Ringkasan isi
Kāyagatāsati Sutta menekankan perlunya perhatian-penuh konstan terhadap posisi tubuh, "Ketika berjalan, bhikkhu tersebut menyadari, 'Saya sedang berjalan.' Ketika berdiri, ia menyadari, 'Saya sedang berdiri.' Ketika duduk, ia menyadari, 'Saya sedang duduk.' Ketika berbaring, ia menyadari, 'Saya sedang berbaring.'" [1]
Sutta ini juga menguraikan praktik "perenungan pada kejijikan tubuh" (paṭikkūlamanasikāra). Dalam praktik ini, seorang pemeditasi merenungkan berbagai bagian tubuh (kuku, rambut, organ tubuh, cairan), dan memperhatikan ketidakmurniannya. Sutta ini juga merekomendasikan meditasi tentang ketidakkekalan tubuh dan kematian dengan merenungkan mayat manusia dalam berbagai tahap pembusukan (sīvathikāmanasikāra). "Lebih jauh lagi, seolah-olah ia melihat sesosok mayat yang dibuang di tanah pekuburan—mati satu hari, dua hari, tiga hari—membengkak, membiru, & membusuk, ia menerapkannya pada tubuh ini sendiri, 'Tubuh ini juga: Demikianlah sifatnya, demikianlah masa depannya, demikianlah nasibnya yang tak terhindarkan.'"[1]
Sutta ini kemudian menjelaskan pencapaian empat rūpa jhāna, yaitu kondisi konsentrasi dan ketenangan yang dicapai melalui meditasi.
Terakhir, sutta ini menguraikan sepuluh manfaat dari praktik-praktik tersebut, yaitu sebagai berikut:
- Menaklukkan ketidaksenangan & kesenangan
- Menaklukkan ketakutan & kengerian
- Ketahanan terhadap suhu, rasa sakit, dan unsur-unsur alam.
- Pencapaian empat jhāna
- Kemampuan batin yang lebih tinggi (abhiññā), mencakup:
- "Keberhasilan/kemampuan spiritual yang lebih tinggi" (iddhi-vidhā), seperti berjalan di atas air dan menembus tembok;
- "Telinga ilahi" (dibba-sota), yaitu pendengaran supranatural jernih;
- "Pengetahuan yang menembus pikiran" (ceto-pariya-ñāṇa), yaitu kemampuan untuk membaca pikiran makhluk lain;
- "Mengingat tempat tinggal terdahulu" (pubbe-nivāsanussati), ingatan kausal, yaitu mengingat kembali kehidupan lampau seseorang;
- "Mata ilahi" (dibba-cakkhu), yaitu mengetahui tujuan karma orang lain; dan,
- "Pelenyapan noda batin" (āsavakkhaya), yang kemudian diikuti oleh pencapaian tingkat Arahat. "Melalui berakhirnya noda-noda batin, ia tetap berada dalam kebebasan-kesadaran & kebebasan-pemahaman yang bebas dari noda, setelah mengetahui dan mewujudkannya sendiri tepat di sini & saat ini juga."[1]