*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Ia mempelajari tarian kontemporer dan bekerja sebagai penari serta guru tari hingga awal usia tiga puluhan, ketika ia mendapat kesempatan untuk bertemu Ajahn Sumedho di Inggris dan menghadiri salah satu ceramah Dhamma-nya yang kemudian dilanjutkan dengan mengikuti sebuah retret.[2] Ia adalah satu dari empat perempuan pertama yang ditahbiskan oleh Ajahn Sumedho pada tahun 1979 sebagai seorang petapa awam (anagārikā dengan delapan sila) dan pada tahun 1983 sebagai seorang sīladhārā dengan sepuluh sila.[3][4] Setelah menetap di Wihara Chithurst di Inggris, Ajahn Sundara pindah pada tahun 1984 ke Wihara Amaravati dan berperan penting dalam mendirikan komunitas biarawati di sana.[5] Ia pergi ke Tailan pada pertengahan 1990-an, tempatnya menghabiskan lebih dari dua tahun, utamanya untuk menjalani retret di wihara-wihara hutan. Ia telah mengajar dan memimpin retret di Eropa dan Amerika Utara selama bertahun-tahun.[6] Saat ini, ia menetap di Wihara Amaravati, yang sejarah dan relevansinya dengan peran perempuan dalam Buddhisme telah ia dokumentasikan dalam bab buku berjudul "The Theravada Sangha Goes West: The Story of Amaravati".[7]
↑Angell, Jane (2006). "Women in Brown: a short history of the order of sīladharā, nuns of the English Forest Sangha, Part Two". Buddhist Studies Review. 23 (2). doi:10.1558/bsrv.2006.23.2.221. ISSN1747-9681.