| Tahun | Tanggal | Peristiwa |
| 1900 |
17 Maret |
Organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan resmi berdiri. |
| 1903 |
20 Januari |
Kesultanan Aceh menyerah kepada Hindia belanda |
| 1905 |
16 Oktober |
Sarekat Islam resmi berdiri. |
| 1906 |
22 September |
Raja Badung VII, I Gusti Ngurah Made Agung gugur dalam sebuah peperangan melawan Belanda.[22] |
| 1907 |
Januari |
Medan Prijaji, surat kabar nasional pertama terbit menggunakan Bahasa Melayu dan hampir seluruh operasionalnya dikelola oleh pribumi. |
| 1910 |
1 Oktober |
Surat kabar Tionghoa, Sin Po, terbit pertama kali dan beroperasi hingga sekitar 55 tahun kemudian. Surat kabar ini berperan penting dalam menyuarakan nasionalisme Indonesia termasuk mempelopori penggunaan istilah "Indonesia" untuk menggantikan "Hindia Belanda".[24] |
| 1908 |
| Organisasi Budi Utomo berdiri. |
| 1911 |
| Buku Habis Gelap Terbitlah Terang (Door Duisternis tot Licht) yang memuat surat-surat pribadi Raden Ajeng Kartini dengan sahabat penanya diterbitkan.[25] Pemikiran Kartini yang tertuang dalam buku ini kemudian memengaruhi kaum terpelajar pergerakan nasional. |
| 1914 |
23 Mei |
Partai Komunis Indonesia berdiri. |
| 1920 |
3 Juli |
Technische Hoogeschool te Bandoeng yang merupakan perguruan tinggi pertama di Hindia Belanda diresmikan. Kelak di lokasi yang sama setelah Indonesia merdeka didirikan Institut Teknologi Bandung.[26] |
| 1923 |
Mei |
Aksi mogok massal dilakukan buruh kereta api di seluruh Pulau Jawa.[27] |
| 1925 |
April |
Buku Naar de Republiek Indonesia karya Tan Malaka terbit di Kanton.[28] Buku ini dianggap sebagai gagasan awal mengenai Republik Indonesia yang dibaca oleh para pelajar Indonesia dan pemimpin pergerakan nasional termasuk Sukarno. |
| 1926 |
30 April-2 Mei |
Kongres Pemuda I digelar di Batavia. Kongres berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan yang memuaskan bagi semua pihak.[29] |
| 1927 |
4 Juli |
Partai Nasional Indonesia (PNI) berdiri. |
| 1928 |
27-28 Oktober |
Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda di gelar di Batavia.[29] |
| 1930 |
1 Desember |
Soekarno membacakan pidato yang berjudul Indonesia Menggugat di depan Sidang Landraad Bandung.[30] |
| 1934 |
4 - 5 Oktober |
Sumpah pemuda keturunan Arab digelar di Pekojan, Jakarta Barat. Menyatakan bahwa tanah air mereka adalah Indonesia.[31] |
| 1936 |
15 Juli |
Soetardjo Kartohadikoesoemo mengusulkan sebuah petisi yang dikenal sebagai Petisi Soertardjo dalam sidang Volksraad. Isi petisi itu menuntut adanya suatu musyawarah antara para wakil Belanda dan bumiputra yang didasarkan atas persamaan. Tujuannya menyiapkan otonomi Hindia Belanda yang merdeka tetapi tetap dalam kesatuan Kerajaan Belanda.[32] |
| 1936 |
| Penemuan fosil Pithecanthropus Robustus oleh GHR. van Koenigswald di lembah sungai Bengawan Solo. |
| 1939 |
| Penemuan fosil Pithecanthropus Mojokertensis oleh GHR. Von Koenigswald di Perning, Mojokerto. |
| 1942 |
11 Januari |
Tentara Jepang tiba di wilayah Nusantara, tepatnya di daerah Kota Tarakan, Kalimantan Utara yang waktu itu masih bergabung dengan Kalimantan Timur. |
| 1943 |
3 Oktober |
Tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) resmi berdiri.[33] |
| 1945 |
1 Juni |
Hari lahirnya Pancasila. |
| 16 Agustus |
Peristiwa Rengasdengklok. |
| 17 Agustus |
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, serta Revolusi Nasional berawal. |
| 18 Agustus |
Sidang pertama PPKI menghasilkan tiga keputusan. Pertama, mengesahkan UUD 1945. Kedua, mengangkat Soekarno sebagai Presiden RI dan Hatta sebagai wakilnya. Ketiga, membentuk Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk membantu kerja presiden. |
| 15 September |
Pasukan sekutu dan NICA mendarat di Jakarta untuk melucuti senjata tentara Jepang. Kedatangan mereka juga membawa misi Kerajaan Belanda untuk mengambil alih lagi wilayah Hindia Belanda. |
| 17 September |
Palang Merah Indonesia dibentuk. |
| 22 September |
Insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya. |
| 22 Oktober |
Pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari dan ulama lainnya yang berkumpul di Surabaya mendeklarasikan Resolusi Jihad. Inti resolusinya menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah perang jihad.[34] |
| 1945-1947 |
|
Periode Masa Bersiap berlangsung. Dalam rentang waktu ini terjadi kekacauan, perampokan, hingga pembunuhan oleh massa pro kemerdekaan terhadap orang Belanda, Eropa, Tionghoa atau siapa saja yang dianggap bagian dari penjajah. |
| 1946 |
3 Januari |
Presiden Soekarno dan pejabat tinggi lainnya diam-diam berangkat ke Yogyakarta dan memindahkan ibu kota negara ke sana. Mereka tiba esok hari tanggal 4 Januari.[35] |
| 1947 |
05 Februari |
Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam Di Yogyakarta |
| 10 Juni |
Pengakuan Kemerdekaan Indonesia oleh Mesir. Pengakuan Internasional ini melengkapi syarat berdaulatnya suatu Negara menurut Teori Oppenheimer dan Lauterpacht, serta konvensi hukum internasional Konvensi Montevideo tahun 1933. Sehingga kasus Republik Indonesia mulai dibicarakan di PBB. |
| 21 Juli-5 Agustus |
Belanda melancarkan agresi militer pertamanya. |
| 1948 |
17 Januari |
Disepakatinya Perjanjian Renville antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda di Kapal USS Renville milik Amerika Serikat. Kedua belah pihak sepakat melakukan gencatan senjata. Namun, perjanjian ini lebih banyak merugikan pihak Indonesia karena wilayah Indonesia menjadi semakin sedikit.[36] |
| 1948-1949 |
19 Desember -5 Januari |
Belanda melancarkan agresi militer keduanya. |
| 1948 |
22 Desember |
Syafruddin Prawiranegara mengumumkan berdirinya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi. Hal itu terkait dengan didudukinya ibu kota negara di Yogyakarta dan penangkapan Presiden Soekarno oleh Belanda. Bukittinggi pun menjadi ibu kota PDRI. |
| 1949 |
23 Agustus-2 November |
Konferensi Meja Bundar dilangsungkan di Den Haag, Belanda antara Indonesia dan Belanda sebagai cara untuk meredam kemerdekaan Indonesia dengan jalan kekerasan. |
| 29 Desember |
Revolusi Nasional berakhir. |
| 1950 |
29 Januari |
Jenderal Sudirman meninggal pada usia 34. |
| 25 April |
Republik Maluku Selatan diproklamirkan di Ambon. |
| 27 September |
Indonesia menjadi anggota ke-60 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. |
| 1951 |
24 Agustus |
Peletakan batu pertama Masjid Istiqlal, sebagai simbol kemerdekaan Indonesia. |
| 1953 |
| Borneo digantinama menjadi Provinsi Kalimantan, kemudian pada 1956 dibagi menjadi Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. |
| 1955 |
18-24 April |
Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika dilaksanakan di Bandung. |
| 1960 |
8 Februari |
Pembangunan Komplek Olahraga Gelora Bung Karno dimulai.[37] |
|
Sekitar 40 media yang dinilai bersimpati pada ideologi kiri dicabut izin terbitnya.[38] |
| 1961 |
17 Agustus |
Pembangunan Monumen Nasional atau Monas dimulai.[39] |
| 1962 |
24 Agustus-4 September |
Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV. |
| 1963 |
17 September 1963 |
Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia, sehari setelah negara tetangga tersebut mendeklarasikan berdirinya Negara Federasi Malaysia.[40] |
| 1964 |
20 Januari |
Pemerintah Indonesia mengumumkan sikap bermusuhan kepada Malaysia.[40] |
| 27 Agustus |
Soekarno membentuk Kabinet Dwikora. |
| 1965 |
7 Januari |
Indonesia keluar dari keanggotaan PBB. |
| Soekarno mengeluarkan sebuah Keputusan Presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu. |
| 30 September |
Gerakan 30 September. |
| 13 Desember |
Devaluasi Rupiah untuk mengendalikan inflasi. |
| 1965-1966 |
Oktober-Maret |
Penumpasan PKI, mengakibatkan kira-kira setengah juta jiwa terbunuh. |
| 1966 |
24 Februari |
Soekarno membentuk Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan atau Kabinet Dwikora II. |
| 11 Maret |
Penandatanganan Supersemar. |
| 28 Maret |
Soekarno membentuk Kabinet Dwikora III. |
| 11 Agustus |
Indonesia dan Malaysia sepakat memulihkan hubungan diplomatik. |
| 28 September |
Indonesia kembali bergabung dalam PBB. |
| 1967 |
12 Maret |
Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden Indonesia. Sukarno menjadi tahanan rumah. |
| 1968 |
27 Maret |
Soeharto resmi menjadi Presiden Indonesia. |
| 1969 |
| Papua bergabung dengan Indonesia, setelah dilakukan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera). |
| 1970 |
21 Juni |
Soekarno meninggal dunia dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. |
| 1971 |
3 Juli |
Pemilihan Legislatif Indonesia yang kedua kali (pertama kali dibawah Orde Baru) dilaksanakan. Golkar menang. |
| 1973 |
| Pemerintah menciutkan jumlah partai politik menjadi tiga. PDI (dari partai nasionalis dan Kristen). PPP (dari partai Islam). Sistem tiga partai didominasi oleh Golkar. |
| 1975 |
April |
Terjadinya perang sipil di Timor Leste. |
| 30 November |
Sejumlah partai di Timor Portugis menyatakan keinginan untuk integrasi dengan Indonesia dalam Deklarasi Balibo. Hal ini berkebalikan dari Fretilin yang memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL) dua hari sebelumnya. Deklarasi Balibo kemudian menjadi jalan bagi Indonesia melancarkan Operasi Seroja.[41] |
| 7 Desember |
Indonesia melancarkan invasi ke Timor Leste. |
| 1976 |
17 Juli |
Timor Leste menyatu dengan Indonesia, menjadi Provinsi Timor Timur. |
| Dimulainya Gerakan Aceh Merdeka. |
| 1980 |
Mei |
Petisi 50 yang dicanangkan oleh Presiden Soeharto diterbitkan. |
| 1982-1983 |
| Terjadinya penembakan misterius (Petrus) yang menewaskan ribuan orang tersangka kriminal. |
| 1984 |
Desember |
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih menjadi Ketua Nahdlatul Ulama. |
| 1985 |
| Pemerintah mewajibkan semua organisasi untuk mengadopsi Pancasila sebagai asas tunggal. |
| 1987 |
| Megawati Sukarnoputri menjadi anggota parlemen. |
| 1988 |
| Soeharto terpilih kembali menjadi presiden untuk kelima kalinya. |
| 1989 |
| Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mulai aktif kembali setelah sempat diredam. |
| 1991 |
12 November |
Tragedi Santa Cruz pecah, Tentara Nasional Indonesia menembaki massa pro kemederkaan Timor Leste. Sebanyak 271 orang tewas, 382 terluka, dan 250 lainnya menghilang.[42] |
| 1992-1993 |
| Pemimpin perlawanan Timor Timur Xanana Gusmao ditangkap oleh Prabowo Subianto dan diadili serta dihukum. |
| 1993 |
| Soeharto terpilih kembali menjadi presiden untuk yang keenam kalinya. |
| 1994 |
|
Majalah TEMPO dibredel Pemerintah Orde Baru karena meberitakan indikasi korupsi pembelian kapal perang eks Jerman Timur.[38] |
| 1995 |
| Pesawat N250 yang dirancang oleh B.J Habibie berhasil melakukan penerbangan pertamanya.[43] Momen ini menjadi pembuktian kemampuan Indonesia di bidang kedirgantaraan.[43] |
| 1996 |
27 Juli |
Peristiwa penyerangan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) (Peristiwa 27 Juli). |
| 1997 |
| Krisis finansial Asia 1997. |
| 1998 |
| Tragedi Pembantaian '98 di Banyuwangi. |
| 11 Maret |
Soeharto terpilih kembali untuk yang ketujuh kalinya. |
| 12 Mei |
Empat mahasiswa terbunuh dalam demonstrasi terhadap rezim Soeharto di Universitas Trisakti. |
| 13 Mei-15 Mei |
Kerusuhan besar terjadi di Jakarta dan beberapa daerah lainnya yang mengakibatkan ribuan orang tewas, sejumlah wanita tionghoa diperkosa, dan terjadinya penjarahan di pusat-pusat perbelanjaan. |
| 21 Mei |
Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden Republik Indonesia. Jabatan kepresidenan kemudian dilanjutkan oleh B.J Habibie. |
| 2 Desember |
B.J Habibie mengeluarkan instruksi presiden untuk mengusut kekayaan Soeharto.[44] |
| 1999 |
7 Juni |
Pemilu pertama dilaksanakan pada era Reformasi. |
| 30 Agustus |
Referendum Timor Timur digelar untuk menentukan apakah rakyat menerima usulan otonomi khusus dan tetap bergabung dengan Indonesia atau memisahkan diri dari Indonesia. Referendum dilakukan di bawah pengawasan UNAMET (United Nations Mission for East Timor).[45] |
| 4 September |
Hasil referendum Timor Timur diumumkan di New York dan Dili. Sebanyak 78,5% penduduk Timor Timur menolak usulan otonomi khusus yang ditawarkan Indonesia dan memilih untuk memisahkan diri dari NKRI.[45] |
| 20 Oktober |
Gus Dur resmi diangkat menjadi Presiden RI. |
| 6 Desember |
Gus Dur membuka kembali pengusutan kekayaan Soeharto. |