Pendidikan
Ipuk menempuh pendidikan taman kanak-kanak (TK) di TK Patra II. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD) di SD Negeri Cemparaka Putih Barat II Pagi pada tahun 1986. Lalu, ia melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) di SMP Negeri 216 Jakarta pada tahun 1989 dan SMA Negeri 68 Jakarta pada tahun 1989. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan sarjana di IKIP Jakarta dan lulus pada tahun 1999. Setelah itu, ia mendapatkan gelar S2 di program studi Magister Kebijakan Publik, Universitas Airlangga, Surabaya tahun 2022-2024.Selain itu, Ipuk juga pernah memperdalam ilmu dengan mengikuti kursus pelayanan publik di berbagai negara, seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.[1][2]
Karier
Ipuk adalah istri dari Abdullah Azwar Anas. Selama suaminya menjabat sebagai bupati, ia menjalani tugasnya sebagai istri bupati dan mendampingi suaminya saat bertugas. Ia juga menempati beberapa posisi seperti menjadi ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Banyuwangi, anggota Dewan Penasehat Dharma Wanita, ketua Yayasan Kesejahteraan dan Pendidikan Tuna Indra (YKPTI) Banyuwangi, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Banyuwangi, dan ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Banyuwangi.[3]
Selain itu, ia juga pernah menjabat di beberapa organisasi anak dan kewanitaan di antaranya menjadi bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Banyuwangi, penasihat Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Banyuwangi, penasihat Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Banyuwangi, penasihat Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Banyuwangi, anggota Divisi Peningkatan Partisipasi dan Kesadaran Masyarakat-Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Banyuwangi, dan anggota Majelis Pembimbing Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Banyuwangi.[3]
Pemilihan Kabupaten Bupati Banyuwangi 2020
Pada Pemilihan umum Bupati Banyuwangi 2020, Ipuk-Sugirah berhadapan dengan pasangan Yusuf Widyatmoko-Muhammad Riza Aziziy. Pasangan Ipuk-Sugirah didukung oleh koalisi PDI Perjuangan, Gerindra, NasDem, PPP dan Hanura, yang memiliki 28 kursi di DPRD Banyuwangi.[4] Di samping itu, Pasangan ini juga didukung oleh partai non-parlemen seperti PAN, Perindo, PKPI, PSI, Partai Berkarya, dan Partai Garuda.[5]
Dalam pilkada tersebut, pasangan Ipuk-Sugirah mendapatkan perolehan 438.847 suara (52,4 persen) dan pasangan Yusuf-Riza mendapatkan perolehan 398.113 suara (47,6 persen).[6][7][8][9] Setelah pilkada, terjadi penundaan pengesahan suara oleh DPRD Banyuwangi karena pasangan Yusuf-Riza mengajukan gugatan hasil pemilihan ke Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi gugatan tersebut ditolak. MK menetapkan bahwa gugatan suara yang dapat disengketakan adalah yang berselisih paling banyak 0,5 persen untuk kabupaten dengan populasi di atas 1 juta jiwa seperti Banyuwangi.[10] Hasil pilkada kemudian disahkan oleh DPRD pada 22 Februari 2021.[11] Pasangan Ipuk-Sugirah lalu dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Banyuwangi periode 2021-2024 pada 26 Februari 2021.[12]
Pemilihan Kabupaten Bupati Banyuwangi 2024
Pada Pemilihan umum Bupati Banyuwangi 2024, Ipuk Fiestiandani kembali keluar sebagai pemenang sebagai Bupati Banyuwangi periode 2025-2030 bersama Mujiono. Keputusan tersebut ditetapkan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan sengketa pilkada yang diajukan oleh lawannya yaitu pasangan Ali Makki Zaini-Ali Ruchi.[2] Dalam pilkada tersebut, pasangan calon Ipuk Fiestiandani-Mujiono menjadi pemenang dengan perolehan 404.366 suara atau 52,11 persen. Sedangkan paslon 02 KH Ali Makki Zaini- Ali Ruchi mendapatkan perolehan 371.688 suara atau 47,89 persen. Hasil tersebut menghasilkan selisih perolehan suara kedua paslon yaitu 4,2 persen atau 32,678 suara. Dari hasil rekap 25 kecamatan, pasangan calon Ipuk-Mujiono berhasil unggul di 14 kecamatan. Sedangkan pasangan calon Ali Makki- Ali Ruchi berhasil unggul di 11 kecamatan.[13]
Program
Sebagai bupati, Ipuk memiliki program kerja bernama "Bunga Desa". Program tersebut merupakan program di mana ia mengunjungi desa-desa untuk berinteraksi dengan masyarakat, mendengarkan permasalahan masyarakat, serta memberikan solusi secara langsung. Ia menghabiskan waktu seharian penuh bahkan menginap untuk memahami persoalan masyarakat secara langsung. Isu-isu yang ditangani melalui Bunga Desa meliputi digitalisasi, pendidikan, pencegahan putus sekolah dan perundungan, infrastruktur, ekonomi, UMKM, hingga kesehatan.[14] Melalui program tersebut, Ipuk mendapatkan julukan "Sang Bunga Desa" dari masyarakat Banyuwangi. Selain itu, ia juga memiliki program bernama "Bangsring Underwater". Program tersebut berupaya untuk mengubah kebiasaan nelayan yang menangkap ikan dengan bom menjadi pelestari biota laut, termasuk para pemburu terumbu karang yang beralih menjadi pemandu wisata.[15]