" atau "kearifan"). Ia kemudian pergi untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, tinggal di gua-gua di Lopburi, sebelum kembali ke Bangkok untuk terakhir kalinya demi berkonsultasi dengan Chao Khun Upali, yang sekali lagi mengenai praktik paññā.[21]
Merasa yakin dengan praktik paññā-nya, ia berangkat ke Gua Sarika. Selama masa tinggalnya di sana, Ajahn Mun sakit kritis selama beberapa hari. Setelah obat-obatan gagal menyembuhkan penyakitnya, Ajahn Mun berhenti minum obat dan memutuskan untuk mengandalkan kekuatan praktik Buddhisnya. Ajahn Mun menyelidiki sifat dasar pikiran dan rasa sakit ini, hingga penyakitnya menghilang, dan sukses mengatasi penglihatan yang menampilkan sosok iblis pembawa gada yang mengklaim sebagai pemilik gua. Menurut catatan tradisi hutan, Ajahn Mun mencapai tingkat mulia anagami atau yang-tidak-kembali (Pali: "anāgāmī") setelah berhasil menaklukkan makhluk ini dan melewati visi-visi selanjutnya yang ia temui di gua.[22]
Pendirian dan perlawanan (1900-an–1930-an)
Pendirian
Ajahn Mun kembali ke kawasan Timur Laut untuk mulai mengajar, yang menandai awal mulanya dari tradisi Kammaṭṭhāna. Ia mendesak ketaatan yang cermat terhadap Vinaya, kode monastik Buddhis, dan terhadap protokol-protokol, yang merupakan instruksi mengenai kegiatan sehari-hari seorang biku. Ia mengajarkan bahwa kebajikan adalah urusan pikiran, bukan sekadar ritual, dan bahwa niat membentuk esensi kebajikan, alih-alih pelaksanaan ritual yang tepat.[23] Ia menegaskan bahwa konsentrasi meditasi itu sangat diperlukan dalam Jalan buddhis dan bahwa praktik jhāna[24] serta pengalaman akan Nirwana (Nibbāna) masih sangat dimungkinkan bahkan di era modern.[25]
Perlawanan
Pendekatan Ajahn Mun menghadapi perlawanan dari kemapanan keagamaan.[web 1] Ia menantang pendekatan berbasis teks dari para biku perkotaan, menentang klaim-klaim mereka mengenai ketidakmungkinan pencapaian jhāna dan Nibbāna melalui ajaran yang berlandaskan pengalamannya sendiri.[web 1]
Laporannya bahwa ia telah meraih sebuah pencapaian mulia ditanggapi dengan reaksi yang beragam di antara para klerus Tailan. Pejabat gerejawi Yang Mulia Chao Khun Upali menaruh hormat yang besar kepada Ajahn Mun, yang akan menjadi faktor krusial dalam ruang gerak yang diberikan otoritas negara kepadanya maupun murid-muridnya di kemudian hari. Tisso Uan (1867–1956), yang di kemudian hari naik ke pangkat gerejawi tertinggi di Tailan yakni somdet, secara menyeluruh menolak keotentikan pencapaian Ajahn Mun.[26]
Ketegangan di antara tradisi hutan dengan hierarki administratif Thammayut meningkat pada tahun 1926 ketika Tisso Uan berusaha mengusir seorang biku Tradisi Hutan senior yang bernama Ajahn Sing—bersama dengan pengikutnya yang berjumlah 50 orang biku serta 100 orang biarawati dan umat awam—ke luar dari Ubon, yang berada di bawah yurisdiksi Tisso Uan. Ajahn Sing menolak, dan mengatakan bahwa dirinya dan banyak pendukungnya dilahirkan di sana, dan mereka tidak melakukan perbuatan apa pun yang membahayakan orang lain. Setelah melalui perdebatan dengan para pejabat distrik, arahan itu pun pada akhirnya dibatalkan.[27]
Pelembagaan dan pertumbuhan (1930-an–1990-an)
Penerimaan di Bangkok
Pada akhir dasawarsa 1930-an, Tisso Uan secara resmi mengakui para biku Kammaṭṭhāna sebagai sebuah faksi.[28] Namun, bahkan setelah kemangkatan Ajahn Mun pada tahun 1949, Tisso Uan masih bersikukuh bahwa Ajahn Mun sama sekali tidak pernah terkualifikasi untuk mengajar karena ia belum lulus dari kursus-kursus studi bahasa Pali resmi dari pemerintah.
Pasca kemangkatan Ajahn Mun pada tahun 1949, Ajahn Thate Desaransi didapuk menjadi kepala de facto atas Tradisi Hutan hingga kemangkatannya pada tahun 1994. Hubungan antara pihak gereja Thammayut dan biku Kammaṭṭhāna berubah pada tahun 1950-an ketika Tisso Uan jatuh sakit dan Ajahn Lee datang untuk mengajarkan wawasan meditasi guna membantunya bertahan dari penyakitnya.[29][note 6] Tisso Uan kelak pulih dari penyakitnya, dan persahabatan antara Tisso Uan serta Ajahn Lee pun terjalin, yang menyebabkan Tisso Uan mengubah pendapatnya atas tradisi Kammaṭṭhāna, lalu ia mengundang Ajahn Lee untuk mengajar di perkotaan. Peristiwa tersebut menjadi suatu titik balik krusial dalam hubungan antara pihak administrasi Dhammayut dan pihak Tradisi Hutan, dan minat masyarakat terus meningkat manakala teman Ajahn Maha Bua yang bernama Nyanasamvara naik ke tingkatan somdet dan kelak menjadi Sangharaja Tailan. Selain itu, para klerus yang direkrut sebagai guru sejak masa Pemerintahan Kelima kini mulai digantikan oleh para staf pengajar sipil awam, yang pada akhirnya membuat para biku Dhammayut terperangkap dalam krisis identitas.[30][31]
Pencatatan ajaran hutan
Pada awal mula tradisi, para pendirinya dikenal mengabaikan pencatatan ajaran mereka, sebaliknya mereka mengembara melintasi wilayah pedesaan Tailan untuk memberikan instruksi individu kepada para siswa yang berdedikasi. Namun, panduan meditasi terperinci dan risalah tentang ajaran buddhis muncul pada akhir abad ke-20 dari para siswa generasi pertama Ajahn Mun dan Ajahn Sao saat ajaran Tradisi Hutan mulai menyebar di kalangan penduduk perkotaan di Bangkok dan selanjutnya mengakar kuat di Barat.
Ajahn Lee, salah seorang murid Ajahn Mun, berperan penting dalam menyebarluaskan ajaran Mun kepada khalayak awam Tailan yang lebih luas. Ajahn Lee menulis beberapa buku yang mencatat posisi doktrinal dari tradisi hutan dan menjelaskan konsep-konsep Buddhis yang lebih luas ke dalam istilah Tradisi Hutan. Ajahn Lee beserta para siswanya dianggap sebagai subsilsilah yang dapat dibedakan yang terkadang disebut sebagai "Garis Silsilah Chanthaburi". Salah seorang siswa Barat yang berpengaruh dalam garis silsilah Ajahn Lee adalah Thanissaro Bhikkhu.
Wihara-wihara hutan di Selatan

Ajahn Buddhadasa Bhikkhu (27 Mei 1906 - 25 Mei 1993) menjadi seorang biku di Wat Ubon, Chaiya, Surat Thani di Tailan pada 29 Juli 1926, ketika ia berusia dua puluh tahun, sebagian untuk mengikuti tradisi pada masa itu dan juga untuk memenuhi keinginan ibunya. Preseptornya memberinya nama buddhis "Inthapañño" yang berarti "Ia yang bijaksana". Ia adalah seorang biku Mahānikāya dan lulus pada tingkat ketiga studi Dhamma di kampung halamannya dan dalam studi bahasa Pali pada tingkat ketiga di Bangkok. Setelah ia selesai mempelajari bahasa Pali, ia menyadari bahwa tinggal di Bangkok tidak cocok untuknya karena para biku dan orang-orang di sana tidak mempraktikkan pencapaian hati dan inti ajaran Buddhisme. Maka ia memutuskan untuk kembali ke Surat Thani dan berlatih secara disiplin serta mengajar orang-orang untuk berlatih dengan baik sesuai dengan inti ajaran Sang Buddha. Kemudian ia mendirikan Suanmokkhabālārama (Hutan Kekuatan Pembebasan) pada tahun 1932 yang merupakan gunung dan hutan seluas 118,61 ekar di Pum Riang, distrik Chaiya, Tailan Surat Thani. Tempat ini merupakan pusat meditasi Vipassanā dan Dhamma hutan. Pada tahun 1989, ia mendirikan The Suan Mokkh International Dharma Hermitage bagi para praktisi meditasi Vipassanā internasional di seluruh dunia. Terdapat retret meditasi hening selama 10 hari yang dimulai pada tanggal 1 setiap bulannya sepanjang tahun yang sifatnya gratis, tanpa pungutan biaya bagi para praktisi internasional yang tertarik untuk melatih meditasi. Ia merupakan biku sentral dalam mempopulerkan Tradisi Hutan Tailan di kawasan Selatan Tailan. Ia adalah seorang penulis Dhamma hebat yang menulis banyak buku Dhamma ternama: Handbook for Mankind, Heart-wood from the Bo Tree, Keys to Natural Truth, Me and Mine, Mindfulness of Breathing dan The A, B, Cs of Buddhism dll. Pada tanggal 20 Oktober 2005, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengumumkan pujian kepada "Buddhadasa Bhikkhu", sebagai sosok penting di dunia dan merayakan ulang tahunnya yang ke-100 pada tanggal 27 Mei 2006. Mereka mengadakan kegiatan akademis untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip buddhis yang telah diajarkan oleh Ajahn Buddhadasa kepada masyarakat di seluruh dunia. Oleh karena itu, ia merupakan praktisi hebat Tradisi Hutan Tailan yang berlatih dengan baik dan menyebarkan Dhamma kepada masyarakat di seluruh dunia guna menyadari inti dan jantung dari Buddhisme.[32]
Wihara-wihara hutan di Barat
Ajahn Chah (1918–1992) adalah tokoh sentral dalam mempopulerkan Tradisi Hutan Tailan di Barat.[33][note 7] Berlawanan dengan sebagian besar anggota Tradisi Hutan, ia bukanlah seorang biku Dhammayut, melainkan seorang biku Mahānikāya. Ia hanya menghabiskan satu akhir pekan bersama Ajahn Mun, tetapi memiliki guru-guru dalam Mahānikāya yang lebih banyak terpapar oleh Ajahn Mun. Hubungannya dengan Tradisi Hutan secara terbuka diakui oleh Ajahn Maha Bua. Komunitas yang didirikannya secara formal disebut sebagai Tradisi Hutan Ajahn Chah.
Pada tahun 1967, Ajahn Chah mendirikan Wat Pah Pong. Pada tahun yang sama, seorang biku Amerika dari wihara lain, Yang Mulia Sumedho (Robert Karr Jackman, kelak disebut Ajahn Sumedho) datang untuk tinggal bersama Ajahn Chah di Wat Pah Pong. Ia mengetahui tentang wihara tersebut dari salah seorang biku Ajahn Chah yang kebetulan dapat berbicara "sedikit bahasa Inggris". Pada tahun 1975, Ajahn Chah dan Sumedho mendirikan Wat Pah Nanachat, sebuah wihara hutan internasional di Ubon Ratchatani yang menawarkan layanan dalam bahasa Inggris.[34]
Pada tahun 1980-an Tradisi Hutan Ajahn Chah berekspansi ke Barat dengan mendirikan Wihara Buddhis Amaravati di Inggris (UK). Ajahn Chah menyatakan bahwa penyebaran Komunisme di Asia Tenggara memotivasinya untuk mendirikan Tradisi Hutan di Barat. Tradisi Hutan Ajahn Chah sejak saat itu telah berekspansi hingga mencakup Kanada, Jerman, Italia, Selandia Baru, Brasil, dan Amerika Serikat.[35]
Keterlibatan dalam politik (1994–2011)
Perlindungan kerajaan dan instruksi kepada elit
Dengan kemangkatan Ajahn Thate pada tahun 1994, Ajahn Maha Bua ditunjuk sebagai Ajahn Yai yang baru. Pada masa ini, otoritas Tradisi Hutan telah sepenuhnya dirutinkan (dilembagakan), dan Ajahn Maha Bua telah memiliki pengikut dari kalangan elit Bangkok loyalis-konservatif yang berpengaruh.[36] Ia diperkenalkan kepada Ratu dan Raja oleh Somdet Nyanasamvara Suvaddhano (Charoen Khachawat), untuk menginstruksikan mereka tentang cara bermeditasi.
Penutupan hutan

Baru-baru ini, Tradisi Hutan mengalami krisis seputar perusakan hutan-hutan di Tailan. Mengingat Tradisi Hutan telah mendapatkan daya tarik signifikan dari dukungan kerajaan dan kaum elit di Bangkok, Biro Kehutanan Tailan memutuskan untuk menyerahkan wilayah lahan hutan yang luas kepada Wihara-wihara Hutan, dengan mengetahui bahwa para biku hutan akan melestarikan lahan tersebut sebagai habitat untuk praktik Buddhis. Lahan di sekitar wihara-wihara ini dideskripsikan sebagai "pulau hutan" yang dikelilingi oleh area tebang habis yang tandus.
Selamatkan Bangsa Tailan
Di tengah badai Krisis finansial Tailan pada akhir 1990-an, Ajahn Maha Bua memprakarsai kampanye Selamatkan Bangsa Tailan—sebuah kampanye yang bertujuan untuk mengumpulkan modal guna menjamin mata uang Tailan. Menjelang tahun 2000, sebanyak 3.097 ton emas berhasil dikumpulkan. Pada saat kemangkatan Ajahn Maha Bua pada tahun 2011, diperkirakan 12 ton emas telah berhasil dikumpulkan, yang bernilai sekitar US$500 juta. Valuta asing senilai 10,2 juta dolar juga disumbangkan untuk kampanye ini. Seluruh hasil yang dikumpulkan kemudian diserahkan kepada bank sentral Tailan untuk menyokong Baht Tailan.[36]
Pemerintahan Tailan di bawah Perdana Menteri Chuan Leekpai berupaya menggagalkan kampanye Selamatkan Bangsa Tailan pada akhir 1990-an. Hal ini memicu Ajahn Maha Bua membalas dengan kritik keras, yang disebut-sebut sebagai faktor penyebab jatuhnya Chuan Leekpai dan terpilihnya Thaksin Shinawatra sebagai perdana menteri pada tahun 2001. Hierarki Dhammayut, yang bekerja sama dengan hierarki Mahānikāya dan melihat seberapa besar pengaruh politik yang dapat dikerahkan oleh Ajahn Maha Bua, merasa terancam dan mulai mengambil tindakan.[30][note 8]
Pada akhir tahun 2000-an, para bankir di bank sentral Tailan berusaha mengkonsolidasi aset bank dan memindahkan hasil dari kampanye Selamatkan Bangsa Tailan ke dalam rekening-rekening biasa yang darinya pengeluaran diskresioner diambil. Para bankir tersebut menerima tekanan dari para pendukung Ajahn Maha Bua yang secara efektif mencegah mereka melakukan hal tersebut. Tentang hal ini, Ajahn Maha Bua berkata bahwa "jelaslah bahwa menggabungkan rekening-rekening tersebut sama saja dengan mengikat leher seluruh orang Tailan bersama-sama dan melemparkan mereka ke laut; sama halnya dengan menjungkirbalikkan tanah bangsa ini."[36]
Selain aktivisme Ajahn Maha Bua untuk perekonomian Tailan, wiharanya diperkirakan telah menyumbangkan sekitar 600 juta Baht (US$19 juta) untuk tujuan amal.[37]
Ketertarikan politik dan kemangkatan Ajahn Maha Bua
Sepanjang dekade 2000-an, Ajahn Maha Bua dituduh memiliki kecenderungan politik—mulanya dari para pendukung Chuan Leekpai, dan kelak ia menerima kritikan dari pihak oposisi setelah kecamannya yang keras terhadap Thaksin Shinawatra.[note 9]
Ajahn Maha Bua merupakan murid generasi pertama Ajahn Mun yang paling terkemuka sekaligus yang terakhir. Ia mangkat pada tahun 2011. Dalam surat wasiatnya ia meminta agar seluruh sumbangan dari upacara pemakamannya diubah menjadi emas dan disumbangkan ke Bank Sentral—sejumlah tambahan 330 juta Baht dan 78 kilogram emas.[39][40]
Praktik-praktik
Praktik meditasi
Tujuan praktik adalah untuk mencapai "yang tanpa-kematian" (Pali: amata-dhamma), yaitu Nibbāna. Menurut pemaparan Tradisi Hutan Tailan, penyadaran akan yang-tanpa-kematian adalah tanpa-batas dan tak-terkondisi serta tidak dapat dikonseptualisasikan, dan harus dicapai melalui pelatihan mental yang mencakup keadaan penyerapan konsentrasi meditatif (Pali: jhāna). Oleh karena itu, para guru hutan secara langsung menantang gagasan "pandangan-terang/vipassanā kering"[41] (sukkha-vipassanā, yakni pandangan-terang tanpa pengembangan konsentrasi apa pun) dan mengajarkan bahwa Nibbāna harus dicapai melalui pelatihan mental yang mencakup keadaan mendalam dari penyerapan konsentrasi meditatif (Pali: jhāna), dan "pengerahan serta perjuangan" untuk "memotong" atau "membersihkan jalan" melalui "kekusutan" pengotor-pengotor batin, guna membebaskan kesadaran,[42][43] dan dengan demikian memungkinkan seseorang untuk melihatnya dengan jelas apa adanya (vipassanā), yang pada akhirnya menuntun seseorang untuk terbebas dari pengotor-pengotor tersebut.[44]
Kammaṭṭhāna — tempat kerja
Kammaṭṭhāna, (Pali: berarti “tempat kerja”) merujuk pada keseluruhan praktik untuk pada akhirnya menghapus kekotoran batin dari pikiran.[note 10]
Praktik yang umumnya dimulai oleh para biku dalam tradisi ini adalah bermeditasi pada apa yang oleh Ajahn Mun disebut sebagai lima "tema meditasi akar": rambut di kepala, bulu badan, kuku, gigi, dan kulit. Salah satu tujuan bermeditasi pada aspek tubuh yang terlihat dari luar ini adalah untuk melawan kegilaan/infatuasi pada tubuh dan untuk mengembangkan rasa dispassion (ketidakterikatan). Dari kelima hal tersebut, kulit dideskripsikan sebagai hal yang sangat signifikan. Ajahn Mun menulis, "Ketika kita tergila-gila dengan tubuh manusia, kulitlah yang membuat kita tergila-gila. Ketika kita membayangkan tubuh sebagai sesuatu yang indah dan menarik, serta mengembangkan keterpikatan, nafsu, dan kerinduan untuk hal tersebut, itu dikarenakan apa yang kita bayangkan mengenai kulit."[46]
Meditasi tingkat lanjut mencakup tema-tema klasik tentang perenungan dan perhatian penuh pada pernapasan:
- Sepuluh perenungan (anussati): daftar sepuluh tema meditasi yang dianggap sangat penting oleh Sang Buddha.
- Perenungan asubha: perenungan tentang ketidaksucian untuk memerangi nafsu indrawi.
- Brahmavihāra: penegasan niat baik (cinta kasih) bagi semua makhluk untuk memerangi niat buruk.
- Empat satipaṭṭhāna: kerangka acuan untuk membawa pikiran ke dalam konsentrasi yang mendalam
Perhatian-penuh yang menyelami tubuh (kāyagatāsati) dan perhatian-penuh pada pernapasan keluar-masuk (ānāpānasati) keduanya merupakan bagian dari sepuluh perenungan (anussati) dan empat satipaṭṭhāna serta umumnya diberikan perhatian khusus sebagai tema utama untuk difokuskan oleh seorang meditator.
Rutinitas monastik
Sila dan penahbisan
Terdapat beberapa tingkatan sila: Lima Sila, Delapan Sila, Sepuluh Sila, dan pāṭimokkha. Lima Sila (Pañcaśīla dalam bahasa Sanskerta dan Pañcasīla dalam bahasa Pāli) dipraktikkan oleh umat awam, baik untuk jangka waktu tertentu maupun seumur hidup. Delapan Sila merupakan praktik yang lebih ketat bagi umat awam. Sepuluh Sila merupakan aturan pelatihan bagi sāmaṇera dan sāmaṇerī (biku dan bikuni pemula). Pāṭimokkha adalah kode dasar disiplin monastik Theravāda, yang terdiri dari 227 aturan bagi biku dan 311 bagi bhikkhunī (bikuni).
Penahbisan sementara atau jangka pendek sangatlah umum di Tailan sehingga laki-laki yang belum pernah ditahbiskan terkadang disebut sebagai "belum selesai."[butuh rujukan] Penahbisan jangka panjang atau seumur hidup sangatlah dihormati. Proses penahbisan biasanya dimulai sebagai seorang anagārika, dengan mengenakan jubah putih.
Adat istiadat
Para biku dalam tradisi ini umumnya disapa dengan sebutan "Yang Mulia", atau dengan sebutan bahasa Tailan Ayya atau Taan (untuk laki-laki). Biku mana pun dapat disapa dengan "bhante" tanpa memandang senioritas. Bagi para sesepuh Sangha yang telah berkontribusi secara signifikan terhadap tradisi atau ordo mereka, gelar Luang Por (Bahasa Tailan: Ayah yang Mulia) dapat digunakan.
Menurut The Isaan: "Dalam budaya Tailan, mengarahkan kaki ke arah seorang biku atau patung di ruang suci wihara dianggap tidak sopan." Di Tailan, biku biasanya disapa oleh umat awam dengan isyarat wai, meskipun, menurut adat Tailan, biku tidak seharusnya membalas wai dari umat awam. Saat memberikan persembahan kepada biku, sebaiknya umat awam jangan berdiri jika memberikan sesuatu kepada biku yang sedang duduk.
Rutinitas harian

Semua wihara Tailan umumnya mengadakan pelantunan nyanyian pagi dan malam, yang masing-masing biasanya memakan waktu sekitar satu jam, dan setiap nyanyian pagi serta malam dapat diikuti oleh sesi meditasi, yang juga biasanya memakan waktu sekitar satu jam.
Di wihara-wihara Tailan para biku akan pergi untuk mengumpulkan dana makanan pada pagi hari, terkadang sekitar pukul 06.00 pagi, meskipun wihara seperti Wat Pah Nanachat dan Wat Mettavanaram masing-masing mulai pukul 08.00 pagi dan 08.30 pagi. Di wihara-wihara Dhammayut (dan beberapa wihara hutan Mahānikāya, termasuk Wat Pah Nanachat), biku hanya akan makan satu kali dalam sehari. Bagi anak-anak kecil, sudah menjadi tradisi bagi orang tua untuk membantu mereka menyendokkan makanan ke dalam mangkuk biku.[47][kutipan singkat yang tidak lengkap]
Di wihara Dhammayut, anumodanā (bahasa Pali, bersukacita bersama) adalah lantunan nyanyian yang dibawakan oleh para biku setelah makan untuk mengakui persembahan di pagi hari, serta persetujuan para biku atas pilihan umat awam untuk mengumpulkan pahala (Pali: puñña) melalui kemurahan hati mereka terhadap Sangha.[note 11]
Retret
Dhutaṅga (berarti "praktik keras" dalam bahasa Pāli, tudong dalam bahasa Tailan) adalah kata yang umumnya digunakan dalam komentar-komentar untuk merujuk pada tiga belas praktik asketis. Buddhisme Tailan telah mengadaptasinya untuk merujuk pada periode panjang pengembaraan di pedesaan, di mana para biku akan mengambil satu atau lebih praktik asketis ini. Selama periode ini, para biku akan hidup dari apa pun yang diberikan oleh umat awam yang mereka temui selama perjalanan dan tidur di mana pun mereka bisa. Terkadang para biku membawa tenda payung besar dengan kelambu terpasang yang dikenal sebagai crot (juga dieja krot, clot, atau klod). Crot biasanya memiliki kait di bagian atas sehingga dapat digantung pada tali di antara dua pohon.
Ajaran
Pikiran orisinal
Pikiran (Pali: citta, mano, yang sering digunakan secara bergantian sebagai "hati" atau "pikiran" secara massal), dalam konteks Tradisi Hutan, merujuk pada aspek paling esensial dari seorang individu, yang mengemban tanggung jawab "menerima" atau "mengetahui" objek-objek mental (Pali: ārammaṇa).[note 12] Meskipun aktivitas yang terkait dengan pemikiran sering kali disertakan ketika berbicara tentang pikiran, hal-hal tersebut dianggap sebagai proses mental yang terpisah dari sifat murni mengetahui ini, yang terkadang diistilahkan sebagai "sifat utama pikiran".[48][note 13]
"Objek hati yang tak tergoyahkan,
- tenang & beristirahat,
- sunyi & jernih.
Tidak lagi dimabukkan,
tidak lagi demam,
hasratnya tercabut hingga ke akar,
ketidakpastiannya telah luruh,
keterikatan dengan khandha-khandha
semuanya berakhir & mereda,
roda gigi dari tiga tingkat alam semes-
ta semuanya hancur,
keinginan yang berlebihan dibuang,
cintanya diakhiri,
tanpa ada lagi sifat posesif,
semua masalah terobati
seperti yang didambakan hati."
oleh Phra Ajaan Mun Bhūridatta, tanggal tidak diketahui[49]
Pikiran Orisinal dianggap bercahaya, atau terang (Pali: pabhassara).[48][50] Para guru dalam tradisi hutan menegaskan bahwa pikiran secara sederhana "mengetahui dan tidak mati."[51][note 14] Pikiran juga merupakan fenomena tetap (Pali: ṭhiti-dhamma); pikiran itu sendiri tidak bergerak atau mengikuti di belakang objeknya, melainkan menerimanya di tempat.[48] Mengingat pikiran sebagai sebuah fenomena sering kali sulit didefinisikan, pikiran sering kali digambarkan secara sederhana dalam kerangka aktivitas-aktivitasnya.[note 15]
Oleh karena pikiran utama atau orisinal pada dirinya sendiri tidak dianggap setara dengan kondisi pencerahan melainkan sebagai dasar bagi kemunculan formasi-formasi mental,[54] maka hal tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai pernyataan metafisik tentang diri sejati[55][56] dan mengingat pancaran cahayanya merupakan emanasi dari avijjā maka pada akhirnya ia harus dilepaskan.[57]
Ajahn Mun lebih jauh berargumen bahwa terdapat sebuah jenis kesadaran unik "tanpa objek" atau "tanpa tema" yang spesifik untuk Nirwana (Nibbāna), yang berbeda dari gugusan kesadaran (viññāṇakkhandha).[58] Para sarjana di Bangkok pada masa Ajahn Mun menyatakan bahwa seorang individu sepenuhnya terdiri dari dan didefinisikan oleh lima gugusan (khandha),[note 16] sementara Kanon Pali menyatakan bahwa gugusan-gugusan (khandha) tersebut sepenuhnya berakhir selama pengalaman Nirwana.
Dua belas mata rantai dan kelahiran kembali
Kedua belas nidāna (mata rantai) dalam Kemunculan Bersebab menjelaskan bagaimana, di dalam suatu proses yang berkesinambungan,[46][note 17] avijjā ("ketidaktahuan," "kebodohan batin") mengarah pada objek-objek pikiran dengan kontennya dan perasaan terkait yang timbul dari kontak indra. Penyerapan ini menggelapkan pikiran dan menjadi "kekotoran batin" (Pali: kilesa),[59] yang mengarah pada nafsu-kehasuan (taṇhā) dan kemelekatan (upādāna). Hal ini pada gilirannya mengarah pada kemenjadian/penjelmaan (bhava), yang mengkondisikan kelahiran (jāti).[60]
Sementara kelahiran secara tradisional dijelaskan sebagai kelahiran kembali ke kehidupan yang baru, hal ini juga dijelaskan dalam Buddhisme Tailan sebagai lahirnya pandangan akan diri, yang memunculkan bentuk kemelekatan dan nafsu-kehausan yang diperbarui.[61]
Guru-guru
Ajahn Mun
Ketika Ajahn Mun kembali ke kawasan Timur Laut untuk mulai mengajar, ia membawa serangkaian ide radikal, yang banyak di antaranya berbenturan dengan apa yang dikatakan para pakar sarjana di Bangkok pada masa itu:
- Seperti Mongkut, Ajahn Mun menekankan pentingnya ketaatan yang cermat terhadap kode monastik buddhis (Pali: Vinaya). Ajahn Mun melangkah lebih jauh, dan juga menekankan pada apa yang disebut protokol: instruksi perihal bagaimana seorang biku harus menjalankan kegiatan sehari-hari seperti memelihara gubuknya, berinteraksi dengan orang lain, dll.
Ajahn Mun juga mengajarkan bahwa kebajikan adalah perkara pikiran, dan bahwa niatlah yang membentuk esensi dari kebajikan. Hal ini berlawanan dengan apa yang diyakini orang-orang di Bangkok pada masa itu, bahwa kebajikan adalah soal urusan ritual, dan dengan melakukan ritual yang tepat maka seseorang akan memperoleh hasil yang baik.[23] - Ajahn Mun menegaskan bahwa praktik jhāna masih dimungkinkan untuk dilakukan di era modern, dan bahwa konsentrasi meditasi memang diperlukan di dalam jalan Buddhis. Ajahn Mun memaparkan bahwa topik meditasi seseorang harus selaras dengan temperamennya—setiap orang berbeda, sehingga metode meditasi yang digunakan juga harus berbeda untuk setiap orang. Ajahn Mun mengatakan topik meditasi yang dipilih haruslah sesuai dan memikat, tetapi juga memberikan seseorang rasa saṃvega (kegelisahan spiritual) serta ketidakterikatan (dispassion) terhadap kehidupan awam dan kesenangan indrawi duniawi.[24]
- Ajahn Mun mengatakan bahwa bukan hanya praktik jhāna yang mungkin, melainkan pengalaman Nirwana juga demikian adanya.[25] Ia menyatakan bahwa Nirwana dicirikan oleh suatu kondisi kesadaran tanpa aktivitas, yang berbeda dari gugusan kesadaran (viññāṇakkhandha).
Bagi Ajahn Mun, mencapai mode kesadaran ini adalah tujuan dari ajaran Buddha—tetapi kesadaran ini melampaui ajaran-ajaran tersebut. Ajahn Mun menegaskan bahwa ajaran-ajaran ditinggalkan pada saat Pencerahan, bertentangan dengan posisi ilmiah yang dominan bahwa ajaran buddhis dikonfirmasi pada saat Pencerahan. Sejalan dengan hal ini, Ajahn Mun menolak gagasan tentang adanya ajaran dalam arti hakiki, dan berargumen bahwa semua ajaran hanyalah konvensional semata—tidak ada ajaran yang membawa kebenaran universal. Hanya pengalaman Nirwana, sebagaimana yang disaksikan secara langsung oleh pengamat, yang bersifat absolut.[62]
Ajahn Lee
Ajahn Lee menekankan metaforanya mengenai praktik buddhis sebagai sebuah keterampilan, dan memperkenalkan kembali gagasan Buddha tentang keterampilan—bertindak dengan cara yang muncul dari pelatihan pikiran dan hati. Ajahn Lee mengatakan bahwa hal yang baik dan yang jahat, keduanya ada secara alami di dunia, dan bahwa keterampilan dari praktik tersebut adalah mengenali kebaikan dan kejahatan, atau memisahkan keterampilan dari ketidakterampilan. Gagasan "keterampilan" ini mengacu pada pembedaan yang ada di negara-negara Asia antara apa yang disebut sebagai pengetahuan pejuang (keterampilan dan teknik) dan pengetahuan juru tulis (ide dan konsep). Ajahn Lee membawakan beberapa perspektif uniknya tersendiri pada ajaran Tradisi Hutan:
- Ajahn Lee menegaskan kembali bahwa konsentrasi meditasi (samādhi) memang diperlukan, tetapi ia lebih jauh membedakan antara konsentrasi yang benar dan berbagai bentuk dari apa yang ia sebut konsentrasi yang salah—teknik di mana seorang meditator membiarkan kesadarannya keluar dari dalam tubuh dengan mengikuti suatu penglihatan (visi), atau memaksa kesadaran turun ke satu titik tertentu, dianggap oleh Ajahn Lee sebagai hal yang menyimpang dari jalur.[63]
- Ajahn Lee menyatakan bahwa kebijaksanaan (paññā) utamanya adalah soal proses coba-coba (Inggris: trial-and-error). Ia menggunakan kiasan menenun keranjang untuk menerangkan konsep ini: Anda belajar dari guru Anda, dan dari buku, pada dasarnya tentang bagaimana seharusnya sebuah keranjang terlihat, dan kemudian Anda menggunakan coba-coba untuk menghasilkan sebuah keranjang yang sejalan dengan apa yang telah diajarkan kepada Anda tentang bagaimana seharusnya keranjang itu. Ajaran Ajahn Lee ini berkorespondensi dengan faktor-faktor dari jhāna pertama yang dikenal sebagai pemikiran-terarah (Pali: "vitakka"), dan evaluasi (Pali: "vicāra").[64]
- Ajahn Lee mengatakan bahwa kualitas kebajikan yang sedang dikerjakan berkorespondensi dengan kualitas yang perlu dikembangkan dalam konsentrasi. Ajahn Lee akan mengatakan hal-hal seperti "jangan membunuh kualitas mental baik Anda", atau "jangan mencuri kualitas mental buruk orang lain", mengaitkan kualitas kebajikan dengan kualitas mental dalam meditasi seseorang.[65]
Ajahn Maha Bua
Ajahn Mun dan Ajahn Lee seringkali menjelaskan kendala-kendala yang umumnya terjadi dalam meditasi, tetapi tidak menjelaskan bagaimana cara untuk melewatinya, sehingga memaksa para siswa untuk mencari solusi mereka sendiri. Selain itu, mereka umumnya sangat tertutup mengenai pencapaian meditasi pribadi mereka.
Di sisi lain, Ajahn Maha Bua melihat apa yang dianggapnya sebagai banyak ide aneh yang diajarkan mengenai meditasi di Bangkok pada dekade-dekade akhir abad ke-20. Oleh karena itu Ajahn Maha Bua memutuskan untuk secara gamblang mendeskripsikan bagaimana setiap pencapaian mulia dapat diraih, meskipun dengan melakukan hal itu secara tidak langsung mengungkapkan bahwa ia yakin ia telah mencapai tingkat kemuliaan tersebut. Meskipun Vinaya melarang seorang biku untuk secara langsung mengungkapkan pencapaiannya sendiri maupun pencapaian orang lain kepada umat awam ketika orang tersebut masih hidup, Ajahn Maha Bua menulis dalam biografi anumerta Ajahn Mun bahwa ia yakin Ajahn Mun adalah seorang arahat. Thanissaro Bhikkhu mencatat bahwa hal ini merupakan perubahan yang signifikan dalam etiket pengajaran di dalam Tradisi Hutan.[66]
- Metafora utama Ajahn Maha Bua dalam praktik buddhis adalah bahwa hal tersebut merupakan sebuah pertempuran melawan kekotoran batin. Sama seperti para prajurit yang mungkin menciptakan cara-cara untuk memenangkan pertempuran yang tidak ditemukan dalam teks-teks sejarah militer, seseorang mungkin menciptakan cara untuk menaklukkan kekotoran batin. Teknik apa pun yang dapat ditemukan oleh seseorang—entah itu diajarkan oleh gurunya, ditemukan dalam teks Buddhis, ataupun diciptakan saat itu juga—jika hal itu membantu memenangkan pertempuran melawan kekotoran batin, hal itu dihitung sebagai praktik buddhis yang sah.[67]
- Ajahn Maha Bua dikenal luas karena ajarannya mengenai cara menghadapi rasa sakit fisik. Pada suatu masa, Ajahn Maha Bua memiliki seorang siswa yang sedang sekarat karena kanker, dan Ajahn Maha Bua memberikan serangkaian ceramah mengenai persepsi yang dimiliki orang-orang yang menciptakan masalah mental seputar rasa sakit. Ajahn Maha Bua mengatakan bahwa persepsi yang salah ini dapat diubah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang rasa sakit itu di dalam pikiran. (yaitu "apa warna rasa sakit itu? apakah rasa sakit itu memiliki niat buruk terhadap Anda?" "Apakah rasa sakit itu merupakan hal yang sama dengan tubuh? Bagaimana dengan pikiran?")[68]
- Terdapat sebuah insiden yang dipublikasikan secara luas di Tailan di mana para biku di Tailan Utara secara terbuka menyatakan bahwa Nirwana adalah diri sejati (true self), sementara biku-biku sarjana di Bangkok menyatakan bahwa Nirwana adalah bukan-diri (not-self). (lihat: Tradisi Dhammakāya#Diri Sejati)
Pada suatu ketika, Ajahn Maha Bua ditanya apakah Nirwana itu adalah diri atau bukan-diri dan ia menjawab "Nirwana adalah Nirwana, ia bukanlah diri maupun bukan-diri". Ajahn Maha Bua menyatakan bahwa bukan-diri hanyalah sebuah persepsi yang digunakan untuk melepaskan seseorang dari kegilaan terhadap konsep tentang diri, dan bahwa begitu kegilaan ini hilang, gagasan tentang bukan-diri juga harus ditinggalkan.[69]
Tradisi terkait
Tradisi Hutan terkait juga ditemukan di negara-negara Asia yang mayoritas penduduknya beragama Buddha lainnya, termasuk Tradisi Hutan Sri Lanka di Sri Lanka, Tradisi Hutan Taungpulu di Myanmar, dan Tradisi Hutan Laos yang terkait di Laos.[70][71][72]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Sujato: "Mongkut dan para pengikutnya dituduh memaksakan ortodoksi kitab suci pada keragaman bentuk-bentuk Buddhisme Tailan. Tentu ada benarnya. Hal itu merupakan bentuk 'kolonialisme dari dalam', budaya Bangkok yang modern dan kebarat-baratan yang mencoba membangun identitas nasional melalui reformasi agama.[web 1]
- ↑ Mongkut mengenai Nibbāna:
Thanissaro: "Mongkut sendiri yakin bahwa jalan menuju nirwana tidak lagi terbuka, tetapi banyak pahala yang dapat dikumpulkan dengan setidaknya menghidupkan kembali bentuk-bentuk luar dari tradisi-tradisi awal Buddhis."[12]
* Sujato: "Salah satu bidang di mana pemikiran modernis Mongkut menjadi sangat kontroversial adalah keyakinannya bahwa di zaman yang merosot ini, tidak mungkin untuk mewujudkan jalan dan buah Buddhisme. Alih-alih membidik tujuan transendental apa pun, praktik Buddhadhamma kita adalah untuk mendukung kebajikan dan kebijaksanaan duniawi, untuk menjunjung tinggi bentuk-bentuk dan teks Buddhisme. Keyakinan ini, meskipun hampir tidak pernah terdengar di Barat, sangat umum dalam Theravāda modern. Hal ini menjadi sangat lazim sehingga pada satu titik penyebutan Nibbāna dihapus dari upacara penahbisan di Tailan.[web 1] - ↑ Phra Ajaan Phut Thaniyo memberikan catatan yang tidak lengkap mengenai instruksi meditasi Ajaan Sao. Menurut Thaniyo, konsentrasi pada kata 'Buddho' akan membuat pikiran menjadi "tenang dan cerah" dengan memasuki konsentrasi.[web 2] Ia memperingatkan murid-muridnya untuk tidak berpuas diri dengan pikiran yang kosong dan diam, melainkan untuk "memfokuskan pada napas sebagai objek Anda dan kemudian terus mengikutinya, mengikutinya ke dalam hingga pikiran menjadi lebih tenang dan lebih cerah." Ini mengarah pada "konsentrasi ambang" (upacāra samādhi), dan berpuncak pada "penetrasi tetap" (appanā samādhi), keheningan pikiran yang mutlak, ketika penyadaran terhadap tubuh menghilang, membiarkan pikiran berdiri sendiri. Mencapai titik ini, praktisi harus memperhatikan ketika pikiran mulai terdistraksi dan berfokus pada pergerakan distraksi tersebut. Thaniyo tidak menjelaskan lebih lanjut.[web 2]
- ↑ Thanissaro: "Baik Rama V maupun Pangeran Vajirañana dilatih oleh para tutor Eropa, dari mereka mereka menyerap sikap era Victoria tentang rasionalitas, studi kritis terhadap teks kuno, perspektif sejarah sekuler tentang hakikat institusi agama, dan pencarian akan masa lalu yang "berguna". Seperti yang dinyatakan Pangeran Vajirañana dalam Biografi Sang Buddha, teks kuno, seperti Kanon Pali, bagaikan buah manggis, dengan daging yang manis dan kulit yang pahit. Tugas keilmuan yang kritis adalah untuk mengambil dagingnya dan membuang kulitnya. Norma-norma rasionalitas menjadi panduan bagi proses ekstraksi ini. Ajaran yang masuk akal dan berguna untuk kebutuhan modern diterima sebagai dagingnya. Cerita-cerita tentang mukjizat dan kekuatan batin dibuang sebagai bagian dari kulitnya.[18]
- ↑ Maha Bua: "Terkadang, ia merasakan tubuhnya melayang tinggi ke angkasa di mana ia bepergian selama berjam-jam, mengamati rumah-rumah surgawi sebelum kembali turun. Di lain waktu, ia menggali jauh ke dalam bumi untuk mengunjungi berbagai wilayah di neraka. Di sana ia merasa sangat kasihan kepada para penghuninya yang malang, yang semuanya mengalami konsekuensi menyedihkan dari perbuatan masa lalu mereka. Menyaksikan peristiwa-peristiwa ini terungkap, ia sering kali kehilangan perspektif tentang berlalunya waktu. Pada masa itu, ia masih belum yakin apakah adegan-adegan ini nyata atau hanya imajinasi belaka. Ia mengatakan bahwa baru kemudian, ketika fakultas spiritualnya lebih matang, ia dapat menyelidiki hal-hal tersebut dan memahami dengan jelas akar-akar penyebab moral dan psikologis pasti yang mendasarinya.[20]
- ↑ Ajahn Lee: "Pada suatu hari dia berkata, "Saya tidak pernah bermimpi bahwa duduk dalam kondisi samādhi akan sangat bermanfaat, tetapi ada satu hal yang mengganggu saya. Untuk membuat pikiran tenang dan membawanya ke tingkat istirahat dasar (bhavaṅga): Bukankah ini esensi dari kemunculan (menjadi) dan kelahiran?"
"Itulah yang disebut samādhi," kataku padanya, "kemunculan dan kelahiran."
"Namun, Dhamma yang diajarkan kepada kita untuk dipraktikkan adalah demi menyingkirkan kemunculan dan kelahiran. Jadi apa yang kita lakukan sehingga malah memunculkan lebih banyak kemunculan dan kelahiran?"
"Jika Anda tidak membiarkan pikiran menanggung kemunculan, maka hal itu tidak akan memunculkan pengetahuan, sebab pengetahuan harus datang dari kemunculan jika ingin menyingkirkan kemunculan. Ini adalah kemunculan dalam skala kecil—uppattika bhava—yang berlangsung dalam sekejap waktu mental. Hal yang sama berlaku juga dengan kelahiran. Memusatkan pikiran agar samādhi muncul dalam waktu mental yang lama merupakan kelahiran. Katakanlah kita duduk dalam keadaan berkonsentrasi dalam waktu yang lama hingga pikiran memunculkan lima faktor jhāna: Itulah kelahiran. Bila Anda tidak melakukan ini dengan pikiran Anda, maka hal itu tidak akan memunculkan pengetahuan apa pun dengan sendirinya. Dan ketika pengetahuan tak dapat muncul, bagaimana cara Anda akan bisa melepaskan ketidaktahuan [avijjā]? Tentu akan sangat sulit.
"Seperti yang saya pahami," sambung saya, "sebagian besar dari siswa Dhamma benar-benar salah dalam mengartikan berbagai hal. Apa pun yang muncul, mereka berupaya menebangnya dan melenyapkannya. Bagi saya, ini kelihatan keliru. Bagaikan orang-orang yang makan telur. Beberapa orang sama sekali tidak tahu seperti apa ayam itu: Ini adalah suatu ketidaktahuan. Begitu mereka mendapati telur, mereka lantas memecahkannya dan memakannya. Namun bayangkanlah jika mereka mengerti bagaimana cara menetaskan telur. Mereka memperoleh sepuluh butir telur, mereka memakan lima di antaranya lalu menetaskan sisanya. Sewaktu telur-telur tersebut diinkubasi, itu adalah "kemunculan." Saat bayi-bayi anak ayam keluar menetas dari cangkangnya, itu adalah "kelahiran." Apabila kelima anak ayam tersebut bertahan hidup, maka seiring bergantinya tahun bagi saya tampaknya orang yang sebelumnya selalu harus membeli telur akan mulai memperoleh manfaat dari ayam-ayamnya. Ia akan mendapati telur untuk disantap tanpa harus mengeluarkan uang untuk membelinya, lalu jika ia punya lebih banyak dari yang mampu ia habiskan, ia dapat membangun usahanya sendiri, yakni dengan menjualnya. Pada akhirnya, ia pun akan mampu membebaskan dirinya sendiri dari jerat kemiskinan.
"Demikian pula dengan mempraktikkan samādhi: Jika Anda hendak melepaskan diri dari kemunculan, Anda terlebih dahulu harus pergi berdiam di dalam kemunculan. Jika Anda hendak melepaskan diri dari kelahiran, Anda harus mengetahui seluk beluk tentang kelahiran Anda sendiri."[29] - ↑ Zuidema: "Ajahn Chah (1918–1992) merupakan guru Hutan Tailan yang paling terkenal. Ia diakui telah memainkan peran instrumental dalam menyebarkan tradisi Hutan Tailan ke Barat dan dalam menjadikan tradisi ini sebagai fenomena internasional semasa hidupnya."[33]
- ↑ Thanissaro: "Hierarki Mahānikāya, yang telah lama bersikap antipati terhadap para biku Hutan, meyakinkan hierarki Dhammayut bahwa kelangsungan hidup mereka di masa depan bergantung pada penggabungan kekuatan melawan biku Hutan, dan khususnya melawan Ajaan Mahabua. Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir ini telah terjadi serangkaian perselisihan antara hierarki Bangkok dan para biku Hutan yang dipimpin oleh Ajaan Mahabua, di mana media yang dikelola pemerintah secara pribadi menyerang Ajaan Mahabua. Pihak hierarki juga mengusulkan serangkaian undang-undang—Undang-Undang Administrasi Sangha, rancangan undang-undang reformasi tanah, dan undang-undang “ekonomi khusus”—yang mana hal itu akan menutup banyak wihara Hutan, melucuti wihara Hutan yang tersisa dari tanah belantara mereka, atau melegalkan wihara-wihara untuk menjual tanah mereka. Undang-undang ini akan membawa pada akhir yang efektif dari tradisi Hutan, sekaligus mencegah kebangkitan tradisi hutan lainnya di masa mendatang. Sejauh ini, tidak satu pun dari usulan ini yang telah menjadi undang-undang, tetapi masalah yang memisahkan biku Hutan dari pihak hierarki masih jauh dari kata selesai."[30]
- ↑ Saat dituduh memiliki ambisi politik, Ajaan Maha Bua menjawab: "Jika seseorang memboroskan harta bangsa [...] menurut Anda apa ini? Orang-orang harus berjuang melawan pencurian semacam ini. Jangan takut menjadi politis, karena jantung (hua-jai) bangsa ada di sana (di dalam perbendaharaan). Masalah ini lebih besar dari politik. Ini bukan untuk menghancurkan bangsa. Ada banyak jenis musuh. Saat petinju bertarung, apakah mereka memikirkan politik? Tidak. Mereka hanya memikirkan kemenangan. Ini adalah Dhamma yang lurus. Jadikan Dhamma sebagai prinsip utama."[38]
- ↑ Ajaan Maha Bua: "Kata “kammaṭṭhāna” telah dikenal luas di kalangan umat Buddha sejak lama dan arti yang diterima adalah: “tempat kerja (atau dasar kerja).” Namun, “pekerjaan” di sini adalah pekerjaan yang sangat penting dan berarti pekerjaan menghancurkan dunia kelahiran (bhava); dengan demikian, menghancurkan (masa depan) kelahiran, kilesa, taṇhā, dan penyingkiran serta penghancuran semua avijjā dari hati kita. Semua ini agar kita terbebas dari dukkha. Dengan kata lain, terbebas dari kelahiran, usia tua, rasa sakit dan kematian, karena ini adalah jembatan yang menghubungkan kita ke putaran saṃsāra (vaṭṭa), yang tidak pernah mudah bagi makhluk mana pun untuk melampauinya dan terbebas. Inilah makna “pekerjaan” dalam konteks ini alih-alih makna lain, seperti pekerjaan yang biasa dilakukan di dunia. Hasil yang datang dari mempraktikkan karya ini, bahkan sebelum mencapai tujuan akhir, adalah kebahagiaan di masa kini dan di kehidupan mendatang. Oleh karena itu, para [biku] yang tertarik dan mempraktikkan jalan-jalan Dhamma ini biasanya dikenal sebagai Biku Dhutaṅga Kammaṭṭhāna, sebuah gelar penghormatan yang diberikan dengan tulus oleh sesama umat Buddha.[45]
- ↑ Di antara tiga belas bait lantunan nyanyian Anumodanā, tiga bait dilantunkan sebagai bagian dari setiap Anumodanā, sebagai berikut:
1. (PEMIMPIN):
2. (SEMUA):- Yathā vārivahā pūrā
- Paripūrenti sāgaraṃ
- Evameva ito dinnaṃ
- Petānaṃ upakappati
- Icchitaṃ patthitaṃ tumhaṃ
- Khippameva samijjhatu
- Sabbe pūrentu saṃkappā
- Cando paṇṇaraso yathā
- Mani jotiraso yathā.
- Sama seperti sungai yang penuh air memenuhi lautan,
- Demikian pula dengan persembahan yang diberikan di sini
- bermanfaat bagi yang telah meninggal (roh-roh kelaparan).
- Semoga apa pun yang Anda harapkan atau inginkan segera terwujud,
- Semoga semua cita-cita Anda terpenuhi,
- seperti bulan pada hari kelima belas (bulan purnama),
- atau seperti permata yang terang benderang.
3.- Sabbītiyo vivajjantu
- Sabba-rogo vinassatu
- Mā te bhavatvantarāyo
- Sukhī dīghāyuko bhava
- Abhivādana-sīlissa
- Niccaṃ vuḍḍhāpacāyino
- Cattāro dhammā vaḍḍhanti
- Āyu vaṇṇo sukhaṃ balaṃ.
- Semoga semua kesusahan terhindarkan,
- semoga setiap penyakit dihancurkan,
- Semoga tidak ada bahaya bagi Anda,
- Semoga Anda berbahagia & berumur panjang.
- Bagi seseorang yang secara alami penuh rasa hormat yang
- senantiasa menghormati mereka yang pantas,
- Empat kualitas meningkat:
- umur panjang, keindahan, kebahagiaan, kekuatan.
- ↑ Karakterisasi ini menyimpang dari apa yang secara konvensional dikenal di Barat sebagai pikiran.
- ↑ Pernyataan bahwa pikiran adalah yang utama dijelaskan kepada murid-murid Ajaan Mun dalam sebuah ceramah, yang diberikan dalam gaya permainan kata yang berasal dari bentuk lagu Isan yang dikenal sebagai maw lam: "Kedua unsur tersebut, namo, [unsur air dan tanah, yaitu tubuh] jika disebutkan sendiri-sendiri, tidaklah memadai atau lengkap. Kita harus mengatur ulang huruf hidup dan konsonannya sebagai berikut: Ambil huruf a dari n, dan berikan pada m; ambil huruf o dari m dan berikan pada n, lalu letakkan ma di depan no. Ini memberi kita mano, hati. Sekarang kita memiliki tubuh beserta hati, dan ini cukup untuk digunakan sebagai fondasi dasar bagi praktik. Mano, hati, adalah yang utama, fondasi yang besar. Segala sesuatu yang kita lakukan atau katakan berasal dari hati, sebagaimana dinyatakan dalam kata-kata Buddha:
mano-pubbaṅgamā dhammā
mano-seṭṭhā mano-mayā
'Semua dhamma didahului oleh hati, didominasi oleh hati, dibuat dari hati.' Buddha merumuskan seluruh Dhamma dan Vinaya dari fondasi besar ini, yakni hati. Jadi ketika murid-muridnya merenungkan sesuai dengan Dhamma dan Vinaya sampai namo benar-benar jelas, maka mano terletak di titik akhir perumusan. Dengan kata lain, hal itu terletak melampaui semua perumusan.
Semua anggapan berasal dari hati. Masing-masing dari kita memiliki beban sendiri, yang kita bawa sebagai anggapan dan perumusan yang sejalan dengan arus banjir (ogha), hingga titik di mana hal-hal tersebut memunculkan ketidaktahuan (avijjā), faktor yang menciptakan keadaan kemunculan (menjadi) dan kelahiran, semuanya dari ketidakbijaksanaan kita terhadap hal-hal ini, dari berpegang secara penuh ilusi pada anggapan bahwa semua ini adalah 'aku' atau 'milikku'.[46] - ↑ Maha Bua: "... kekuatan alami dari pikiran itu sendiri adalah bahwa ia mengetahui dan tidak mati. Keabadian (tanpa kematian) ini adalah sesuatu yang melampaui kehancuran [...] ketika pikiran dibersihkan sehingga sepenuhnya murni dan tidak ada yang bisa terlibat dengannya—sehingga tidak ada rasa takut sama sekali yang muncul dalam pikiran. Rasa takut tidak muncul. Keberanian tidak muncul. Yang muncul hanyalah sifat dasarnya sendiri, hanya sifatnya yang tak lekang oleh waktu. Itu saja. Ini adalah pikiran sejati. ‘Pikiran sejati’ di sini hanya merujuk pada kemurnian atau ‘saupādisesa-nibbāna’ dari para arahat. Tidak ada hal lain yang dapat disebut ‘pikiran sejati’ tanpa pengecualian atau keraguan."[52]
- ↑ Ajahn Chah: "Pikiran bukanlah 'adalah' sesuatu. 'Adalah' apakah dia? Kita telah sampai pada anggapan bahwa apa pun yang menerima objek-objek pikiran—objek baik, objek buruk, apa pun—kita sebut “hati” atau 'pikiran.' Sama seperti pemilik rumah: Siapa pun yang menerima tamu adalah pemilik rumah. Tamu tidak bisa menerima pemilik rumah. Pemilik rumah harus diam di rumah. Saat tamu datang menemuinya, ia harus menerima mereka. Lantas siapa yang menerima objek-objek pikiran? Siapa yang melepaskan objek-objek pikiran? Siapa yang tahu sesuatu? [Tertawa] Itulah yang kita sebut 'pikiran.' Tapi kita tidak memahaminya, jadi kita berbicara, menyimpang ke sana kemari: 'Apa itu pikiran? Apa itu hati?' Kita membuat hal-hal menjadi terlalu membingungkan. Jangan terlalu banyak menganalisisnya. Apa itu yang menerima objek-objek pikiran? Beberapa objek pikiran tidak memuaskannya, dan karenanya ia tidak menyukainya. Beberapa objek pikiran disukainya dan beberapa tidak. Siapa itu—siapa yang suka dan tidak suka? Apakah ada sesuatu di sana? Ya. Seperti apa? Kita tidak tahu. Mengerti? Benda itu... Benda itulah yang kita sebut “pikiran.” Jangan pergi mencari jauh-jauh."[53]
- ↑ Lima khandha (Pali: pañca khandha) menggambarkan bagaimana kesadaran (viññāṇa) dikondisikan oleh tubuh dan indranya (rūpa, "wujud, bentuk") yang memersepsikan (saññā) objek dan perasaan (vedanā) terkait yang muncul bersamaan dengan kontak indrawi (phassa), dan mengarah pada "bentukan-bentukan" (saṅkhārā), yakni, nafsu-kehausan (taṇhā), kemelekatan (upādāna), dan kemenjadian/penjelmaan (bhava).
- ↑ Ajaan Mun berkata: "Dengan kata lain, hal-hal ini harus terus muncul dan memunculkan satu sama lain secara terus menerus. Oleh karena itu mereka disebut kondisi-kondisi yang ditopang atau saling menopang sebab hal-hal tersebut saling mendukung dan menopang satu sama lain."[46]
Referensi
- ↑ "Thai Forest Tradition | Abhayagiri Monastery". www.abhayagiri.org. Diakses tanggal 2026-01-05.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Kamala Tiyavanich (2010). Forest recollections: wandering monks in twentieth-century Thailand. Honolulu: University of Hawai'i Press. ISBN 978-0-8248-1781-7.
- 1 2 3 4 Dhammasakiyo, Anil (2004-08-12). A Modern Trend of Study of Buddhism in Thailand: King Mongkut and Dhammayutikanikāya. Dhammayut.
- ↑ Williams, Paul (2005), Buddhism in South and Southeast Asia (Edisi 1. publ), London: Routledge, hlm. 114, ISBN 978-0-415-33233-0, diakses tanggal 2025-08-08
- ↑ Taylor, Jim (1996). Forest monks and the nation-state: an anthropological and historical study in northeastern Thailand. Social issues in Southeast Asia (Edisi 1. reprint). Singapore. ISBN 978-981-3016-49-1.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) - ↑ Carbine, Jason A.; Davis, Erik W., ed. (2022-01-31). Simas: Foundations of Buddhist Religion. University of Hawaii Press. hlm. 112. doi:10.2307/j.ctv1msswd0. ISBN 978-0-8248-9112-1. JSTOR j.ctv1msswd0.
- ↑ Moffat, Abbot Low (1961). Mongkut, the King of Siam. Cornell University Press. hlm. 12–13. LCCN 61-16666.
- ↑ "Thai Forest Tradition". Wat Sri Intra Atula (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2019-03-25. Diakses tanggal 2026-01-05.
- ↑ Berkwitz, Stephen C.; Thompson, Ashley, ed. (2022). Routledge handbook of Theravāda Buddhism (Edisi 1). NY: Routledge. ISBN 978-1-138-49393-3.
- ↑ Thanissaro (April 2005). "The Traditions of the Noble Ones" (PDF). Dhammatalks.org. hlm. 10. Diakses tanggal 2025-08-09.
- 1 2 3 Buswell, Robert E.; Lopez, Donald S., ed. (2014). The Princeton dictionary of Buddhism. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-15786-3.
- 1 2 Thanissaro (1998), The Home Culture of the Dharma. The Story of a Thai Forest Tradition, TriCycle
- 1 2 Thanissaro (1999). "The Customs of the Noble Ones". Access to Insight. Diakses tanggal 2025-08-08.
- ↑ Tambiah, Stanley Jeyaraja (1993). The Buddhist saints of the forest and the cult of amulets: a study in charisma, hagiography, sectarianism, and millennial Buddhism. Cambridge studies in social anthropology (Edisi Repr., 1. publ. 1984). Cambridge: Cambridge Univ. Pr. hlm. 156. ISBN 978-0-521-27787-7.
- 1 2 3 Tambiah 1984, hlm. 84.
- 1 2 Maha Bua Nyanasampanno 2014.
- ↑ Taylor, hlm. 62.
- 1 2 Thanissaro 2005, hlm. 11.
- ↑ Taylor, hlm. 141.
- 1 2 3 4 Maha Bua Nyanasampanno 2004.
- ↑ Tambiah 1984, hlm. 86–87.
- ↑ Tambiah 1984, hlm. 87–88.
- 1 2 Thanissaro 2015, .
- 1 2 Thanissaro 2015, .
- 1 2 Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Taylor 1993, hlm. 137.
- ↑ Sīlaratano, Ajaan Dick (2014). Uncommon wisdom : life and teachings of Ajaan Paññāvaḍḍho. Lexington, VA: Forest Dhamma Publications. hlm. 93. ISBN 978-1-4951-1519-6.
- 1 2 Lee Dhammadaro 2012.
- 1 2 3 Thanissaro 2005.
- ↑ Taylor, hlm. 139.
- ↑ "Ajahn Buddhadasa". Suan Mokkh.
- 1 2 Zuidema 2015.
- ↑ "Biography". FOREST SANGHA (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2026-01-05.
- ↑ Harvey 2013, hlm. 443.
- 1 2 3 Taylor 2008, hlm. 118–128.
- ↑ Taylor 2008, hlm. 126–127.
- ↑ Taylor 2008, hlm. 123.
- ↑ "Buddhist Channel | Personality".
- ↑ "ASEAN NOW formerly Thai Visa Forum".
- ↑ Lopez 2016, hlm. 61.
- ↑ Robinson, Johnson & Ṭhānissaro Bhikkhu 2005, hlm. 167.
- ↑ Taylor 1993, hlm. 16–17.
- ↑ Ajahn Lee (20 July 1959). "Stop & Think". dhammatalks.org. Diakses tanggal 27 June 2020.
Wawasan bukanlah sesuatu yang bisa diajarkan. Wawasan adalah sesuatu yang harus Anda bangkitkan dalam diri Anda sendiri. Ini bukanlah sesuatu yang Anda hafal dan bicarakan begitu saja. Jika kita mengajarkannya hanya agar kita bisa menghafalnya, saya jamin itu tak akan memakan waktu lima jam. Tapi jika Anda ingin memahami satu kata saja darinya, tiga tahun bahkan mungkin tak akan cukup. Menghafal hanya akan memunculkan ingatan. Bertindak adalah apa yang memunculkan kebenaran. Inilah sebabnya mengapa dibutuhkan upaya dan kegigihan agar Anda dapat memahami dan menguasai keterampilan ini sendiri.
Saat wawasan muncul, Anda akan tahu apa itu apa, dari mana datangnya, dan ke mana perginya—seperti saat kita melihat lentera menyala terang: Kita tahu bahwa, 'Itu nyalanya... Itu asapnya… Itu cahayanya.' Kita tahu bagaimana hal-hal ini muncul dari campuran apa dengan apa, dan ke mana nyala api itu pergi saat kita mematikan lentera. Semua ini adalah keterampilan wawasan.
Beberapa orang mengatakan bahwa meditasi ketenangan dan meditasi wawasan adalah dua hal yang terpisah—tetapi bagaimana hal itu bisa benar? Meditasi ketenangan adalah 'berhenti,' meditasi wawasan adalah 'berpikir' yang mengarah pada pengetahuan yang jernih. Ketika ada pengetahuan yang jernih, pikiran berhenti diam dan tetap di tempatnya. Semuanya adalah bagian dari hal yang sama.
Pengetahuan harus datang dari berhenti. Jika Anda tidak berhenti, bagaimana Anda bisa tahu? Misalnya, jika Anda sedang duduk di dalam mobil atau perahu yang melaju cepat dan Anda mencoba melihat orang-orang atau barang-barang yang lewat tepat di sebelah Anda di sepanjang jalan, Anda tidak dapat melihat dengan jelas siapa adalah siapa atau apa adalah apa. Tapi jika Anda berhenti diam di satu tempat, Anda akan dapat melihat hal-hal dengan jelas.
[...]
Dengan cara yang sama, ketenangan dan wawasan harus berjalan bersama. Anda pertama-tama harus membuat pikiran berhenti dalam ketenangan dan kemudian mengambil langkah dalam penyelidikan Anda: Ini adalah meditasi wawasan. Pemahaman yang muncul adalah kearifan (paññā). Melepaskan kemelekatan Anda pada pemahaman itu adalah pelepasan.
Cetak miring ditambahkan. - ↑ Maha Bua Nyanasampanno 2010, hlm. 1.
- 1 2 3 4 Mun Bhūridatta 2016.
- ↑ Thanissaro 2003.
- 1 2 3 Lee Dhammadaro 2010, hlm. 19.
- ↑ Mun Bhūridatta 2015.
- ↑ Lopez 2016, hlm. 147.
- ↑ Maha Bua Nyanasampanno 2010.
- ↑ Yang Mulia Ācariya Mahā Boowa Ñāṇasampanno, Straight from the Heart, bab The Radiant Mind Is Unawareness; penerjemah Thanissaro Bikkhu
- ↑ Chah 2013.
- ↑ Ṭhānissaro Bhikkhu (19 September 2015). "The Thai Forest Masters (Part 2)" (dalam bahasa Inggris). menit di 46.
Kata 'pikiran' mencakup tiga aspek:
(1) Sifat utama dari pikiran.
(2) Keadaan mental.
(3) Keadaan mental dalam interaksi dengan objeknya.
Sifat utama dari pikiran adalah sifat yang sekadar mengetahui. Arus yang berpikir dan mengalir keluar dari mengetahui menuju berbagai objek adalah keadaan mental. Saat arus ini terhubung dengan objeknya dan jatuh kepadanya, hal itu menjadi kekotoran batin, menggelapkan pikiran: Ini adalah keadaan mental dalam interaksi. Keadaan mental, dengan sendirinya maupun dalam interaksi, baik maupun jahat, pada hakikatnya harus muncul, harus membubar, harus larut oleh sifat alaminya. Sumber dari kedua macam keadaan mental ini adalah sifat utama dari pikiran, yang tidak muncul maupun membubar. Ia adalah fenomena tetap (ṭhiti-dhamma), yang selalu berada pada tempatnya.
Poin pentingnya di sini adalah - seiring pergerakan lebih jauh ke bawah - bahkan "sifat utama pikiran" tersebut, itu pun harus dilepaskan. Berhentinya tekanan/beban (stress) datang pada saat Anda mampu melepaskan ketiganya. Jadi bukan berarti Anda mencapai tingkat pengetahuan ini lalu berkata 'Oke, itu keadaan pencerahan', melainkan ini sesuatu yang mana Anda harus menggali sedikit lebih dalam untuk melihat di mana letak kemelekatan Anda di sana juga.
Cetak miring adalah kutipan dari terjemahannya atas "Frames of references" karya Ajahn Lee. - ↑ Ṭhānissaro Bhikkhu (19 September 2015). "The Thai Forest Masters (Part 1)" (dalam bahasa Inggris). menit di 66.
[The Primal Mind] semacam ide penyelundupan 'diri' (self) lewat pintu belakang. Nah, tidak ada label diri dalam kondisi atau keadaan pikiran semacam itu.
- ↑ Ajahn Chah. "The Knower". dhammatalks.org. Diakses tanggal 28 June 2020.
- ↑ Ajahn Maha Bua. "Shedding tears in Amazement with Dhamma" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-21.
Pada saat itu citta saya memiliki kualitas yang begitu menakjubkan sehingga luar biasa untuk dipandang. Saya benar-benar dibuat kagum oleh diri saya sendiri, sambil berpikir: "Astaga! Mengapa citta ini begitu terang bersinar secara menakjubkan?" Saya berdiri di jalur meditasi saya merenungkan kecerahannya, tak percaya betapa ajaib kelihatannya. Tetapi justru pancaran inilah yang saya anggap begitu menakjubkan itu pada faktanya adalah Bahaya Tertinggi (Ultimate Danger). Apakah Anda mengerti maksud saya?
Kita tanpa terkecuali cenderung jatuh hati pada citta yang bercahaya ini. Sebenarnya, saya sudah terpaku padanya, sudah tertipu olehnya. Anda lihat, saat tak ada lagi yang tersisa, seseorang berkonsentrasi pada titik fokus akhir ini – sebuah titik yang, karena merupakan pusat dari siklus kehidupan dan kematian tanpa henti, sebenarnya adalah ketidaktahuan mendasar yang kita sebut avijjā. Titik fokus ini adalah puncak avijjā, puncak tertinggi citta dalam saṃsāra.
Tak ada lagi yang tersisa pada tahap tersebut, jadi saya sekadar mengagumi pancaran luas avijjā. Namun, pancaran itu memang memiliki titik fokus. Hal itu bisa disamakan dengan filamen lampu petromak.
[...]
Jika ada sebuah titik atau pusat dari sang pengetahu di mana saja, itu adalah inti keberadaan/kehidupan (nucleus of existence). Sama seperti bagian tengah filamen petromak yang bersinar cerah.
[...]
Di situlah letak Bahaya Tertinggi itu – tepat di sana. Titik fokus Bahaya Tertinggi ini adalah titik dengan pancaran cahaya paling terang luar biasa yang membentuk inti pusat seluruh realitas konvensional duniawi.
[...]
Terkecuali bagi titik pusat cahaya terang citta, seluruh alam semesta secara meyakinkan telah dilepaskan. Anda mengerti apa maksud saya? Itulah mengapa titik ini merupakan Bahaya Tertinggi. - ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Maha Bua Nyanasampanno 2005.
- ↑ Thanissaro 2013, hlm. 9.
- ↑ Indapanno, Buddhadasa. "Concerning Birth by Buddhadasa Bhikkhu". Suan Mokkh. Diakses tanggal 2022-03-15.
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Lee Dhammadaro 2012b, hlm. 60.
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ Thanissaro 2015, .
- ↑ "Thudong: Forest Monks and Hermits of Southeast Asia - Articles - Hermitary".
- ↑ "A Guide for Foreign Buddhist Monastics and Lay Practitioners" (PDF). Buddhist Forest Monasteries and Meditation Centres in Sri Lanka. April 2013.
- ↑ "Nippapañca Home Page". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-02-22. Diakses tanggal 2017-02-21.
Sumber
Sumber cetak
- Sumber primer
- Abhayagiri Foundation (2015), Origins of Abhayagiri
- Access to Insight (2013), Theravada Buddhism: A Chronology, Access to Insight
- Bodhisaddha Forest Monastery, The Ajahn Chah lineage: spreading Dhamma to the West
- Chah, Ajahn (2013), Still Flowing Water: Eight Dhamma Talks (PDF), Abhayagiri Foundation, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-22, diakses tanggal 2017-07-07, translated from Thai by Thanissaro Bhikkhu.
- Chah, Ajahn (2010), Not for Sure: Two Dhamma Talks, Abhayagiri Foundation, translated from Thai by Thanissaro Bhikkhu.
- Ajahn Chah (2006). A Taste of Freedom: Selected Dhamma Talks. Buddhist Publication Society. ISBN 978-955-24-0033-9.
- Kornfield, Jack (2008), The Wise Heart: Buddhist Psychology for the West, Random House
- Lee Dhammadaro, Ajahn (2000), Keeping the Breath in Mind and Lessons in Samadhi, Access to Insight
- Lee Dhammadaro, Ajahn (2011), Frames of Reference (PDF), Dhammatalks.org, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-22, diakses tanggal 2017-07-07
- Lee Dhammadaro, Ajahn (2012a), The Autobiography of Phra Ajaan Lee (PDF), Dhammatalks.org, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-22, diakses tanggal 2017-07-24
- Lee Dhammadaro, Ajahn (2012b), Basic Themes (PDF), Dhammatalks.org, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-22, diakses tanggal 2017-07-24
- Maha Bua Nyanasampanno, Ajahn (2004), Venerable Ācariya Mun Bhuridatta Thera: A Spiritual Biography (PDF), Forest Dhamma Books, diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-08, diakses tanggal 2018-11-04
- Maha Bua Nyanasampanno, Ajahn (2005), Arahattamagga, Arahattaphala: the Path to Arahantship – A Compilation of Venerable Acariya Maha Boowa's Dhamma Talks about His Path of Practice (PDF), Forest Dhamma Books, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2009-03-27, diakses tanggal 2017-07-07
- Maha Bua Nyanasampanno, Ajahn (2010), Patipada: Venerable Acariya Mun's Path of Practice, Wisdom Library
- Mun Bhūridatta, Ajahn (2016), A Heart Released (PDF), Dhammatalks.org, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2017-07-22, diakses tanggal 2017-07-07
- Phut Thaniyo, Ajaan (2013), Ajaan Sao's Teaching: A Reminiscence of Phra Ajaan Sao Kantasilo, Access to Insight (Legacy Edition)
- Sujato (2008), Original Mind Controversy, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-12-21
- Sumedho, Ajahn (2007), Thirty years from Hampstead (interview), The Forest Sangha Newsletter, diarsipkan dari asli tanggal 2016-01-07, diakses tanggal 2015-10-23
- Thanissaro (2010), The Customs of the Noble Ones, Access To Insight
- Thanissaro (2006), The Traditions of the Noble Ones (PDF), dhammatalks.org
- Thanissaro (2006), Legends of Somdet Toh, Access to Insight
- Thanissaro (2011), Wings to Awakening, Access to Insight
- Thanissaro (2013), With Each and Every Breath, Access to Insight
- Thanissaro (2005), Jhana Not by the Numbers, Access to Insight
- Thanissaro (2015), Wilderness Wisdom, The Distinctive Teachings of the Thai Forest Tradition, University of the West
- Thate Desaransi, Ajahn (1994), Buddho, Access to Insight
- Zhi Yun Cai (Fall 2014), Doctrinal Analysis of the Origin and Evolution of the Thai Kammatthana Tradition with a Special Reference to the Present Kammatthana Ajahns, University of the West
- Sumber sekunder
- Bruce, Robert (1969). "King Mongkut of Siam and his Treaty with Britain". Journal of the Hong Kong Branch of the Royal Asiatic Society. 9. Royal Asiatic Society Hong Kong Branch: 88–100. JSTOR 23881479.
- Buswell, Robert; Lopez, Donald S. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-15786-3.
- "Rattanakosin Period (1782 -present)". GlobalSecurity.org. Diakses tanggal November 1, 2015.
- Gundzik, Jephraim (2004), Thaksin's populist economics buoy Thailand, Asia Times, diarsipkan dari asli tanggal 2004-08-15
- Harvey, Peter (2013), An Introduction to Buddhism: Teachings, History and Practices, Cambridge University Press, ISBN 9780521859424
- Lopez, Alan Robert (2016), Buddhist Revivalist Movements: Comparing Zen Buddhism and the Thai Forest Movement, Palgrave Macmillan US, doi:10.1057/978-1-137-54086-7, ISBN 978-1-137-54349-3
- McDaniel, Justin Thomas (2011), The Lovelorn Ghost and the Magical Monk: Practicing Buddhism in Modern Thailand, Columbia University Press
- Orloff, Rich (2004), "Being a Monk: A Conversation with Thanissaro Bhikkhu", Oberlin Alumni Magazine, vol. 99, no. 4
- Pali Text Society, The (2015), The Pali Text Society's Pali-English Dictionary
- Piker, Steven (1975), "Modernizing Implications of 19th Century Reforms in the Thai Sangha", Contributions to Asian Studies, Volume 8: The Psychological Study of Theravada Societies, E.J. Brill, ISBN 9004043063
- Quli, Natalie (2008), "Multiple Buddhist Modernisms: Jhana in Convert Theravada" (PDF), Pacific World 10:225–249
- Robinson, Richard H.; Johnson, Willard L.; Ṭhānissaro Bhikkhu (2005). Buddhist Religions: A Historical Introduction. Wadsworth/Thomson Learning. ISBN 978-0-534-55858-1.
- Schuler, Barbara (2014). Environmental and Climate Change in South and Southeast Asia: How are Local Cultures Coping?. Brill. ISBN 9789004273221.
- Scott, Jamie (2012), The Religions of Canadians, University of Toronto Press, ISBN 9781442605169
- Tambiah, Stanley Jeyaraja (1984). The Buddhist Saints of the Forest and the Cult of Amulets. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-27787-7.
- Taylor, J. L. (1993). Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study in Northeastern Thailand. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-3016-49-1.
- Taylor, Jim [J.L.] (2008), Buddhism and Postmodern Imaginings in Thailand: The Religiosity of Urban Space, Ashgate, ISBN 9780754662471
- Tiyavanich, Kamala (January 1997). Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1781-7.
- Zuidema, Jason (2015), Understanding the Consecrated Life in Canada: Critical Essays on Contemporary Trends, Wilfrid Laurier University Press
Sumber web
Bacaan lanjutan
- Primer
- Maha Bua Nyanasampanno, Ajahn (2004), Venerable Ācariya Mun Bhuridatta Thera: A Spiritual Biography (PDF), Forest Dhamma Books, diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-08, diakses tanggal 2018-11-04
- Sekunder
- Taylor, J. L. (1993). Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study in Northeastern Thailand. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-3016-49-1.
- Tiyavanich, Kamala (January 1997). Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-1781-7.
- Lopez, Alan Robert (2016), Buddhist Revivalist Movements: Comparing Zen Buddhism and the Thai Forest Movement, Springer
Pranala luar
Wihara
Mengenai Tradisi
- Tokoh-tokoh penting dengan buku-buku dhamma yang diterbitkan dan diterjemahkan — Access to Insight
- Esai tentang asal mula Tradisi Hutan Tailan oleh Thanissaro Bhikkhu
- Halaman tentang tradisi hutan dari wihara Buddhis Vimutti di Selandia Baru Diarsipkan 2016-01-22 di Wayback Machine.
- Mengenai Tradisi Hutan — Abhayagiri.org
- Buku oleh Ajahn Maha Bua mengenai praktik Kammaṭṭhāna
Sumber Dhamma
- Terjemahan dan ceramah dhamma Thanissaro Bhikkhu
- Berbagai sumber daya tentang Tradisi Ajahn Chah
- Buku-buku yang diterjemahkan oleh Ajahn Dick Silaratano, Ajahn Suchard Abhijato, Ajahn Paññāvaḍḍho, dan Thanissaro Bhikkhu
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||