Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Dikarenakan tidak ada ciri-ciri yang mendefinisikan rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat secara pasti sebagai subkelompok, penggolongan terbaru telah ditinggalkan.Referensi: K. Alexander Adelaar & Nikolaus Himmelmann. 2005. The Austronesian languages of Asia and Madagascar: A historical perspective, pp. 1-42, London, Routledge ISBN0-7007-1286-0
Sami manusané sané nyruwadi wantah mardéka tur maduwé kautamaan lan hak-hak sané pateh. Sami kalugrahin papineh lan idep tur mangdané pada masawitra melarapan semangat pakulawargaan.
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
Alih aksara:Alih aksara ini sedang dilindungi
Sami manusane sane nyruwadi wantah merdeka tur maduwe kautamaan lan hak-hak sane pateh. Sami kalugrain papineh lan idep tur mangdane pada masawitra melarapan semangat pakulawargaan.
Peta interaktif yang menunjukkan persebaran penuturan bahasa Bali di wilayah Pulau Bali, Nusa Penida, Pulau Lombok dan sekitarnya. Tekan peta untuk mengakses peta interaktif.
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 664 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Bahasa Bali (Endonim: Basa Bali, Aksara Bali: ᬩᬲᬩᬮᬶ, pengucapan dalam IPA: [ˈbasəˈbali], atau Bhāṣā Bali, ᬪᬵᬱᬵᬩᬮᬶ)[12] adalah bahasa yang termasuk kedalam kelompok Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia yang dituturkan oleh sekitar 3.3juta jiwa pada tahun 2000 yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan juga tersebar di Nusa Penida, Lombok bagian barat, dan Jawa bagian timur,[13] hingga Sumatra bagian selatan dan Sulawesi.[14] Diperkirakan bahwa pada tahun 2011, terdapat kurang dari 1juta orang yang masih menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama mereka di Bali.
Di Lombok, bahasa Bali terutama dipertuturkan di sekitar kota Mataram, sedangkan di pulau Jawa bahasa Bali terutama dipertuturkan di beberapa desa di kabupaten Banyuwangi. Selain itu bahasa Osing, yaitu dialekbahasa Jawaorang Osing Banyuwangi, juga menyerap banyak kata-kata Bali. Misalkan sebagai contoh kata osing yang berarti “tidak” diambil dari bahasa Bali tusing. Di daerah-daerah transmigrasi orang Bali yang signifikan seperti di Sulawesi dan Lampung bahasa Bali juga masih tetap digunakan.
Bahasa Bali dipertuturkan oleh kurang lebih 3,3 juta jiwa berdasarkan data sensus tahun 2000 bahasa ini digolongkan sebagai bahasa yang "tidak terancam" oleh Glottolog.[15] Kebanyakan penutur bahasa Bali juga menuturkan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar etnis.
Tingkatan bahasa
Tingkat-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali.
Bahasa Bali seperti halnya Bahasa Jawa dan Bahasa Sasak juga memiliki tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya, dan Bali Kasar. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa Jawa menyebar ke Bali sejak zaman Majapahit menguasai Bali.
Basa Alus. Bahasa Alus atau bahasa singgih merupakan bahasa yang digunakan untuk menghormati atau meninggikan. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
Basa Bali Alus Singgih (a.si), digunakan ketika berbicara kepada sulinggih (brahman), penguasa dunia, pejabat tinggi, dan orang-orang penting.
Basa Bali Alus Madia (a.ma), dipakai ketika berbicara dengan bahasa lembut, tetapi tidak diketahui apakah pembicara harus meninggikan atau merendahkan nada bicaranya.
Basa Alus Mider (a. mi), merupakan bahasa halus yang menghiasi penggunaannya ketika berbicara kepada ras atas maupun ras bawah yang seharusnya dihormati.
Basa Bali Alus Sor (a. so), dipakai oleh orang pada waktu bercerita atau menyebut dirinya apabila sedang berbicara dengan sanak saudara yang dihormati. Basa alus sor digunakan untuk merendahkan diri ketika berbicara kepada ras yang lebih tinggi atau seseorang yang seharusnya dihormati. Kata-kata yang digunakan untuk berbicara adalah kata-kata yang lembut.
Bali Mider / Madia, digunakan saat mengajar di banjar, sekolah, dan tempat lain yang banyak penduduknya. Bahasa ini bukan bahasa yang sombong atau kasar, akan tetapi digunakan untuk menghormati orang-orang yang patut dihormati dan orang-orang yang rendah hati (jaba/kawula) serta orang-orang yang tidak dikenal.
Bali Rendah atau Kapara, digunakan saat berbicara dengan teman, saudara, dan orang yang sudah dikenal sejak zaman dahulu. Bahasa Bali Halus memiliki beberapa jenis sebagai berikut:
Basa Bali Sor, adalah bagian dari bahasa Bali rendah yang digunakan untuk berbicara kepada orang yang dipanggil; kelas bawah, sesama orang asing, atau persahabatan dekat atau saat sedang berkelahi/adu mulut dengan lawan bicara.
Basa kasamén/kapara (b.s), kata lingganipun dari sami, mendapat awalan ka- diikuti akhiran -an menjadi kasamian, berpasangan dengan kasamén. Menjadi bahasa kasamén yang berarti bahasa rendah yang dapat digunakan oleh semua orang dan tidak bermaksud meninggikan atau merendahkan.
Basa Bali Kasar (b.k), Bahasa kasar ini juga merupakan bentuk bahasa rendah, yang digunakan terhadap teman dekat yang sudah akrab, tingkatan bahasa ini sering digunakan ketika sedang berkelahi/adu mulut, tingkatkan ini tidak dianjurkan digunakan untuk orang yang belum/baru dikenal, tingkatkan ini sebisa mungkin dihindari penggunanya tapi masih banyak yang memakainya terutama oleh kalangan anak-anak muda, berbeda dengan bahasa Bali halus yang kosakatanya sama di setiap wilayah, pemakaian kosakata dalam bahasa kasar dapat berbeda-beda tergenang dialek di masing-masing daerah atau kabupaten/kota di Bali.[16]
Klasifikasi
Bahasa Bali termasuk dalam cabang Melayu-Polinesia dari rumpun bahasa Austronesia. Dalam rumpun Melayu-Polinesia, bahasa Bali berada di subcabang Bali-Sasak-Sumbawa.[17] Terdapat tiga dialek utama dari bahasa Bali, yakni bahasa Bali yang dituturkan di pegunungan dan dataran tinggi, bahasa Bali dataran rendah, dan penuturan di Nusa Penida.[15]
Demografi
Menurut sensus tahun 2000, bahasa Bali dituturkan oleh sekitar 3,3juta orang di Indonesia yang utamanya terkonsentrasi di pulau Bali dan area sekitarnya.
Pada 2011, diperkirakan hanya terdapat tidak lebih dari 1 juta orang yang menuturkan bahasa Bali. Hal ini dikarenakan masyarakat pada wilayah perkotaan hanya mengajarkan bahasa Indonesia, atau bahkan bahasa Inggris pada anak-anak mereka, serta penggunaan bahasa Bali dalam media massal terlah menghilang. Bentuk tertulis daribahasa Bali semakin asing bagi penutur bahasa itu sendiri dan sebagian besar masyarakat Bali menggunakan bahasa Bali hanya sebagai alat komunikasi lisan, sering kali mencampurkannya dengan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Namun di daerah transmigrasi di luar Pulau Bali, bahasa Bali banyak digunakan dan diyakini berperan penting dalam kelangsungan bahasa tersebut.[18]
Ejaan formal dari bahasa Bali membuat fonem /a/ dan /ə/ ditulis sebagai ⟨a⟩. Walaupun demikian, ⟨a⟩ sering kali dilafalkan sebagai [ə] hanya saat terletak pada akhir kata, serta pada awalanma-, pa-, dan da-.[19]
Tergantung dialeknya, fonem /t/ dapat dilepaskan sebagai konsonan hentian rongga-gigi maupun tarik-belakang. Hal ini sangat berbeda ketimbang banyak bahasa di Indonesia, termasuk bahasa Indonesia, yang mempunyai konsonan dentalik /t/ dengan alofoni rongga-gigi.[14]
Alofon
Sebuah ciri khas dan menjadi keistimewaan bahasa Bali ialah bahwa fonem eksplosif tak bersuara /t/ dilafalkan sebagai [t] pada posisi akhir, tetapi pada posisi awal dan tengah dilafalkan sebagai [ʈ] (t retrofleks).
Vokal /a/ pada posisi akhir terbuka dilafalkan sebagai [ĕ]. Misalkan kata Kuta, nama pantai termashyur di Bali, dilafalkan sebagai [k'uʈĕ].
Sukukata
Seperti bahasa Austronesia lainnya, bahasa Bali juga cenderung dengan kata-kata dwisukukata dan berbentuk KVKVK. Namun dalam mereduplikasi sebuah sukukata monosilabik berbentuk KVK, maka dalam bahasa Bali ini biasanya menjadi KVKKVK berbeda dengan bahasa Melayu dan Jawa:
Bahasa Bali dalam keluarga bahasa Austronesia sering ditengarai paling dekat berkerabat dengan bahasa Jawa. Namun hal ini tidaklah demikian. Bahasa Bali paling dekat dengan bahasa Sasak dan beberapa bahasa di pulau Sumbawa bagian barat. Kemiripannya dengan bahasa Jawa hanya karena pengaruh kosakata atas bahasa Jawa karena aktivitas penaklukan Jawa pada masa lampau, terutama pada abad ke-14 Masehi. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada pada tahun 1343 Masehi. Bahkan dalam keluarga Austronesia, secara fonologis bahasa Bali lebih mirip bahasa Melayu daripada bahasa Jawa. Namun fonem /r/ pada posisi akhir dalam bahasa Melayu, sering kali menjadi /h/ pada bahasa Bali. Hal ini bisa terbukti dengan senarai perbandingan kosakata dasar bahasa Melayu, Bali, Jawa Kuno dan Jawa Baru:
Bahasa Bali banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa:
Melayu
Bali
Jawa
sudah
sampun
sampun
meninggal
seda
sedå
datang
rauh
rawuh
dari
saking
saking
arti
teges
tĕgĕs
cinta
tresna
tresnå
kalau
yen
yen
Perbandingan Tingkatan Bahasa pada Bahasa Bali dan Bahasa Jawa[20]
Indonesia
Bali (Andap)
Kognat
Jawa Kuno
Tingkatan pada
Jawa Baru
Bali (Alus)
Kognat
Jawa Kuno
Tingkatan pada
Jawa Baru
lagi
buin
?
-
malih
malih
tinggi
semua
makejang
?
-
sami
sami
tinggi
sudah
suba
?
-
sampun
sampun
tinggi
dan
muah
muwah
rendah
miwah
miwah
tinggi
Kosakata khas Bali
Di atas sudah diapaparkan kosakata yang mirip dengan bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Sekarang kosakata khas Bali dipaparkan:
Melayu
Bali
Jawa
kau (kasar)
cai untuk laki-laki/nyai untuk wanita (kasar)
kowe, sirå, rikå
sungai
tukad
sungay (Jawa Kuno) kali lepen
yang
sane
ingkang, kang, sing
dukun, tabib
balian
dhukun
Konsep geografis
Berbeda dengan banyak suku bangsa di dunia, tetapi masih mirip dengan suku bangsa penutur bahasa Austronesia lainnya, orang Bali dalam menentukan arah berorientasi bukan pada arah mata angin yang pasti namun pada letak kawasan geografis, pada kasus Bali ini pada letak gunung dan laut. Oleh karena itu arah mata angin bisa berubah-ubah sesuai tempatnya.
Kaja berarti arah menuju gunung. Oleh karena itu, terjemahan istilah 'kaja' dalam Bahasa Melayu adalah 'Utara' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Selatan'.
Kelod berarti arah menuju laut. Berbalik dengan istilah 'kaja' di atas, jadi stilah 'kelod' dalam Bahasa Melayu adalah 'Selatan' untuk masyarakat Bali Selatan, sementara terjemahannya untuk masyarakat Bali Utara, khususnya Buleleng, adalah 'Utara'.
Kauh berarti Barat, dan kangin berarti Timur. Hal ini sama untuk masyarakat Bali Selatan dan Bali Utara.
Perbedaan tata-cara menyebut utara dan selatan ini sering menyebabkan kesalahpahaman jika orang Bali Selatan bertanya dalam Bahasa Bali kepada orang Bali Utara, karena perbedaan acuan. Acuan 'gunung' yang sering dipakai adalah titik pusat pulau Bali yaitu bagian pegunungan Batur dan Gunung Agung.
Tata bahasa
Susunan kalimat dalam bahasa Bali mirip dengan yang ada dalam bahasa Indonesia, serta infleksimorfologi yang terjadi pada verba dan nominanya sangat sedikit dan serupa. Meskipun demikian, morfologi derivasinya cukup luas dan imbuhan dapat ditambahkan untuk menunjukan artikel terhingga maupun tak terhingga, serta menunjukkan kasus posesiva.[19]
Tingkat-tingkatan bahasa Bali
Variasi/dialek
Bahasa Bali memiliki variasi sejarah (waktu) dan variasi geografis (ruang). Dari berbagai prasasti yang dikeluarkan pada masa sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu (abad ke-10) diketahui ada varian bahasa Bali yang biasa disebut sebagai bahasa Bali Kuno. Kajian mengenai bahasa Bali Kuno pertama kali dilakukan oleh Roelof Goris pada tahun 1950-an dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1970-an. Kamus Bahasa Bali Kuno - bahasa Indonesia telah dirilis oleh Kemendikbud pada tahun 1975.[21]
Suatu dialek yang masih digunakan saat ini adalah bahasa suku Bali Aga, dituturkan di beberapa desa di sekitar Danau Batur dan di wilayah lainnya.
Selain itu, bahasa masyarakat Bali umum (nonvariasi) adalah "bahasa Bali Kapara" atau Bali Lumbrah yang dipakai oleh mayoritas orang Bali sekarang.
Dialek Dataran Rendah
Seorang pria multilingual berbicara dalam berbagai dialek bahasa Bali (Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli, Klungkung, Gianyar, Karangasem)
Varietas dataran rendah dituturkan di seluruh dataran dan distrik pesisir yang didefinisikan oleh inovasi fonologis, morfologis, dan leksikal dan terutama dalam elaborasi register; sistem tingkat tutur yang berkembang melalui kontak dengan Bahasa Jawa Kuno dan yang tidak dimiliki oleh Bali Aga (varietas dataran tinggi).[14] Karena inovasi bersama akibat kontak ini, kelompok dataran rendah umumnya diperlakukan sebagai standar dasar bahasa Bali; Pada kongres standardisasi tahun 1974, varietas Buleleng (ibu kotanya Singaraja) dan Klungkung direkomendasikan sebagai model, sebagian karena Singaraja telah lama berfungsi sebagai pusat administrasi, pendidikan, dan sastra pada era kolonial.[14]
Varietas dataran rendah berbeda satu sama lain, seringkali mengikuti garis distrik regional sebelumnya (Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng, Gianyar, Badung, Tabanan, dan Jembrana) dengan variasi yang terkadang terjadi hanya dalam beberapa kilometer.[14] Pembagian internal terbesar adalah antara varietas utara dan timur (Buleleng, Klungkung, dan Karangasem) dan varietas selatan wilayah Denpasar Raya. Perbedaan gramatikal yang menonjol adalah bahwa varietas Denpasar cenderung kehilangan atau menetralkan sufiks verbal dan nominal yang dipertahankan sepenuhnya oleh varietas utara dan timur.[14]
Secara fonologis, varietas Dataran Rendah yang dijelaskan Clynes (1995) untuk Singaraja memiliki delapan belas konsonan dan enam vokal. Hentian apikalnya /t/ bersifat alveolar dan bukan dental, sebuah ciri yang membedakan bahasa Bali dari banyak bahasa Indonesia barat lainnya, termasuk bahasa Indonesia di mana /t/ bersifat dental.[14] Selain itu, /k/ di akhir kata biasanya direalisasikan sebagai hentian glotal, /h/ dihilangkan di awal suku kata dalam percakapan sehari-hari, tekanan jatuh pada suku kata terakhir, dan ⟨a⟩ di akhir kata secara ortografis diucapkan sebagai schwa [ə].[14]
Dialek Dataran Tinggi
Peta distribusi bahasa-bahasa Bali Dataran Tinggi (peta ini tidak menunjukkan distribusi di kabupaten Badung dan Tabanan)Seorang pria berbicara dialek Bali Aga, direkam di Kintamani
Dialek dataran tinggi, juga dikenal sebagai dialek Bali Aga, adalah dialek bahasa Bali yang dituturkan oleh masyarakat Bali Aga di daerah pegunungan dan bagian utara Bali, terutama di pegunungan Kintamani, dan kabupaten-kabupaten di sekitarnya seperti Bangli, Buleleng, dan Karangasem, serta di Nusa Penida.[22]
Secara keseluruhan, ada dua sub-dialek dataran tinggi yang berbeda dari ragam yang digunakan di wilayah tersebut. Sub-dialek tersebut adalah Dialek Nusa Penida, yang sebagian besar digunakan dalam Nusa Penida, dan dialek Kapara (juga disebut sebagai Bali Kapara) terutama digunakan di Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng dengan perkiraan 4,883 pengguna.[23] Dialek Nusa Penida dianggap sebagai dialek yang berbeda, namun ada beberapa indikasi bahwa dialek Nusa Penida mungkin merupakan sub-dialek dari dialek dataran tinggi. Menurut Jendra, dkk. (1997), dialek Nusa Penida dan Highland memiliki pola fonologis yang sama seperti yang dijelaskan di bawah ini:[24]
adanya /h/ di tengah kata, misalnya di /bəhas/;[1]
Seorang pria desa berbicara sehari-hari dalam dialek Bali Nusa Penida
Saat ini, dialek Nusa Penida banyak digunakan hanya di Nusa Penida di Kabupaten Klungkung. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak semua masyarakat di Nusa Penida menggunakan dialek Nusa Penida. Ada beberapa kelompok masyarakat yang berkomunikasi menggunakan dialek yang berbeda. Di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, yang terletak di sebelah Nusa Penida, serta di sebagian kecil Nusa Penida yang dekat dengan pulau-pulau tersebut, terdapat dialek yang berbeda dan cukup unik dari dialek Nusa Penida. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah pada kata-kata seperti éda (kamu) dan kola (saya) dalam dialek Nusa Penida. Penutur dialek Nusa Lembongan menggunakan kata-kata seperti cai atau ci (kamu) dan cang (saya). Contoh lain adalah əndək (dialek Nusa Penida) dan tusing atau sing (dialek Nusa Lembongan), géléng-cenik, hangkén-kénkén, dan sebagainya. Hanya 13 dari 16 desa di Nusa Penida yang menggunakan dialek Nusa Penida. Desa-desa lainnya menggunakan dialek Nusa Lembongan atau dialek yang menyerupai bahasa Bali Klungkung daratan.[24]
Dialek Nusa Penida juga digunakan di luar Nusa Penida, terutama karena migrasi penuturnya setelah letusan Gunung Agung pada tahun 1963. Penutur penting berpindah ke Sumatera bagian selatan, khususnya ke Bandar Lampung, Palembang, Mesuji, dan Lampung Selatan.
Dialek Lombok
Peta penuturan bahasa Bali di Lombok bersamaan dengan bahasa Sasak, data tahun 1981.
Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Mt (dialek metro). Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk Perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal, bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak. Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.[25]
Aksara Bali (Aksara Bali, ᬅᬓ᭄ᬱᬭᬩᬮᬶcode: ban is deprecated ), yang juga disusun sesuai dengan Hanacaraka (ᬳᬦᬘᬭᬓcode: ban is deprecated ), merupakan sistem penulisan sejenis abugida yang berasal dari aksara Brahmi di India. Bukti paling awal dari aksara ini berasal dari abad ke-9 Masehi.[26] Pada masa sekarang, aksara Bali tidak digunakan secara massal dan hanya sedikit penutur bahasa Bali yang benar-benar paham cara menggunakannya.[27]
Alfabet bahasa Bali
Sekolah-sekolah serta media komunikasi tertulis yang menggunakan bahasa Bali pada masa kini sering kali menggunakan sistem penulisan berbasis alfabet Latin yang disebut sebagai Tulisan Bali.[28]
12Tryon, Darrell T. (June 2011). Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies (dalam bahasa Inggris). De Gruyter. hlm.497. ISBN978-3-11-088401-2.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Bahasa Bali". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
↑Adelaar, K. Alexander (2005). "The Austronesian languages of Asia and Madagascar: a historical perspective". Dalam Adelaar, K. Alexander; Himmelmann, Nikolaus (ed.). The Austronesian languages of Asia and Madagascar. London: Routledge. hlm.1–42.
↑Beratha, Ni Luh Sutjiati (1992). Evolution of Verbal Morphology in Balinese (PhD thesis). Australian National University. doi:10.25911/5d7786429c1ff. hdl:1885/109364.