Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Dikarenakan tidak ada ciri-ciri yang mendefinisikan rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat secara pasti sebagai subkelompok, penggolongan terbaru telah ditinggalkan.Referensi: K. Alexander Adelaar & Nikolaus Himmelmann. 2005. The Austronesian languages of Asia and Madagascar: A historical perspective, pp. 1-42, London, Routledge ISBN0-7007-1286-0
Logo Wikipedia dalam bahasa Madura yang berisi transkripsi "Wikipedia" (atas) ke dalam ortografi masing-masing dan slogan "Ensiklopedia Bebas" (bawah) yang diterjemahkan ke dalam bahasa tersebut.
Artikel ini menggunakan peta yang dihasilkan dari OpenStreetMap dan juga jejaring peta (mapframe) yang dibuat oleh kontributor Wikipedia. Apabila Anda menemukan kesalahan informasi, galat, maupun kendala teknis lainnya dalam data peta, silahkan laporkan di sini. Apabila Anda tertarik dalam pengembangan proyek pemetaan bahasa, silakan bergabung ke ProyekWiki kami. Proyek ini sudah menghasilkan sebanyak 664 artikel bahasa dengan peta interaktif yang dapat diakses dan digunakan oleh para pembaca.
Cari artikel bahasaCari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Huruf abjad Latin yang digunakan dalam ejaan bahasa Madura
sebagai berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.[5]
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Huruf
Nama
A a
a
J j
je
S s
es
B b
be
K k
ka
T t
te
C c
ce
L l
el
U u
u
D d
de
M m
em
V v
ve
E e
e
N n
en
W w
we
F f
ef
O o
o
X x
eks
G g
ge
P p
pe
Y y
ye
H h
ha
Q q
qi
Z z
zet
I i
i
R r
er
Huruf vokal
Huruf Vokal
Contoh di Awal Kata
Contoh di Tengah Kata
Contoh di Akhir Kata
a
alos (halus) apoy (api)
pasar (pasar) abâs (lihat)
sala (salah) bâbâ (bawah)
e
eppa' (ayah) ella (jangan)
nèser (kasihan) seksek (sesak)
è
èntar (pergi) ènga' (ingat)
sèksèk (iris) malèng (pencuri)
talè (tali) sapè (sapi)
i
iyâ (iya)
bhiru (hijau) raddhin (cantik)
manḍi (mandi) mandhi (mujarab)
o
olo' (lemah) olok (panggil)
rèpot (sibuk) dokar (dokar)
pao (mangga) rao (menyiang)
u
dhuri (belah, tusuk) duri (duri)
paju (laku) labu (jatuh)
Catatan: 1. Vokal /a/ mempunyai dua variasi bunyi, yakni [a] dan [â]; vokal /a/ akan berbunyi [a] apabila konsonan yang
dilekatinya berupa konsonan takbersuara dan konsonan
nasal, akan berbunyi [â] apabila konsonan yang dilekatinya
berupa konsonan bersuara. Untuk keperluan praktis, kedua
simbol bunyi /a/ tersebut sama-sama digunakan. 2. Tanda diakritik (') pada huruf vokal /è/ tetap digunakan
karena /è/ dan /e/ dalam bahasa Madura merupakan fonem
yang berbeda, seperti pada kata seksek (sesak) dan sèksèk
(iris), tèmbhâng (timbang) dan tembhâng (Iagu).
Huruf konsonan
Huruf Konsonan
Contoh di Awal Kata
Contoh di Tengah Kata
Contoh di Akhir Kata
b
bârâ (bengkak)
lobâr (usai)
sabâb (sebab)
c
cangkèm (dagu)
moncar (terbit) lonca' (loncat)
d
dumeng (bodoh)
badal (wakil)
morèd (murid)
ḍ
ḍârâ (darah)
buḍu (busuk [untuk ikan])
f
fakèr (fakir)
kafan (kafan)
wâkaf (wakaf)
g
gâmbus (orkes)
anggâ' (sombong, angkuh)
h
halal (halal)
ahèr (akhir)
j
jâḍiyâ (sana)
paju (laku)
k
korang (kurang)
sakè' (sakit)
otek (otak)
l
larang (mahal)
malo (malu)
kapal (kapal)
m
marè (sudah)
ambu (berhenti)
ḍâlem (dalam)
n
nèser (kasihan)
pènang (pinang)
papan (papan)
p
pèrèng (piring) perrèng (bambu)
nompa (tumpah)
kèlap (petir)
q
quran (Quran)
furqan (furqan)
r
rammè (ramai)
sarè (cari)
kasor (kasur)
s
sèyang (siang)
moso (musuh)
bherrâs (beras)
t
tèkos (tikus)
matta (mentah)
sèsèt (capung)
v
vitamin (vitamin)
rèvolusi (revolusi)
w
wâjib (wajib)
towa (tua)
y
yâkèn (yakin)
rèya (ini)
z
zâkat (zakat)
mu'jizât (mukjizat)
Catatan: 1. Konsonan /f/, /q/, /v/, /x/, dan /z/ dipakai dalam bahasa Madura untuk penulisan kata yang merupakan unsur serapan. 2. Untuk kepentingan praktis, bunyi hamzah atau glotal stop
([?]) dilambangkan dengan tanda apostrof (..'..). Digunakannya lambang tersebut karena /k/ velar ([k]) dan /k/ glotal ([?]) dalam bahasa Madura merupakan fonem yang
berbeda. Di samping itu, bunyi glotal stop dalam bahasa Madura banyak yang berposisi di tengah kata, Contoh: paka’ [paka?] (rasa sepat), cèlo’ (rasa masam), dan pa’a’ [pa?a?] (tatah [alat
untuk melubangi kayu]).
Gabungan huruf konsonan
Dalam bahasa Madura terdapat lima gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu: kh, ng, ny, sy, dan th, serta lima konsonan beraspirasi. Dalam bahasa Madura, konsonan beraspirasi dan konsonan tidak beraspirasi merupakan fonem yang berbeda sehingga perlu diberi simbol yang berbeda juga. Misalnya, bârâ (bengkak) dan bhârâ (paru-paru); ḍâḍâ (dada) dan ḍhâḍhâ (cepat letih); bâjâ (saat, waktu) dan bâjhâ (baja [sejenis logam]) serta bâgi (bagi) dan bâghi (berikan).
Huruf Konsonan
Contoh di Awal Kata
Contoh di Tengah Kata
Contoh di Akhir Kata
kh
khoso' (khusuk)
èkhlas (ikhlas)
ng
ngoḍâ (muda)
bângal (berani)
sarong (sarung)
ny
nyaman (enak)
bânnya' (banyak)
sy
syarat (syarat)
masyarakat (masyarakat)
bh
bhârâ (paru-paru)
cabbhi (lombok, cabai)
th
thokthok (ketuk)
ketthok (potong)
dh
dhârâ (merpati)
dhudhul (dodol [sejenis makanan])
ḍh
ḍhenḍheng (pusing)
aḍḍhâng (hadang)
gh
ghâghâman (senjata tajam)
bighi (biji)
jh
jhârân (kuda)
tajhin (bubur [sejenis makanan])
Huruf diftong
Di dalam bahasa Madura terdapat tiga buah diftong yang dilambangkan dengan ay, oy, dan uy.
Huruf Konsonan
Contoh di Awal Kata
Contoh di Tengah Kata
Contoh di Akhir Kata
ay
nyaynyay (lembek)
tapay (tapai, tape) labây (benang tenun)
oy
loyloy (penat, tidak bertenaga)
kompoy (cucu)
uy
kerbhuy (kerbau)
Tata bahasa
Pronomina persona
Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu ke orang; yang dibagi menjadi pronomina persona pertama, kedua, dan ketiga. Pronomina persona yang digunakan dalam bahasa Madura adalah sebagai berikut:
Pronomina persona dalam bahasa Madura
Persona
Tingkat tutur
enjâ'-iyâ
engghi-enten (1)
engghi-enten (2)
engghi-bhunten
tunggal
jamak
tunggal
jamak
tunggal
jamak
tunggal
jamak
I
sɛŋkɔʔ
-
bulâ
-
kaulâ
kaulâ sadhâjâ
bhadhân kaulâ
abdhina
-
II
baʔna
-
dhika
-
sampɜyan
sampɜyan sadhâjâ
panjheneŋŋan
ajunan
-
III
-
-
-
-
-
-
-
-
Bahasa Madura juga memiliki pronomina tak tentu antara lain sabbhân orèng 'masing-masing', dhibi' 'sendiri', bi'-dhibi' 'masing-masing', sapa orèng 'barang siapa', sapa bhâi 'siapa saja', ano 'anu' dan sebagainya.
Demonstrativa
Demonstrative dalam bahasa Madura
dekat
jauh
netral
arèya, jârèya, jâjiyâ, jiyâ (ini)
arowa, juwâ (itu)
lokal
diyâ, dinna' (sini)
jâdiyâ, dissa' (sana)
modal
bâriyâ (begini)
cara jârèya (begitu)
Demonstrativa yang digunakan sebagai penunjuk benda dan kejadian adalah: arèya 'ini', jârèya 'itu', dan arowa 'itu'. Dalam penggunaan, a pada kata arèya dan arowa sering dilesapkan; sehingga kata-kata tersebut sering dituturkan rèya, jârèya, dan rowa.
Demonstrativa yang digunakan sebagai penunjuk tempat adalah: diyâ 'sini', dinna' 'sini', jâdiyâ 'situ', dan dissa' 'sana'. Dalam penggunaan, antara diyâ dan dinna' sering tumpang tindih atau saling berganti, dan yang paling sering digunakan adalah diyâ. Akan tetapi, antara jâdiyâ dan dissa' tidak pernah tejadi penggunaan yang tumpang tindih; karena keduanya tidak dapat saling menggantikan kata yang lain. Sebagai penunjuk tempat kata-kata tersebut biasanya dirangkaikan dengan preposisi pengacu arah: è 'di', dâri 'dari', dan
dâ' atau ka 'ke'. Demonstrativa yang digunakan untuk penunjuk ihwal ialah bâriyâ 'begini', cara jârèya 'begitu', dan iyâ arèya 'yaitu'.
Nomina
Nomina dalam bahasa Madura berdasarkan bentuk dapat dikategorikan menjadi dua antara lain nomina dasar dan turunan.
Nomina dasar
Nomina dasar adalah nomina yang berupa bentuk dasar, tidak dirangkai dengan satuan lain.
tasè'
laut, pantai
angèn
angin, udara
ombâ'
ombak
pancèng
pancing
jhuko'
ikan
tarètan
saudara
tegghâl
ladang
bengko
rumah
ana'
anak
binè
istri
lakè
suami
soso
payudara
soko
kaki
kopèng
telinga
Nomina turunan
Nomina turunan adalah nomina yang berupa bentuk kompleks. Nomina turunan dalam bahasa Madura dapat dikelompokkan menjadi (a) nomina berafiks, (b) nomina reduplikasi, (c) nomina gabungan proses, dan (d) nomina komposisi.
Nomina berafiks
kapèssèan
keuangan
pabengkon
tempat tinggal
pasampanan
tukang sampan
kaparloan
keperluan
pamandiân
pemandian
Nomina reduplikasi
nè-binè
bibit
bâbinè
perempuan
tatello'
tiga buah
lân-jhâlân
tempat berjalan
ghu'-tegghu'
pegangan
Nomina gabungan proses
tètèngghun
tontonan
bâbellin
pembelian
bâbâlân
nasihat
ko-bengkoan
rumah-rumahan
rân-jhârânan
kuda-kudaan
Nomina komposisi
para' sèyang
dini hari
ghumo' dâdâ
bukit dada
pè-sapèyan pappa
penurut
bhârâng panas
barang haram
kaca kebbhâng
cermin, contoh
Numeralia
Numeralia bahasa Madura
Angka
Bentuk dasar
Singkatan
Klitika
1
sèttong
tong
sa
2
duwâ'
wâ'
du
3
tello'
lo'
tello
4
empa'
pa'
pa'
5
lèma'
ma'
lèma
6
ennem
nem
nem
7
pètto'
to'
pèttong
8
bâllu'
lu'
bâllung
9
sanga'
nga'
sangang
Bilangan gugus atau bentuk klitika dalam numeralia dimulai dengan sa 'satu'. Bilangan gugus yang penyebutannya khusus adalah saghâmè 'dua puluh lima', saèket/sèket 'lima puluh', dan sabidhâk 'enam puluh'. Komponen yang digunakan untuk menyebut bilangan gugus adalah polo 'puluh', ratos 'ratus', èbu 'ribu', dan juta 'juta'. Contoh penggunaannya yaitu:
10
sapolo
100
saratos
20
dupolo
200
duratos
30
tello polo
600
nemmatos
40
pa' polo
700
pèttong atos
50
saèket
8000
bâllung èbu
60
sabidhâk
9000
sangang èbu
70
pèttong polo
60000
sabidhâk èbu
80
bâllung polo
1000000
sajuta
90
sangang polo
4000000
pa'juta
Kosakata
Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Melayu-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.
Bahasa Madura juga memiliki serapan dari bahasa Melayu sebagai sesama bangsa Austronesia, bahasa Arab, bahasa Tionghoa, dan beberapa bahasa lainnya. Bahasa Madura juga memiliki keterkaitan erat dengan Bahasa Sunda, Bahasa Jawa, dan Bahasa Bali mengingat masih merupakan satu komunitas budaya. Sebagian kata-kata dalam bahasa Madura mirip bahasa Melayu, bahkan ada beberapa kata yang mirip dengan yang ada pada dengan Bahasa Banjar, bahasa Minangkabau maupun bahasa bahasa di Pulau Sumatera & Kalimantan lainya, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda. Minangkabau mengucapkan "a" sebagai "o" pada posisi akhir, sedangkan pada bahasa Madura, diucapkan "ə" ("e" pepet) atau "a".
Contoh:
bilâ (huruf "â" dibaca [ə](info)) sama dengan bahasa Melayu, bila = kapan
orèng = orang
tadâ' = tidak ada (hampir sama dengan kata tadak dalam Melayu Pontianak)
dimma (baca: dimmah) = mana? (hampir serupa dengan dima di Minangkabau)
tanya = tanya
cakalan = tongkol (hampir mirip dengan kata Bugis: cakalang tetapi tidak sengau)
ongghu = sungguh, benar (dari kata sungguh)
kamma (baca: kammah mirip dengan kata kama di Minangkabau) = ke mana?
pasir (baca: beddhi mirip dengan kata wedhi di Jawa)
Sistem pengucapan
Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.
Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan[b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd, dan bb. Namun penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah.
Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], [ə] dan [o].
Tingkatan bahasa
Bahasa Madura sebagaimana bahasa Sasak dan bahasa Bali juga mengenal tingkatan-tingkatan, tetapi agak berbeda karena hanya terbagi atas tiga tingkat yakni:
Bentuk Kalimat Paling Sopan, Paling Formal (Èngghi-Bhunten)
Èngghi-Bhunten adalah bentuk kalimat yang paling sopan dan paling halus yang digunakan untuk menunjukkan rasa hormat terhadap orang yang diajak bicara ataupun yang sedang dibicarakan. Seperti berbicara kepada orang tua, orang yang lebih tua, guru, orang yang lebih tinggi jabatannya, tokoh masyarakat, dan tokoh-tokoh yang dihormati oleh masyarakat umum.
Bentuk Kalimat Sopan, Alami, Formal (Engghi-Enten)
Bentuk Kalimat Santai, Informal, Akrab (Enjâ'-Iyâ)
Enjâ'-Iyâ adalah bentuk kalimat yang digunakan dalam situasi keakraban di antara teman sebaya atau orang-orang yang lebih muda. Enjâ'-Iyâ biasanya sering dipakai dalam kehidupan pergaulan sehari-hari. Enjâ'-Iyâ tidak umum digunakan ketika dalam pertemuan pertama, biasanya penutur meminta izin terlebih dahulu untuk menggunakan Enjâ'-Iyâ setelah mengenal satu sama lain. Terhadap penutur yang lebih muda atau anak-anak, Enjâ'-Iyâ umum dan dapat diterima untuk digunakan tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Penggunaan Enjâ'-Iyâ terhadap senior atau orang yang lebih tua atau tinggi jabatannya tanpa izin, dianggap tidak sopan. Enjâ'-Iyâ hanya digunakan dengan orang yang sebaya usianya, dengan orang yang lebih muda, atau (jika dengan orang yang lebih tua) harus seizin orang tersebut.
Jika tidak diketahui usia atau status orang yang diajak bicara, lebih baik tidak menggunakan Enjâ'-Iyâ. Namun jika tahu orang tersebut usianya lebih muda, boleh menggunakan Enjâ'-Iyâ, tetapi untuk kenyamanan lebih baik minta izin terlebih dahulu untuk menggunakan Enjâ'-Iyâ.
Contoh:
"¿Saponapa arghâèpon pao panèka?": Berapa harga mangganya? (Èngghi-Bhunten)
"¿Sanapè arghâna paona?": Berapa harga mangganya? (Engghi-Enten)
"¿Bârâmpa arghâna paona?": Berapa harga mangganya? (Enjâ'-Iyâ)
Dialek yang dijadikan acuan standar bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep pada masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Sementara itu, di ujung timur Jawa, dialek-dialek ini sering bercampur dengan bahasa Jawa, dialek ini sendiri disebut sebagai dialek Pendalungan. Masyarakat Tapal Kuda di luar Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai bahasa Jawa, selain bahasa Madura.
Contoh pada kasus kata ganti 'kamu':
kata bâ'en untuk 'kamu' umum digunakan di Madura. Namun kata bâ'na dipakai di Sumenep dan Bawean.
sedangkan kata kakè untuk 'kamu' lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
hèdâ dan sèdâ untuk 'kamu' dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.
Perbandingan bahasa
Perbandingan dengan bahasa Melayu
Persamaan suara, contohnya:
Dâpor = dapur
Kangan = kanan
Bânnya' = banyak
Maso' = masuk
Soro = suruh
Perbedaan imbuhan di depan, contohnya:
Ngakan = makan
Ngènom = minum
Arangka' = merangkak
Ju'-toju' = duduk-duduk
Asapoan = menyapu
Acaca = bicara
Konsonan [j] biasanya ditukar ke [ɟ], seperti:
Bâjâr = bayar
Lajân = layan
Abhâjâng = sembahyang
Konsonan [w] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [b], seperti:
Bhâbâng = bawang
Jhâbâ = Jawa
Perbandingan dengan bahasa Jawa
Perkataan yang sama dengan bahasa Jawa:
Bahasa Jawa = bahasa Bawean
Kadhung = kadung (bahasa Melayu = telanjur)
adung (bahasa Melayu = telanjur)
Petteng = peteng (bahasa Melayu = gelap)
Konsonan [w] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [b], seperti:
Bahasa Jawa ~ bahasa Bawean
Lawang = labâng (dibaca /labɤŋ/) (bahasa Melayu = pintu)
Konsonan [j] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [ɟ], seperti:
Bahasa Jawa ~ bahasa Bawean
Payu = paju (bahasa Melayu = laku)
Perbandingan dengan bahasa Banjar
Perkataan yang sama dengan bahasa Banjar:
Bahasa Banjar = bahasa Bawean
Mukena = mukena (bahasa Melayu = telekung sembahyang)
Bibini' = bibini (bahasa Melayu = perempuan)
Bukah = Berka' (bahasa Melayu = lari)
Aing = aèng (bahasa Melayu = air)
Perbandingan dengan bahasa Tagalog
Bahasa Bawean = bahasa Tagalog
Apoy = Apoy (bahasa Melayu = Api)
Èlong = elong; penggunaan [e] (bahasa Melayu = Hidung)
Matay = mamatay (bahasa Melayu = Mati)
Dialek Bawean
Contoh:
Èson terro ka bâ'na = saya sayang kamu (di Bawean ada juga yang menyebutnya Èhon, Èson tidak dikenal di bahasa Madura)
Bhuk, bâdâ berrus? = Bu, ada sikat? (berrus dari kata brush)
Èkala'aken = ambilkan (di Madura èkala'aghi, ada pengaruh Jawa kuno di akhiran -aken dalam dialek bawean).
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Bahasa Madura". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
↑"Bahasa Madura". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Maduresic" (dalam bahasa Inggris). Jena, Germany: Max Planck Institute for the Science of Human History [Kota Jena, negara Jerman: Institut Max Planck untuk Ilmu Sejarah Manusia]. Maduresic: Kangeanese and Madurese [Rumpun bahasa Madurik: bahasa Kangean dan bahasa Madura]Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2019). "Madurese"[Bahasa Madura] (dalam bahasa Inggris). Jena, Germany: Max Planck Institute for the Science of Human History [Kota Jena, negara Jerman: Institut Max Planck untuk Ilmu Sejarah Manusia].Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)