Konflik sektarian Maluku
| Konflik sektarian Maluku | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Era Reformasi | ||||||
Pasukan militer Indonesia mengevakuasi pengungsi dari Ambon selama konflik tahun 1999. | ||||||
| Tanggal | 14 Januari 1999 – 13 Februari 2002 | |||||
| Lokasi | Kepulauan Maluku (dengan gangguan yang sangat serius terutama di Pulau Ambon dan Halmahera) | |||||
| Sebab | Konflik etnis Transmigrasi Jihadisme Separatisme Maluku Selatan | |||||
| Metode | Pengambilalihan wilayah, kerusuhan, pogrom, pengeboman, protes, pengusiran | |||||
| Hasil | Piagam Malino II | |||||
| Pihak terlibat | ||||||
| ||||||
| Tokoh utama | ||||||
| ||||||
| Jumlah | ||||||
| ||||||
| Jumlah korban | ||||||
| Korban jiwa | 5.000 tewas[1] | |||||
Konflik sektarian Kepulauan Maluku adalah konflik etnis-politik yang melibatkan kelompok agama di Kepulauan Maluku, Indonesia, khususnya Pulau Ambon dan Pulau Halmahera. Konflik ini bermula pada era Reformasi awal 1999 hingga penandatanganan Piagam Malino II tanggal 13 Febuari 2002.
Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Karena masalah politik tersebut menyangkut agama, perseteruan terjadi antara umat Kristen dan Islam pada Januari 1999. Perseteruan ini dengan cepat berubah menjadi pertempuran dan tindak kekerasan terhadap warga sipil oleh kedua belah pihak.[5] Dua pihak utama yang terlibat konflik ini adalah kelompok milisi agama dari kedua pihak,[6] termasuk kelompok Islamis bernama Laskar Jihad,[7] kelompok Kristen Dari Manado bernama Brigade Manguni dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.[8]
Penyebab
Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan politik dan ekonomi secara umum di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama dan seusai krisis ekonomi di Asia Tenggara.[2] Rencana pemekaran provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin memperuncing masalah politik daerah yang sudah ada.[3][4] Berikut memperburuk situasi: Kecemburuan sosial antariman, tingginya penganguran, transmigrasi/migrasi lain yang membawa paham agama yang berbeda, pelemahan sistem adat, lemahnya institusi penegah, pembentukan Kecamatan Malifut dan kecenderungan meningkatnya Islamisasi dan Kristenisasi yang membatasi interaksi antariman[9][10]
Transmigrasi terjadi di Seram, yang dipilih sebagai kawasan pemukiman bagi para pendatang yang berasal dari pulau-pulau lain. Di Seram Barat, di mana Gunung Nunusaku yang merupakan bagian dari wilayah budaya Ambon, diambil alih untuk diberikan kepada para pemukim dari Maluku Tenggara, Sulawesi, dan bahkan dari Jawa. Kerugian besar akibat pengambilalihan lahan menciptakan api kebencian yang berkepanjangan di kalangan masyarakat asli.[10]
Pada 1970-an saat transmigrasi baru saja diterapkan, desa-desa di Maluku sangat sepi dan hanya bisa dicapai melalui laut. Di akhir tahun 1990-an, semua desa tersebut telah dihubungkan oleh jalan yang di sekitarnya juga dibangun pusat-pusat bisnis dan pemukiman baru, yang hampir semuanya dimiliki oleh pendatang.[10]
Sejak awalnya, provokator yang sering dikatakan berhubungan dengan Orde Baru, dituduh sebagai biang kerusuhan. Lalu TNI dituduh memainkan peran kunci dalam memicu dan menggerakkan kekerasan dalam rangka menggoncang stabilitas negara Indonesia sebagai alat untuk mengembalikan kepentingan-kepentingan elit politik.[10]
Kerusuhan Ketapang di Jakarta juga berpengaruh. Polisi Jakarta mengirim lebih dari 100 anggota geng yang ditangkap dalam kerusuhan tersebut menggunakan kapal penumpang dan kapal angkatan laut kembali ke Ambon. Informan Muslim dan Kristen secara luas meyakini bahwa mereka dibebaskan dan diberi dorongan untuk melanjutkan konflik Muslim-Kristen mereka di Ambon dan diberi bayaran untuk merekrut penduduk setempat sebagai 'provokator'. [11]
Konflik di Maluku Selatan

Kerusuhan Ambon I
Dimulainya kerusuhan, 19 Januari 1999
Konflik ini dimulai pada 14 Januari 1999 di Dobo, Kepulauan Aru yang menewaskan 12 orang. Namun, Konflik utama baru mulai pada 19 Januari 1999 saat Idulfitri.
Tercatat secara luas bahwa konfrontasi awal yang memicu konflik tersebut terjadi antara seorang sopir minibus Bugis dan sekelompok pemuda Kristen. Tapi ada banyak versi kejadian. Versi pertama menceritakan seorang sopir Kristen asal Ambon bernama Jacob Leuhery (atau dikenal sebagai Yopy) sebagai korban pelecehan oleh dua orang Muslim Bugis, Usman dan Salim. Versi kedua, menggambarkan pihak Bugis sebagai korban intimidasi oleh Yopy. [12][9]
Versi pertama menyebutkan bahwa sekitar pukul 14.30 pada tanggal 19 Januari, Yopy—seorang Kristen asal Desa Aboru di dekat Batu Merah—baru saja memulai kerjanya sebagai sopir minibus di Terminal Batu Merah. Dua pemuda menghampirinya, dan salah satu dari mereka meminta Rp500. Yopy menolak memberikan uang. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Terminal Mardika. Setelah sekitar setengah jam, ia kembali ke Batu Merah tanpa mendapat penumpang. Kedua pemuda itu masih berada di sana; salah satu dari mereka kembali menghampirinya dan memalaknya. Yopy menjawab bahwa ia tidak memiliki uang karena belum mendapatkan penumpang. Ia meminta para pemuda itu untuk berhenti memalaknya. Salah satu pemuda mengeluarkan badik dan menempelkan ujungnya ke leher Yopy, namun Yopy berhasil mendorongnya menggunakan pintu minibus dan kabur ke Mardika dengan harapan kedua pemuda itu telah pergi. Namun, saat ia kembali—masih tanpa penumpang—kedua pemuda itu ternyata masih ada di sana. Salim merogoh sakunya untuk mengeluarkan badiknya. Yopy berlari pulang ke rumahnya di dekat terminal, mengambil senjatanya sendiri, lalu berlari kembali mengejar mereka hingga ke pasar Desa Batu Merah. Mereka berhasil meloloskan diri, dan Yopy akhirnya pulang ke rumah. Salim kemudian ditangkap di Bone pada tanggal 3 Februari dan dibawa kembali ke Ambon untuk dimintai keterangan beberapa hari kemudian. Yopy juga ditangkap dan ditahan pada 15 Febuari atas tuduhan melakukan penyerangan terhadap orang Bugis.[12]
Versi kedua menyatakan bahwa Yopy adalah sopir sebuah mobil van milik seorang warga Bugis dari Batu Merah. Kernetnya juga seorang Muslim yang berasal dari Batu Merah Bawah. Yopy telah menggunakan van tersebut untuk usaha rental pribadi, dan si kernet, atas nama sang pemilik, menagih uang bagian pemilik kepada Yopy. Yopy menolak dan mengancamnya. Beberapa penumpang beragama Kristen kemudian turut membantu Yopy mengeroyok kernet itu, yang lalu berlari ke Batu Merah Bawah untuk mencari bantuan dari teman-temannya. Kedua kelompok tersebut pun terlibat bentrokan sebelum akhirnya memicu pecahnya kerusuhan.[12]
Mau bagaimanapun penyebabnya, suatu sumber mengatakan kalau kurang dari 15 menit setelah Yopy tiba di rumahnya, ia melihat ratusan pemuda Muslim dari Batu Merah datang untuk menyerang warga Batu Merah Dalam—desa tempat rumah Yopy—yang sebagian besar beragama Kristen. Lempar-lemparan batu terlihat sekitar pukul 3.30 sore. Awalnya warga sekitar tidak terlalu mengkhawatirkannya karena memang situasi semacam ini sudah sering terjadi. Namun yang tidak mereka sadari, para penyerang tidak hanya datang sekali, tetapi jam 4 sore mereka datang lagi dan melancarkan serangan kedua, kali ini dengan jumlah milisi yang jauh lebih besar: antara 600 hingga 700 orang, menurut laporan sebuah gereja. Mereka mendapat rumor kalau ada yang membakar masjid di Batu Merah, padahal masjid itu tidak terkena apa-apa. Mereka membakar banyak rumah. Setelah itu, mereka kembali menyerang untuk ketiga kalinya sebelum berangkat ke Mardika.[12]
Akhirnya bentrok besar terjadi di Plaza Mardika, sekitar pukul 20.00. menewaskan 43 sampai 65 orang, melumpuhkan Kota Ambon dan membuat ~20.000 orang mengungsi.[9][12]
Kelompok-kelompok mulai terorganisasi dan menggunakan simbol ikat kepala merah untuk Kristen dan kain putih untuk Islam. Kerusuhan menyebar dengan sangat cepat.[9]
Silale, Waihaong, dan Kudamati, 19 Januari
Kekerasan menyebar dengan cepat ke wilayah Silale—sebuah kampung yang mayoritas penduduknya Muslim dengan kurang lebih 40 orang Kristen—bermula antara pukul 17.00 hingga 17.45. Rumah keluarga Kristen bernama Nikijuluw dibakar lebih dulu, disusul kemudian oleh rumah pastori Gereja Sumber Kasih. Massa Muslim kemudian membakar dan menjarah dua belas rumah milik warga Kristen di Silale, Waihaong, dan sekitar Jalan Baru. Mereka juga melempari Gereja Bethlehem dengan batu. Para pelaku kerusuhan bukanlah warga asli Silale, karena hubungan antara kedua komunitas selama ini terjalin dengan baik. Bahkan, beberapa warga Muslim setempat sempat memberikan kerudung kepada perempuan-perempuan Kristen untuk dikenakan jika mereka membutuhkan perlindungan. Namun, segelintir orang dari luar wilayah tersebut mulai mengumandangkan takbir. Awalnya, warga Muslim setempat hanya datang untuk melihat-lihat, tetapi para provokator berhasil memancing emosi mereka melalui seruan takbir tersebut hingga mereka mulai mengambil senjata.[12]
Sekitar pukul 20.00, sekelompok massa Muslim yang terdiri dari sekitar tiga puluh orang mencoba menyerang Gereja Silo, namun mereka berhasil ditahan oleh massa Kristen yang menjaganya. Kemudian, umat Kristen berkumpul di Gereja GPM di Jalan Anthony Rebok sekitar pukul 22.00 dan membakar beberapa kios di tepi jalan sebelum menyasar becak-becak yang sebagian besar dimiliki oleh warga suku Buton dan Bugis. Warga Muslim yang tinggal di sekitar Masjid Al-Fatah kemudian bergabung dengan kelompok Muslim yang sudah berada di jalanan. Kelompok Kristen dan Muslim pun saling berhadapan di sekitar Jalan A.M. Sangaji, salah satu jalan utama di Ambon. Milisi Muslim (Kelompok Putih) mengenakan kain putih dan milisi Kristen (Kelompok Merah) menggunakan kain merah.[12]
Massa Kristen berkumpul di Kudamati untuk membalas serangan Mardika, tapi terhalang karena bentrok dengan massa Muslim di Waringin. [12]
Kampung Paradeys, 19-20 Januari
Serangan pihak Kristen terhadap Kampung Paradeys, bermula sekitar pukul 23.00. Mereka datang dalam regu-regu yang masing-masing terdiri dari sekitar dua puluh orang. Mereka mengklaim bahwa gereja mereka, Gereja Bethlehem, telah dibakar, padahal hal itu tidak benar. Mereka kemudian berusaha merusak rumah-rumah menggunakan pipa besi dan batu, serta menghancurkan segala sesuatu yang ada. Sekitar lima belas menit kemudian, serangan kedua dilancarkan. Gelombang serangan ketiga datang sekitar pukul 23.30. Mereka melempari batu namun tidak masuk ke dalam rumah warga. Mereka sempat mundur tetapi kembali sekitar pukul 01.30 dini hari. Para militan radikal itu membawa pipa-pipa besar, pisau, dan parang. Suara pukulan pada tiang listrik menjadi bahasa isyarat para penyerbu: tiga kali pukulan berarti "Berkumpullah", sedangkan pukulan bertubi-tubi dengan cepat menyampaikan pesan yang berbeda—hanya Tuhan yang tahu. Jelas sekali ada seorang pemimpin yang memberikan isyarat-isyarat tersebut.[12]
Di Batu Gantung, 19-20 Januari
Sekitar pukul 15.30 di Batu Gantung, seorang warga berlari pulang ke rumahnya dan mengatakan ada keributan di terminal; orang-orang berlarian karena ada mengejar mereka. Satu jam kemudian, seorang warga lain melaporkan bahwa milisi Kristen dari Kudamati sedang bergabung dengan milisi Kristen dari Mardika. Sekitar pukul 5 sore, saksi mata melihat sebuah truk dengan sekitar lima puluh pemuda Kristen di dalamnya berhenti di Batu Gantung, semuanya membawa pisau panjang. Setelah itu Batu Gantung diserang dari segala penjuru, tetapi penduduknya tetap bertahan sampai aparat kepolisian datang tanpa ada korban jiwa. Aparat menyuruh semua orang untuk kembali ke rumah masing-masing dan menjamin keamanan mereka.[12]
Warga Batu Gantung pun kembali ke rumah, namun tak lama kemudian, serangan kedua terjadi. Aparat —yang berjumlah sekitar 25 orang—berhasil menghalau serangan itu. Akan tetapi, sebagian besar aparat meninggalkan lokasi antara pukul 22.00 hingga 23.00. Para milisi radikal itu datang lagi sekitar pukul 02.00 dini hari, dengan ratusan orang yang bersenjatakan pisau, kayu, dan batu kembali mendatangi Batu Gantung. Kali ini, hanya ada seorang polisi disana, dan dua polisi lain tiba saat serangan telah berlangsung lebih dari satu jam; salah satu dari mereka sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Seorang warga Batu Gantung berlari menghampiri polisi tersebut dan berteriak, "Mengapa kalian membiarkan mereka menyerang padahal kalian sudah menyuruh kami untuk bubar?" Polisi hanya memintanya untuk tenang. Dalam serangan ini, dua warga terkena lemparan batu dan sebuah truk dibakar. [12]
Sekitar pukul 04.00 pagi, warga melihat dua kios milik warga Bugis dibakar. Aparat, termasuk kepala polisi Latuhalat, menyaksikan kejadian ini namun tidak melakukan apa pun untuk menghentikannya. Juga diketahui ada sekelompok milisi Kristen bergerak dari kantor sekretariat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia menuju Gereja Rehoboth, tempat para milisi Kristen berkumpul. Pada pukul 10.00 pagi tanggal 20 Januari, kelompok Kristen kembali melakukan serangan, kali ini menggunakan anak panah berapi dan bom molotov. Warga Muslim memohon bantuan kepada polisi yang berjaga di depan Jalan Dr. Sitanala, namun polisi menyatakan bahwa mereka hanya ditugaskan di lokasi tersebut dan tidak dapat pergi. Dari arah utara, para milisi mencoba membakar banyak rumah; pada beberapa rumah berhasil dipadamkan. Api dengan cepat merambat ke wilayah Batu Gantung lainnya dan menghanguskan sekitar 120 rumah. Mobil pemadam kebakaran baru tiba pada pukul 18.00, saat api sudah hampir padam.[12]
Sekitar 240 keluarga mengungsi ke kampung-kampung Muslim terdekat, termasuk Talake Atas, Taman Hiburan Rakyat di Waihaong, dan barak polisi di Perigi Lima. Tidak ada korban jiwa, namun empat orang terluka dalam serangan tersebut, dengan satu orang di antaranya mengalami luka serius. Beberapa serangan terjadi di Batu Gantung hingga 22 September. Banyak coretan grafiti bertuliskan "Yesus Menang" dan "Israel" di dinding rumah-rumah yang ditinggalkan. [12]
Kerusuhan meluas ke daerah Hitu, Wakal, dan Mamalang dengan sasaran orang-orang Kristen dimana para penyerang menghancurkan gereja.[9]
20-24 Januari
20 Januari 1999 dimulai dengan bentrok di Lapangan Merdeka jam 3 subuh. Paginya, milisi Kristen membakar area perbelanjaan Pelita, pasar Gambus, Pasar Mardika, Pasar Buah Mardika, dan pasar makanan Cakar Bongkar, hampir semuanya habis terbakar. Sebuah pemukiman Buton juga ikut terbakar. Sekolah dasar dan taman kanak-kanak Muslim al-Hilal juga dibakar, dan terjadi pembakaran selektif terhadap properti milik Muslim di sepanjang jalan utama Ambon. Pemukiman Gunung Nona juga diserbu. Perlu diketahui kalau banyak kematian pada Kerusuhan Ambon I terjadi pada hari ini.[9][12]
Benteng Karang
Benteng Karang adalah desa Kristen yang berada didekat Kota Passo. Sebagian besar penduduk desa berasal dari Maluku Tenggara. [12][13]
Dalang serangan di Benteng Karang, menurut versi Muslim, adalah: penduduk Hitu dan Mamala, dua desa Muslim lainnya, mendapat kabar pagi-pagi bahwa Masjid Al-Fatah di Ambon telah dibakar, dan banyak Muslim dibantai. (Menurut sumber lain, Abang, calon kepala desa di Hitu, bertanggung jawab atas informasi palsu tersebut. Ia kemudian ditangkap atas tuduhan penghasutan, pula mobilnya dibalik dan dibakar di depan kampus Universitas Pattimura). Setelah mendengar hal itu, umat Muslim Hitu memutuskan untuk berunjuk rasa ke Ambon. Mereka harus melewati Benteng Karang dalam perjalanan. Penduduk Kristen yang telah diberitahu tentang unjuk rasa Muslim tersebut, keluar dan menyerang mereka dengan pisau dan semua yang meninggal disana adalah penduduk Kristen.Versi Kristen menunjukkan adanya serangan tanpa provokasi oleh Muslim Hitu ke Benteng Karang. Sekitar pukul 9:00 pagi dini hari, seorang polisi menghubungi seorang warga Benteng Karang dan mengatakan bahwa banyak massa dari Mamala, Morela, Hulana, Hitu-Missin, dan Wakal akan menyerang. Sebuah kendaraan patroli polisi kemudian datang dengan pesan yang sama dan mengatakan bahwa massa sudah di Telagakodok, di mana mereka menyerang secara selektif sebelum serangan ke Benteng Karang. [12]
Bagaimanapun, saat hari memasuki siang, Desa Benteng Karang diserang. Warga Benteng Karang berkumpul di depan gereja mereka, tetapi kurang dari 20 menit massa Hitu sudah memasuki Benteng Karang. Mereka menggunakan bom ikan untuk mengebom gereja mereka, kemudian mereka menuangkan bensin ke tiga gereja lainnya dan membakarnya, tindakan ini menewaskan 16 orang. Sekelompok orang Hitu juga menyerang Passo, namun mereka pulang setelah didamaikan oleh tokoh masyarakat setempat. [12]
Lebih dari 150 pengungsi Benteng Karang ditempatkan di Detasemen Zeni Tempur 5 di Wainitu. Kuburan massal, yang konon berisi dua belas mayat, terlihat dari jalan saat memasuki Benteng Karang. Sumber desa mengatakan enam belas orang tewas secara keseluruhan. Banyak warga Benteng Karang saat itu mengatakan mereka tidak ingin membangun kembali Benteng Karang dan mereka lebih memilih transmigrasi, terutama jika itu berarti bermukim di pulau Seram seperti yang dijanjikan oleh gubernur.[12][13]
Serangan di Hila
Pada tanggal 20 Januari, enam orang Kristen tewas di Hila, tampaknya oleh warga dari desa Muslim di dekatnya, Wakal. Mereka termasuk di antara 120 orang yang mengikuti perkemahan Alkitab yang diselenggarakan oleh Gereja Kristus Perjanjian Baru di lapangan fakultas perikanan Universitas Pattimura. Menurut keterangan, peserta perkemahan telah tiba di lokasi tersebut pada tanggal 17 Januari untuk kegiatan retret selama tiga hari dan sedang bersiap untuk kembali ke Ambon pada pagi hari 20 Januari. Karena kapasitas van tidak cukup untuk menampung semua orang yang ingin pulang, Hendrik, Mecky dan Mataheru memutuskan untuk pergi ke Wakal guna mencari kendaraan lain. Setibanya di Wakal, begitu Mecky dan Mataheru turun dari mobil van, mereka langsung dibunuh oleh warga setempat dan mobil van tersebut dibakar. Hendrik, yang dikenal oleh warga Wakal sebagai seorang polisi yang pernah bertugas di sana, tidak mengalami cedera. Sementara itu, peserta perkemahan Alkitab yang sedang menunggu mereka mendengar suara truk yang mendekat, disertai teriakan "Allahu Akbar" dari orang-orang di dalamnya. [12]
Pembina perkemahan Alkitab tersebut menyuruh para peserta untuk masuk ke kamar masing-masing demi keselamatan mereka, namun saat para penyerang tiba, mereka berteriak menyuruh semua orang keluar dan mengancam akan membunuh siapa pun yang menolak. Ketika mereka keluar, empat orang tewas dibunuh. Sisanya diperintahkan kembali ke aula utama dan dikepung oleh para penyerang, yang kemudian merampas uang serta barang berharga dari tas mereka. Para penyerang pergi sekitar pukul 15.00, seraya mengatakan bahwa mereka hendak menuju Benteng Karang, desa yang telah dihancurkan sebelumnya pada hari itu. Para peserta perkemahan Alkitab kemudian membagi diri menjadi kelompok-kelompok kecil dan berhasil kembali ke Ambon dengan bantuan sejumlah warga Muslim setempat, termasuk beberapa orang dari suku Buton.[12]
Passo
Menjelang tengah hari, penduduk Passo mendapat kabar bahwa Benteng Karang telah diluluhlantakan. Pukul 12.30, seorang warga memberi tahu bahwa ada ribuan orang yang sedang bergerak ke arah mereka. Mereka melihat asap hitam yang tampaknya berasal dari desa tetangga, Nania dan Negeri Lama. Sekitar waktu itu, seorang petugas militer di Passo datang bersama kepala desa Passo. Keduanya meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah dan meyakinkan bahwa segalanya akan aman; pihak Muslim datang dengan niat damai. Sejumlah pria Passo pergi ke Air Besar, dekat pintu masuk pos Brimob dan di pinggiran Passo. Di sebuah jembatan di Air Besar itulah kelompok pria dari Passo berhadapan dengan massa dari Hitu. Barisan massa Hitu membentang lebih dari satu kilometer, bertakbir, menggunakan kain putih, dan dipimpin oleh seorang pemimpin perang adat. Setiap rumah milik warga Muslim di Negeri Lama dan Nania memasang kain putih di pintu depan untuk keamanan. Para remaja berada di barisan paling depan, dipersenjatai dengan bom ikan, tombak, anak panah, dan parang. Sedangkan pria-pria dari Passo membawa pisau, dan dua di antaranya memiliki anak panah. Ada tujuh tentara disana; empat orang berusaha mencegah massa Hitu untuk maju, sementara tiga lainnya berusaha menahan pria-pria Passo. Massa Hitu berusaha menunjukkan keberanian mereka; salah seorang dari mereka membuka bajunya dan memperlihatkan bekas luka tusukan pisau di sekujur tubuhnya, seolah ingin membuktikan bahwa ia kebal senjata. Salah satu pria Passo menerima tantangan itu dan maju ke depan. Salah satu tentara melepaskan tembakan ke udara. Seseorang dari kerumunan massa melemparkan batu ke arahnya dan mengenai kepalanya. Para tentara mengatakan mereka harus mengambil bantuan logistik lalu pergi. Tentara lainnya mengendarai truk ke tengah-tengah kedua kelompok untuk memisahkan mereka. Massa Hitu mencoba maju ke arah Ambon sebanyak tiga kali, dan tiga kali pula mereka berhasil dipukul mundur. Awalnya hanya ada sekitar tiga puluh orang dari Passo, namun seiring berlanjutnya konfrontasi, sekitar seratus orang lagi turut bergabung. [12]
Pada satu titik, seorang tokoh masyarakat datang untuk mencoba melerai mereka. Ia berbicara dengan pemimpin kelompok massa dari Hitu serta pihak tentara. Hasilnya, warga Hitu mau bubar dan pulang ke Hitu. Para prajurit dari Batalion Infanteri 733 mengawasi mereka namun tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan mereka. Menurut Marcus, dalam perjalanan kembali itulah—mungkin karena rasa frustrasi—kelompok Muslim membakar rumah-rumah warga Kristen di Negeri Lama dan Nania sekitar pukul 18.00 atau 19.00. Di Nania, mereka juga membunuh seorang pendeta Protestan. Tidak ada seorang pun di Passo yang tidur pada malam itu. Sekitar pukul 05.00 pagi, sekelompok pria dari Passo kembali ke Nania dan Negeri Lama dengan niat memukul mundur warga Hitu. Namun, ketika mendapati warga Hitu sudah pergi, mereka melampiaskan kemarahan kepada warga Muslim setempat dan membakar rumah-rumah yang memasang kain putih di pintunya. Mereka juga merusak masjid. Saat itu jugalah tidak ada seorang pun di Passo memercayai perkataan militer.[12]
Hative Besar
Di area Hative Besar, yang mencakup Kamiri dan Wailete, ketegangan antara Kristen dan Muslim makin menjadi. Ketegangan dimulai dari Desember tahun lalu saat seorang pemuda Kristen membunuh seorang polisi saat mabuk. Sosialisasi dan negosiasi sempat dilakukan untuk mencegah konflik. Suatu sumber menyebutkan bahwa antara pukul 04.00 dan 10.30 pagi, beberapa perahu motor cepat merapat di lepas pantai Kamiri, membawa warga Muslim yang mengungsi akibat kerusuhan sehari sebelumnya. Kepala Desa Hative Besar, didampingi oleh Kapolsek, berupaya membujuk mereka untuk meninggalkan Kamiri. Namun, mereka mengabaikan imbauan tersebut dan, sekitar pukul 12.00, mengadakan pertemuan dengan warga Kamiri. Warga Kristen di Hative Besar memandang pertemuan itu sebagai ancaman dan meminta bantuan dari dusun Souhuru serta Waalia untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan serangan dari Kamiri. Setelah negosiasi ataupun sosialisasi tidak jalan, pukul 17.30 kedua belah pihak mulai saling melempar batu dan kemudian saling menyerang menggunakan senjata tajam. pada jam 18.00 mulailah 100 milisi Kristen Wailete merusuhi Kamiri dan membakar sebuah toko. Pertempuran terjadi di suatu masjid di mana Muslim Kamiri mempertahankan masjidnya. Mereka saling membakar rumah yang lain. [12]
Baik versi Kristen maupun Muslim sepakat bahwa selama beberapa jam, mulai tengah malam hingga sekitar pukul 03.00 dini hari, situasi terasa tegang namun tenang. Kemudian, menurut versi pihak Kristen, warga Hative Besar mendapat informasi bahwa orang-orang Buton, Bugis, dan Makassar hendak melakukan serangan sekitar pukul 04.00 pagi. "Perang" pun kembali pecah: anggota kelompok-kelompok etnis tersebut membakar lebih dari belasan rumah lagi, sehingga pihak Kristen membalas dengan membakar setiap bangunan di Kamiri, termasuk masjid. Pihak Muslim menyatakan bahwa terdapat seorang polisi di lokasi saat konfrontasi berlangsung, namun ia tidak mengambil tindakan apa pun, dan seluruh penduduk Kamiri terpaksa mengungsi ke markas Kompi C Batalyon Infanteri 733.[12]
Serangan lainnya pada 20 Januari

Hila juga diserang hari itu, tetapi penduduk desa mendapat bantuan dari orang-orang Muslim Kaitetu. Lebih dari 60 rumah hancur, 1 orang tewas dan 8 lain hilang. Gereja Imanuel di Hila, gereja lama dari tahun 1780 di pun dihancurkan. [9][13][14]
22-24 Januari
Menjelang tengah hari pada tanggal 22 Januari, lima orang Muslim yang bersembunyi di dalam sebuah truk pikap yang dikemudikan oleh aparat keamanan diseret keluar dari kendaraan tersebut di Mangga Dua, Ambon, lalu disiram bensin dan dibakar oleh warga Kristen setempat.[12]
Dalam versi Kristen, kelima orang Bugis tersebut ditemukan di dalam truk pikap, bersembunyi di bawah karung-karung beras, saat mencoba menyelundupkan sekitar tiga puluh granat dan delapan bom ke desa mereka, serta uang tunai sebesar Rp3 juta. Tidak jelas ke mana tujuan truk tersebut. Menurut keterangan, truk itu juga memuat delapan belas karton Jamu Madura, yang konon dapat meningkatkan vitalitas pria. Truk tersebut dikawal oleh tiga petugas keamanan. Seseorang dari desa Mangga Dua yang sedang berada di dalam rumah dan melihat ke arah jalan raya mendapati ada kaki yang menyembul keluar, lalu ia berteriak. Pengemudi panik dan berbalik arah, namun saat mencoba kembali, sebuah mobil Toyota datang dari arah berlawanan. Pengemudi terpaksa berhenti, dan warga Kristen menyeret keluar para penumpang di dalamnya. [12]
Sebuah keterangan yang sangat berbeda, yang berasal dari sumber-sumber Muslim, muncul dalam majalah Tempo. Laporan tersebut menyebutkan bahwa polisi sedang berupaya mengevakuasi kelima orang Bugis itu dari sebuah kampung yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, yang sedang marah akibat kabar tewasnya seorang pendeta Protestan di Nania. Truk tersebut dihentikan oleh massa Kristen yang tidak memercayai penjelasan polisi bahwa mereka hanya membawa beras. Massa menemukan kelima orang tersebut di bagian belakang truk di bawah tumpukan karung beras, menyeret mereka keluar, lalu membakarnya. Orang-orang itu adalah orang Buton, buka Bugis. Mereka berasal dari keluarga Haji Lasano di Waihaong. Selain itu, meskipun ditemukan sejumlah uang tunai di dalam truk, tidak ada granat ataupun bom yang ditemukan.[12]
23 Januari, bentrokan pecah antara massa dan aparat, di mana aparat diizinkan menembak. Ini memicu pelanggaran HAM dan dugaan keberpihakan aparat.[9] Hari itu juga, seorang perwira Kostrad, I Gusti Ngurah Hartawan, mati saat menjaga Desa Benteng yang sebagian besar Kristen. Menurut warga, saat sekelompok milisi Bugis sedang menyerang desa itu, Kostrad membantu para milisi dengan menembaki warga desa, membunuh satu orang dan melukai 5. Jadi sekelompok pemuda mencoba merebut senjata Hartawan, tetapi Hartawan dan seorang pemuda mati dalam perkelahian itu. 11 pemuda diadili karena ini.[12]
Setelah pasukan tambahan datang, konflik secara keseluruhan sempat mereda, tapi ini belum selesai. Kelompok-kelompok yang bertikai memblokade wilayah masing-masing.[9]
Februari-Maret 1999

Di Seram, Kerusuhan kembali terjadi pada tanggal 3 Februari. Umat Kristen dari Rumberu, Rambatu, dan Kairatu mengajak umat Muslim Kairatu untuk ikut serta. Tetapi ketika umat Muslim datang, mereka disambut oleh umat Kristen yang bersenjata panah dan tombak. Empat Muslim dari Kailolo menjadi korban pertama, tiga terkena panah, dan seorang imam, Jalil Useinahu, terluka oleh tombak. Dua belas rumah di dekat masjid dibakar, kemudian pasar, yang didominasi oleh pedagang Muslim, dibakar. Desa-desa Muslim Kailolo, Pelauw, dan Ori semuanya mengirimkan bantuan kepada Muslim Kairatu. Pertempuran berlanjut pada tanggal 4 Februari dan meluas ke Dusun Waitasi dan Waimitai. [12]
Di Pulau Saparua, pada 3 Februari jugalah orang Kristen membakar pesantren orang-orang Kulur. Saparua memiliki enam belas desa, tiga di antaranya Muslim: Sirisori, Iha, dan yang paling militan, Kulur. Sementara itu, pada tanggal 3 Februari massa dari desa Kristen Haria berkumpul di gereja dan bersiap untuk menyerbu kota Saparua. Milisi Kristen dari Ouw dan Ulat, yang secara tradisional bermusuhan, ikut menyerang Saparua setelah 8 orang desa diduga dibunuh orang Muslim di Hila. Untungnya kerusuhan berhasil dihindari setelah intervensi dari pemerintah setempat.[12]
Ambon terbagi menjadi bagian yang dikuasai milisi Kristen (60%) dan zona-zona yang dikuasai milisi Muslim (40%). Masjid pusat dan gereja Protestan pusat di Ambon menjadi pusat komando untuk saling bunuh antaragama, mengirimkan bala bantuan ke desa-desa yang berisiko diserang.[11]
Haruku
Di Pulau Haruku, kerusuhan dimulai tanggal 13 Februari, ketika seorang Kristen dari Kariu, membakar sebuah rumah tepat di perbatasan Kariu dengan desa Muslim Pelauw dengan tujuan membuat kerusuhan. Penduduk Aboru dan Kariu menuduh penduduk Muslim Pelauw sebagai pelakunya. Sekitar pukul 5:00 pagi keesokan harinya, rumah lainnya dibakar. Baik Kariu maupun Pelauw tegang. Di Pelauw, orang-orang bersiap untuk jihad.[12]
Tiba-tiba Kariu dikepung oleh militan dari Pelauw, Ori, Kailolo, dan Kulor & Tulehu dari Saparua.[12]
Ketika kedua pihak saling bunuh, aparat melepaskan tembakan ke arah milisi Pelauw. Milisi Kristen menembak pihak Muslim, dan kemudian milisi Muslim membakar Kariu. Lima belas milisi Muslim tewas akibat luka tembak.Selain itu, di Kariu empat orang lansia meninggal saat melarikan diri. Orang-orang dari Hulaliu mencoba membantu Kariu, tetapi mereka bentrok dengan tentara di dekat Ori membunuh antara 12 sampai 15 pemuda. Sore 16 Februari, semua penduduk Kariu telah mengungsi ke hutan atau ke desa Aboru. Mereka meninggalkan gereja mereka, yang dibakar habis walau dijaga tentara, dan yang tersisa hanyalah menara dengan bendera putih berkibar di atasnya.[12]
Anehnya, seminggu sebelum serangan Kariu, telah diadakan pertemuan di Pelauw, dan kaum pria mulai mencukur kepala mereka seolah-olah sebagai persiapan perang. Selain itu, pos militer antara Pelau dan Kariu dibongkar sebelum serangan dan dipindahkan ke tempat baru antara Ori dan Hulaliu. Jadi ketika Muslim Saparua datang, tidak ada yang menghalangi mereka.[12]
Setelah kerusuhan di Pulau Haruku, aparat mulai suka menembak (Dengan amunisi asli), dan akibatnya jumlah korban tewas meningkat tajam dan memperkuat ketidakpercayaan publik pada negara.[12][9]
Pada 13 Maret, Paus Yohanes Paulus II mengecam konflik ini sebagai yang "menjungkirbalikkan harmoni tradisional untuk hidup berdampingan antara umat Kristen dan Muslim"[15]
Kepulauan Kei, Maret-April
Pada Maret-April 1999, konflik menyebar ke Kepulauan Kei, dimulai dari pertengkaran bernuansa agama. membuat sekitar 200 orang mati di daerah Tual dan Kei Besar. Karena tentara di Kei sangat sedikit, sekitar 1000 tentara dikirim dari Ambon untuk mengamankan situasi. Puluhan ribu warga telah mengungsi.[9][16] Dari tanggal 30 Maret hingga 3 Mei 1999, sejumlah besar desa Muslim dan dua desa Kristen dihancurkan di Kepulauan Kei (di pantai barat Kei Kecil). [11]
Kerusuhan Ambon II
Kerusuhan ini dimulai dari 16 Mei saat Maluku sedang memperingati mulainya Perang Pattimura melawan Belanda. Biasanya hari ini diperingati dengan upacara obor yang dibawa dari Saparua ke Ambon. Upacara obor tahun ini juga digunakan untuk meresmikan pasukan baru: Komando Daerah Militer XV/Pattimura, yang akan bertugas di provinsi Maluku. Sebelumnya pasukan di Maluku di bawah pasukan yang berpusat dari Irian Jaya. Secara tradisional, penduduk desa Muslim Batu Merah membawa obor dari pulau Saparua ke Ambon. Tahun ini, tampaknya mereka disuruh oleh pihak berwenang untuk menyerahkan obor itu kepada penduduk desa Kristen Mahardika. Perdebatan pun terjadi. Sengketa tersebut meletus hanya beberapa hari setelah kesepakatan damai dibuat oleh para pemimpin kedua agama dan beberapa hari sebelum kampanye pemilu 1999 dimulai[17]. Aparat berada dalam keadaan siaga penuh di pulau Ambon pada hari Minggu, sehari setelah setidaknya tujuh orang tewas tertembak ketika tentara menembak ke arah massa yang beradu[17].
Kerusuhan Juli dan Agustus dari Poka
Warga setempat di Ambon, telah menyatakan kekhawatiran bahwa sebagian pasukan keamanan ditarik selama jeda kekerasan selama dua bulan. Banyak warga setempat masih takut akan serangan balasan dari orang-orang di kedua belah pihak.[18]
Dari Januari hingga 23 Juli 1999, desa Poka berhasil lolos dari kerusuhan. Kepala Desa (Raja) mengatur pertemuan rutin antara Muslim dan Kristen untuk membahas kebutuhan dan kekhawatiran bersama. Peronda malam gabungan Muslim-Kristen berjumlah 10 orang berpatroli setiap malam, sepanjang malam, untuk mencegah eskalasi dari perselisihan kecil. Ada kerukunan antara Kristen dan Muslim di Poka dan keyakinan bahwa mereka dapat menahan kekerasan yang tidak dapat dihindari oleh banyak desa lain.[11]
Pada pukul 8 malam tanggal 23 Juli 1999, perkelahian terjadi antara pemuda Kristen dan Muslim, beberapa di antaranya tampak mabuk. Lalu, banyak yang terlibat. Dalam waktu 5-7 menit setelah perkelahian dimulai, aparat tiba. Mereka berpura-pura mencoba menghentikan perkelahian dengan menembakkan banyak peluru ke udara. Hal ini menyebabkan kepanikan. Semua orang Kristen melarikan diri ke gereja. Menurut mereka, militer malah memperburuk keadaan, dalam situasi di mana tidak akan sulit bagi sekelompok tentara untuk menghentikan sekelompok pemuda mabuk dari perkelahian tanpa menembakkan peluru tajam. Seorang warga Jakarta-Ambon mempereparah situasi dengan menjadi provokator dan perakit bom. Seorang pendeta setempat menangkapnya. Pendeta itu membawanya ke kantor polisi. Dalam 2-3 hari, polisi membebaskan dia. Seminggu kemudian, seorang jemaat pendeta tersebut kembali menangkapnya. Jemaat ingin membunuhnya. Pendeta melarang hal itu, dan membawanya ke polisi lain. Sekali lagi, ia segera dibebaskan. Kerusuhan dimulai, Banyak bangunan di Poka dibakar, dan kerusuhan itu mulai menyebar kembali ke kota Ambon.[11].
Perusuh membakar mall terbesar di Ambon, dan bisnis Tionghoa mulai ditarget[11][18]. Insiden Galala pun terjadi, di mana aparat memasuki sebuah gereja di Galala dan membunuh 24 orang pengungsi[19].
Lihat pula
- Piagam Malino II
- Republik Maluku Selatan
- Konflik serupa: Kerusuhan Poso, Konflik Sampit
Catatan kaki
- ↑ "Saling bunuh, saling bakar sampai... 'sayang kamu semua': Mantan tentara anak Islam dan Kristen Ambon". BBC. 27 February 2018. Diakses tanggal 31 January 2022.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 122
- 1 2 Duncan, Christopher R. (October 2005). "The Other Maluku: Chronologies of Conflict in North Maluku". Indonesia. Southeast Asia Program Publications at Cornell University. 80: 53–80. JSTOR 3351319.
- 1 2 Bertrand 2004, hlm. 129–131
- ↑ Hedman 2008, hlm. 50
- ↑ Sidel 2007, hlm. 181
- ↑ Sidel 2007, hlm. 184
- ↑ Bertrand 2004, hlm. 133
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Memahami Konflik Maluku 1999". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 4 "Tuhanmu Bukan Lagi Tuhanku: Perang Saudara Muslim-Kristen di Maluku Tengah (Indonesia) Setelah Hidup Berdampingan dengan Toleransi dan Kesatuan Etnis yang Berlangsung Selama Setengah Milenium". Diakses tanggal 18-06-2026.
- 1 2 3 4 5 6 Braithwhite, John, dan Lean Dunn (Hal. 169). "Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding" (PDF). Diakses tanggal 2026-06-22. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 "IV. THE CONFLICT". Diakses tanggal 2026-06-18.
- 1 2 3 "[INDONESIA_L] Ambon Update". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Head, Jonathan. "World: Asia-Pacific Ambon runs short of food". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "Paus menyerukan perdamaian atas Ambon". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ "31 Orang Mati". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "Ambon tense after riot deaths". Diakses tanggal 2026-06-22.
- 1 2 "Ambon violence flares again". Diakses tanggal 2026-06-22.
- ↑ Parry, Richard Llyod. "Troops killed '24' in church". Diakses tanggal 2026-06-22.
Daftar pustaka
- Bertrand, Jacques (2004). Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. Cambridge University Press. ISBN 0-521-52441-5.
- Braithwaite, John; Leah Dunn (2010). "3. Maluku and North Maluku". Anomie and Violence: Non-truth and reconciliation in Indonesian peacebuilding (PDF). The Australian National University. hlm. 147–243. ISBN 978-1-921666-22-3. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2012-03-29. Diakses tanggal 2016-12-28.
- Duncan, Christopher R. (2013). Violence and Vengeance: Religious Conflict and Its Aftermath in Eastern Indonesia. Cornell University Press.
- Goss, Jon (2000). "Understanding the Maluku Wars: Overview of Sources of Communal Conflict and Prospects for Peace" (PDF). Cakalele (dalam bahasa English). 11. Honolulu: University of Hawaii, Center for Southeast Asian Studies: 7–39. ISSN 1053-2285. Diakses tanggal 22 November 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- Hedman, Eva-Lotta E. (2008). Conflict, violence, and displacement in indonesia. Cornell South East Asia Program Publications. hlm. 29–231. ISBN 978-0-87727-775-0.
- Lindsey, Timothy (2008). "Adat law, conflict and reconciliation: the Kei Islands, Southeast Maluku". Indonesia, law and society. Federation Press. hlm. 115–146.
- Sidel, John Thayer (2007). Riots, pogroms, jihad: religious violence in Indonesia. NUS Press. ISBN 9971-69-357-7.
- van Klinken, Geert Arend (2007). Communal violence and democratization in Indonesia: small town wars. Taylor & Francis. hlm. 88–124. ISBN 0-203-96511-6.
- Wilson, Chris (2008). Ethno-religious violence in Indonesia: from soil to God. Routledge. ISBN 0-203-92898-9.
Sejarah konflik di Indonesia | |
|---|---|
| Konflik politik |
|
| Konflik sosial |
|
| Konflik sumber daya alam | |
| Kejahatan kemanusiaan |
|
| Terorisme | |
| Agama dan kepercayaan |
|
|---|---|
| Ireligiusitas | |
| Sejarah | |
| Kajian agama | |
| Hukum dan hak | |
| Bencana alam |
| ||||
|---|---|---|---|---|---|
| Kecelakaan |
| ||||
| Kerusuhan |
| ||||
| Lain-lain | |||||
| Keluarga |
| |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Almameter | ||||||||||
| Masa Kekuasaan | ||||||||||
| Setelah kekuasaan | ||||||||||
← Didahului: Soeharto
Digantikan: Abdurrahman Wahid → | ||||||||||