UTC+5:30: Kepulauan Andaman dan Nikobar UTC+6:30: Myanmar, Kepulauan Cocos (Keeling) UTC+7:00: Indonesia, Kamboja, Laos, Pulau Natal, Thailand, Vietnam UTC+8:00: Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura UTC+9:00: Indonesia, Timor Leste
Asia Tenggara terletak di dekat persimpangan lempeng tektonik, dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang tinggi. Lempeng Sunda merupakan lempeng utama di kawasan ini, mencakup hampir seluruh negara di Asia Tenggara kecuali Myanmar, Thailand bagian utara, Laos bagian utara, Vietnam bagian utara, dan Luzon bagian utara Filipina, sedangkan Lempeng Sunda hanya mencakup Indonesia bagian barat hingga ke timur. provinsi Bali di Indonesia. Pegunungan di Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaysia, dan Sumatra, Jawa, Bali, Kepulauan Nusa Tenggara, dan Timor di Indonesia merupakan bagian dari Sabuk alpida, sedangkan pulau-pulau di Filipina dan Indonesia serta Timor Timur adalah bagian dari Cincin Api Pasifik. Kedua sabuk seismik tersebut bertemu di Indonesia sehingga menyebabkan wilayah tersebut relatif sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi, khususnya di wilayah Filipina dan Indonesia.
Secara Geografis (dan juga secara historis) sebenarnya Taiwan dan pulau Hainan juga termasuk Asia Tenggara, sehingga diikutkan pula. Namun, karena alasan politik, Taiwan dan pulau Hainan lebih sering dimasukkan ke kawasan Asia Timur. Kepulauan Cocos dan Pulau Natal, yang terletak di selatan Jawa, oleh beberapa pihak dimasukkan sebagai Asia Tenggara meskipun secara politik berada di bawah administrasi Australia. Sebaliknya, Pulau Papua dimasukkan sebagai Asia Tenggara secara politik meskipun secara geologi sudah tidak termasuk kedalam benua Asia.
Sejarah penamaan
Nama untuk kawasan ini pertama kali dipakai pada abad ke-20. Sebelumnya, Asia Tenggara dikenal dengan nama India Belakang (jika dibandingkan dengan anak benua India). Subkawasan Asia Tenggara terdiri dari sebelas negara, beberapa di antaranya berada di daratan utama (mainland), yang juga dikenal sebagai Asia Tenggara Daratan (Indochina) dan sebagian lagi seluruhnya merupakan kepulauan (Asia Tenggara Maritim), yang dikenal dengan istilah beragam, seperti Kepulauan Selatan (Nan Yang, Tiongkok, dan Vietnam), Kepulauan Melayu (Malay Archipelago menurut A.R. Wallace), Malayunesia (Logan), Indonesia (Logan, dan Adolf Bastian), Hindia Timur (Oost-Indie, Belanda), Malaysia, Insulinde (oleh orang Hindia Belanda di awal abad ke-20), atau Nusantara (oleh masyarakat Indonesia). Agak menarik bahwa Semenanjung Malaya biasanya dimasukkan dalam wilayah kepulauan meskipun masih tersambung dengan benua Asia.
Asia Tenggara terletak pada pertemuan lempeng tektonik, dengan aktivitas gempa bumi (seismik) dan gunung berapi (vulkanik) yang tinggi. Sementara ATD relatif stabil, dan merupakan daratan tua, ATM sangatlah dinamis karena di sana bertemu dua lempeng benua besar: lempeng Indo-Australia, lempeng EurasiaLempeng Sunda, ditambah dengan lempeng Filipina yang lebih kecil. Tiga pulau besar di Indonesia: Sumatra, Jawa, dan Kalimantan baru terpisah dari benua Asia sekitar 10 ribu tahun yang lalu akibat naiknya muka air laut karena usainya Zaman Es terakhir. Pulau Papua secara geologi termasuk dalam benua Australia, yang juga terpisah karena peristiwa yang sama. Kedua lempeng besar itu bertemu pada busur cekungan yang memanjang ke selatan dari Teluk Benggala di barat Myanmar, dan Thailand, terus menuju sisi barat Sumatra, lalu membelok ke timur membentuk Palung Jawa yang memanjang di selatan Jawa dan Kepulauan Nusa Tenggara. Akibatnya gempa bumi sering terjadi di daerah-daerah sekitarnya, seperti Gempa bumi Samudra Hindia 2004. Desakan lempeng Indo-Australia mengangkat permukaan pulau-pulau yang ada di dekatnya, sehingga terbentuklah deretan gunung berapi aktif. Pulau Jawa adalah pulau dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia. Gunung Kerinci adalah gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Di sebelah timur Filipina terdapat pula Palung Mindanao, dan Palung Mariana yang merupakan pertemuan antara lempeng Filipina, dan lempeng Pasifik. Di Filipina juga terdapat aktivitas kegunungapian yang tinggi.
Terdapat beberapa klaim, dan perebutan wilayah, dan batas perairan di kawasan ini, yang melibatkan negara-negara di kawasan ini maupun yang melibatkan negara di luar Asia Tenggara (terutama Tiongkok dan Taiwan dalam kasus Kepulauan Spratly).
Asia Tenggara secara astronomis terletak pada 28°LU-11°LS dan 93°BT-141°BT. Asia Tenggara terletak di antara dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Samudra Hindia berada di sebelah selatan dan barat. Dan Samudra Pasifik berada di sebelah timur.
Seluruh wilayah Asia Tenggara dipengaruhi oleh angin muson yang bertiup dari barat laut dan kembali bertiup dari tenggara. Sehingga dengan angin ini memberi curah musim hujan yang cukup dapat diprediksi.[6]
Dengan ditemukannya Homo floresiensis di Pulau Flores pada 2003 menandakan bahwa di daerah kepulauan Asia Tenggara ini paling tidak telah ditinggali oleh manusia sejak 18.000 tahun lalu, dengan perkiraan terjauh sampai 94.000 tahun yang lalu. Sejarah Asia Tenggara sebelum zaman kerajaan tidak diketahui banyak. Beberapa kerajaan berawal di daratannya, yang sekarang Myanmar, Kamboja, dan Vietnam.
Kerajaan pertama yang berkembang di kepulauan Asia Tenggara adalah Sriwijaya. Dari sejak abad ke-5 ibu kota Sriwijaya, Palembang, merupakan pelabuhan utama antara India dan Tiongkok. Dan kemudian diikuti oleh Majapahit, Sailendra, dan Mataram. Pedagang Muslim mulai memasuki daerah ini pada abad ke-12. Pasai merupakan kesultanan pertama.
Karena kondisi geografis yang berdekatan dengan India dan Tiongkok, kawasan ini banyak terpengaruh oleh kebudayaan India, dan Tiongkok. Selat Malaka merupakan jalur perdagangan yang ramai sejak berabad-abad lalu, dan masih bertahan hingga sekarang.
Ekonomi kawasan Asia Tenggara masih banyak tergantung pada hasil alam, dengan pengecualian Singapura. Dengan pembentukan kawasan perdagangan bebas Asia Tenggara oleh negara-negara ASEAN diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.
Demografi
Piramida populasi Asia Tenggara pada tahun 2023Distribusi populasi Asia Tenggara pada tahun 2017.
Penduduk asli Asia Tenggara terdiri dari berbagai macam suku yang jumlahnya sangat banyak. Pada tahun 2021, sekitar 676 juta orang tinggal di wilayah ini, lebih dari seperlimanya (143 juta) tinggal di Pulau Jawa, Indonesia, pulau besar terpadat di dunia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak dengan jumlah penduduk 274 juta jiwa (40%), dan juga negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Distribusi agama dan masyarakat di Asia Tenggara beragam dan berbeda-beda di setiap negara. Sekitar 30 juta orang Tionghoa perantauan juga tinggal di Asia Tenggara, yang paling menonjol di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, dan juga sebagai suku Hoa di Vietnam.
Katolik Roma (80.6%), Islam (6.9%-11%),[13] Injili (2.7%), Iglesia ni Cristo (Gereja Kristus) (2.4%), Anggota Church of God Internasional (1.0%), Protestan lain (2.8%), Buddhisme (0.05%-2%),[14] Animism (0.2%-1.25%), lainnya (1.9%)[15]
Kerbau, baik yang dipelihara maupun yang liar, tersebar di sepanjang Asia Tenggara, sedangkan kancil dapat ditemukan di Sumatra, dan Kalimantan. Kancil sendiri merupakan hewan yang sering muncul dalam cerita-cerita rakyat di Indonesia, dan banyak dikenal anak-anak.
Burung-burung yang cantik seperti burung merak dan srigunting (drongo) hidup di subkawasan Asia ini hingga sejauh sebelah timur Indonesia. Babirusa (babi dengan empat gading), anoa, dan komodo juga terdapat di Indonesia. Burung Enggang banyak dicari untuk paruhnya, dan diperdagangkan ke Tiongkok. Tanduk badak juga turut diperdagangkan.
Kepulauan Indonesia dipisahkan Garis Wallace. Garis ini berada di sepanjang sebuah perbatasan lempeng tektonik, dan memisahkan spesies Asia (Barat) dari spesies Australasia (Timur). Pulau-pulau antara Jawa/Kalimantan, dan Papua yang membentuk kawasan campuran di mana kedua spesies ada dinamakan Wallacea.
Perairan dangkal di terumbu karang (coral reef) di Asia Tenggara mempunyai tingkat biodiversitas tertinggi untuk ekosistem laut di dunia, di mana ikan-ikan, dan moluska banyak dijumpai. Ikan hiu paus (rhincodon typus) juga hidup di Laut Tiongkok Selatan.
Pepohonan, dan tanaman lainnya di kawasan ini adalah tumbuhan tropis; di beberapa negara di mana terdapat gunung-gunung yang cukup tinggi, tanaman bersuhu menengah dapat ditemukan. Wilayah-wilayah hutan hujan (rainforest) ini saat ini banyak mengalami penebangan liar, khususnya di Kalimantan.
Meskipun Asia Tenggara kaya akan flora, dan fauna, kawasan ini menghadapi penebangan hutan yang berat, sehingga mengakibatkan hilangnya habitat berbagai spesies terancam seperti orang utan, dan Harimau Sumatra. Pada saat yang sama, kabut asap juga merupakan peristiwa yang lazim. Kabut asap terburuk yang pernah terjadi berlangsung pada tahun 1998 yang menyebabkan beberapa negara diselimuti kabut yang tebal. Menghadapi masalah ini, beberapa negara di Asia Tenggara menandatangani Persetujuan ASEAN mengenai Pencemaran Kabut Asap Lintas Perbatasan (ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution) untuk melawan pencemaran yang diakibatkan kabut asap.
Kota terbesar
Jakarta
Bangkok
HồChíMinh
HàNội
Singapura
Yangon
Surabaya
Quezon
Bandung
Medan
HảiPhòng
Manila
Davao
Semarang
Palembang
KualaLumpur
Makassar
PhnomPenh
CầnThơ
Mandalay
Batam
Pekanbaru
ĐàNẵng
BandarLampung
Cebu
Padang
Zamboanga
Denpasar
Malang
Samarinda
George Town
Tasikmalaya
CagayandeOro
Banjarmasin
Ipoh
Balikpapan
GeneralSantos
Bacolod
NayPyiTaw
Vientiane
NhaTrang
ChiangMai
Jambi
Pontianak
Yogyakarta
Kota berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara (500.000+ penduduk) KLIK TITIK MERAH UNTUK MENUJU KE ARTIKEL MASING-MASING KOTA
Daftar ini menampilkan kota-kota terpadat di Asia Tenggara, berdasarkan jumlah penduduk. Angka populasi diambil dari dalam kota saja. Lihat artikel di setiap kota untuk mengetahui sumbernya. Data Myanmar merupakan data yang paling tidak dapat diandalkan dan dapat direvisi.
↑"Indonesia", The World Factbook (dalam bahasa Inggris), Central Intelligence Agency, 2021-12-29, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 April 2021, diakses tanggal 2022-01-06
Acharya, Amitav. The making of Southeast Asia: International relations of a region (Cornell UP, 2013).
Ang, Cheng Guan. Southeast Asia After the Cold War: A Contemporary History (Singapore: NUS Press, 2019) online review
Ang, Cheng Guan. Southeast Asia's Cold War: An Interpretive History (University of Hawai’i Press, 2018). online reviewDiarsipkan 7 July 2021 di Wayback Machine.
Barwise, J. M., and Nicholas J. White. A traveller's history of Southeast Asia (2002) online
Cady, John F. Southeast Asia: its historical development (McGraw-Hill, 1964) online
Cady, John F. The roots of French imperialism in Eastern Asia (1954) online
Coedes, George. The Making of South East Asia (2nd ed. U of California Press, 1983).
Dutt, Ashok K. Southeast Asia: A Ten Nation Region (1996) excerpt
Embree, Ainslie T., ed. Encyclopedia of Asian history (1988)