*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Ajahn (Thai: อาจารย์code: th is deprecated , RTGS: achan, IPA:[ʔāː.tɕāːn]; Lao: ອາຈານ, romanized:ācāncode: lo is deprecated ) adalah istilah yang berasal dari bahasa Thai dan bahasa Lao yang berarti "profesor" atau "guru". Istilah ini pada gilirannya berasal dari kata Pāliācariya dan merupakan istilah penghormatan, yang artinya mirip dengan sensei dalam bahasa Jepang. Istilah ini digunakan sebagai sapaan untuk guru sekolah menengah dan universitas, dan untuk para biku yang telah melewati sepuluh vassa. Dengan kata lain, istilah ini digunakan untuk mereka yang telah menjaga sila kebikuan mereka tanpa terputus selama sepuluh tahun. Istilah Luang Por, "Ayah yang Terhormat", menandakan seorang ajahn yang diakui senioritasnya dalam Buddhisme Thailand.
Buddhisme
Menurut Vinaya, setiap biku yang ditahbiskan dengan benar dapat menjadi seorang ācariya setelah berhasil melewati sepuluh vassa dalam kehidupan berjubah. Di Thailand, istilah ācariya kemudian menjadi ajahn.
Seorang biku senior dapat menyandang gelar kehormatan phra ajahn (Thai: พระอาจารย์code: th is deprecated ,"biku yang terhormat"), atau dalam situasi yang lebih informal, than ajahn (Thai: ท่านอาจารย์code: th is deprecated ,"biku yang terhormat").[1]
Dalam bahasa Thai, para biku yang sangat dihormati seperti itu jarang sekali dipanggil hanya dengan sebutan ajahn chah, ajahn mun, dll., karena ada cara yang jauh lebih sopan untuk menyapa atau merujuk mereka. Istilah "Ajahn" pada umumnya tidak cukup formal untuk digunakan tanpa awalan "Phra" atau "Tan" ketika disapa oleh umat awam, tetapi formalitas ini telah dilonggarkan dalam konteks panggilan untuk biku-biku Barat dan biku Theravāda yang terkenal di luar Thailand.