Pulau ini memiliki luas 14.386 km², dan merupakan pulau terbesar di provinsi Nusa Tenggara Barat, serta salah satu dari dua pulau utama di provinsi tersebut. Titik tertingginya adalah Gunung Tambora (2.824 m), yang juga merupakan gunung api aktif. Keunikan yang dimiliki Sumbawa yaitu pulau Bungin yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Pulau Bungin merupakan pulau terpadat di dunia yang memiliki kepadatan 15.000 jiwa/km². Hal ini terjadi karena luas Pulau Bungin tidak sampai 8 hektare dan ditempati sekitar 3.000 jiwa.
Sejarah
Kitab Nagarakretagama yang ditulis abad ke-14 mencatat beberapa kekuasaan yang ada di Pulau Sumbawa, antara lain Dompu, Bima, Sape, dan satu lagi di Pulau Sangeang Api, lepas pantai timur laut Sumbawa. Empat pusat kekuasaan di Sumbawa bagian barat merupakan kerajaan yang bergantung pada Majapahit, yang berpusat di Jawa bagian timur. Pulau ini sering diinvasi oleh orang luar akibat kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Pihak-pihak yang pernah menginvasi antara lain adalah orang Jawa, orang Bali, orang Makassar, hingga orang Belanda dan Jepang. Orang Belanda pertama kali tiba di tahun 1605, tetapi tidak berhasil menguasai Pulau Sumbawa secara efektif hingga awal abad ke-20.
Kerajaan Gelgel dari Bali sempat menguasai bagian barat pulau ini, meskipun tidak lama. Bagian timur pulau dikuasai Kesultanan Bima, sebuah kesultanan yang terhubung dengan orang Bugis dan Makassar serta kesukuan Melayu-Islam lainnya di Nusantara.
Bukti sejarah menunjukkan bahwa orang Sumbawa dikenal di Hindia Timur sebagai penghasil madu, kuda poni,[1]kayu secang, yang digunakan untuk membuat cat merah,[2] dan kayu cendana, yang digunakan untuk dupa dan obat. Daerah ini sempat dicatat sebagai daerah yang sangat produktif untuk pertanian.
Pada akhir abad ke-18, orang Belanda mendirikan perkebunan kopi di kaki barat Gunung Tambora dan dengan demikian menciptakan varian kopi Tambora. Letusan gunung ini di tahun 1815 adalah salah satu letusan gunung berapi yang paling kuat sepanjang masa, meletuskan debu dan abu seluas 160km3 ke atmosfer. Letusan ini juga menewaskan hingga 71.000 orang dan memulai periode pendinginan yang dikenal sebagai "Tahun tanpa musim panas" di tahun 1816. Tidak kurang, Kebudayaan Tambora yang terhubung dengan orang Papua juga disapu habis oleh letusan ini.[3][4]
↑Jong Boers, B.D. de (2007), ‘The ‘Arab’ of the Indonesian Archipelago: The Famed Horse Breeds of Sumbawa’ in: Greg Bankoff and Sandra Swart (eds), Breeds of Empire: The ‘invention’ of the horse in Southern Africa and Maritime Southeast Asia, 1500–1950. Copenhagen: NIAS Press, pp 51–64.
↑Jong Boers, B.D. de (1997), "Sustainability and time perspective in natural resource management: The exploitation of sappan trees in the forests of Sumbawa, Indonesia (1500–1875)" in: Peter Boomgaard, Freek Colombijn en David Henley (eds), Paper landscapes; Explorations in the environmental history of Indonesia. Leiden: KITLV Press, pp. 260–281.
↑Afrianti, Indah (3 Mei 2016). Universa, Archana; Gumelar, M.S. (ed.). "HUT Kota Bima XIV: Festival Mbojo". An1magine. 1 (3). An1mage: 59. Diakses tanggal 18 Januari 2025.