*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Kulatissa Nanda Jayatilleke (1 November 1920 – 23 Juli 1970) adalah seorang pakar filsafat buddhis yang diakui secara internasional. Bukunya, Early Buddhist Theory of Knowledge, telah dideskripsikan sebagai "interpretasi filosofis yang luar biasa terhadap ajaran Buddha" di dalam Encyclopedia of Philosophy.[1]
Biografi
Jayatilleke lahir pada 1 November 1920, di Kolombo, Sailan Britania. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya di Royal College di Kolombo, ia melanjutkan studi bahasa Pali dan Sanskerta di Universitas Sailan, di mana ia memperoleh gelar kehormatan kelas satu. Ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Cambridge dengan tujuan untuk memperoleh landasan yang kuat dalam filsafat Barat. Ia mendapatkan pelatihan unik dalam pemikiran Timur maupun Barat serta pendekatan analitis terhadap filsafat, yang memberinya latar belakang untuk menopang karyanya sepanjang kariernya. Jayatilleke adalah seorang Nuffield Fellow di bidang Humaniora, anggota (Fellow) di World Academy of Arts and Sciences , Hay-Whitney-Fulbright Fellow, penyunting di berbagai jurnal filsafat, serta menjabat sebagai Profesor dan Kepala Departemen Filsafat di Universitas Sailan, dari tahun 1963 hingga kematiannya pada tahun 1970.
Kontribusi
Jayatilleke paling dikenal sebagai penulis buku Early Buddhist Theory of Knowledge, yang mungkin merupakan buku terhebat yang ditulis oleh seorang tokoh Sri Lanka pada abad ke-20.[2] Karya ini telah dideskripsikan sebagai sebuah "mahakarya",[3] dan sebagai "kontribusi yang luar biasa pada sejarah filsafat India".[1][4][5] Buku ini menelusuri asal mula gagasan-gagasan yang berkaitan dengan teori pengetahuan dalam pemikiran India pra-Buddhis beserta perkembangannya di masa Buddhisme awal. Buku tersebut berisi penyelidikan komprehensif mengenai hakikat pengetahuan serta pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan cara-cara dan batas-batas pengetahuan.[2][3] Buku ini berupaya menyusun metodologi umum untuk menjawab pertanyaan yang muncul dalam konteks diskusi filosofis yang mendalam dan rumit,[3] serta berusaha menunjukkan bahwa sang Buddha adalah seorang empirisis dan verifikasionis yang menolak kebermaknaan dari ucapan-ucapan metafisik. Jayatilleke mendeskripsikan karyanya sebagai "upaya untuk mengungkap landasan epistemologis pemikiran Tripitaka Pali, dari sudut pandang baru dan dengan mempertimbangkan materi-materi baru." Argumen dasarnya adalah bahwa Buddhisme awal memiliki pandangan empirisis, memberikan tempat yang penting pada pendekatan analitis dalam filsafat, dan tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan sains modern. Jayatilleke adalah seorang murid dari Ludwig Wittgenstein, sekaligus guru dari pakar Buddhis ternama, David Kalupahana.
Karya
Jayatilleke berupaya secara sistematis untuk merumuskan pandangan empirisis dalam teori pengetahuan Buddhis, serta menyajikan Buddhisme melalui idiom, bahasa, dan metodologi filsuf kontemporer, agar ajaran tersebut menjadi relevan secara langsung dengan dunia kontemporer dan dapat membantu dalam penyelesaian kontroversi filosofis maupun masalah-masalah manusia modern.[3] Ia menekankan bahwa menganggap Buddha semata-mata sebagai filsuf "rasionalis" adalah hal yang keliru, dan bahwa sang Buddha lebih menjunjung tinggi nilai nalar analitis ketimbang nalar spekulatif. Ia menyajikan tiga unsur penting dalam "sudut pandang baru" di mana ia membahas pemikiran Tripitaka Pali—yaitu pandangan empirisis, pendekatan analitis, dan sikap ilmiah. Dalam bukunya, Jayatilleke mengutip empat cara menelaah pertanyaan filosofis yang memunculkan pendekatan analitis dalam Buddhisme:
pertanyaan yang harus dijelaskan secara kategoris
pertanyaan yang harus dijawab dengan pertanyaan balik
pertanyaan yang harus dikesampingkan
pertanyaan yang harus dijelaskan secara analitis[6]
Jayatilleke sangat menghormati temuan-temuan ilmiah modern, dan menganggap kelahiran kembali (rebirth) sebagai hipotesis yang mampu diverifikasi secara ilmiah. Selain karya-karya dasarnya di bidang epistemologi, terdapat sejumlah karya lain. Yang paling menonjol dari karya tersebut adalah "Buddhism and the race question"[7] dan The Principles of International Law in Buddhist Doctrine.[8]The Message of the Buddha[9] diterbitkan secara anumerta dan berisi materi-materi yang sedang ia kerjakan pada saat kematiannya.
Publikasi
1957 'A Recent Criticism of Buddhism' dalam The University of Ceylon Review, vol. xv. nos. 3 dan 4, Juli-Oktober.
1963 Early Buddhist Theory of Knowledge. Penerbit: George Allen and Unwin.
1967 The Principles of International Law in Buddhist Doctrine Recueil des cours, Volume 120 (1967-I), hlm. 441–567.
1967 Dhamma, Man and Law. Leyden.
1958 Buddhism and the Race Question bersama G. P. Malalasekera (Edisi bahasa Inggris dan Prancis) Penulis ulasan: Andrew W. Lind Philosophy East and West, Vol. 8, No. 1/2 (Apr. – Jul. 1958). Publikasi UNESCO.
1975 The Message of the Buddha Editor: Dr. Ninian Smart. Penerbit: George Allen and Unwin 1974. Buddhist Publication Society 1975 (Karya anumerta).
Beberapa Publikasi Seri Wheel, Diterbitkan oleh Buddhist Publication Society, Kandy, Sri Lanka:[10]
Facets of Buddhist Thought: Collected Essays, Buddhist Publication Society, Kandy 2009. (Berisi semua esai & artikel Jayatilleke, termasuk yang sebelumnya diterbitkan dalam The Message of the Buddha.)
Catatan dan referensi
12Encyclopedia of Philosophy, vol. I (New York, 1967) hlm. 420.
1234de Silva MWP. Memorial Tribute to the Late Professor K. N. Jayatilleke. Philosophy East & West, Vol 21, Number 2 (April 1971)
↑Ninian Smart, ulasan buku karya Jayatilleke 'Early Buddhist Theory of Knowledge', dalam Mind 75, no. 299 (Jul. 1966), 454.
↑George Chatalian (Harvard) Jayatilleke on a concept of Meaninglessness in the Pali Nikayas. Philosophy East and West, vol, XVIII, Nos. 1 and 2, Januari–April 1968.
↑Buddhism and the Race Question oleh G. P. Malalasekera, K. N. Jayatilleke Penulis ulasan: Andrew W. Lind Philosophy East and West, Vol. 8, No. 1/2 (Apr. – Jul. 1958), hlm. 68–69
↑Jayatilleke, K.N. The principles of international law in Buddhist doctrine / K.N. Jayatilleke. Recueil des cours, Volume 120 (1967-I), hlm. 441–567.
↑Jayatilleke, K.N. The Message of the Buddha. Buddhist Publication Society. 1975 (Karya anumerta)
↑Buddhist Publication Society P.O. Box 61 54, Sangharaja Mawatha Kandy, Sri Lanka