*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Thamanya Sayadaw U Vinaya (bahasa Burma:သာမညဆရာတော် ဦးဝိနယcode: my is deprecated ) adalah seorang bikuTheravāda Burma yang terkemuka dan berpengaruh keturunan suku Pa-O, yang paling dikenal karena penekanannya pada ajaran mettā (cinta kasih).[1]
Ia pertama kali ditahbiskan menjadi seorang samanera (calon biku) pada usia 13 tahun dan menerima penahbisan penuh (upasampadā) pada tanggal 3 Juni 1932 saat berusia 20 tahun. Ia mendirikan sebuah vihara dan pusat retret meditasi di dekat kampung halamannya di Bukit Thamanya, tempat ia mengajarkan meditasi dan memberikan khotbah Dhamma.[2] Daerah di sekitar viharanya dideklarasikan sebagai kawasan suci (bahasa Burma:ဘေးမဲ့ဒေသcode: my is deprecated ) di mana prinsip tanpa-kekerasan (ahimsa) dan vegetarianisme dipraktikkan secara ketat.[3][4] Menjelang pertengahan tahun 1980-an, para pengikutnya mendirikan sebuah komunitas yang berkembang pesat di sekitar Bukit Thamanya, yang kemudian mencakup hingga 5.000 rumah tangga pada akhir 1990-an, seiring dengan inisiatif Sayadaw yang membagikan lahan gratis di sekitar viharanya.[4]
Pada tahun 1991, pemerintah Burma menganugerahinya gelar kehormatan "Abhidhaja Agga Maha Saddhamma Jotika" atas karya amal dan misi keagamaannya (Dhammaduta). Ia dikenal atas berbagai proyek pendidikan dan infrastrukturnya, termasuk pembangunan Jembatan Thanlwin, sebuah jalan yang menghubungkan wilayah Myawaddy dengan Mae Sot, serta dukungannya sebagai donatur sekolah-sekolah setempat.[4] Meskipun demikian, ia secara terbuka mengkritik Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara (junta militer) yang berkuasa, menolak perlindungan serta undangan mereka untuk mengunjungi Yangon, dan secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Aung San Suu Kyi.[3][5]
Ia mangkat pada tanggal 29 November 2003 akibat komplikasi penyakit diabetes dan jantung.[6] Pada tanggal 2 April 2008, jenazahnya secara misterius raib dari makamnya.[7] Empat hari kemudian, para pelaku yang tidak diketahui identitasnya memberi tahu para biku bahwa jenazah tersebut telah dibakar, dan kemudian ditemukan di lokasi sebuah stupa kecil di Desa Kawkada.[7] Tindakan perusakan ini secara luas diyakini sebagai bagian dari ritual yadaya (ritual gaib/tolak bala tradisional politik Burma).[7]