*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Cabang-cabang Pa-Auk Tawya di Indonesia dikenal sebagai Pa-Auk Tawya Vipassanā-Dhura Hermitage (PATVDH) Indonesia, yang mewadahi jaringan pusat pertapaan hutan (Myanmar: tawya; Pali: āraññavāsī), meditasi, dan pembinaan tradisi Buddhisme Theravāda di Indonesia yang berafiliasi dengan tradisi Pa-Auk Tawya (Wihara Hutan Pa-Auk) di Mawlamyine, Negara Bagian Mon, Myanmar.[1][2] Jaringan ini berkembang di bawah bimbingan Yang Mulia Pa-Auk Sayadaw (Bhaddanta Āciṇṇa), seorang guru meditasi terkemuka dari ordo Shwegyin di Myanmar.[3]
Kegiatan dan pengelolaan pusat pertapaan Pa-Auk Tawya di Indonesia saat ini masih terdesentralisasi, dengan setiap cabang atau pusat latihan berada di bawah naungan yayasan berbadan hukum masing-masing yang independen, tetapi tetap berpedoman pada metode meditasi dan disiplin monastik yang seragam dari Pa-Auk Tawya Myanmar.[2]
Yang Mulia Pa-Auk Sayadaw (Bhaddanta Āciṇṇa) di Pa-Auk Tawya Myanmar (Pyin Oo Lwin)
Tradisi Pa-Auk Tawya berakar kuat pada garis penahbisan ordo Shwegyin (Shwegyin Nikāya/Gaṇa) di Myanmar, yaitu salah satu ordo monastik resmi yang dikenal dengan kepatuhan ortodoks terhadap aturan Vinaya.[3] Pa-Auk Sayadawgyi (Bhaddanta Āciṇṇa) selaku guru utama tradisi ini merupakan sosok penting dalam silsilah tersebut, yang dianugerahi gelar kehormatan "Shwegyin Nikāya Rattaññūmahānāyaka" pada Konferensi Saṅgha Shwegyin Nikāya ke-17 di Myanmar tahun 2009.[3] Hubungan garis silsilah penahbisan inilah yang menjadi dasar kokoh diterapkannya disiplin monastik tradisi hutan di seluruh cabang pertapaan Pa-Auk di Indonesia.
Gerbang masuk utama Pusat Meditasi Pa-Auk Tawya di Mawlamyine, Negara Bagian Mon, Myanmar
Perkembangan di Indonesia
Kehadiran tradisi ini di Indonesia didorong secara langsung oleh kunjungan dan bimbingan Pa-Auk Sayadawgyi beserta murid-murid seniornya.[1] Pada tahun 2011, beliau tercatat melakukan kunjungan Dhamma ke Medan bersama rombongan monastik.[4]
Salah satu tokoh pengajar utama dari Myanmar yang membina perkembangan tradisi ini di Indonesia adalah Sayadaw U Kuṇḍadhāna, yang ditahbiskan menjadi biku pada tahun 1991 oleh Pa-Auk Sayadawgyi. Beliau pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 2011 saat mendampingi Pa-Auk Sayadawgyi ke Medan, dan secara berkala terus memenuhi undangan untuk membimbing retret meditasi di berbagai kota. Pada tahun 2018, beliau membimbing kelas Abhidhamma Theravāda di Jakarta serta menjalani masa vassa di PATVDH Tamansari, Ciapus, Bogor, tempat beliau juga memegang peran sebagai kepala wihara pertapaan.[4]
Selain pengajar dari Myanmar, perkembangan jaringan ini turut didukung oleh biku asal Indonesia yang pernah berlatih intensif di Pa-Auk Tawya pusat. Di antaranya adalah Bhikkhu Uttarañāṇa, yang ditahbiskan di Wihara Hutan Pa-Auk pada tahun 2010 dan kemudian merintis serta memimpin pertapaan Sundarabhūmi Hermitage di Wanayasa, Purwakarta.[5][6]
Tokoh tersohor lainnya adalah Bhikkhu Ñāṇukkaṁsa. Ditahbiskan menjadi biku di Myanmar oleh mendiang Sayadaw Kumārābhivaṁsa (Banmaw Sayadaw IX), dia mendalami meditasi di Pa-Auk Tawya Myanmar antara tahun 2009 hingga 2016 di bawah bimbingan langsung Pa-Auk Sayadawgyi dan Sayadaw U Revata.[7] Sekembalinya ke tanah air secara definitif pada tahun 2020, Bhikkhu Ñāṇukkaṁsa bertindak sebagai pelindung spiritual bagi Yayasan Dhammika Kalyāṇasahāya (DKS) dan memprakarsai berdirinya Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Dhammarakkhita, yang memfokuskan kegiatannya pada pembelajaran teori Dhamma (pariyatti) dan praktik meditasi (paṭipatti) bagi monastik maupun awam.[7]
Di tingkat daerah, pendirian pusat latihan juga digerakkan secara swadaya oleh komunitas umat awam. Sebagai contoh, Yayasan Bodhinanda di Pekanbaru didirikan pada bulan Mei 2017 (SK Kemenkumham No. AHU-0009230.AH.01.04.Tahun 2017), yang berawal dari kelompok belajar meditasi mandiri dan mengundang guru pembimbing dari PATVDH Rempang, Batam, hingga akhirnya berhasil membangun kawasan pertapaan menetap di Riau.[8]
Metode latihan dan karakteristik
Praktik pindapata di Pusat Meditasi Pa-Auk Tawya Myanmar
Metode pelatihan yang diterapkan di jaringan pertapaan Pa-Auk Tawya di Indonesia mengadopsi sistem pengajaran ortodoks dari pusatnya di Mawlamyine, Myanmar, yang berakar kuat pada tradisi pertapaan hutan (Pali: āraññavāsī) dan penegakan ketat disiplin monastik (Vinaya). Kehidupan pertapaan difokuskan pada suasana yang tenang dan terisolasi dari hiruk-pikuk keduniawian guna mendukung intensitas latihan spiritual bagi para biku maupun praktisi awam.[9][2]
Perpustakaan di Pusat Meditasi Pa-Auk Tawya Myanmar
Sistem meditasi yang diajarkan berpedoman langsung pada instruksi Tripitaka Pali (Tipiṭaka) serta penjelasan kitab penjelas-makna (aṭṭhakathā) dan sub-penjelas-makna (ṭīkā), dengan buku panduan utama kitab Visuddhimagga. Pelatihan ditempuh secara bertahap melalui tiga pilar pembinaan (tisikkhā), yakni pemurnian moralitas (sīla), pemusatan konsentrasi batin (samādhi), dan pengembangan kebijaksanaan (paññā), yang diuraikan ke dalam tujuh tingkat pemurnian batin (satta-visuddhi).
Praktik meditasi diawali dengan pengembangan ketenangan batin (samatha) untuk melatih daya konsentrasi hingga mencapai penyerapan batin (jhāna) melalui 40 objek meditasi klasik. Teknik utama yang sering digunakan adalah perhatian pada keluar-masuknya napas (ānāpānasati) dan meditasi perenungan empat unsur (dhātu-vavatthāna), yang disertai dengan empat latihan meditasi pelindung (caturārakkha-kammaṭṭhāna), seperti pancaran cinta kasih (mettā), perenungan sifat-sifat luhur Sang Buddha (Buddhānussati), perenungan ketidakmenarikan tubuh (asubha), dan perenungan kematian (maraṇānussati).
Setelah konsentrasi mendalam terbentuk, praktisi dibimbing memasuki tahap pandangan terang (vipassanā). Pada tahap ini, praktisi menganalisis struktur hakiki unsur jasmaniah dan batiniah (nāmarūpa), meneliti hukum sebab-akibat yang saling bergantungan (paṭiccasamuppāda) lintas masa lampau, kini, dan masa depan, serta merenungkan tiga corak universal dari keberadaan (anicca, dukkha, anattā) guna memutus nafsu-kehausan.[9]
Daftar pusat meditasi
Berdasarkan direktori resmi jaringan PATVDH di Indonesia, berikut adalah pusat-pusat meditasi yang terdaftar beserta yayasan pengelolanya:[2][10]
Daftar Pusat Meditasi dan Pertapaan Pa-Auk Tawya di Indonesia