Brahmawihara (Pali: brahmavihārā, kediaman luhur, atau cattāro brahmavihārā, empat kediaman luhur; terj. har.'kediaman brahma') adalah empat sifat luhur dalam ajaran Buddha beserta praktik meditasi terkait yang perlu dikembangkan. Brahmawihara juga dikenal sebagai empat keadaan tanpa-batas (Pali: appamaññā)[1] atau empat pikiran tak terbatas.[2]Brahmavihārā tersebut adalah:
Menurut Mettā Sutta, pengembangan empat keadaan tanpa batas memiliki kekuatan untuk menyebabkan praktisinya terlahir kembali di "alam brahma" (Pali: brahmaloka).[3]
Brahmavihārā dapat diurai menjadi "brahma" dan "vihāra", yang sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai "sublime" atau "divine abodes" (kediaman luhur atau mulia).[4]
Appamaññā, yang biasanya diterjemahkan sebagai "keadaan tanpa batas", berarti "ketakterbatasan, infinit, suatu keadaan yang tidak dapat dibatasi".[5] Ketika dikembangkan ke tingkat yang tinggi dalam meditasi, sikap-sikap ini dikatakan dapat membuat batin menjadi "tak terbatas" dan menyerupai batin para makhluk di alam brahma yang penuh kasih.[6]
Terjemahan lainnya:
Bahasa Inggris: empat divine abodes (kediaman ilahi), empat divine emotions (emosi ilahi), empat sublime attitudes (sikap luhur), empat divine dwellings (kediaman ilahi).[7]
Asia Timur:
Hanzi Tradisional: 四無量心code: zh is deprecated ;Pinyin: Sì wúliàng xīn;bahasa Jepang: 四無量心code: ja is deprecated ;Rōmaji: shimuryōshin;bahasa Korea: 사무량심code: ko is deprecated ;bahasa Vietnam: Tứ Vô Lượng Tâmcode: vi is deprecated ;arti harfiah: "empat keadaan batin tak terbatas, dari apramāṇa-citta"),
Hanzi Tradisional: 四等(心)code: zh is deprecated ;Pinyin: sì děng;arti harfiah: "empat kesetaraan/universal",
Hanzi Tradisional: 四梵行code: zh is deprecated ;Pinyin: sì fàn xíng;arti harfiah: "tindakan/karakteristik Brahma yang mulia".[8]
Tibet: ཚངས་པའི་གནས་བཞི་;Wylie: . tshangs pa'i gnas bzhi (empat brahmawihara) atau Tibet: ཚད་མེད་བཞི;Wylie: tshad med bzhi (empat keadaan tanpa batas).
Belas kasih (Pali dan Sanskerta: karuṇā), muncul sebagai perluasan dari mettā, yakni mengidentifikasi penderitaan orang lain sebagai penderitaan sendiri;[9][10]
Apresiasi simpatik (Pali dan Sanskerta: muditā), muncul sebagai perluasan dari mettā, yakni perasaan senang karena orang lain senang, meskipun seseorang tidak berkontribusi di dalamnya, sebagai suatu bentuk apresiasi simpatik;[9]
Ketidakberpihakan batin (Pali: upekkhā; Sanskerta: upekṣā), yakni ketenangan pikiran dan kejernihan, memperlakukan hal-hal secara tidak berpihak (imparsial).[9][10]
Paritta Suci
Dalam syair Brahmavihāra Pharaṇā ("Peresapan Brahmawihara") dari buku Paritta Suci oleh Saṅgha Theravāda Indonesia, latihan pengembangan brahmawihara dilakukan dengan syair-syair berikut ini.[11]
Semoga aku berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari penyakit, bebas dari kesukaran, semoga aku dapat mempertahankan kebahagiaanku sendiri. Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka sendiri.[11]
Semua makhluk memiliki karmanya sendiri, mewarisi karmanya sendiri, lahir dari karmanya sendiri, berhubungan dengan karmanya sendiri, terlindung oleh karmanya sendiri. Apa pun karma yang diperbuatnya, baik atau buruk, itulah yang akan diwarisinya.[11]
Buddhisme awal
Brahmavihārā juga merupakan konsep Brahmanisme pra-Buddhisme yang kemudian diberikan penafsiran tersendiri oleh tradisi Buddhisme.[12][13] Kitab Dīgha Nikāya menegaskan bahwa menurut Buddha, "brahmavihārā adalah 'praktik itu (dari tradisi lain)'," dan Beliau kemudian membandingkannya dengan "praktik-Ku" sebagai berikut:[12]
...praktik itu [yaitu, sekadar mengembangkan cinta kasih dan seterusnya, berdasarkan petunjuk rangkap-empat] tidak kondusif untuk kejenuhan, tidak untuk kepudaran nafsu, tidak untuk ketenangan, tidak untuk pelenyapan, tidak untuk pengetahuan langsung, tidak untuk pencerahan, maupun Nirwana, melainkan hanya untuk kelahiran kembali di alam brahma.
...praktik-Ku kondusif untuk kejenuhan penuh, kepudaran nafsu, pelenyapan, ketenangan, pengetahuan langsung, pencerahan, dan Nirwana – secara spesifik jalan mulia berunsur delapan (...)
—Buddha, Digha Nikaya II.251, Diterjemahkan oleh Harvey B. Aronson[12]
Menurut Richard Gombrich, seorang indolog dan pakar bahasa Sanskerta serta Pali, penggunaan brahmavihārā dalam Buddhisme awalnya merujuk pada suatu keadaan batin yang tercerahkan, dan sebuah sikap konkret terhadap makhluk lain yang setara dengan "hidup bersama Brahman" (dalam tradisi Brahmanisme) di sini dan saat ini. Tradisi pra-Buddhisme di masa lampau mengartikan deskripsi tersebut terlalu harfiah, dengan mengaitkannya pada kosmologi dan memahaminya sebagai "hidup bersama Brahman" melalui kelahiran kembali di alam brahma.[14] Menurut Gombrich, "Buddha mengajarkan bahwa mettā – apa yang cenderung disebut orang Kristen sebagai "cinta kasih" – adalah jalan menuju keselamatan.[15]
Dalam Tevijja Sutta (DN 13, "Tiga Pengetahuan") dalam Dīgha Nikāya atau "Kumpulan Khotbah-Khotbah Panjang", sekelompok kaum brahmana muda berkonsultasi dengan Buddha mengenai metode untuk mencari hubungan/persekutuan dengan makhluk brahma. Sang Buddha Gotama menjawab bahwa Beliau mengetahui alam-alam brahma beserta jalan menuju ke sana, lalu menjelaskan metode meditatif untuk mencapainya dengan menggunakan analogiresonansikulit kerang (sangka) dari aṣṭamaṅgala:
Seorang biku meliputi dunia ke empat penjuru dengan batin yang penuh mettā ... karuṇā ... muditā ... upekkhā, kemudian ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling – seluruh dunia dari semua sisi, sepenuhnya, dengan batin yang penuh mettā ... karuṇā ... muditā ... upekkhā, mencakup segalanya, besar, tanpa batas, damai, dan bersahabat ... Sama seperti peniup kerang terompet yang kuat dapat membuat dirinya terdengar tanpa banyak usaha ke empat penjuru [mata angin utama], demikian pula tidak ada batas bagi pengembangan mettā ... karuṇā ... muditā ... upekkhā yang membebaskan hati [ini]. Ini adalah jalan menuju hubungan dengan brahma.[16]
Buddha menyatakan bahwa setelah cinta kasih (mettā), biku tersebut harus melanjutkannya dengan peliputan yang sama ke seluruh dunia dengan pancaran mental berupa belas kasih (karuṇā), apresiasi simpatik (muditā), dan keseimbangan batin (upekkhā, memandang semua fenomena dengan mata kesetaraan).
Dalam kedua diskursus berjudul Metta Sutta dari Aṅguttara Nikāya,[17]Buddha menyatakan bahwa mereka yang mempraktikkan pemancaran empat keadaan tanpa-batas dalam kehidupan ini dan meninggal "tanpa kehilangannya" dipastikan akan terlahir kembali di alam surga dalam kehidupan mereka selanjutnya. Selain itu, jika orang tersebut adalah seorang siswa Buddha (Pāli: sāvaka) sehingga menyadari tiga corak eksistensi dari lima gugusan, maka setelah kehidupan surgawinya berakhir, siswa ini akan mencapai Nibbāna. Bahkan jika seseorang bukan seorang siswa Buddha, ia akan tetap mencapai kehidupan surgawi, yang mana setelah itu, bergantung pada perbuatan masa lalunya, ia dapat terlahir kembali di alam neraka, hewan, atau hantu kelaparan.[18]
Dalam sutta lain di Aṅguttara Nikāya, seorang perempuan awam bernama Sāmāvatī disebut sebagai contoh seseorang yang sangat unggul dalam cinta kasih.[19] Dalam tradisi Buddhisme, ia sering dirujuk demikian, kerap kali mengutip kisah bahwa anak panah yang ditembakkan ke arahnya berhasil ditangkis melalui kekuatan spiritualnya.[20]
Visuddhimagga
Empat keadaan tanpa batas dijelaskan dalam kitab Visuddhimagga, yang ditulis pada abad ke-5 oleh akademisi dan penafsir bernama Buddhaghoṣa. Empat sikat ini sering kali dipraktikkan dengan mengambil setiap keadaan tanpa-batas secara bergiliran dan menerapkannya pada diri sendiri (suatu praktik hasil penafsiran, yang diajarkan oleh banyak guru kontemporer dan para biku yang ditetapkan setelah sutta-sutta Pali selesai disusun), kemudian kepada orang-orang di sekitar, dan seterusnya hingga ke semua orang di dunia, serta semua makhluk di seluruh alam semesta.[21] Buddhaghosa juga mengidentifikasi "musuh jauh" dan "musuh dekat" dari setiap kediaman luhur, yang didasarkan pada penafsiran atas Suttapiṭaka. "Musuh jauh" (dūrapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang jelas-jelas bertentangan, sedangkan "musuh dekat" (āsannapaccatthika) merujuk pada keadaan batin yang seolah-olah serupa, tetapi sebenarnya berlawanan dari sifat luhurnya.[22]
Dalam literatur yang terkait dengan Buddhisme Tibet, A Cavern of Treasures (Tibet: མཛོད་ཕུག;Wylie: mdzod phug) adalah sebuah termaBonpo yang ditemukan oleh Shenchen Luga (Tibet: གཤེན་ཆེན་ཀླུ་དགའ;Wylie: gshen-chen klu-dga') pada awal abad ke-11. Sebuah bagian di dalamnya memuat permohonan/pancaran empat keadaan tanpa batas versi Bonpo ("agama Bon).[24] Martin (n.d.: hlm. 21) mengidentifikasi pentingnya kitab suci ini untuk studi bahasa Zhang-Zhung.[25]
Asal-usul historis
Sebelum kedatangan Buddha Gotama, menurut Martin Wiltshire, keberadaan tradisi pra-Buddhis mengenai alam-alam brahma (brahmāloka), meditasi, dan keempat brahmawihara ini terbukti dalam literatur Buddhis awal maupun non-Buddhis.[26]Teks Buddhis Awal menegaskan bahwa para resi India kuno pra-Buddha yang mengajarkan empat brahmawihara ini merupakan penjelmaan lampau dari Buddha Gotama.[26] Pasca-Buddha, empat brahmawihara yang sama ini juga ditemukan dalam teks-teks Hindu seperti bait 1.33 dari Yoga Sutra Patanjali.[27]
Tiga dari empat brahmawihara, yaitu maitrī, karuṇā, dan upekṣā, ditemukan dalam kitab-kitab Upanisad yang belakangan, sementara keempatnya ditemukan dengan sedikit variasi – seperti pramodā alih-alih muditā – dalam literatur Jainisme, sebut Wiltshire.[28] Para Paccekabuddha India kuno yang disebutkan dalam Sutta-Sutta Buddhis awal – mereka yang mencapai Nibbāna sebelum kehadiran Buddha Gotama – juga menyebutkan seluruh "empat keadaan tanpa-batas" tersebut.[26]
Menurut Peter Harvey, seorang pakar Buddhisme asal Inggris, kitab suci Buddhis mengakui bahwa praktik meditasi empat brahmavihārā ini "tidak berasal dari dalam tradisi Buddhis".[13]Buddha tidak pernah mengklaim bahwa "empat keadaan tanpa-batas" merupakan gagasan unik yang sepenuhnya Beliau temukan sendiri, tidak seperti "pelenyapan, ketenangan, Nirwana".[12]
Pergeseran dalam gagasan Weda, dari ritual menuju nilai-nilai kebajikan, sangat terlihat dalam pemikiran Upanisad awal. Meskipun demikian, masih belum jelas sejauh mana dan seberapa awal tradisi Upanisad dan tradisi Sramana seperti Buddhisme dan Jainisme saling memengaruhi satu sama lain dalam gagasan-gagasan seperti "empat keadaan tanpa-batas", meditasi, dan brahmavihārā.[26]
Dalam kitab suci Jain yang otoritatif, Tattvartha Sutra (Bab 7, sutra 11), terdapat penyebutan tentang empat sentimen benar: maitrī, pramodā, karuṇā, dan mādhyastha:
Cinta-kasih (maitrī) terhadap semua makhluk hidup, kegembiraan (pramodā) saat melihat orang yang bajik, belas kasih bersimpati (karuṇā) bagi mereka yang tertindas, serta berdiri-di-tengah/ketidakberpihakan (mādhyastha) terhadap mereka yang angkuh dan berperilaku buruk.
↑Bikkhu Bodhi (2000). Abhidhammattha Sangaha: A Comprehensive Manual of Abhidhamma. BPS Pariyatti Editions. hlm.89.
↑"AN 4.125, Metta Sutta". Access to Insight. Diterjemahkan oleh Thanissaro Bhikku. 2006. Lihat catatan 2 mengenai berbagai jenis Brahma yang disebutkan. Pemeliharaan CS1: Postscript (link)
Buddhagosha, Bhadantācariya (2010). Vishudimagga: The Path of Purification(PDF). Diterjemahkan oleh Ñāṇamoli, Bhikkhu. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society. II.IX.98.
"Dhamma Lists". Insight Meditation Center. Redwood City, Calif.
Bodhi, Bhikkhu (2012), The Numerical Discourses of the Buddha: A Translation of the Aṅguttara Nikāya, Boston: Wisdom Publications, ISBN978-1-61429-040-7
Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began, Munshiram Manoharlal
Bacaan lanjutan
Buddhas Reden (Majjhimanikaya), Kristkreitz, Berlin, 1978, diterjemahkan oleh Kurt Schmidt
Yamamoto, Kosho (tr.) & Page, Tony (revision) (2000). The Mahayana Mahaparinirvana Sutra. London, UK: Nirvana Publications.