*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Menurut kitab-kitab komentar atas Tripitaka Pali, Khujjuttarā adalah seorang pelayan salah satu ratu Raja Udena dari Kosambi yang bernama Sāmāvatī. Oleh karena sang ratu tidak dapat pergi mendengarkan Sang Buddha, ia mengutus Khujjuttarā yang pergi. Ia kemudian menjadi begitu mahir sehingga ia mampu menghafal ajaran Buddha dan mengajar sang ratu beserta 500 dayangnya. Dari diskursus-diskursus (sutta) Sang Buddha ini, Khujjuttarā, Ratu Sāmāvatī, dan 500 dayang ratu semuanya memperoleh buah (Pali: phala) dari tahap Pencerahan pertama ("pemasuk arus," Pali: sotāpanna).[1]
Dalam Tripitaka Pali sendiri, reputasi Khujjuttarā disebutkan dalam SN 17.24 yang berjudul “Putri Tunggal” (Ekadhītu Sutta). Sang Buddha menyatakan bahwa para umat awam perempuan yang berkeyakinan sebaiknya mendorong putri-putri kesayangan mereka dengan cara berikut:
“Anakku, hendaknya engkau menjadi seperti Khujjuttarā sang umat awam dan Veḷukaṇḍakiyā, ibu Nanda–karena inilah standar dan kriteria bagi para murid perempuanku yang merupakan umat awam, yaitu Khujjuttarā sang umat awam dan Veḷukaṇḍakiyā, ibu Nanda.”[2]
Referensi serupa juga ditemukan dalam Āyācana Sutta (AN 4.176).[3][4] Selain itu, dalam Sattama Vagga (AN 1.258–267), syair 260,[5][6] Sang Buddha menyatakan Khujjuttarā sebagai murid awam perempuan-Nya yang “paling terpelajar” (Bahussutānaṁ yadidaṁ khujjuttarā).
Kitab Itivuttaka dalam Khuddakanikāya, yang berisi kumpulan 112 diskursus (sutta) pendek, diatribusikan kepada Khujjuttarā yang telah mengingat khotbah Buddha yang disampaikan dalam kitab tersebut.[1]
Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Boston:Wisdom Publications. ISBN0-86171-331-1.