Ajahn Sumedho (lahir 27 Juli 1934) adalah seorang biku buddhis Amerika Serikat. Ia menerima penahbisan (upasampadā) pada tahun 1967, dan berperan penting dalam mendirikan Wat Pah Nanachat di Tailan serta wihara Cittaviveka dan Amaravati di Inggris. Sebagai salah satu perwakilan Barat paling senior dari Tradisi Hutan Tailan dalam Buddhisme Theravāda di bawah bimbingan Ajahn Chah (lihat Tradisi Hutan Ajahn Chah), Sumedho dianggap sebagai tokoh penting dalam penyebaran ajaran Buddha ke Dunia Barat.
Biografi
Ajahn Sumedho, yang juga dikenal sebagai Luang Por Sumedho, lahir dengan nama Robert Karr Jackman di Seattle, Washington, pada tahun 1934.[1][2] (Sumedho adalah nama Dhamma-nya, sedangkan Ajahn yang berarti "guru", dan Luang Por yang berarti "ayah yang mulia", adalah gelar kehormatan.) Selama Perang Korea, ia bertugas selama empat tahun sejak usia 18 tahun sebagai tenaga medis di Angkatan Laut Amerika Serikat. Ia kemudian menempuh pendidikan sarjana (BA) di bidang studi Asia Timur dan lulus pada tahun 1963 dengan gelar master (MA) di bidang studi Asia Selatan dari Universitas California, Berkeley. Setelah setahun bekerja sebagai pekerja sosial Palang Merah, Jackman bertugas di Peace Corps di Borneo dari tahun 1964 hingga 1966 sebagai guru bahasa Inggris. Saat sedang berlibur di Singapura, ketika duduk pada suatu pagi di sebuah kafe trotoar, ia melihat seorang biku berjalan lewat dan berpikir dalam hatinya, "Itu terlihat menarik." Pada tahun 1966, ia menjadi seorang samanera (sāmaṇera) di Wat Si Saket di Nong Khai, Tailan timur laut. Ia ditahbiskan penuh sebagai seorang bhikkhu (biku buddhis) pada bulan Mei tahun berikutnya.
Dari tahun 1967 hingga 1977 di Wat Nong Pah Pong, ia berlatih di bawah bimbingan Ajahn Chah. Ia kemudian diakui sebagai murid Barat Ajahn Chah yang paling berpengaruh. Pada tahun 1975, ia membantu mendirikan dan menjadi kepala wihara pertama di Wihara Hutan Internasional, Wat Pah Nanachat di Tailan timur laut, yang didirikan oleh Ajahn Chah khusus untuk melatih murid-murid non-Tailannya. Pada tahun 1977, Ajahn Sumedho mendampingi Ajahn Chah dalam sebuah kunjungan ke Inggris. Setelah mengamati minat yang kuat terhadap Buddhisme di kalangan orang Barat, Ajahn Chah mendorong Ajahn Sumedho untuk menetap di Inggris guna mendirikan wihara cabang di Britania Raya. Tempat ini kemudian menjadi Wihara Hutan Cittaviveka (Wihara Chithurst) di Sussex Barat.
Ajahn Sumedho diberikan wewenang untuk menahbiskan orang lain sebagai biku tidak lama setelah ia mendirikan Wihara Hutan Cittaviveka. Ia kemudian mendirikan silsilah penahbisan sepuluh sila (dasa-sīla) untuk perempuan, yang disebut "Sīladharā".
Hingga masa pensiunnya, Ajahn Sumedho menjabat sebagai kepala wihara di Wihara Amaravati di dekat Hemel Hempstead, Inggris, yang didirikan pada tahun 1984. Amaravati adalah bagian dari jaringan wihara dan pusat buddhis dalam silsilah Ajahn Chah, yang kini membentang di seluruh dunia, mulai dari Tailan, Selandia Baru, Australia, hingga Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat. Ajahn Sumedho memainkan peran penting dalam membangun komunitas kebiaraan internasional ini.
Rencana pensiun Ajahn Sumedho diumumkan pada bulan Februari 2010, dan ia resmi pensiun pada bulan November tahun tersebut. Penerusnya adalah biku asal Inggris, Ajahn Amaro, yang sebelumnya menjabat sebagai rekan kepala wihara di wihara cabang Abhayagiri di Redwood Valley, California. Ajahn Sumedho kembali ke Wihara Amaravati di dekat Hemel Hempstead, Inggris pada tahun 2020 dan kini menetap di sana.
Ajaran
Ajahn Sumedho (kiri) bersama seorang biku Tailan yang sedang berkunjung (Phra Root Chumdermpadetsuk).
Ajahn Sumedho adalah tokoh terkemuka dalam Tradisi Hutan Tailan. Ajaran-ajarannya sangat lugas, praktis, sederhana, dan membumi. Dalam ceramah dan khotbahnya, ia menekankan kualitas kesadaran intuitif langsung dan integrasi kesadaran semacam ini ke dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kebanyakan guru dalam Tradisi Hutan, Ajahn Sumedho cenderung menghindari abstraksi intelektual dari ajaran Buddha dan berfokus hampir secara eksklusif pada penerapan praktisnya, yaitu mengembangkan kesadaran dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Nasihatnya yang paling konsisten dapat diparafrasekan sebagai melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang kita inginkan atau tidak kita inginkan ("Saat ini, keadaannya seperti ini..."). Ia dikenal dengan gaya komunikasinya yang menarik dan jenaka, di mana ia menantang pendengarnya untuk mempraktikkan dan melihatnya sendiri. Para murid mencatat bahwa ia melibatkan pendengarnya dengan selera humor yang menular, diliputi dengan banyak cinta kasih, sering kali merangkai anekdot-anekdot lucu dari pengalamannya sebagai seorang biku ke dalam ceramahnya tentang praktik meditasi dan bagaimana menjalani hidup ("Semuanya memiliki tempatnya").[3]
Teknik suara keheningan
Sebuah teknik meditasi yang diajarkan dan digunakan oleh Ajahn Sumedho melibatkan istirahat dalam apa yang ia sebut sebagai "suara keheningan" (sound of silence).[4]
Ia berbicara panjang lebar tentang teknik ini dalam salah satu bukunya yang berjudul The Way It Is.[5]
Ajahn Sumedho mengatakan bahwa ia secara langsung dipengaruhi oleh buku karya Edward Salim Michael, The Way of Inner Vigilance (diterbitkan kembali pada tahun 2010 dengan judul baru, The Law of Attention, Nada Yoga and the Way of Inner Vigilance di mana Ajahn Sumedho menulis kata pengantarnya).
Sound of Silence juga merupakan judul salah satu buku Ajahn Sumedho (diterbitkan oleh Wisdom Publications pada tahun 2007).[6]