Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Melayu. Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah Jambi. Pada 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatra setelah Aceh. Pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang.[14]
Masa kejayaan
Koin timah yang pernah digunakan di wilayah Jambi dan Palembang, sekitar tahun 1804-1820
Sejak pertengahan abad ke-16, para penguasa Jambi mengadakan perdagangan lada yang menguntungkan dengan bangsa Portugis, Inggris, dan Belanda. Kegiatan perdagangan itu juga melibatkan bangsa China, Melayu, Makassar, dan Jawa. Kehidupan ekonomi Kesultanan Jambi yang makmur akibat kegiatan perdagangan inilah yang mampu membawa kerajaan menuju masa kejayaan di bawah Sultan Abdul Kahar.[butuh rujukan]
Sultan Jambi yang pertama ini berhasil membawa kerajaannya menjadi makmur berkat monopoli perdagangan lada dan pengenaan bea ekspor. Bahkan, pada 1616, ibu kota Jambi sudah dipandang sebagai pelabuhan terkaya kedua di Sumatera, setelah Aceh. Berdasarkan data VOC, Sultan Jambi meraup keuntungan 30-35 persen dari lada yang terjual. Sultan Abdul Kahar juga dikatakan sebagai penguasa yang kuat, bahkan tidak takut dengan tuntutan Raja Johor dan tidak pernah mau bekerja sama dengan VOC.[butuh rujukan]
Selama abad ke-16, Jambi menjadi terkenal berkat lada yang ditanam di dataran tinggi. Pada tahun 1615 Kompeni Belanda dan Kompeni Inggris mendirikan pangkalan-pangkalan mereka masing-masing di kawasan tersebut. Pada masa itu, Jambi bersekutu dengan Johor, akan tetapi kemudian timbul sejumlah perselisihan ketika
mereka menyatakan berhak mengendalikan Kuala Tungkal, yaitu sebuah kawasan di perbatasan Jambi dengan Indragiri yang merupakan jalan masuk ke kawasan pedalaman tempat lada ditanam.[butuh rujukan]
Sekitar tahun 1671 dan 1674, perselisihan yang berkepanjangan itu memuncak menjadi sebuah konflik terbuka, orang laut yang tunduk pada penguasa Jambi merompak kapal-kapal di perairan Johor, sementara orang laut dari Johor melancarkan aksi serupa di Jambi. Armada Johor bahkan berlayar masuk ke Sungai Batanghari dan mengancam ibukota Jambi. Namun, hubungan mereka kemudian membaik dan pada tahun 1681 para penguasa Jambi dan Johor masih bersedia untuk membina suatu persekutuan guna menghadapi saingan bersama mereka yaitu Palembang. Orang
Laut dari kedua kerajaan menyerang kapal-kapal
dagang di perairan Palembang dan juga menjarah
kawasan pesisir.[butuh rujukan]
Kemunduran
Setelah VOC menyodorkan perjanjian dagang kepada Kesultanan Jambi, dengan tujuan melakukan monopoli. Sultan Abdul Kahar menolak perjanjian tersebut, memilih mengundurkan diri dari takhta dan kedudukannya digantikan oleh Pangeran Depati Anom atau Sultan Agung. Perjanjian pertama Kesultanan Jambi dengan VOC pun dilakukan, yang perlahan membawa kemunduran bagi kerajaan.[butuh rujukan]
Kejayaan Jambi tidak berumur panjang, pada tahun 1680-an, Jambi mulai kehilangan kedudukannya sebagai pelabuhan lada utama setelah pertempuran dengan pihak Johor. Selain itu, adanya penyelundupan dan utang, juga menjadi penyebab runtuhnya Kesultanan Jambi, yang diperparah dengan campur tangan Belanda dalam politik kerajaan.[butuh rujukan]
Keruntuhan
Lukisan, penyerangan kapal Belanda di keraton Sultan Jambi, 8 september 1858
Berbeda dari penguasa sebelumnya, Sultan Thaha Saifuddin menolak keras perjanjian dengan Belanda. Bahkan utusan Belanda yang beberapa kali datang untuk menyodorkan perjanjian kepadanya selalu dihindari. Akibatnya Belanda marah dan melayangkan serangan pada 1858, hingga berhasil menguasai istana.[butuh rujukan]
Kediaman Sultan Ahmad Nazaruddin di Dusun Tengah (sekarang di desa Rambutan Masam, Batanghari), sekitar tahun 1877-1879
Dalam serangan itu Sultan Thaha melarikan diri, sehingga Panembahan Prabu kemudian diangkat oleh Belanda menjadi penguasa baru di Kesultanan Jambi dengan gelar Sultan Ahmad Nazaruddin. Masa itu kesultanan Jambi masih mengendalikan Ibukota (Kota Jambi), tetapi Sultan Ahmad Nazaruddin tinggal di Dusun Tengah, tiga atau empat hari perjalanan dari Ibukota, di sebuah rumah sederhana dari papan.
Sayyid Idrus memegang peran politik penting, karena menikahi putri dari Sultan Nazaruddin. Kemudian, Ia mendapatkan gelar Pangeran Wirokusumo langsung dari Sultan Nazaruddin, yang juga memberinya kekuasaan sebagai Pepati Dalam, di Keraton Jambi. Hal ini memungkinkannya untuk menggantikan peran sultan, ketika sultan tidak berada di tempat. Sayyid Idrus berperan sebagai mediator dan juru bicara antara penguasa lokal dengan pemerintahan Belanda pada masa itu, serta antara keluarga Al-Jufri dengan Keraton Jambi. Selama masa kepemimpinannya di Kesultanan Jambi, Sayyid Idrus berperan penting dalam menjalankan pemerintahan karena Sultan Nazaruddin kurang menyukai kehadiran Belanda di Jambi dan memilih menjauh.[15]
Ketika Sultan Thaha dalam pelarian, Kesultanan Jambi sempat dipimpin oleh beberapa sultan di bawah pengaruh Belanda. Kesempatan datang ketika terjadi kekosongan kekuasaan pada 1899, setelah Sultan Zainuddin dicopot oleh Belanda.[butuh rujukan]
Pangeran Ratu Martaningrat menyerah kepada pihak Belanda, sekitar tahun 1903-1904
Pada tahun 1903, Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan dari Sultan Thaha menyerah kepada Belanda. Kemudian Jambi digabungkan dengan keresidenan Palembang. Kesultanan Jambi benar-benar berakhir, saat Sultan Thaha dibunuh oleh Belanda di persembunyiannya pada 1904. Kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1906 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan Jambi.[butuh rujukan]
Geografi
Peta Kota Jambi pada tahun 1886
Jambi berkembang di wilayah cekungan Batang Hari, sungai terpanjang di Sumatra. Sungai ini, dan anak-anak sungainya, seperti Batang Tembesi, Batang Tabir dan Batang Merangin, merupakan tulang punggung wilayah tersebut. Sungai Tungkal yang berbatasan dengan Indragiri memiliki cekungan tangkapan air sendiri. Sungai-sungai itu merupakan andalan transportasi utama Jambi.[butuh rujukan]
Kependudukan
Penduduk Jambi relatif jarang. Pada 1852 jumlah penduduk diperkirakan hanya sebanyak 60.000 jiwa, dan Jambi Timur nyaris tidak berpenghuni. Etnis Melayu Jambi berdiam dipinggiran sungai Batang Hari dan Batang Tembesi. Orang Kubu menghuni hutan-hutan, sedangkan orang Batin mendiami wilayah Jambi Hulu. Pendatang dari Minangkabau disebut sebagai orang Penghulu, yang menyatakan tunduk pada orang-orang Batin.[butuh rujukan]
Pemerintahan
Kesultanan Jambi dipimpin oleh raja yang bergelar sultan. Raja ini dipilih dari perwakilan empat keluarga bangsawan (suku): suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih pangeran ratu, yang mengendalikan jalan pemerintahan sehari-hari.[butuh rujukan] Dalam menjalankan pemerintahan pangeran ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasihat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.[butuh rujukan]
Menurut R. Sahabuddin (1954) dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Jambi (1978/1979), pemerintahan di pusat Kesultanan Jambi dipimpin oleh seorang sultan yang dibantu oleh pangeran ratu (putra mahkota) yang memimpin Rapat Dua Belas. Rapat Dua Belas terdiri atas dua bagian:[butuh rujukan]
Kerapatan Patih Dalam (Dewan Menteri Dalam)
Kerapatan Patih Luar (Dewan Menteri Luar)
Masing-masing kerapatan terdiri dari 6 orang, 1 orang ketua dan 5 orang anggota.[butuh rujukan]
Kerapatan Patih Dalam diketuai oleh Putra Mahkota yang bergelar Pangeran Ratu dengan para anggota yang diberi gelar:[butuh rujukan]
Pangeran Adipati
Pangeran Suryo Notokusumo
Pangeran Jayadiningrat
Pangeran Aryo Jayakusumo
Pangeran Notomenggolo atau Pangeran Werokusumo
Kerapatan Patih Dalam pada hakekatnya merupakan Majelis Kerajaan (Rijksraad) yang berfungsi sebagai lembaga legislatif (DPR) pada masa sekarang.[butuh rujukan] Pepatih Dalam yang terkenal pada masa Kesultanan Jambi adalah Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri atau dikenal dengan gelar Pangeran Wirokusumo.[15]
Peperangan
Perang Johor-Jambi
Peta Johor dan Jambi sebelum-setelah peperangan
Peperangan Johor–Jambi dimulai antara Kesultanan Johor dan Kesultanan Jambi pada saat kedua belah pihak berselisih paham mengenai perebutan kawasan yang bernama Kuala Tungkal. Pada masa ini Johor diperintah oleh Sultan Abdul Jalil Syah III dan pemerintahan lebih banyak dimainkan oleh Raja Muda. Dalam usaha untuk mendapatkan Tungkal dari tangan orang Jambi, orang Johor telah menghasut penduduk Tungkal untuk memberontak. Hal ini menimbulkan kemarahan Pemerintah Jambi. Namun kekuatan Johor yang disegani pemerintah Jambi pada waktu itu menyebabkan Jambi memilih untuk berdamai. Ketegangan antara Johor dan Jambi dapat diredakan karena perkawinan antara Raja Muda Johor dengan Puteri Sultan Jambi pada tahun 1659.[butuh rujukan]
Namun persengketaan antara Johor dan Jambi kembali meletus dikarenakan tindakan kedua-dua pihak yang saling menghina kedaulatan kerajaan masing-masing. Johor kembali berperang dengan membawa 7 buah kapal untuk menyerang perkampungan nelayan Jambi pada bulan Mei 1667. Kegiatan perdagangan semakin merosot akibat perperangan yang terjadi karena tidak ada jaminan keselamatan kepada pedagang untuk menjalankan perdagangan di kawasan bergolak ini. Hal ini menyebabkan kerugian ekonomi kepada Johor. Puncak peristiwa peperangan ini terjadi saat Pengeran Dipati Anom mengetuai sebuah angkatan perang untuk menyerang dan memusnahkan Johor secara mengejutkan pada 4 April 1673. Serangan ini telah melumpuhkan sistem pemerintahan kerajaan Johor. Dalam usaha menyelamatkan diri, Raja Muda bersama seluruh penduduk Johor telah lari bersembunyi di dalam hutan. Bendahara Johor ditawan dan dibawa pulang ke Jambi.[butuh rujukan]
Sultan Abdul Jalil Syah III juga melarikan diri ke Pahang. Baginda akhirnya meninggal dunia di sana pada 22 November 1677. Perperangan yang menyebabkan kekalahan kerajaan Johor ini telah mengakibatkan kerugian yang besar kepada Johor kerana Jambi telah bertindak merampas semua barang berharga milik kerajaan Johor termasuk 4 tan emas, sebagian besar senjata api yang merupakan simbol kemegahan dan kekuatan Johor. Kehilangan senjata api dan tentara dalam jumlah besar menyebabkan kerajaan Johor tidak dapat berbuat apa-apa, dan hal ini secara tidak langsung meruntuhkan kerajaan Johor.
Daftar penguasa
Sultan Thaha Saifuddin, Sultan terakhir Kesultanan Jambi
Nama-nama dibawah menggunakan ejaan modern yang mungkin berbeda dari ejaan dalam dokumen asli. Nama nasab (patronim gaya Arab) juga tidak disertakan dalam daftar berikut.
Perjanjian 14 Nopember 1823 atau perjanjian Sungai Baung
Perjanjian ini dipaksakan oleh Letnan Kolonel Michels yang masuk ke Sarolangun Jambi dari daerah Palembang kepada Sultan Fachruddin isinya Belanda mempunyai hak mendirikan kekuatan dalam daerah Jambi.[40]:33
Perjanjian 15 Desember 1834
Perbaikan ini yang diajukan oleh Residen Palembang Proctorius sebagai wakil Pemerintah Belanda yang ditanda-tangani oleh Sultan Muhammad Fachruddin, Pangeran Ratu Kertaningrad, dan beberapa bangsawan Jambi Surat perjanjian ini dibenarkan oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 21 April 1835, isinya antara lain:[40]:33
Pemerintah Belanda memungut cukai atas pemasukan/pengeluaran barang.[40]:33
Pemerintah Belanda mempunyai monopoli atas penjualan garam.[40]:33
Pemerintah Belanda tidak mungut cukai lain.[40]:33
Pemerintah Belanda tidak akan turut campur dalam urusan tatanegara dalam negeri dan tidak akan mengganggu adat istiadat dalam negeri, kecuali dalam hal penggelapan cukai yang berhak dipungut oleh pemerintah Belanda.[40]:33
Sultan dan Pangeran Ratu menerima uang tahunan sebesar 8000 gulden.[40]:33
Karena jelasnya kemenangan yang diperoleh Belanda terhadap Sultan negeri Jambi (Sultan Thaha) maka negeri Jambi adalah jajahan Belanda.[40]:33
Negeri Jambi hanya dipinjamkan kepada Sultan Jambi (Ahmad Nazaruddin) yang harus bersikap menurut dan setia serta menghormati pemerintahan Belanda.[40]:33
Pemerintahan Belanda berhak memungut cukai atas barang yang masuk dan keluar.[40]:33
Kepada Sultan akan diberikan uang tahunan 10.000 gulden, jumlah mana mungkin diperbesar jika penghasilan cukai pengangkutan barang bertambah.[40]:34
Segala perjanjian tahun 1834 tetap berlaku, jika tidak digugurkan atau berlawanan dengan perjanjian ini.[40]:34
Sultan dan pangeran Ratu harus mengirim utusan untuk menghormati Gubernur Jenderal.[40]:34
Batas-batas negeri Jambi akan ditetapkan oleh Pemerintah Belanda dalam program lain.[40]:34
Perjanjian terakhir yakni perjanjian Belanda dengan Sultan Ahmad Nazaruddin (1858) tidaklah seluruhnya dapat diterapkan karena masyarakat Jambi ketika itu tidak mau dijajah dan tetap patuh kepada Sultan yang sah yang tetap melakukan perlawanan hingga akhirnya gugur tahun 1904, dan baru setelah itu pemerintah Hindia Belanda atas daerah Jambi membentuk gewest Jambi pada tahun 1906.[40]:34
Undang-undang adat
Undang-undang adat pemerintah kesultanan Jambi yang berlaku terbagi atas: Induk Undang-Undang, Pucuk Undang nan Delapan, Anak Undang nan Dua Belas, Sendi Undang, dan Undang-Undang Hukum.[40]:34–37
Induk Undang-Undang
Titian teras, bertetangga batu. Maksud dari titian teras adalah undang-undang dari Nabi Islam (Muhammad), sedangkan bertangga batu adalah undang-undang dari Allah (Al-Qur'an).[40]:34
Cermin nan tiada kabur. Maksudnya, berteladanlah kepada yang telah sudah jalan yang telah dirambah yang akan diturut, baju yang telah dijahit yang akan dipakai. Bersesap berjerami, bertunggul berpemarasan, berpandam beperkuburan. Lihatlah alam yang telah terbentang ini.[40]:34
Lantak nan tiada guyah. Maksudnya, kata benar yang tidak boleh diubah-ubah. Beruk di rimba disusukan, anak dipangku diletakkan, yang benar itu jangan berubah.[40]:34
Nan tiada lapuk karena hujan, tiada lekang karena panas. Maksudnya, kata yang hak (benar).[40]:35
Kata se iyo. Maksudnya, pembicaraan yang telah dipermusyawarahkan. Bulat boleh digilingkan, pipih boleh dilayangkan. Terhampar sama kering terendam sama basah. Beban berat sama dipikul, beban ringan sama dijinjing. Jika dapat sama berlaba, jika hilang sama merugi.[40]:35
Pucuk Undang nan Delapan
Dago Dagi. Dago maksudnya bersalah kepada pemerintah, sedangkan Dagi maksudnya membuat fitnah dan kekacauan di dalam negeri.[40]:35
Sumbang Salah. Maksud dari Sumbang adalah hal-hal yang pada pendapat umum tidak senonoh atau tidak selayaknya, sedangkan Salah, yaitu sudah terang berbuat sesuatu kesalahan terhadap seseorang.[40]:35
Samun Sakar. Maksud dari Samun adalah perampokan yang disertai dengan pembunuhan, sedangkan Sakar, adalah perampasan terhadap harta benda saja.[40]:35
Upas Racun. Maksud dari Upas adalah membunuh seseorang dengan perantara makanan atau minuman yang telah diberi racun yang sangat berbisa, sehingga orang itu mati seketika itu juga dengan tidak bertangguh. Sedangkan Racun maksudnya menganiaya seseorang dengan perantaraan makanan atau minuman yang telah diberi zat racun, sehingga menyebabkan orang itu sakit dan merana, baik membawa kepada kematiannya ataupun tidak.[40]:35
Siyur Bakar. Maksud dari Siyur adalah membakar dusun atau kampung, sedangkan Bakar artinya membakar satu atau beberapa jumlah rumah.[40]:35
Tipu Tepok. Maksud dari Tipu adalah merugikan seseorang dengan jalan berpura-pura mengemukakan kebenaran atau kebaikan, tetapi yang dimaksud adalah sebaliknya. Sedangkan Tepok artinya merugikan seseorang dengan jalan bujukan atau rayuan.[40]:35
Maling Curi. Maksud dari Maling adalah mengambil harta orang yang terkunci dengan tidak diketahui pemilik atau mengambil harta orang dengan tidak diketahui pemilik pada malam hari. Sedangkan Curi artinya mengambil harta yang tidak terkunci dengan tidak diketahui pemilik atau mengambil harta itu dengan tidak diketahui pemilik pada siang hari.[40]:36
Tikam Bunuh. Maksud dari Tikam yaitu melukai seseorang dengan senjata yang runcing, baik senjata itu mempunyai mata yang tajam atau pun tidak. Sedangkan Bunuh adalah perbuatan terhadap seseorang dengan mempergunakan senjata, baik tajam atau pun tidak, sehingga sampai mematikan orang itu di tempat perbuatan itu terjadi.[40]:36
Galeri
Rekontruksi tampilan Sultan terakhir Kesultanan Jambi, Sultan Thaha Saifuddin
Foto Sultan Ahmad Nasiruddin Ratu Inga Di Laga pada tahun 1877-1879
Komplek Makam Raja-raja Jambi
Silsilah Raja-raja Jambi (dalam bahasa arab melayu).
Silsilah Raja-raja Jambi (dalam bahasa belanda)
Silsilah Raja-raja Jambi (dalam bahasa belanda).
Silsilah Raja-raja Jambi (dalam bahasa arab melayu).
Surat dari Sultan Jambi.
Hikayat negeri Jambi.
Surat Sultan Thaha Saifuddin Jambi Ke Khalifah Utsmaniyah
Buku Berjudul Sultan Thaha Syaifuddin
Catatan
↑ Mukti Zubir (1987:29-30) menyatakan bahwa Sultan Abdul Kahar-lah yang pertama menggunakan gelar Sultan di Jambi dan mengubahnya menjadi kesultanan. Meski kerap dilansir, Arifullah (2015:130) menuturkan bahwa ini adalah pendapat modern yang tidak memiliki bukti sejarah kuat. Andaya (1993:59, 102, 315) mencatat bahwa Panembahan Kota Baru memerintah bersama putra mahkotanya hingga keduanya meninggal pada tahun 1630, tetapi ia tidak mencatat bahwa sang putra pernah memerintah sendiri atau dinobatkan sebagai Sultan. Menurut Andaya, cucu Panembahan Kota Baru-lah yang pertama kali memakai gelar Sultan pada tahun 1669.
↑Menurut Andaya (1993:72, 95), penggunaan gelar Sultan pertama di Jambi bermula dari Sultan Agung pada tahun 1669. Penggunaan gelar ini diprakarsai oleh putra Sultan Agung yang kemudian melanjutkan penggunaan gelar Sultan pada masa pemerintahannya.
↑Dicatat Andaya (1993:132-135, 152), Pangeran Pringgabaya adalah adik dari Sultan Kiai Gede yang tidak bersedia mengakui kekuasaannya. Ia mendirikan keraton pecahan yang dimimpin dirinya sendiri di wilayah Muara Tebo, Jambi
↑Sultan Astra Ingalaga adalah putra dari Pangeran Pringgabaya. Dicatat Andaya (1993:159), pada Januari 1725 massa yang dipimpin Raden Demang (cucu Kiai Gede) menuntut agar Sultan baru dinobatkan dari garis keturunan Kiai Gede dan menyekap Astra Ingalaga. Astra Ingalaga berhasil melarikan diri, tetapi kubu Raden Demang mengangkat Pangeran Suryanegara (putra Kiai Gede) sebagai Sultan Muhammad Syah. Posisi Astra Ingalaga baru bisa kembali dikukuhkan setelah Muhammad Syah meninggal akibat cacar pada tahun 1726.
↑Nama beliau seringkali ditulis dengan huruf Latin sebagai "Thaha Syaifuddin" dalam media Indonesia kontemporer, namun cap nama yang digunakan Thaha sendiri (lihat Gallop, 2019:242) menggunakan طاه سيفادين, bukan طاه شيفادين
↑Peneliti Jambi terdahulu menggunakan ejaan yang variatif untuk nama Thaha Saifuddin. Penulis memilih menggunakan ejaan tersebut, selanjutnya diringkas Thaha, merujuk pada penulisan aksara Arab pada stempel yang digunakan oleh sultan serta keumuman penulisan dalam institusi resmi di Jambi saat ini. Dalam stempel resmi kesultanan tertulis طه سيف الدين yang jika ditransliterasi ke dalam aksara Latin menggunakan Turabian style menjadi Taha Sayf al-Din. Dalam diskusi tahun 2016 lalu, Elsbeth Locher-Scholten menjelaskan alasannya menggunakan ejaan Taha merujuk pada penulisan dalam dokumen-dokumen Belanda.
↑Memang ada beberapa variasi penulisan nama pahlawan Jambi tersebut, misalnya Sultan (kadang ditulis Sulthan) Taha (ada yang menyebut Thaha) Saifuddin (Syaifuddin)
↑Bisa jadi ada lebih dari satu yang mengenakan gelar ini di waktu bersamaan. Gubernur Jambi menjelaskan, karena hanya sebagai simbol budaya, maka gelar ini tidak memiliki andil dalam pemerintahan di Provinsi Jambi.
Referensi
12"Jambi Arms". www.hubert-herald.nl. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-01-25. Diakses tanggal 2024-01-25.
↑Ngebi Sutho Dilago Periai Rajo Sari (1982). Undang-undang, piagam, dan kisah negeri Jambi (dalam bahasa Melayu). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Sagala, Ismawati (2021). Nugrahini, Karika Nurul (ed.). Islam dan Adat dalam Sistem Pemerintahan Jambi (dalam bahasa Indonesia) (Edisi Revisi). Yogyakarta: Ombak. ISBN6022585953. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Brown, Iem (2009). The Territories of Indonesia. London: Routledge. hlm.268. ISBN9781857432152.
Gallop, Annabel Teh (2019). Malay Seals from the Islamic World of Southeast Asia: content, form, context, catalogue (dalam bahasa Inggris). Lontar Foundation in association with British Library. ISBN9789813250864.
Locher-Scholten, Elsbeth (2004). Sumatran Sultanate and Colonial State: Jambi and the Rise of Dutch Imperialism, 1830–1907 (dalam bahasa Inggris). Cornell University Press. ISBN9781501719387. Lihat pula edisi Bahasa Indonesia: Locher-Scholten, Elsbeth (2008). Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial: Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda. KITLV. ISBN9789791079150.