Abjad Pegon yang digunakan untuk bahasa Jawa, Sunda, dan Madura adalah sistem abjad yang masih terkait namun memiliki beberapa perbedaan, yaitu huruf-huruf tambahan untuk bunyi yang tidak dapat dilambangkan oleh abjad Jawi.
Etimologi
Secara etimologi, kata jawi (جاوي) berasal dari frasa Arab الجزائر الجاوي (Al-Jazā’ir al-Jāwī, “kepulauan Jawa”) sebagai penyebutan bangsa Arab untuk kepulauan Indonesia[2]
Bagi orang Arab, kata Jawa digunakan, sedangkan kata dwibahasa ditinggalkan. Kata Jawa digunakan untuk merujuk pada semua wilayah di Asia Tenggara. Penduduknya juga disebut menggunakan kata atau dalam bentuk objektivitas menjadi Jawi. Menurut Amat Juhari Moain (1996:17), nama Jawi berasal dari kata Arab Jawah. Ketika menjadi kata benda, Jawah menjadi Jawi. Kata Jawah atau Jawi kemungkinan berasal dari kata Javadwipa, yang merupakan nama wilayah di kawasan Asia Tenggara pada zaman kuno. Oleh karena itu, kata Jawah atau Jawi merujuk kepada semua bangsa.[2]
Jawi dianggap serapan langsung dari istilah krama bahasa Jawa ꦗꦮꦶ (jawi) yang merujuk pulau Jawa maupun etnis Jawa.[3][4] klaim ini juga kerap dihubungkan dengan gagasan bahwa pada masa lampau kepulauan Indonesia berada di bawah kemaharajaan dari Jawa.[3][5]
Menurut Syed Muhammad Naquib, menyatakan bahwa istilah Jawi dikalangan orang Arab digunakan untuk merujuk kepada penduduk negeri Jawa, dan Jawa dalam konteks ini merujuk kepada seluruh penduduk asal kepulauan Melayu.[6]
Menurut ahli bahasa Abdul Hadi, huruf Jawi ditemukan dan disusun oleh Syekh Muhammad Jawini dari Samudera Pasai pada abad ke-13.[7] Kemunculan Jawi berkaitan dengan kedatangan agamaIslam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad Arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa huruf untuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).
Bukti paling awal tulisan Arab Melayu ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertanggal 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tanggal ini masih diperdebatkan karena tahun ini ditulis tidak menggunakan angka).Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Namun, kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan → dualapan → "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Namun, karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326 M atau 1386 M.[butuh rujukan]
Zaman dahulu, abjad Arab memainkan peranan penting dalam masyarakat. Abjad ini digunakan sebagai media perantara dalam semua urusan tata usaha, adat istiadat, dan perdagangan. Sebagai contoh, huruf ini digunakan juga dalam perjanjian-perjanjian penting antara pihak raja Melayu dengan pihak Portugis, Belanda, atau Inggris. Selain itu, pernyataan kemerdekaan 1957 bagi negara Malaysia sebagian juga tertulis dalam aksara Arab.[butuh rujukan]
Sekarang abjad ini digunakan untuk urusan kerohanian dan tata usaha budaya Melayu di Terengganu, Kelantan, Kedah, Perlis, dan Johor. Orang-orang Melayu di Patani masih menggunakan abjad Arab sampai saat ini.
Abjad
Karakter
Berdiri Sendiri
Akhir
Tengah
Awal
Nama
ا
ﺍ
ﺎ
alif
ب
ﺏ
ـﺐ
ـﺒ
ﺑ
ba
ت
ﺕ
ـﺖ
ـﺘ
ﺗ
ta
ث
ﺙ
ـﺚ
ـﺜ
ﺛ
tsa
ج
ﺝ
ـﺞ
ـﺠ
ﺟ
jim
ح
ﺡ
ـﺢ
ـﺤ
ﺣ
ḥa
چ
ﭺ
ـﭻ
ـﭽ
ﭼ
ca
خ
ﺥ
ـﺦ
ـﺨ
ﺧ
kha
د
ﺩ
ـﺪ
dal
ذ
ﺫ
ـﺬ
dzal
ر
ﺭ
ـﺮ
ra
ز
ﺯ
ـﺰ
zai
س
ﺱ
ـﺲ
ـﺴ
ﺳ
sin
ش
ﺵ
ـﺶ
ـﺸ
ﺷ
syin
ص
ﺹ
ـﺺ
ـﺼ
ﺻ
ṣad
ض
ﺽ
ـﺾ
ـﻀ
ﺿ
ḍad
ط
ﻁ
ـﻂ
ـﻄـ
ﻃـ
ṭhad
ظ
ﻅ
ـﻆ
ـﻈـ
ﻇـ
ẓhad
ع
ﻉ
ـﻊ
ـﻌ
ﻋ
'ain
غ
ﻍ
ـﻎ
ـﻐ
ﻏ
ghain
ڠ
ڠ
ـڠ
ـڠـ
ڠـ
nga
ف
ﻑ
ـﻒ
ـﻔ
ﻓ
fa
ڤ
ﭪ
ـﭫ
ـﭭ
ﭬ
pa
ق
ﻕ
ـﻖ
ـﻘ
ﻗ
qaf
ک
ک
ـک
ـکـ
کـ
kaf
ڬ
ڬ
ـݢ
ـݢـ
ݢـ
ga
ل
ﻝ
ـﻞ
ـﻠ
ﻟ
lam
م
ﻡ
ـﻢ
ـﻤ
ﻣ
mim
ن
ﻥ
ـﻦ
ـﻨ
ﻧ
nun
ڽ
ڽ
ـڽ
ـڽـ
ڽـ
nya
و
ﻭ
ـﻮ
wau
ۏ
ۏ
ـۏ
va
ﻩ
ﻩ
ﻪ
ـھـ
ھـ
ha
ي
ﻱ
ﻲ
ـﻴ
ﻳ
ya
Kolom yang diabu-abukan merupakan abjad adaptasi yang tidak umum didapati pada sistem penulisan atau abjad Arab yang baku.
Galeri
KFC di Bandara Brunei Darussalam dengan plang beraksara Jawi
Papan jalan di kota Malaka, Malaysia dengan beraksara Jawi
12Sudirman, Adi. Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer. Diva Press. ISBN978-602-391-657-3. Sementara itu, bangsa Arab menyebut tanah air kita dengan Jazair al-Jawi (Kepulauan Jawa)
↑Kridalaksana, Harimurti. Wiwara: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
↑S.K., Lim. Asian Civilizations (dalam bahasa Inggris). Singapore: Asiapac Books Pte Ltd. ISBN978-981-229-594-1.