↑Lebih lengkapnya: adil ka' talino, bacuramin ka' saruga, basengat ka' jubata yang berarti: "Adil kepada sesama, berpandangan ke kebaikan (surga), bergantung kepada Tuhan."[1]
Bengkayang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Kabupaten ini memiliki luas 5.396,30 km2 (2.083,52 sq mi) dengan jumlah penduduk pada 2025 sebanyak 307.823 jiwa, dan mayoritas penduduknya beretnik Dayak.[2][6]
Sebelumnya, Bengkayang merupakan pemekaran dari Sambas, berdasarkan Undang-undang Otonomi Daerah dimekarkan menjadi 3 daerah otonom yang terpisah, yaitu Sambas, Bengkayang dan Kota Singkawang. Terletak di bagian utara Kalimantan Barat, Kabupaten ini berbatasan langsung dengan negara bagian Sarawak, Malaysia.
Geografis
Kabupaten Bengkayang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di sebelah utara Provinsi Kalimantan Barat. Secara geografis, Kabupaten Bengkayang terletak di 0°33'00" - 1°030'00" LU dan 108°039'00" - 110°010'00" BT.[7]
Terdiri dari dua kondisi alam yang membedakan wilayah Kabupaten Bengkayang. Kondisi alam yang pertama adalah pesisir pantai. Keseluruhan wilayah pesisir ini termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sungai Raya. Kondisi alam yang kedua adalah daratan dan perbukitan yang terdiri dari Kecamatan Capkala, Samalantan, Monterado, Bengkayang, Teriak, Sungai Betung, Ledo, Suti Semarang, Lumar, Sanggau Ledo, Seluas, Jagoi Babang, dan Siding.
Ada tiga Daerah Aliran Sungai utama yang melintasi wilayah Kabupaten Bengkayang, yaitu: DAS Sambas, DAS Sungai Raya, dan DAS Sungai Duri. Dari ketiga DAS tersebut, yang paling besar adalah DAS Sambas yang luasnya meliputi 722.500 ha sedangkan DAS Sungai Raya sebesar 50.000 ha dan DAS Sungai Duri hanya sebesar 24.375 ha.
Luas Wilayah
Luas wilayah Kabupaten Bengkayang adalah 5.396,3Â km2. Persentase luas Kabupaten Bengkayang terhadap luas Provinsi Kalimantan Barat sekitar 3,68%. Hal ini menjadikan Kabupaten Bengkayang sebagai kabupaten dengan cakupan wilayah terkecil di Kalimantan Barat. Luas wilayah Kabupaten Bengkayang hampir sama dengan luas wilayah Provinsi Bali.
Pada 2008, daerah pemerintahan Kabupaten Bengkayang dibagi menjadi 17 kecamatan. Dari sejumlah kecamatan yang ada, Kabupaten Bengkayang dibagi lagi menjadi 2 kelurahan dan 122 desa definitif.
Dilihat dari luas masing-masing kecamatan, Jagoi Babang merupakan kecamatan yang paling luas di Kabupaten Bengkayang dengan cakupan wilayah sebesar 655 km2 atau sekitar 12,14Â % dari luas Kabupaten Bengkayang keseluruhan dan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Capkala dengan luas wilayah sebesar 46,35 km2 atau hanya sekitar 0,86Â % dari total luas kabupaten Bengkayang.
Dilihat dari jarak tempuh terjauh dari ibu kota kecamatan ke Kota Bengkayang, ibu kota kabupaten kabupaten Bengkayang, kecamatan Siding adalah kecamatan dengan jarak tempuh terjauh, yaitu sekitar 103,68Â km disusul kecamatan Jagoi Babang dan kecamatan Sungai Raya.
Jenis Tanah
Jenis tanah di sebagian besar wilayah Kabupaten Bengkayang adalah jenis tanah podsolik merah kuning, yaitu sebesar 322.347 ha dan yang paling sedikit adalah jenis OGH, yaitu sebesar 6.700 ha. Dari persebaran lerengnya, sebagian besar wilayah Kabupaten Bengkayang masuk pada kelas lereng 15-40Â % dan hanya sebagian kecil yang masuk dalam kelas lereng lebih dari 40Â %. Selanjutnya, dilihat dari tekstur tanahnya, sebagian besar masuk dalam tekstur sedang, yaitu sebesar 343.023 ha. Luas wilayah tergenang di Kabupaten Bengkayang hanya sebesar 36.020 ha dan luas wilayah yang tidak adalah tergenang sebesar 503.610 ha.[butuh rujukan]
Pulau-pulau
Walaupun hanya sebagian kecil wilayah Kabupaten Bengkayang yang merupakan wilayah perairan laut, Kabupaten Bengkayang juga memiliki 12 pulau. Dari sejumlah pulau tersebut, ada 5 pulau masih belum berpenghuni dan 7 pulau sudah berpenghuni. Semua pulau yang ada terletak di wilayah perairan Laut Natuna. Pulau terbesar yang berpenghuni adalah Pulau Lemukutan dan Pulau Penatah Besar.[9]
Kondisi Perairan
Perairan sebelah barat dan timur pulau-pulau kecil Bengkayang merupakan pantai yang berarus dengan kecepatan yang relatif tinggi berkisar antara 0,45 - 0,75 m/dt rata-rata bulanannya. Pasang surut di perairan Bengkayang bersifat campuran, yaitu di bagian utara tipe ganda lebih dominan, dan arah selatan tipe tunggal lebih dominan. Kisaran pasut pada waktu pasang purnama mencapai 1,2-1,7 m dan pada pasang perbani sekitar 0,4-0,8 m. Tinggi gelombang rata-rata di wilayah ini berkisar antara 10–30 cm dan yang dominan dari arah barat laut. Pada musim utara (November-Februari), tinggi gelombang dapat mencapai rata-rata 0,75 m.[butuh rujukan]
Sejarah
Asal Usul Bengkayang
Jalan ke Bengkayang (tahun 1922-1930)
Kata Bengkayang dalam Bahasa Tionghoa: La La yang berarti jauh.[10] Awalnya Bengkayang merupakan sebuah desa bagian wilayah Sambas. Desa Bengkayang merupakan tempat singgah pada pedagang dan penambang emas.[butuh rujukan]
Masa Pendudukan Belanda
Bengkayang pada masa pendudukan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling Van Singkawang. Pada waktu itu pembagian wilayah afdeling administrasi yang daerah hukumnya meliputi:[butuh rujukan]
Onder Afdeling Singkawang, Bengkayang, Pemangkat dan Sambas (daerah Kesultanan Sambas)
Daerah Kerajaan/Penembahan Mempawah
Daerah Kerajaan Pontianak yang sebagian wilayahnya adalah Mandor
Masa Kemerdekaan Indonesia (1945-1999)
Setelah Perang Dunia II berakhir, daerah tersebut dibagi menjadi daerah otonom Kabupaten Sambas yang beribu kota di Singkawang. Kabupaten Sambas ini membawahi 4 (empat) kawedanan, yakni:[butuh rujukan]
Kawedanan Singkawang
Kawedanan Pemangkat
Kawedanan Sambas
Kawedanan Bengkayang
Asal nama Bengkayang ialah diambil dari nama sungai kecil yang dikenal dengan nama Sungai Bengkayang yang mengalir dan berujung ke Sungai Sebalo (dipinggir Pasar Teratai Bengkayang).[butuh rujukan]
Pembentukan Kabupaten Bengkayang (1999-sekarang)
Pada masa pemerintahan RI, menurut Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang penetapan Undang-undang Darurat No. 3 tahun 1953 mengenai pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Barat (LNRI Nomor 72 tahun 1959, tambahan LNRI Nomor 1980), terbentuklah Kabupaten Sambas. Wilayah pemerintahan Kabupaten Sambas ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang sekarang.[butuh rujukan]
Dengan terbitnya Undang-undang Nomor 10 tahun 1999 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Bengkayang, secara resmi mulai tanggal 20 April 1999, Kabupaten Bengkayang terpisah dari Kabupaten Sambas. Selanjutnya, pada tanggal 27 April 1999, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengangkat Bupati Bengkayang pertama yang dijabat oleh Drs. Jacobus Luna. Pada waktu itu, wilayah Kabupaten Bengkayang ini meliputi 10 kecamatan.[butuh rujukan]
Keberadaan Undang-undang Nomor 12 tahun 2001 tentang pembentukan Pemerintahan Kota Singkawang mengakibatkan Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali dengan melepas 3 kecamatan yang masuk kedalam wilayah pemerintahan kota Singkawang sehingga tinggal menjadi 7 kecamatan. Kemudian, pada 2002, Kabupaten Bengkayang kembali bertambah menjadi 10 kecamatan dengan pembentukan 3 kecamatan baru, yaitu: Kecamatan Monterado, Kecamatan Teriak, dan Kecamatan Suti Semarang. Pada awal 2004, dari 10 kecamatan yang ada tersebut, Kabupaten Bengkayang dimekarkan lagi menjadi 14 kecamatan dengan 4 kecamatan barunya, yaitu: Kecamatan Capkala, Kecamatan Sungai Betung, Kecamatan Lumar, dan Kecamatan Siding. Pada 2006, dari 14 kecamatan dimekarkan kembali menjadi 17 kecamatan. Tiga kecamatan yang baru terbentuk adalah Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kecamatan Lembah Bawang, dan Kecamatan Tujuh Belas.[butuh rujukan]
Kabupaten Bengkayang terdiri dari 17 kecamatan, 2 kelurahan, dan 122 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 283.775 jiwa dengan luas wilayah 5.075,48 km² dan sebaran penduduk 56 jiwa/km².[15][16]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Bengkayang, adalah sebagai berikut:
Lambang Kabupaten Bengkayang diambil dari berbagai potensi dengan makna sebagai berikut:[butuh rujukan]
Makna Warna
Hijau muda pada keseluruhan lambang daerah, hijau tua pada tangkai bunga kapas, dan dataran kaki gunung melambang kesuburan.
Kuning pada matahari dan petakan sawah melambangkan kematangan.
Kuning emas pada warna dasar pita bertuliskan "Kabupaten Bengkayang", tangkai padi, serta buah padi melambangkan masa keemasan.
Merah pada sebagian perisai dan pita pengikat padi dan kapas melambangkan keberanian.
Putih pada bunga kapas, sebagian perisai tangkitn, mata tombak, dan sebagian pita pengikat padi dan kapas melambangkan kesucian.
Biru pada gunung melambangkan keteduhan, ketenangan, atau kedamaian.
Hitam pada polisir bingkai lambang, lis pita, tulisan Kabupaten Bengkayang, angka "1999", gagang tombak, dan tangkitn melambangkan ketegasan dan kesatriaan.
Makna Gambar
Matahari dengan tujuh belas pancarannya melambangkan tanggal tujuh belas sebagai tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Padi dan kapas melambangkan sandang dan pangan yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan yang menjadi tujuan seluruh masyarakat Kabupaten Bengkayang. Selain itu, kapas yang berjumlah delapan dan padi yang berjumlah empat puluh lima menggambarkan bulan dan tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Perisai, tombak, dan tangkitn melambangkan ciri khas kebudayaan masyarakat Kabupaten Bengkayang.
Gunung melambangkan bahwa secara geografis, Kabupaten Bengkayang terletak di dataran tinggi sehingga terdapat banyak gunung dan bukit.
Petakan sawah sebanyak sepuluh bidang dan angka 1999 melambangkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bengkayang.
Pita dengan empat lipatan warna merah putih yang mengikat padi dan kapas melambangkan bulan April sebagai bulan ditetapkannya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1999.
Lambang-lambang berwarna hijau muda menggambarkan bahwa wilayah Kabupaten Bengkayang merupakan daerah subur yang dapat membawa masyarakat Kabupaten Bengkayang mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Tulisan Kabupaten Bengkayang menunjukkan bahwa Kabupaten Bengkayang adalah salah satu wilayah dalam Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan daerah otonom.
Semboyan "Adil Ka Talino" yang secara lengkap berbunyi "Adil Ka Talino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata" memiliki arti bahwa dalam memberikan pelayanan terhadap sesama hendaknya bersikap adil, setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukan harus selalu mencerminkan kebaikan, serta selalu berpedoman kepada Tuhan.[butuh rujukan]
Iklim
Iklim wilayah Kabupaten Bengkayang tergolong tropika berhujan tanpa bulan kering dengan curah hujan tahunan 2.787 mm. Distribusi curah hujan relatif merata sepanjang tahun. Musim kemarau biasanya terjadi selama 3 bulan yaitu Juni, Juli dan Agustus, dengan rata-rata curah hujan antara 128–200 mm. Musim hujan berlangsung lebih lama yaitu 9 bulan antara Oktober - Juni.
Keadaan udara Kabupaten Bengkayang tergolong lembap sepanjang tahun. Rata-rata kelembaban udara tahunan adalah 85%. Suhu udara minimum 21,1 °C, maksimum adalah 33,5 °C.[butuh rujukan]
Demografi
Jumlah Peduduk
Berdasarkan hasil proyeksi BPS Kabupaten Bengkayang, jumlah penduduk Kabupaten Bengkayang pada tahun 2026 adalah sebesar 307.823 jiwa yang tersebar di 17 Kecamatan. Berdasarkan data tersebut dapat dihitung rasio jenis kelamin Kabupaten Bengkayang pada tahun 2023 adalah 108 angka ini berarti jika ada 108 penduduk laki-laki maka 100 penduduk perempuan. Penduduk Kabupaten Bengkayang termasuk dalam kelompok usia muda. Hal ini dilihat dari masih banyaknya penduduk yang masuk dalam kelompok usia muda (dibawah 20 tahun) yaitu sebesar 48,68Â %.[2]
Sosial Budaya
Suku dayak Kanayatn, salah satu sub suku Dayak yang mendiami daerah Kabupaten Bengkayang.
Kecamatan Bengkayang didominasi oleh suku Dayak (Dayak Bekati dan Dayak Ahe) yang menempati wilayah pegunungan, etnis Melayu Bengkayang yang berada di wilayah pesisir dan etnis Tionghoa berbahasa Tionghoa yang menempati wilayah perkotaan serta etnis pendatang yang rata-rata berasal dari jawa tinggal di wilayah transmigrasi/paket. Kecamatan Sungai Raya didominasi oleh suku Sambas dengan bahasa melayu berdialek Sambas. Sedangkan penduduk asli di pedalaman adalah suku Dayak dengan bahasa Dayaknya. Selain itu juga terdapat masyarakat dari etnis Tionghoa dengan bahasa yang sehari-hari digunakan adalah bahasa Tionghoa, dan ada juga Suku Bugis.[butuh rujukan]
Penduduk Bengkayang menganut kepercayaan Katolik Roma, Kristen Protestan, Islam, Buddha, Hindu dan Aliran kepercayaan yang masih dipercaya oleh Adat Istiadat setempat. Penduduk Kecamatan Sungai Raya sebagian besar beragama Islam, disamping agama Hindu, Katholik, Protestan, Budha dan penganut aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kebudayaan yang berkembang adalah kebudayaan melayu yang banyak dipengaruhi oleh agama Islam.[3]
Pariwisata
Air Terjun Manajur yang terletak di Desa Laek, Kabupaten Bengkayang
Kegiatan pariwisata bahari di pesisir Kecamatan Sungai Raya sangat potensial untuk dikembangkan. Wisata yang ditawarkan berupa menyelam permukaan, menyelam, memancing dan rekreasi pantai. Daerah-daerah tersebut di antaranya adalah:[butuh rujukan]
PDRB Kabupaten Bengkayang atas dasar harga berlaku pada tahun 2005 adalah sebesar Rp. 1.272.128,52 dan meningkat menjadi Rp. 1.460.852,76 pada 2006. Hal ini berarti bahwa pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku yang terjadi antara tahun 2005-2006 adalah sebesar 20,30Â %. Selanjutnya, PDRB Kabupaten Bengkayang atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2005 adalah sebesar 895.704,54 dan naik menjadi 952.088,58 pada 2006. Berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2000, perekonomian Kabupaten Bengkayang pada tahun 2006 tumbuh sebesar 9,07Â % dibanding dengan pertumbuhan perekonomian tahun sebelumnya, yaitu sebesar 6,68Â %. Ini berarti bahwa perekonomian Kabupaten Bengkayang mengalami banyak kemajuan.[butuh rujukan]
Jika dilihat per sektornya maka sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada PDRB Kabupaten Bengkayang adalah sektor pertanian diikuti sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Kontribusi sektor pertanian pada PDRB Kabupaten Bengkayang tahun 2006 adalah sebesar 43,94Â % sedangkan sektor perdaga-ngan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi sebesar 28,19Â % pada 2006. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Bengkayang masih bersifat agraris karena kontribusi sektor tersebut paling besar dibanding dengan sektor yang lain. Dengan kata lain, penopang utama perekonomian masih berasal dari sektor pertanian. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sektor perekonomian yang mempunyai kontribusi pada PDRB Kabupaten Bengkayang masih relatif sama.[butuh rujukan]
Mata Pencaharian
Mata pencaharian utama masyarakat di Sungai Raya adalah nelayan.[butuh rujukan]
Perikanan
Perairan laut di Kabupaten Bengkayang, memiliki potensi sumber daya ikan yang cukup besar, terutama ikan pelagis, demersal, dan ikan karang. Potensi lain adalah budidaya laut berupa penangkaran, pembesaran dan budidaya ikan/udang. Penangkapan ikan pada umumnya dapat dilakukan sepanjang tahun, dengan puncaknya pada bulan Juli sampai September. Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor, motor tempel, dan kapal motor. Sedangkan jenis alat tangkap yang digunakan adalah jenis gillnet, rawai, pukat udang, bagan tancap, togo, dan bubu.[butuh rujukan]
↑Banyak pertanyaan masyarakat yang timbul, kenapa bengkayang berasal dari nama la la. Padahal orang Cina yang datang ke daerah ini mengenal Bengkayang dengan sebutan rara. Akibat orang Cina tidak biasa menyebutkan rara karena lidahnya tidak biasa jadilah la la.