Majalah Monitor
Awalnya, format Monitor berupa majalah yang dikelola oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) sejak tahun 1972. Akan tetapi, oplah penjualan majalah itu sangat kecil (10 ribu eksemplar) sehingga majalah tersebut berhenti produksi pada edisi ke–24 pada tahun 1973. Setelah mati suri selama lima tahun, Monitor dihidupkan kembali dengan format tabloid oleh Yayasan Gema Tanah Air pada 1979.
Tabloid Monitor mencapai titik puncaknya dengan menjadi salah satu media cetak yang mengulas dunia film, televisi, dan hiburan secara lebih lepas dan mendalam. Arswendo, yang didapuk menjadi penanggung jawab atau pemimpin redaksi, menjadikan tabloid itu lebih menarik. Tak heran jika hingga medio 1987–1990, oplah tabloid ini mencapai 800 ribu eksemplar dengan harga eceran Rp 500,00.
Tahun 1989 adalah masa keemasan tabloid berukuran 28,5 x 41 centimeter dengan 16 halaman tersebut. Belanja iklan melejit hingga mencapai Rp 6,32 miliar. Kala itu, duduk sebagai Komisaris Utama di tabloid itu Menteri Penerangan Harmoko, yang memiliki 30 persen saham. Direktur Utama perusahaan itu Jakob Oetama, yang juga memiliki 40 persen saham. Sedangkan Pemimpin Umum dan wakilnya adalah M. Sani dan Suyanto.
Salah satu kiat sukses Arswendo mengelola Monitor adalah dengan menerapkan jurnalisme lher. Waktu itu, jurnalisme lher dikenal sebagai jurnalisme yang memadukan sensasi dan pornografi. Secara umum, konten Monitor berisi seputar dunia hiburan. Tabloid itu membahas program televisi, film, musik, dan gosip artis. Juga melengkapinya dengan infografis, tabel, dan berbagai data yang menarik.
Arswendo ingin menjadikan Monitor seperti TV Guide. Hanya saja, untuk halaman sampul, Monitor biasa menampilkan foto-foto seronok. Judul-judulnya juga dibuat menggoda dan cenderung berasosiasi ke urusan seksualitas. Banyak yang memuji Monitor dan Arswendo pada waktu itu, tetapi juga banyak yang mencibir tabloid tersebut dengan menyebut para pengelolanya berselera rendahan.[6]