Ajahn Mun Bhūridatta Thera (1870–1949) adalah seorang bikuBuddhisme Theravāda yang amat dihormati dan merupakan tokoh kunci pendiri Tradisi Hutan Tailan (juga dikenal sebagai tradisi Kammaṭṭhāna). Bersama dengan gurunya, Ajahn Sao Kantasīlo, ia merevitalisasi praktik pertapaan dan meditasi hutan yang ketat di Tailan pada awal abad ke-20. Ajaran dan gaya hidupnya sangat identik dengan pencarian spiritual murni untuk mengikis kilesa (kotoran batin) dan mencapai Nibbāna.[1]
Kehidupan awal dan penahbisan
Ajahn Mun lahir pada hari Kamis, 20 Januari 1870 (Tahun Kambing), di sebuah desa pertanian bernama Ban Khambong, distrik Khong Jiam, Provinsi Ubon Ratchathani. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara dari pasangan Khamduang dan Jun Kaenkaew.[2]
Pada usia 15 tahun, ia ditahbiskan menjadi seorang samanera di desa asalnya dan dengan cepat menghafal teks-teks Dhamma. Dua tahun kemudian, ia diminta oleh ayahnya untuk melepaskan jubah guna membantu keluarga. Namun, karena kecintaannya pada kehidupan kebiaraan, ia bertekad untuk kembali. Pada tanggal 12 Juni 1893, di usia 22 tahun, ia menerima penahbisan penuh sebagai biku di Wat Liap, Ubon Ratchathani, dengan Phra Ariyakawi sebagai upajjhāya (guru spiritual). Ia ditahbiskan dengan nama Dhamma "Bhūridatta" dan mulai berlatih meditasi di bawah bimbingan Ajahn Sao Kantasīlo di wihara tersebut.[3]
Praktik dan pengembaraan
Pada awal pelatihannya, Ajahn Mun menggunakan metode meditasi dengan mengulang-ulang kata "buddho" di dalam batin. Suatu malam, ia mengalami mimpi visioner (nimitta): ia berjalan keluar dari hutan lebat menuju sebuah padang yang luas, melintasi sebuah batang pohon jati raksasa yang mati, dan kemudian menunggangi seekor kuda putih yang membawanya menuju sebuah rak Tipiṭaka perak yang indah. Mimpi ini meyakinkannya bahwa dengan ketekunan, ia akan menemukan jalan untuk mengakhiri siklus penderitaan (saṃsāra).[4]
Untuk mempercepat pembebasan spiritualnya, Ajahn Mun secara sukarela berkomitmen untuk menjalankan tujuh praktik pertapaan (dhutaṅga) dengan sangat ketat sepanjang hidupnya. Praktik-praktik tersebut meliputi: mengenakan jubah dari kain buangan (paṃsukūla), pergi mengumpulkan dana makanan (piṇḍapāta) setiap hari, makan hanya makanan yang ada di dalam mangkuk (patta), makan hanya satu kali sehari, menolak makanan tambahan setelahnya, hidup mengembara di hutan atau pegunungan, serta hanya memiliki tiga helai jubah utama.[5]
Seperti gurunya, Ajahn Mun pada masa lalunya pernah membuat ikrar spiritual untuk menjadi seorang Buddha di masa depan. Namun, karena menyadari bahwa jalan tersebut membutuhkan waktu berkalpa-kalpa di dalam siklus kelahiran kembali, ia memutuskan untuk melepaskan ikrar tersebut demi mencapai pencerahan dan kebebasan mutlak dari dukkha di kehidupannya saat ini.[6]
Pada tahun-tahun awal pengembaraannya bersama Ajahn Sao, kehidupan mereka dipenuhi kemiskinan dan keterbatasan ekstrem. Penduduk desa di daerah perbukitan yang belum memahami cara hidup biku Kammaṭṭhāna sering kali hanya menyumbangkan nasi tawar tanpa lauk, atau makanan mentah yang secara Vinaya dilarang untuk dikonsumsi oleh biku. Kendati demikian, mereka tetap bertahan demi kelancaran pencarian Dhamma.[7]
Pengalaman di Gua Sarika
Salah satu periode terpenting dalam kehidupan spiritual Ajahn Mun adalah masa tiga tahun yang dihabiskannya di Gua Sarika, Pegunungan Khao Yai, Provinsi Nakhon Nayok. Penduduk setempat sebelumnya telah memohon agar ia tidak tinggal di gua tersebut karena adanya sosok raksasa makhluk halus penjaga yang diklaim telah membunuh banyak biku yang mencoba menetap di sana.[8]
Beberapa malam setelah menetap di gua tersebut, ia menderita sakit perut dan pendarahan hebat. Setelah obat-obatan akar herbal gagal menyembuhkannya, ia memutuskan untuk menggunakan "Dhamma sebagai penyembuh". Ia bermeditasi sepanjang hari hingga malam, menganalisis rasa sakitnya dengan kebijaksanaan (paññā), hingga akhirnya citta-nya memasuki keheningan total. Rasa sakitnya pun sembuh secara instan dan tanpa bekas.[9]
Dalam kondisi tersebut, sesosok makhluk raksasa hitam dengan gada logam besar setebal kaki manusia mendatanginya dan mengancam akan membunuhnya. Melalui meditasinya, Ajahn Mun mengonfrontasi sang makhluk, menjelaskan hukum kamma dan mempertanyakan kekejamannya di hadapan kesucian Dhamma. Raksasa (yang ternyata adalah pemimpin para dewa lokal yang menyamar) tersebut akhirnya menyesal, mengubah wujudnya, memohon maaf, dan berlindung kepada Buddha, Dhamma, serta Sangha.[10]
Di Gua Sarika pula Ajahn Mun mencapai pencerahan pada tingkat Anāgāmī (Yang Tidak-Kembali), tingkat kesucian ketiga yang telah melepaskan lima belenggu rendah. Selama di sana, ia sering dikunjungi oleh para dewa dan makhluk halus dari berbagai alam, serta para Sāvaka Arahanta (Siswa Arahat yang telah berlatih sejak masa Sang Buddha) yang muncul dalam meditasi untuk memberinya instruksi Dhamma.[11]
Gaya mengajar dan metode pelatihan
Gaya pelatihan Ajahn Mun dikenal amat keras dan tanpa kompromi. Ia sering mendorong murid-muridnya untuk menghadapi ketakutan terbesar mereka guna menundukkan citta yang liar. Apabila ada biku yang takut pada harimau, ia akan menyuruhnya bermeditasi di hutan yang dihuni harimau; bila takut pada hantu, biku tersebut akan diminta bermalam di area kremasi atau pekuburan.[12][13] Ia meyakini bahwa menghadapi ancaman mematikan akan membangkitkan sati (perhatian penuh, kesadaran penuh) dan mendorong batin untuk mencapai samādhi (konsentrasi, pemusatan pikiran) yang dalam.[14]
Ajahn Mun juga sangat mendukung praktik puasa atau pembatasan makanan yang ketat bagi biku-biku yang kecenderungan tubuhnya justru membuat batin mereka malas saat kenyang. Banyak biku di generasinya yang berpuasa dari mulai beberapa hari hingga hitungan minggu untuk menajamkan kebijaksanaan spiritual mereka.[15]
Ajahn Mun terkenal memiliki kekuatan supranatural untuk membaca pikiran orang lain (paracittavijjā). Para muridnya melaporkan bahwa mereka harus sangat berhati-hati menjaga pikiran mereka di sekitarnya. Bila ada biku yang pikirannya menyimpang ke hal-hal duniawi selama pindapata, Ajahn Mun sering kali langsung membahas dan menegur bentuk pikiran spesifik tersebut saat ceramah malam harinya secara tajam, walau tanpa menyebut nama biku yang bersangkutan.[16] Ia juga secara rutin menggunakan "bahasa batin" (telepati tanpa batasan linguistik) saat berkomunikasi dengan para dewa, nāga, dan makhluk alam halus lainnya yang sering datang menemuinya di tengah malam untuk mendengarkan khotbah Dhamma.[17]
Kemangkatan dan warisan
Ajahn Mun meninggal dunia pada tahun 1949 di Wat Pa Sutthawat, Provinsi Sakon Nakhon. Setelah jasadnya dikremasi, pecahan tulang-tulangnya dibagikan kepada umat dan para biku. Kemudian, dilaporkan bahwa sisa-sisa tulang tersebut berubah menjadi relik menyerupai kristal (Sarīra-dhātu) dalam berbagai warna, dari yang bening transparan hingga yang pekat, yang oleh para pengikutnya diyakini sebagai bukti mutlak pencapaian kesucian Arahat yang diraihnya.[18]
Banyak murid langsung Ajahn Mun yang kemudian menjadi biku-biku paling berpengaruh di Tailan dan memimpin wihara-wihara utama, seperti Ajahn Maha Bua, Ajahn Thate, Ajahn Funn Ācāro, dan Ajahn Anālayo. Karena keteguhan pelatihannya, garis silsilah Tradisi Hutan yang dirintis olehnya tetap bertahan kuat sebagai ciri menonjol dari wajah Buddhisme Tailan modern.[19]