Kekristenan atau Kristen adalah agama terbesar kedua di Indonesia, setelah Islam. Indonesia juga memiliki populasi Kristen terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Filipina, populasi Protestan terbesar di Asia Tenggara, dan populasi Kristen terbesar ketiga di Asia setelah Filipina dan Tiongkok, diikuti oleh India. Indonesia juga memiliki populasi Kristen terbesar kedua di dunia Muslim, setelah Nigeria, diikuti oleh Mesir. Umat Kristen di Indonesia yang berjumlah 30.102.764 juta jiwa merupakan 10,44% dari populasi negara pada tahun 2025, dengan 7,37% Protestan (21.240.765 juta) dan 3,07% Katolik 8.861.999 juta). Beberapa provinsi di Indonesia mayoritas beragama Kristen. Di Indonesia, kata Kristen mengacu pada Protestanisme,[3] sedangkan Gereja Katolik Roma disebut sebagai Katolik. Pada abad ke-21 laju pertumbuhan dan penyebaran agama Kristen telah meningkat, khususnya di kalangan minoritas Tionghoa terutama di kalangan terpelajar.[4][5][6]
Umat Kristen merupakan kelompok agama dengan tingkat pendidikan minoritas di Indonesia. Menurut sebuah studi tahun 2016 yang dilakukan oleh Pew Research Center dengan nama Religion and Education Worldwide, sekitar 15% umat Kristen di Indonesia memiliki pendidikan tinggi dan gelar sarjana, dibandingkan dengan 12% umat Buddha, sekitar 9% umat Hindu, dan hanya sekitar 7% umat Muslim di Indonesia.[8]
Agama Kristen Protestan datang ke Indonesia pada abad ke 18 melalui penjajahan, yang disebarkan oleh misionaris Dr. (H.C.) Ludwig Ingwer Nommensen (di daerah Batak dikenal sebagai Ingwer Ludwig Nommensen, disingkat sebagai I.L. Nommensen; 6 Februari 1834 – 23 Mei 1918 ) adalah seorang misionaris Lutheran asal Jerman yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) ke Tapanuli. gereja Assiria (Gereja Timur) yakni berdiri di dua tempat yakni, Pancur (Sekarang wilayah dari Deli Serdang) dan Barus terutama pada wilayah yang sekarang menjadi situs Bongal (Sekarang wilayah dari: Tapanuli Tengah) di Sumatra (645 M), sebuah pos perdagangan yang diketahui sering dikunjungi oleh pedagang India, dan karena itu terkait dengan umat Kristen Santo Thomas India serta Penemuan Salib bergaya Bizantium dari abad ke-4 di daerah situs Bongal.[11]
Sejarah kedatangan telah tercatat oleh ulama Syaikh Abu Salih al-Armini dalam bukunya dengan judul FIBA “Tadhakur Akhbar min al-Kana’is wa al-Adyar min Nawabin Mishri wa al-Iqta’aih” (Daftar berita pada gereja-gereja dan monastries di provinsi-provinsi Mesir dan sekitarnya). Daftar gereja-gereja dan monastries dari naskah asli dalam bahasa Arab dengan 114 halaman ini berisi berita tentang 707 gereja-gereja dan 181 monastries Kristen yang tersebar di sekitar Mesir, Nubia, Abysina, Afrika Barat, Spanyol, Arab dan India. Dalam bukunya (Abu Salih), tanah Indonesia masih dimasukkan dalam wilayah India (al-Hindah).[12]
Gereja Ortodoks adalah kelompok Kristen/Gereja pendatang yang menurut penelitian dari pakar-pakar sejarah dan arkeologi lama, pertama hadir dan datang ke Indonesia yang ditandai dengan/melalui kehadiran Gereja Nestorian yang merupakan corak gereja Asiria di daerah Fansur (Barus), di wilayah Mandailing, Sumatera Utara.
Peta persebaran Katolik di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010
Peta persebaran Kristen Protestan di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010
Protestanisme pertama kali diperkenalkan oleh Belanda pada abad keenam belas, sehingga terpengaruh pada ajaran Calvinisme dan Lutheran.
Pada tahun 1960-an akibat anti-Komunis dan anti-Konfusianisme banyak pengikut Komunis dari kalangan orang Tionghoa dan sebagian suku Jawa Kejawen mengklaim diri sebagai orang Kristen, akan tetapi banyak bangsa Tionghoa yang akhirnya menerima agama Kristen dan sekarang mayoritas kalangan muda bangsa Tionghoa adalah umat Kristen. Sedangkan pemeluk Kristen di kalangan suku Jawa ada di antara mayoritas umat Islam, baik di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.
Pertumbuhan
Agama Kristen merupakan agama dengan populasi terbesar kedua di Indonesia sehingga meskipun Indonesia merupakan negara dengan mayoritas beragama Islam, hak warga negara yang beragama Kristen berkedudukan sama dengan warga negara yang beragama Islam (berbeda dengan beberapa negara seperti Malaysia, beberapa negara Arab) dan negara lainnya. Di Provinsi; Papua , Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, Papua Barat Daya dan Sulawesi Utara, Protestan merupakan agama mayoritas, sedangkan di Provinsi; Nusa Tenggara Timur dan Papua Selatan merupakan mayoritas Katolik.
Terjemahan pertama Alkitab dalam bahasa Indonesia adalah terjemahan kitab Matius karya Albert Corneliszoon Ruyl (1629).[13][14] Sejak saat itu hingga sekarang, setidaknya terdapat 22 terjemahan lain, kecuali terjemahan ke dalam bahasa daerah di Indonesia (dari lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, lebih dari 100 bahasa telah menerjemahkan sebagian atau seluruh Alkitab,[15] sementara beberapa bahasa, seperti bahasa Jawa dan Batak, memiliki lebih dari satu versi). Pada tahun 1820, Gottlob Brückner (1783–1857) menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jawa, bahasa yang paling banyak digunakan di Indonesia.[16]
Musik
Ada banyak penulis lagu Kristen di Indonesia, tetapi jangkauan pasar mereka telah menjangkau banyak komunitas Kristen di seluruh negeri. Sebuah jaringan band pujian dan penyembahan, seperti JPCC Worship, Sari Simorangkir dan lainnya, telah dibentuk untuk mempromosikan musik Kristen Indonesia di dalam komunitas dan ibadah Kristen.
Sebuah festival seni Kristen bernama Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) adalah festival keagamaan bagi komunitas Kristen Protestan Indonesia yang berspesialisasi dalam musik gereja. Untuk komunitas Katolik, dengan yang sama tetapi untuk disebut dengan Pesparani (Pesta Paduan Suara Gerejani). Acara ini bertujuan untuk membina, meningkatkan, dan mempersatukan umat Kristen dari berbagai universitas di seluruh Indonesia melalui seni paduan suara, serta sebagai wadah pelatihan untuk mengasah ekspresi dan vokal para penyanyi gereja. Acara ini berfungsi sebagai wadah berkumpul bagi umat Kristen dari seluruh Indonesia untuk membangun kebersamaan dan persatuan, serta mempererat ikatan persaudaraan. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai kompetisi tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat iman, persaudaraan, dan persatuan antarumat Kristen, baik di tingkat nasional maupun di tingkat universitas.
Seminari dan sekolah
Sebelum kemerdekaan Indonesia, satu-satunya seminari yang ada adalah seminari teologi di Bogor.[17] Seminari ini didirikan pada tahun 1934 dengan nama Hoogere Theologische School (Sekolah Tinggi Teologi) dan sekarang dikenal sebagai STT (Sekolah Tinggi Theologia) Jakarta.[18] Pada tahun 2002, Indonesia mengklaim memiliki lebih dari 100 seminari teologi, dengan 29 seminari yang mewakili 70% mahasiswanya merupakan anggota PERSETIA (Persatuan Sekolah Teologi Indonesia). Seminari-seminari lainnya tergabung dalam PASTI (Persatuan Injili) atau PERSATPIM (Persatuan Pantekosta).[17]
Menurut provinsi
Berikut adalah data umat Kristen di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Agama tahun 2020.[19]
Pemeluk Kristen kebanyakannya adalah masyarakat suku Amungme, Arfak, Asmat, Dani, Damal, Yali dan suku-suku lainnya asal Toraja, Minahasa, NTT, Batak dan Maluku
Sunat paksa dan konversi paksa orang Kristen terjadi selama konflik Muslim-Kristen 1999–2002 di Maluku, bersamaan dengan serangan terhadap gereja-gereja di seluruh Indonesia. Tentara, khususnya satuan pasukan khusus Kopassus, dituduh membantu penyerangan di Maluku, dan tanggapan resmi terhadap serangan ini kurang, sedangkan kekuatan penuh hukum digunakan terhadap orang-orang Kristen yang terlibat dalam balas dendam. Eksekusi tiga warga Katolik di Sulawesi pada tahun 2006 menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut bahwa negara Indonesia lebih menyukai Muslim sambil menghukum minoritas Kristen.
Bahkan setelah meredanya konflik Maluku, orang-orang Kristen menjadi korban serangan di bawah umur, tetapi biasa, oleh organisasi Muslim ekstrimis seperti Front Pembela Islam (FPI). Pada tahun 2005, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh pemenggalan tiga siswi sekolah Kristen, yang dilakukan oleh ekstremis Muslim di Sulawesi.
Pada tanggal 8 Februari 2011, penonton sidang menyerang terdakwa, jaksa dan hakim, dan perusuh Muslim merusak gereja-gereja Protestan dan Katolik, sekolah, dan properti lainnya di Temanggung, Jawa Tengah sebagai protes bahwa jaksa hanya menuntut agar pengadilan menghukum Antonius Bawengan sampai lima tahun penjara (hukuman maksimum yang diizinkan oleh hukum) karena dugaan penistaan terhadap Islam melalui selebaran yang dibagikan. Seorang ulama Muslim setempat diduga menuntut agar Antonius menerima hukuman mati. Hakim segera menjatuhkan hukuman lima tahun penjara kepada Antonius. Penduduk Muslim setempat dilaporkan melindungi seorang imamKatolik dan berusaha meminimalkan kerusakan. Ulama setempat kemudian dijatuhi hukuman satu tahun penjara karena menghasut kerusuhan Temanggung. Kerusuhan Temanggung terjadi dua hari setelah 1.500 Muslim Sunni menyerang Muslim Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, menewaskan tiga orang.
Di sisi lain, juga pada Februari 2011, seorang pemimpin dan pengikut FPI setempat masing-masing menerima hukuman paling lama 5,5 bulan dan dibebaskan berdasarkan waktu yang dijalani setelah anggota kelompok memukul kepala pendeta HKBP dengan papan kayu dan menikam seorang sesepuh HKBP di bagian perut. Rencana penyerangan lewat mobil tersebut terjadi di Bekasi, Jawa Barat saat para korban sedang berjalan menuju kebaktian gereja dan terkait dengan penolakan umat Islam setempat terhadap pembangunan gereja. Sementara aktivis hak asasi manusia lokal menyatakan kekecewaannya dengan hukuman yang minimal, tidak ada kerusuhan yang terjadi. Sebelumnya, pada 2010, ratusan anggota FPI menyerang jemaah saat kebaktian HKBP di Bekasi, memukuli banyak perempuan. Polisi berada di lokasi tetapi hanya memberikan sedikit perlindungan.
Pada awal Ramadhan Agustus 2011, sekelompok umat Islam menyerang dan membakar tiga gereja di Kuantan, Senggingi, dan Riau. Polisi, yang tidak memberikan alasan apa pun atas pembakaran tersebut, mengatakan bahwa pembakaran itu dilakukan demi menjaga kedamaian Ramadhan bagi umat Islam.
Keputusan bersama menteri tahun 2006 tentang rumah ibadah (ditandatangani oleh Departemen Agama dan Departemen Dalam Negeri) mengharuskan sebuah kelompok agama untuk mendapatkan persetujuan dari setidaknya 60 rumah tangga di sekitar sebelum membangun sebuah rumah ibadah. Keputusan ini telah sering digunakan untuk mencegah pembangunan tempat ibadah non-Muslim dan telah dikutip oleh organisasi Muslim radikal untuk berbagai serangan terhadap non-Muslim.
Pada 9 Mei 2017, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang beragama Kristen divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara setelah dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana penodaan agama.
Pada 13 Mei 2018 tiga gereja menjadi sasaran bom bunuh diri di Surabaya.
Pada tanggal 28 November 2020, sekitar 10 orang, diduga dari Mujahidin Indonesia Timur, membunuh empat orang Kristen dan membakar sebuah pos Bala Keselamatan dan rumah-rumah orang Kristen di Sulawesi Tengah, Indonesia. Tiga dari korban tewas dengan digorok lehernya, dan korban lainnya dibunuh dengan cara dipenggal. Di sisi lain, polisi nasional Indonesia telah membantah bahwa serangan tersebut bermotif agama, meskipun polisi berjanji untuk mulai mengejar para pelaku.
↑Aris Ananta, Evi Nurvidya Arifin, M Sairi Hasbullah, Nur Budi Handayani, Agus Pramono. Demography of Indonesia's Ethnicity. Singapore: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies, 2015. p. 273.
↑Denys Lombard, "Nusa Jawa: Batas-batas pembaratan", Jakarta, 1996, h. 268
↑Bakker SJ, Bakker SJ (J.). Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Jakarta: Dokumentasi-Penerangan Kantor Waligereja Indonesia. hlm.27–35.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Adolf Heuken. Ensiklopedi Gereja (2005). See Also Adolf Heuken, "Chapter One: Christianity in Pre-Colonial Indonesia", in (Aritonang & Steenbrink 2008, hlm.3–7)