Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Maret 2026)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Beberapa rumpun bahasa dimasukkan sebagai cabang dari dua rumpun bahasa yang berbeda. Untuk lebih lanjutnya, silakan lihat pembagian dari sub-rumpun Melayu-Sumbawa dan Kalimantan Utara Raya
Bahasa Aceh dikategorikan sebagai C6b Threatened menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini mulai terancam dan mengalami penurunan jumlah penutur dari waktu ke waktu
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Halaman bahasa acak
Bahasa Aceh (Endonim: Bahsa/Basa Acèh, Jawoë: باس اچيه, pengucapan dalam IPA: [bahsaat͡ʃɛh]) adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Aceh yang terdapat di wilayah pesisir, sebagian pedalaman dan sebagian kepulauan di Aceh. Bahasa ini juga dituturkan oleh keturunan Aceh di beberapa wilayah Malaysia seperti di Distrik Yan, Kedah. Bahasa Aceh digunakan sebagai bahasa ko-resmi di provinsi Aceh, bersama dengan Bahasa Indonesia.[3] Bahasa Aceh termasuk dalam rumpun bahasa Chamik, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia.[8]
Pengelompokan
Bahasa Aceh termasuk dalam kelompok bahasa Chamic, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa yang memiliki kekerabatan terdekat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Cham, Roglai, Jarai, Rade dan 6 bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Chamic. Bahasa-bahasa lainnya yang juga berkerabat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Melayu dan bahasa Minangkabau.[butuh rujukan]
Persebaran
Bahasa Aceh tersebar terutama di wilayah pesisir Aceh. Bahasa ini dituturkan mulai dari Manyak Payed, Aceh Tamiang di pesisir timur sampai ke Trumon, Aceh Selatan di pesisir barat.
Penutur bahasa Aceh ditandai dengan kode bahasa ace (warna merah) yang terdapat di sepanjang pesisir Aceh.
Pada tahun 1931 pemerintah Hindia Belanda di Aceh menghendaki supaya bahasa Aceh dipergunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat, di samping bahasa Melayu yang sudah pernah digunakan sebelumnya. Namun para cendikiawan Aceh yang di antaranya terdiri dari beberapa tokoh ulee balang tidak menyetujui maksud pemerintah Hindia Belanda tersebut. Para cendikiawan Aceh menganggap usaha pemerintah itu akan mencegah berkembangnya bahasa Melayu di Aceh. Dengan demikian akan menghambat rakyat Aceh untuk mengerti bahasa tersebut yang amat diperlukan bagi pengembangan ekonomi mereka, dan dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Namun, pemerintah Hindia Belanda di Aceh tetap bersikeras untuk melaksanakan rencana itu. Maka pada tanggal 1 Juli 1932, pemerintah Hindia Belanda menetapkan secara resmi pemakaian bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat sebagai pengganti bahasa Melayu kecuali di beberapa daerah yang tidak dihuni oleh etnis Aceh.
Meskipun bahasa Aceh telah ditetapkan sebagai bahasa pengantar sejak tanggal l Juli 1932, tetapi bahasa Melayu pada beberapa sekolah masih tetap digunakan. Menurut laporan umum pemerintah Hindia Belanda tentang pendidikan di Aceh pada tahun 1933 dan tahun 1934, masih terdapat 88 buah sekolah rakyat yang berada di kota-kota besar di Aceh yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, dan yang lainnya (sebanyak 207 buah) telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar. Sekolah yang telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar yaitu Langsa 16 sekolah, Lhok Seumawe 60 sekolah, Sigli 42 sekolah, Kutaraja 42 sekolah, Meulaboh 30 sekolah dan Tapak Tuan 17 sekolah. Sedangkan sekolah-sekolah yang tetap menggunakan bahasa Melayu yaitu Langsa 38 sekolah, Lhok Seumawe 5 sekolah, Sigli 6 sekolah, Kutaraja 7 sekolah, Meulaboh 1 sekolah dan Tapak Tuan 34 sekolah.
Menurut J. Jongejans yang menjabat sebagai residen di Aceh sejak 5 Maret 1936 hingga bulan September 1938, pada tahun 1939 dari 328 buah jumlah sekolah rakyat yang terdapat di seluruh Aceh, 210 buah di antaranya telah menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa bantu/pengantar di sarnping bahasa Melayu.[9]
Literatur
Hikayat Prang Sabi
Sampai saat ini manuskrip berbahasa Aceh tertua yang dapat ditemukan berasal dari tahun 1069 H (1658/1659 M) yaitu Hikayat Seuma'un.[10]
Sebelum penjajahan Belanda (1873–1942), hampir semua literatur berbahasa Aceh berbentuk puisi dalam bentuk hikayat atau nazam. Sedikit sekali yang berbentuk prosa dan salah satunya adalah Kitab Bakeu Meunan yang merupakan terjemahan kitab Qawaa'id al-Islaam.[11]
Setelah kedatangan Belanda barulah muncul karya tulis berbahasa Aceh dalam bentuk prosa yaitu pada tahun 1930-an, seperti Lhee Saboh Nang yang ditulis oleh Aboe Bakar dan De Vries.[12] Setelah itu barulah bermunculan berbagai karya tulis berbentuk prosa tetapi demikian masih tetap didominasi oleh karya tulis berbentuk hikayat.
Terjemah Al-Quran berbahasa Aceh dalam bentuk prosa diterbitkan oleh Kementerian Agama pada tanggal 13 Desember 2018.[15]
Sampai saat ini belum ada surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Aceh. Pada tahun 2020 diluncurkan majalah berbahasa Aceh untuk pertama kalinya, yaitu Majalah Neurôk. Penerbitan ini digagas oleh seorang budayawan Aceh yaitu Ayah Panton.[16]
Google Translate menambahkan fitur terjemahan bahasa Aceh pada 27 Juni 2024.[17]
Setidaknya terdapat sepuluh dialek bahasa Aceh: Pasè, Peusangan, Matang, Pidië, Buëng, Banda, Daya, Meulabôh, Seunagan, dan Tunong.[18]
Setidaknya ada tiga dialek besar: Baet Lambuot, Mesjid Punteut dan Panthe Ketapang.[19] Dialek Baet Lambuot digunakan di Kabupaten Aceh Besar.[20] Dialek Mesjid Punteut dituturkan di Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.[21] Dialek Panthe Ketapang dituturkan di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.[21]
Dialek Geografis: Aceh Besar,[22][23] Pidie,[22][23] Peusangan,[22] Pasai,[22] Aceh Timur (Aceh Timur)[22][23] dan Aceh Barat (Aceh Barat),[22][23] Aceh Utara (Aceh Utara),[23] Bireun,[23] Aceh Jaya
Dialek pantai barat: Tunong, Seunagan, Meulabôh, Daya.[24]
Vokal biasanya berada di pasangan mulut/sengau, meskipun hanya ada tiga vokal sengau pertengahan dan ada vokal oral pertengahan yang jumlahnya dua kali lebih banyak. /ʌ/ tidak benar-benar di tengah, meskipun ditampilkan di sini karena alasan estetika. Demikian pula, /ɨ/ juga ditampilkan sebagai ([ɯ] yang lebih ke belakang.[butuh rujukan]
Selain vokal monoftong di atas, bahasa Aceh juga memiliki 5 diftong oral, masing-masing dengan pasangan sengau:[25]
/s/ adalah alveodental laminal. /ʃ/ secara teknis berupa post-alveolar tetapi dikelompokkan dalam kolom langit-langit untuk alasan estetika.
Sistem penulisan dan ejaan
Rambu peringatan tsunami dalam bahasa Indonesia dan bahasa Aceh, menggunakan ejaan EBAYD.Sebuah spanduk memperingati kematian Hasan di Tiro dalam bahasa Aceh, menggunakan ejaan Husaini.
Sejak kolonialisasi Belanda, bahasa Aceh ditulis menggunakan aksara Latin, walau belum ada konsensus maupun peraturan mengenai standar ejaan bahasa Aceh yang resmi.[27][28] Pada awalnya, bahasa Aceh menggunakan aksara Arab yang disebut dengan "Jawoe" atau aksara Jawi dalam bahasa Melayu.[29][30]
Pada saat ini, ada dua standar ejaan yang kerap dipakai, Ejaan Bahasa Aceh Yang Disempurnakan (EBAYD) dan Husaini.[31]
EBAYD, yang juga dikenal sebagai ejaan Unsyiah,[32] ialah standar pengejaan bahasa Aceh de facto, ia adalah pengejaan yang digunakan dalam kamus, edukasi, dan media lainnya.[33][34][35] Ejaan Husaini, yang juga dikenal sebagai ejaan GAM,[32] ialah standar pengejaan bahasa Aceh yang kerap digunakan oleh anggota/mantan dan pendukung GAM.[36][37]
Kedua ejaan tersebut didasarkan oleh sistem pengejaan yang digunakan oleh Snouck Hurgronje, yang menggunakan alfabet bahasa Prancis untuk mengeja bahasa Aceh.[38] Karena itu, ejaan bahasa Aceh yang memiliki tanda diakritik kerap dijuluki sebagai ejaan Snouck.[39] EBAYD juga didasarkan oleh ejaan EYD, sedangkan ejaan Husaini didasarkan oleh Ejaan Republik.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Aceh". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
↑Bakar, Aboe; Sulaiman, Budiman; Hanafiah, M. Adnan; Ibrahim, Zainal Abidin; Syarifah H., Syarifah H. (1995). Kamus Aceh Indonesia 1. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. vii.
↑Bakar, Aboe; Sulaiman, Budiman; Hanafiah, M. Adnan; Ibrahim, Zainal Abidin; Syarifah H., Syarifah H. (1995). Kamus Aceh Indonesia 1. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. vii.
Al-Harbi, Awwad Ahmad Al-Ahmadi (1991). "Arabic Loanwords in Acehnese". Dalam Bernard Comrie; Mushira Eid (ed.). Perspectives on Arabic Linguistics: Papers from the Annual Symposium on Arabic Linguistics. Volume III: Salt Lake City, Utah 1989. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. ISBNÂ 9789027277893.
Durie, Mark (1985a). A Grammar of Acehnese: On the Basis of a Dialect of North Aceh. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 112. Dordrecht, Belanda dan Cinnaminson, AS: Foris Publications. ISBN 9067650749.
Durie, Mark (1990). "Proto-Chamic and Acehnese Mid Vowels: Towards Proto-Aceh-Chamic". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 53 (1): 100–114. JSTOR 618972.
Durie, Mark (1995). "Acehnese". Dalam Darrel T. Tryon (ed.). Comparative Austronesian Dictionary: An Introduction to Austronesian Studies. Part 1: Fascicle 1. Trends in Linguistics. Documentation. Vol. 10. Berlin: De Gruyter Mouton. hlm. 407–420. ISBN 978-3-11-088401-2.
Lawler, John M. (1977). "A Agrees with B in Achenese: A Problem for Relational Grammar". Dalam Peter Cole; Jerrold M. Sadock (ed.). Grammatical Relations. Syntax and Semantics. Vol. 8. New York: Academic Press. hlm. 219–48. doi:10.1163/9789004368866_010.
Lawler, John M. (1988). "On the Questions of Acehnese 'Passive'". 64 (1): 114–117. doi:10.2307/414789. ;
Legate, Julie Anne (2012). "Subjects in Acehnese and the Nature of the Passive". Language. 88 (3): 495–525. doi:10.1353/lan.2012.0069.
Legate, Julie Anne (2014). Voice and V: Lessons from Acehnese. Cambridge: MIT Press. ISBNÂ 978-0-262-52660-9.
Sidwell, Paul (2005). "Acehnese and the Aceh-Chamic language family"(PDF). Dalam Anthony Grant; Paul Sidwell (ed.). Chamic and Beyond: Studies in Mainland Austronesian Languages. Pacific Linguistics. Vol. 569. Pacific Linguistics, The Australian National University. hlm. 211–246.
Sidwell, Paul (2006). "Dating the Separation of Acehnese and Chamic by Etymological Analysis of the Aceh-Chamic Lexicon". Mon-Khmer Studies. 36: 187–206. doi:10.15144/MKSJ-36.187.
Sidwell, Paul (2010). "What Can the Mon-Khmer Lexical Borrowings in Acehnese Tell Us?". Dalam John Bowden; Nikolaus P. Himmelmann; Malcolm Ross (ed.). A Journey Through Austronesian and Papuan Linguistic and Cultural Space: Papers in Honour of Andrew K. Pawley. Pacific Linguistics. Vol. 615. Pacific Linguistics, The Australian National University. hlm. 271–282. doi:10.15144/PL-615.271.
Stokhof, W. A. L. (1988). "A Modern Grammar of Acehnese: Some Critical Observations". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 144 (2/3): 323–350. JSTOR 27863951.
Stokhof, W. A. L. (1992). "On Nasality in Acehnese". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 148 (2): 247–261. JSTOR 27864352.
Wildan (2010). Kaidah Bahasa Aceh[The Principles of the Acehnese Language](PDF) (Edisi 1st). Banda Aceh: Geuci. ISBNÂ 978-979-96655-3-9. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
Yusuf, Yunisrina Qismullah; Pillai, Stefanie (2016). "An Instrumental Study of Oral Vowels in the Kedah Variety of Acehnese". Language Sciences. 54: 14–25. doi:10.1016/j.langsci.2015.09.001.