Aliran Kebatinan Tak Bernama adalah salah satu bentuk aliran kepercayaan yang berkembang di Indonesia, termasuk dalam kategori kebatinan lokal yang tidak memiliki struktur keagamaan formal, namun menekankan penghayatan spiritual dan pembinaan budi pekerti. Aliran ini dikembangkan oleh R. Tjokrowasito.[1] Aliran Kebatinan Tak Bernama telah tercatat sebagai sebuah kepercayaan dan terdaftar di Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan nomor 1.152/F.6/F.2/1980.[2]
Sejarah
Aliran Kebatinan Tak Bernama dikembangkan oleh R. Tjokrowasito, seorang mantri kehutanan yang berasal dari Sorogo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Setelah R. Tjokrowasito meninggal dunia, kepemimpinan organisasi dilanjutkan oleh M. Soeprapto, seorang anggota Tentara Nasional Indonesia. Penyebaran ajaran secara lebih sistematis dimulai pada tahun 1950, ketika M. Soeprapto memperkenalkan ajaran tersebut di Desa Sale, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pada masa awalnya, kelompok ini merupakan pertemuan informal berdasarkan musyawarah dan saling bertukar pengalaman (sambung rasa) antar penganut kebatinan. Pada awal 1980-an, kelompok ini secara formal menjalankan struktur organisasi dan berkedudukan di Jalan Banyuurip Kidul Gang II No. 40, Surabaya. Tujuan organisasinya adalah memberikan bimbingan dan pembinaan budi pekerti yang baik dan luhur, dengan menghayati dan mengamalkan Pancasila untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya.[3][4]
Struktur Organisasi
Struktur organisasi Aliran Kebatinan Tak Bernama pada awalnya mencakup beberapa posisi utama antara lain pinisepuh, ketua, sekretaris I, dan sekretaris II. Tokoh-tokoh yang tercatat dalam struktur awal termasuk M. Soeprapto (pinisepuh), Soejatno Djojowarsito (ketua), Imam Soebagiyo (sekretaris I), dan Karnawi (sekretaris II). Setelah kepemimpinan M. Soeprapto berakhir, struktur organisasi mengalami perubahan. Pengurus terakhir yang tercatat meliputi D. Soejatno sebagai pinisepuh, Padmowasito sebagai ketua, dan Imam Subagiyo sebagai sekretaris, dengan pusat organisasi yang berpindah ke Jalan Tanjung Pura No. 18, Surabaya. Data terakhir menunjukkan bahwa jumlah anggota organisasi ini mencapai sekitar 321 orang, tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keanggotaan mencakup beragam latar belakang sosial ekonomi, seperti pegawai negeri, anggota Tentara Nasional Indonesia (ABRI), petani, karyawan swasta, dan wiraswasta.[1]
Ajaran
Pada praktiknya, anggota organisasi tidak terikat pada tempat, perlengkapan, atau pakaian khusus dalam melakukan kegiatan spiritual bersama. Penghayatan bersama biasanya dilakukan secara rutin setiap Jum’at Legi dan Jum’at Kliwon, namun pelaksanaannya bersifat fleksibel dan dapat ditunda berdasarkan kesepakatan anggota. Dalam penghayatan, doa disampaikan sesuai kebutuhan masing‑masing tanpa bentuk ritual yang kaku.[1]
Aliran Kebatinan Tak Bernama tidak memiliki ajaran baku seperti kitab suci atau dogma formal. Kelompok ini lebih menekankan pada sejumlah prinsip keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, antara lain berkaitan dengan keselamatan (kawilujengan), eling dan waspada (kesadaran spiritual), permohonan maaf, serta hubungan antara kehidupan dan kesehatan. Semua prinsip ini terkait dengan hubungan individu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Selain hubungan dengan Tuhan, anggota organisasi juga diharapkan berupaya dalam tindakan yang mencerminkan kesucian dan budi pekerti luhur, serta mampu mengendalikan diri untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan damai.[1]
↑Hasil inventarisasi 3 aspek, Propinsi... Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1984.