Konflik etnis atau perang etnis adalah sebuah konflik bersenjata (violent) maupun tidak (non-violent) antar kelompok etnis dikarenakan politik, sosial, ekonomi, agama atau kompetisi mendapatkan tujuan tertentu.[1] Konflik tersebut kontras dengan perang saudara di mana hanya sebuah negara atau kelompok etnis tunggal yang bertarung satu sama lain dan peperangan reguler di mana dua negara berdaulat atau lebih (baik yang merupakan atau bukan merupakan negara kebangsaan) berkonflik.
Para akademisi umumnya membagi konflik etnis dalam salah satu dari tiga aliran: primordialis, instrumentalis atau konstruktivis. Perdebatan intelektual juga terfokus pada masalah konflik etnis yang lebih membengkak sejak akhir Perang Dingin, dan cara-cara untuk menyelesaikan konflik, serta instrumen-instrumen seperti konsokiasionalisme dan federalisasi.
Konflik etnis setelah Perang Dingin
Istilah "etnisitas" yang digunakan pada saat ini berkembang pada pertengahan abad ke-20, menggantikan terminologi "ras" atau "negara" yang digunakan untuk konsep tersebut pada abad ke-19. Peperangan reguler awalnya terjadi sebagai konflik antar negara, dan hanya dengan kebangkitan masyarakat multi-etnis dan perubahan pada peperangan asimetris membuat konsep "konflik etnis" dipisahkan dari "perang" generik.
Peristiwa tersebut menjadi kasus khusus sejak keruntuhan Uni Soviet yang multi-etnis dan Yugoslavia yang relatif lebih homogenius pada 1990an, kedua peristiwa tersebut disusul dengan konflik etnis yang diwarnai dengan kekerasan dan perang saudara.