Perusahaan ini memulai sejarahnya sebagai Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek dari Kereta Api indonesia yang bertugas untuk mengoperasikan layanan kereta api komuter berbasis kereta rel listrik di Jabodetabek, sementara kereta api antarkota dan kereta api lokal di Jabodetabek tetap dioperasikan oleh Daerah Operasi (Daop) I Jakarta. Gagasan untuk memisahkan pengelolaan layanan kereta api komuter di wilayah Jabotabek dari PT Kereta Api Indonesia mulai berkembang pada awal 2000-an. Dorongan ini muncul antara lain karena tingginya jumlah penumpang harian, kepadatan pada jam sibuk, keterlambatan perjalanan, hingga persoalan keamanan dan penumpang tanpa tiket. Rencana tersebut mulai dikaji pada tahun 2003 dan diproyeksikan akan terealisasi pada tahun 2005.[7] Pada 2005, Menteri Negara BUMN Soegiharto menyatakan persetujuannya terhadap pemisahan pengelolaan layanan kereta api komuter Jabotabek, meskipun bukan dalam bentuk pemisahan penuh, melainkan tetap berada di bawah PT Kereta Api Indonesia dengan status entitas khusus.[8]
Momentum pemisahan muncul setelah Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian disetujui oleh DPR. Dengan disahkannya UU tersebut, hak monopoli PT Kereta Api sebagai operator tunggal perkeretaapian secara otomatis berakhir. Menteri Perhubungan saat itu, Jusman Syafii Djamal mendorong percepatan proses pemisahan divisi ini untuk meningkatkan partisipasi swasta, pelayanan penumpang, dan akuntabilitas.[9]
Pemisahan tersebut terealisasi pada 15 September 2008 dengan diresmikannya PT KAI Commuter Jabodetabek menjadi sebuah perusahaan tersendiri, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi KAI Commuter.[10] Selanjutnya, peluncuran resmi layanan dilakukan pada 19 Mei 2009 dan dihadiri oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Direktur Utama PT Kereta Api (Persero) Ignasius Jonan, serta Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek Kurniadi Atmosasmito, bertempat di Stasiun Tanjung Barat.[11]
Penyederhanaan layanan dan modernisasi tiket
Pada 19 Agustus 2010, pemerintah meresmikan pengoperasian kereta khusus wanita yang ditempatkan di kereta pertama dan terakhir pada setiap rangkaian KRL Commuter Line. Kebijakan ini diresmikan oleh Menteri Perhubungan Freddy Numberi bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Anak Linda Amalia Sari.[12] Selanjutnya, pada 2011, KAI Commuter melakukan penataan layanan dengan menerapkan sistem operasi tunggal jalur lingkar. Dalam sistem ini, layanan yang tadinya berjumlah 37 rute langsung, termasuk layanan KRL ekspres yang hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu, disederhanakan menjadi 6 rute tetap yang berhenti di semua stasiun. Sistem ini diujicoba pada tanggal 1 Desember 2011 dan dioperasikan secara resmi pada 5 Desember 2011.[13]
Perubahan sistem tiket mulai dilakukan pada Februari 2012 melalui penggantian Kartu Trayek Bulanan (KTB) dan Kartu Langganan Sekolah (KLS) menjadi kartu elektronik Commuter Electronic Ticketing (COMMET).[14] Sistem tersebut kemudian dihentikan pada Desember 2012, sehingga pembayaran hanya menggunakan tiket harian untuk satu kali perjalanan.
Reformasi sistem tiket kembali dilakukan pada 1 Juli 2013 dengan penerapan sistem tarif progresif berbasis jarak antarstasiun. Sistem ini disertai dengan penghapusan layanan kereta api komuter Ekonomi Non-AC, penerapan sistem tiket elektronik berupa Kartu MultiTrip (KMT) yang dapat diisi ulang dan Kartu Single Trip (KST) yang dapat dibeli untuk satu kali perjalanan dan dimasukkan ke gate pada saat tap-out.[15] Akibat tingginya angka kehilangan Kartu Single Trip yang tidak dikembalikan, yang mencapai sekitar 800.000 keping atau senilai Rp4 miliar pada Juli 2013,[16] KAI Commuter mengganti penggunaan Kartu Single Trip dengan Tiket Harian Berjaminan (THB) sebagai tiket satu kali perjalanan yang disertai jaminan kartu sebesar Rp5.000, efektif mulai 20 Agustus 2013.[17]
Perpanjangan rangkaian dan perluasan sistem pembayaran
Pada bulan Januari 2014, Kereta Api Indonesia mengalihkan pengelolaan pegawainya yang berhubungan langsung dengan operasional layanan kereta api komuter ke perusahaan ini. Pada bulan Maret 2014, perusahaan ini mulai mengoperasikan Commuter Line dengan stamformasi 10 kereta (SF10) di lintas Bogor. Pada bulan Juni 2014, perusahaan ini meluncurkan integrasi kartu uang elektronik terbitan Bank BRI, BNI, dan Mandiri sebagai alat pembayaran tiket Commuter Line. Pada bulan April 2015, perusahaan ini mulai menerapkan tarif progresif per kilometer jarak tempuh. Kereta Api Indonesia juga mengalihkan pengelolaan sebagian Balai Yasa Manggarai yang digunakan untuk perawatan tahunan Commuter Line ke perusahaan ini. Pada bulan September 2015, perusahaan ini mulai mengoperasikan Commuter Line dengan stamformasi rangkaian 12 kereta (SF12) di lin Bogor. Pada bulan Desember 2015, perusahaan ini mulai mengoperasikan Commuter Line relasi Tanjung Priok–Jakarta Kota dan mesin tiketStasiun Jakarta Kota dan Stasiun Sudirman.
Perubahan nama
Pada bulan Januari 2016, perusahaan ini meluncurkan integrasi antara Commuter Line dengan Transjakarta di Stasiun Tebet, Manggarai, dan Palmerah. Pada bulan Juli 2016, perusahaan ini meluncurkan aplikasi KRL Access. Pada bulan April 2017, perusahaan ini mulai mengoperasikan Commuter Line hingga Stasiun Rangkasbitung, membuka Stasiun Citeras, dan membuka kembali Stasiun Angke. Pada bulan September 2017, perusahaan ini mengubah namanya menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI),[18] seiring dengan rencana perluasan wilayah kerja yang akan dilakukannya.[19] Pada bulan Oktober 2017, perusahaan ini mulai mengoperasikan Commuter Line hingga Stasiun Cikarang. Pada bulan Februari 2018, perusahaan ini mulai mengoperasikan bangunan baru Stasiun Cisauk. Pada bulan November 2018, perusahaan ini mendapat izin dari Bank Indonesia untuk mengelola uang elektronik.
Pada bulan Desember 2021, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Wali Kota Bogor Bima Arya meresmikan Alun-Alun Bogor yang terintegrasi dengan pintu timur Stasiun Bogor.[4][22] Pada bulan April 2022, Kereta Api Indonesia mengalihkan pengelolaan kereta api lokal dan kereta api komuter di Daop II Bandung dan VIII Surabaya ke perusahaan ini.[23] Pada bulan Mei 2022, seiring dengan perubahan sistem persinyalan di Stasiun Manggarai, Lin Lingkar pun dinonaktifkan, sementara Lin Cikarang dan Lin Sentral diubah menjadi sistem balon, yakni melalui Cikarang–Tanah Abang–Kampung Bandan–Cikarang dan percabangan ke Stasiun Nambo. Walaupun begitu, lin lainnya, seperti Lin Sentral antara Bogor dan Jakarta Kota di jalur utama, Tangerang, Tanjung Priuk dan Rangkasbitung tidak mengalami perubahan.[24]
Per 1 Januari 2023, KAI Commuter resmi mengakuisisi layanan kereta api bandara Bandara Soekarno-Hatta dari KAI Bandara dengan ditekennya dokumen peralihan operator pelayanan dan akta jual beli pada 30 Desember 2022.[25]
Setelah penolakan tersebut, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merekomendasikan KAI Commuter untuk tidak mengimpor KRL bekas dan mengusulkan rekondisi 29 rangkaian yang akan dipensiunkan. Kajian BPKP menilai kapasitas layanan masih mencukupi secara keseluruhan, tetapi terdapat kekurangan saat jam sibuk.[26]
Menanggapi rekomendasi tersebut, akhirnya Pemerintah Pusat memberikan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada KAI untuk membeli rangkaian KRL baru dari PT Industri Kereta Api (INKA) dan pabrikan luar negeri. Kontrak pembelian tersebut diteken dengan INKA ditandatangani pada Maret 2023,[27] kemudian kontrak pembelian 3 rangkaian KRL baru dari CRRC Qingdao Sifang ditandatangani di Tiongkok pada akhir Januari 2024.[28] Pada Juli 2024, INKA juga mendapatkan PMN guna meningkatkan kapasitas produksi agar dapat meningkatkan kapasitas produksi agar dapat menyelesaikan pesanan tersebut dengan tepat waktu.[29]
Pada saat RDP dengan Komisi XI DPR RI, 1 Juli 2024, Direktur utama KAI menyatakan bahwa dilakukan pembelian 8 rangkaian KRL tambahan kepada CRRC Qingdao Sifang, sehingga total pesanan kepada pabrikan Tiongkok tersebut menjadi 11 rangkaian. Penambahan tersebut dilakukan setelah 17 dari 19 rangkaian yang dikirim menuju pabrik INKA Madiun untuk dilakukan rekondisi dibatalkan dengan alasan yang tidak diberitahukan kepada publik[30]
Pada akhir Januari 2025, satu rangkaian 12 kereta KRL seri SFC120-V yang dipesan oleh KAI Commuter dari CRRC Qingdao Sifang tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan setelahnya menjalani uji coba di jalur kereta api Lintas Jakarta.[31] Pada Februari 2025, KRL baru yang dipesan dari INKA juga telah mulai terlihat menjalani uji coba di lingkungan internal pabrik,[32] setelah pada Agustus 2024, desain dari KRL produksi INKA tersebut dirilis oleh KAI Commuter secara resmi.[33] Keseluruhan KRL pesanan KAI Commuter berbahan baja nirkarat pada bagian bodi dengan lebar standar yang ditentukan Direktorat Jenderal Perkeretaapian.
Jayakarta, Mangga Besar, Sawah Besar, Juanda, Gondangdia, Cikini, Manggarai, Tebet, Cawang, Duren Kalibata, Pasar Minggu Baru, Pasar Minggu, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, Pondok Cina, Depok Baru, Depok, Citayam, Pondok Rajeg, Cibinong
KAI Commuter, kala itu bernama PT KAI Commuter Jabodebek (KCJ), membuka gerai penjualan cendera mata dan suvenir bernama "C-Corner" pada Januari 2017 di Stasiun Juanda. Gerai ini tersedia secara daring di berbagai lokapasar dan juga luring (on site) di Stasiun Juanda dan Stasiun Bogor pada April 2017, terbaru dibuka pula di loket Stasiun BNI City pada tahun 2024.[35] Pada 14 Februari 2026, gerai ini berubah nama menjadi "C-Merch".[36]
C-Corner on Station (kini C-Merch on Station) di Stasiun BNI City, yang merupakan gerai yang pertama kali dibuka.
Setelah sebelumnya sempat ditutup selama Pandemi COVID-19, berikut merupakan daftar stasiun yang kini membuka gerai C-Merch on Stationper 8 Mei 2026 yang terbagi berdasarkan wilayahnya:
Beragam suvenir yang dijual di C-Merch mulai dari magnet kulkas, kaus, botol minum, payung, buku, tas, stiker, hingga miniatur KRL dan mainan rubik yang bertemakan Commuter Line. Meskipun bukan menjadi sumber pendapatan utama, kehadiran gerai C-Merch ini dapat menjadi sarana promosi sekaligus meningkatkan brand engagement dengan pengguna Commuter Line.
Tiket cendera mata
Papan reklame iklan KMT cendera mata.
Pada beberapa kesempatan, KAI Commuter pernah menjual berbagai cendera mata yang dapat berfungsi sebagai KMT, seperti Gelang Multi Trip (GMT), Gantungan Kunci Multi Trip, dan Stiker Multi Trip (SMT). Pada ulang tahun ke-7 KAI Commuter, yang kala itu bernama PT KAI Commuter Jabodetabek, diluncurkan Stiker Multi Trip bersamaan dengan peluncuran perdana mesin penjualan tiket yang melayani pengambilan THB dan pengisian ulang KMT untuk tahap awalnya. Stiker Multi Trip berbentuk persegi dan dapat ditempelkan pada barang apapun seperti ponsel dan barang-barang lain yang bisa dibawa saat naik KRL seperti kartu pegawai. Lalu, PT KCI merilis Gelang Multi Trip pertama pada 3 Februari 2015. Gelang kemudian dirilis kembali pada 6 Februari 2016 bersamaan dengan Gantungan Kunci Multi Trip serta Kartu Multi Trip edisi khusus menyambut Tahun Baru Imlek 2567 Kongzili yang tersedia di Stasiun Jakarta Kota, sebelum kemudian sempat tersedia di 18 stasiun KRL di Jabodetabek.[37][38]
Ketiga jenis tiket cendera mata non-KMT bekerja serupa dengan KMT dengan memanfaatkan teknologi komunikasi medan dekatRFID dengan sistem FeliCa yang disediakan oleh Sony. Tak ayal, pengisian jenis tiket tersebut hanya dapat dilakukan di loket dengan stiker bertanda "Sony FeliCa" di depan loket. Penjualan tiket cendera mata tersebut mulai berangsur terbatas sejak tahun 2019, hingga kemudian tidak dapat digunakan kembali.[39]
Kartu Multi Trip (KMT) adalah kartu uang elektronik yang diselenggarakan oleh KAI Commuter. Dikenal sebelumnya sebagai Commuter Ticket (Commet), kartu ini diterbitkan untuk mendampingi kartu Tiket Harian Berjaminan (THB) yang kala itu menjadi metode pembayaran utama untuk mengakses layanan KRL Commuter Line. Sehingga awalnya penggunaan kartu ini hanya dapat dipakai untuk naik KRL Commuter dan perparkiran elektronik (e-parking) di lingkungan stasiun saja.[40]
Usai memperoleh izin dari Bank Indonesia pada 14 November 2018 sebagai penerbit Kartu Uang Elektronik, penggunaan KMT pun semakin diperluas ke seluruh layanan transportasi Commuter Line di Jakarta dan Yogyakarta-Palur, serta transportasi umum lain seperti Transjakarta, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, LRT Jakarta, Trans Jogja Istimewa, Trans Jateng, dan Trans Jatim. Selain perparkiran, KMT juga dapat digunakan untuk berbagai pembayaran di gerai makanan yang disediakan oleh KAI Services yakni Loko Cafe, Loko Cafe Go!, dan Loko Geprek. Selain itu, pengguna juga dapat melakukan pengisian ulang melalui gawai telepon pintarnya, di samping melalui loket dan mesin tiket, serta menarik seluruh sisa saldo dengan menyerahkan KMT-nya apabila sudah tidak mengunakan KMT lagi.[41][42][43]
Referensi
↑"Dewan Direksi". PT Kereta Commuter Indonesia. Diakses tanggal 5 Agustus 2023.
↑"Dewan Komisaris". PT Kereta Commuter Indonesia. Diakses tanggal 5 Agustus 2023.
*)Tidak pernah dioperasikan KAI Commuter secara langsung, namun pernah beroperasi di layanan-layanan yang kemudian diambil alih KAI Commuter di Jabodetabek, Bandung, Yogya-Solo, dan Surabaya
*dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (hingga 20 September 2017) dan PT Kereta Commuter Indonesia (hingga saat ini)
**dioperasikan oleh PT Kereta Api Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek (hingga 15 September 2008) & PT KA Commuter Jabodetabek (hingga 2 Juli 2011)
***operasional dialihkan dari swakelola perusahaan induk karena berfokus pada layanan antarkota dan aglomerasi.
****operasional dialihkan dari KAI Bandara