Stasiun ini dahulu merupakan stasiun utama di Garut, melayani pengangkutan penumpang dan komoditas. Sebagai bagian dari jalur percabangan Cibatu–Cikajang, stasiun ini dibangun untuk menghubungkan jalur percabangan Cikampek-Bandung-Kroya dengan pusat pemerintahan tersebut. Dalam perkembangannya, jalur ini kemudian diperpanjang ke Cikajang.
Berkaitan dengan minat masyarakat Garut terhadap moda kereta api, Stasiun Garut yang sempat nonaktif sejak tahun 1983 kemudian dihidupkan lagi sebagai bagian dari program reaktivasi perkeretaapian yang dicanangkan oleh Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian BTP Jawa Bagian Barat (sekarang BTP Bandung).
Ke arah timur stasiun terdapat tetenger sinyal krian yang dahulu digunakan untuk mengendalikan perjalanan kereta api. Setelah reaktivasi, persinyalan ini dianggap usang dan digantikan dengan persinyalan Siemens & Halske semiotomatis.[3]
Sejarah
Bangunan Stasiun Garut generasi pertama
Stasiun Garut dibangun bersamaan dengan pembangunan lintas Cibatu–Garut. Karena pusat pemerintahan Kabupaten Garut agak jauh dari stasiun utama di kabupaten ini, maka dibangunlah jalur kereta api dari Stasiun Cibatu sebagai lintas cabang. Jalur ini dibuka bersamaan dengan jalur dari Cicalengka pada tanggal 14 Agustus 1889.[4]
Jalur ini dibuka setelah melalui pekerjaan yang cukup intensif selama dua tahun. Pembukaan jalur sepanjang 51 km ini dilakukan oleh Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk yang didampingi istri di Stasiun Garut.
Bangunan asli stasiun ini hancur akibat perang dan diserang oleh tentara Belanda.[5] Pada 1947, gabungan perusahaan kereta api Belanda, Staatsspoorwegen Verenigd Spoowegbedjrif (SS/VS), membangun ulang bangunan stasiun. Rancangan bangunan meniru Stasiun Karawang yang dibangun pada 1930.[6][7]
Dahulu, saat masih aktif hingga tahun 1980-an, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan yang hendak bepergian dengan kereta api hingga akhirnya ditutup pada tahun 1983 karena sarana yang sudah tua dan kalah bersaing dengan mobil pribadi maupun angkutan umum. Di samping itu, PJKA sering mengalami kerugian akibat ulah penumpang yang tidak membeli tiket.[8]
Selama masa-masa nonaktifnya, stasiun ini sempat dijadikan kantor sekretariat MPC Pemuda Pancasila Garut[9] dan emplasemennya berubah menjadi pasar.
Reaktivasi
Tampak depan bangunan baru Stasiun Garut pada 2022
Bagian dalam, peron, dan kanopi Stasiun Garut pasca reaktivasi. Tampak kereta api lokal Garut Cibatuan berhenti di jalur 1 Stasiun Garut.
Sehubungan dengan reaktivasi jalur kereta api Cibatu–Garut, stasiun ini menjalani serangkaian renovasi. Seluruh bangunan yang berdiri di atas lahan PT KAI harus dibongkar. Bangunan yang terletak di sekitar rumah dinas peninggalan Staatsspoorwegen serta bangunan stasiun telah rata dengan tanah.[10]
Pada awalnya, peresmian jalur KA Cibatu–Garut direncanakan pada akhir Februari atau paling lambat awal Maret 2020, menunggu perizinan dari Kementerian Perhubungan. KAI sudah merencanakan pengoperasian kereta api lokal Garut Cibatuan yang jadwalnya sudah dibuat bersamaan dengan pengoperasian grafik perjalanan kereta api 2019 dan berstatus sebagai angkutan lokal perintis. Kereta api tersebut rencananya digratiskan selama masa uji coba.[11][12] Namun, Pandemi Covid-19 menyebabkan peresmian stasiun dan jalur kereta api Cibatu–Garut ditunda.[13] Akhirnya, stasiun ini resmi dibuka bersamaan dengan peresmian reaktivasi pada 24 Maret 2022.[14]
Bangunan dan tata letak
Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus.
↑Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
↑Nasution, A.H. (1978). Sekitar perang kemerdekaan Indonesia. Vol.5. Bandung: Dinas Sejarah TNI-AD dan Angkasa.
↑Bolle, A.G.A. (1949). Hij Rijdt Weer! Een Spoorwegtriomf in Indonesie[Dia Berjalan Kembali] (dalam bahasa Belanda). Diterjemahkan oleh Ninar, Bagus (Edisi 1st).