Kekhasan
Bahasa Aceh Selatan memilik ciri unik, yang paling menonjol adalah logatnya yang hampir sama persis dengan logat dalam bahasa Aneuk Jamee. Logat ini sangat berayun dibandingkan dialek bahasa Aceh lainnya. Dialek ini juga memakai kata "doh" untuk penekanan makna, pemakaian kata bantu "doh" contohnya sebagai berikut:
- "pat doh kapeuduëk?"
- "pakon doh?"
- "sijuk that doh uroë nyoë"
Selain memakai kata "doh", dialek ini di daerah Kota Fajar, Bakongan, Bakongan Timur, dan Trumon juga memakai kata "bah" untuk mengekpresikan keterkejutan, namun nadanya tak terdengar keras seperti pada penyebutan dalam bahasa Batak.[3] Dialek Bakongan mengucapkan nadanya lembut dan beralun, misalnya:
- "bah, peu kapeugah nyan?"
- "bah, hana kuteupu lon"
Selain menggunakan "bah", dialek selatan juga menggunakan "alah mak ôi" untuk mengekpresikan keterkejutan, misalnya:
- "alah mak ôi, ka trôh kajak keuno"
- "alah mak ôi, hana ék kuleungo, bèk kapeugah lé"
Dialek Selatan juga menggunakan kata "bak" untuk menggantikan kata "beu" dalam beberapa kalimat, misalnya:
- "bak gèt-gèt bak rot"
- "bak meutuah ka troh keuno"
Namun, kata "beu" juga tetap digunakan, misalnya:
- "beu meutuah aneuk mak"
Selain itu, dialek juga menyerap kosakata bahasa Aneuk Jamee dan digunakan dalam kalimat percakapan, misalnya:
- "sundèk" artinya "cemberut"; contohnya, "sundèk that muka go?"
- mantik" artinya "genit"; contohnya, "mantik that sigam nyan"
- "dèk" artinya "karena"; contohnya, "dèk tanyo mandum meusyèdara"