Identitas bahasa
Status kebahasaan Kampar masih diperdebatkan, terkadang bahasa ini dianggap sebagai dialek dalam bahasa Melayu Riau ataupun bahasa Minangkabau.[11] Bahasa Kampar merupakan ragam bahasa dari rumpun Melayik, tetapi belum memiliki kode bahasa ataupun klasifikasi internal rumpun Melayik yang diterima secara luas. Wilayah persebaran bahasa Kampar yang terletak antara wilayah bahasa Minangkabau (barat) dan bahasa Melayu Riau (timur) menyebabkan bahasa ini memiliki hubungan saling memengaruhi di antara kedua bahasa tersebut dan merupakan bagian kesinambungan dialek di Sumatra bagian tengah.[12][13] Bagi penutur bahasa ini, bahasa Kampar disebut sebagai bahasa Ocu dan dianggap sebagai bagian dalam bahasa Melayu Riau yang berbeda dengan bahasa Minangkabau.[4] Dalam berbagai publikasi, bahasa ini akan dituliskan dengan penamaan lainnya seperti bahasa Melayu Kampar,[14] bahasa Melayu dialek Kampar,[15][16] atau bahasa Melayu Riau dialek Kampar.[17][18][19][20] Namun, berdasarkan publikasi-publikasi lainnya juga, seperti buku terbitan tahun 1982 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang berjudul Struktur Bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar, ia secara rinci mengemukakan sisi gramatikal bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar, sehingga bahasa ini pun bisa dinyatakan terkait erat dengan bahasa Minangkabau. Selain itu, menurut buku terbitan tahun 2017 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang berjudul Bahasa dan Peta Bahasa di indonesia, ia secara rinci membuktikan keberadaan bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar, sehingga dalam publikasi-publikasi tersebut, bahasa ini bisa diklasifikasikan sebagai bahasa Minang Kampar atau bahasa Minang dialek Kampar.[21][22]
Hamidy (2002) menyebutkan bahwa bahasa Melayu Riau terbagi dalam enam dialek. Perbedaan keenam dialek ini ada pada intonasi dan leksikal. Dialek-dialek yang ada dalam bahasa Melayu Riau antara lain:[21][23][24]
Pada tahun 2009, Tim Pemetaan Bahasa dari Balai Bahasa Riau menyebutkan bahwa bahasa Kampar (terbagi menjadi dialek Kampar dan Kampar Timur) merupakan dialek dalam bahasa Melayu Darat bersama dua dialek lainnya, yaitu dialek Kuantan dan Rokan.[25]
Menurut Asmah Haji Omar (2015), bahasa Melayu di Sumatra terbagi dalam empat kluster dialek. Sementara itu bahasa Kampar termasuk dalam kluster dialek Sumatra Tengah bersama dengan Siak dan Minangkabau.[12] Menurutnya pula, di Sumatra dan seluruh Indonesia kata "bahasa" mengacu pada semua jenis kelompok kebahasaan baik itu bahasa, dialek, atau subdialek, seperti pada ungkapan bahasa Kampar, bahasa Jambi, bahasa Minang, dan lain-lain. Oleh karena itu, kesemuanya akan tetap disebut "bahasa" berdasarkan identifikasi suatu lokalitas atau wilayah.[12]
Persamaan dengan bahasa Minangkabau, khususnya dengan dialek Limapuluh Kota, membuat sebagian pakar menggolongkan bahasa Kampar sebagai salah satu dialek dalam bahasa Minangkabau.[11][26][27][28] Said, et al. (1986) menyebut bahasa yang dipergunakan penduduk di Kabupaten Kampar bagian barat (yang menjadi Kabupaten Kampar saat ini) adalah bahasa Minangkabau. Lalu Masni, et al. (2021) menyebutkan dalam penelitiannya pada isolek Kuntu Kabupaten Kampar bahwa keberagaman fonem diftong yang ditemukannya menunjukan isolek tersebut termasuk dialek bahasa Minangkabau meski secara pemerintahan administrasi berada di Riau.[28] Sementara Badan Bahasa Kemdikbud RI mengelompokkan dialek Kampar sebagai salah satu dialek dalam bahasa Minangkabau di Riau (bersama dialek Rokan, Basilam, Indragiri, dan Kuantan).[8] Persentase perbedaan dialek Kampar dengan dialek Minangkabau lainnya berkisar 51%—69%.[29] Persentase itu menunjukkan hubungan bahasa Kampar dan bahasa Minangkabau ada pada tingkat beda dialek menurut teori Guiter maupun Lauder.[8]