Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks) adalah layanan kereta api komuter yang dioperasikan oleh KAI Commuter Wilayah VI Yogyakarta untuk menghubungkan Stasiun Yogyakarta dengan Stasiun Kutoarjo yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kereta api yang pertama kali beroperasi pada tahun 1994 ini menempuh jarak sekitar 64km (40mi) dan beroperasi secara reguler menggunakan Kereta Rel Diesel Electric (KRDE). Pada peta perjalanan Commuter Line, relasi ini diberi warna biduri bulan biru, sehingga sering disebut sebagai Prameks Blue Line.
Dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Kutoarjo maupun sebaliknya, Commuter Line Prameks hanya berhenti melayani penumpang di Stasiun Wates, Wojo, dan Jenar.
Tarif kereta api ini ditetapkan sebesar Rp8.000,00 untuk semua jarak tempuh penumpang.
Mulai tahun 2022 melayani pembayaran kartu multi trip dan aplikasi LinkAja seperti layanan KAI Commuter di Jabodetabek dan Jogja-Solo.
Mulai 2023 pembayaran melalui aplikasi LinkAja resmi dihapus. Sebagai gantinya, penumpang bisa menggunakan aplikasi C-Access dan juga bisa menggunakan Gojek. Pembayaran tiket melalui Access By KAI masih bisa dilakukan
Kereta api Kuda Putih merupakan cikal bakal layanan kereta api Prambanan Ekspres, 1972
Layanan kereta api komuter lintas Yogyakarta–Surakarta telah ada sejak 1963 dengan nama Kuda Putih yang merupakan Kereta Rel Diesel (KRD) pertama di Indonesia. Pengoperasian kereta api Kuda Putih dihentikan pada tahun 1980 karena kurangnya suku cadang.[1]
Kereta api Prambanan Ekspres
Menggunakan rangkaian kereta yang ditarik lokomotif (1994–1998)
Kereta api Prambanan Ekspres lintas Surakarta–Yogyakarta pertama kali dioperasikan pada 20 Mei1994, dengan menggunakan empat kereta kelas bisnis—menggunakan rangkaian kereta api Senja Utama Solo yang beroperasi pada malam hari—dan ditarik oleh lokomotif diesel dengan tarif Rp2.000,00.[2]
Kereta api tersebut pernah ditambahkan satu kereta kelas eksekutif (satu kereta) dengan tarif Rp5.000,00.
Menggunakan KRD (1998–2021)
Kereta api Prambanan Ekspres saat beroperasi menggunakan KRD MCW 302 (2002)
Seiring dengan permintaan pelanggan, PT KA menambah jumlah perjalanan kereta api ini menjadi lima kali pulang-pergi dalam sehari. Selain itu, rangkaian kereta diganti dengan KRD—menggunakan seri MCW 302 setelah dilakukan peningkatan daya mesin dari Industri Kereta Api (INKA).
Karena rangkaian KRD tersebut dianggap uzur (buatan tahun 1980-an), kereta api Prambanan Ekspres sering mengalami kerusakan sehingga mengakibatkan keterlambatan perjalanan.[3] Untuk menunjang pengoperasiannya, dilakukan penambahan satu rangkaian Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) prototipe pertama dari INKA pada 1 Maret2006 yang merupakan hasil perbaikan dari KRL BN-Holec (La Brugeoise et Nivelles (BN), Holland Electric Ridderkerk, dan INKA) dengan mengganti mesin listrik menjadi mesin diesel.[3][4][5]
Pada tahun 2007, rute beberapa perjalanan kereta api Prambanan Ekspres diperpanjang hingga Kutoarjo seiring pengoperasian jalur ganda lintas Yogyakarta–Kutoarjo pada 29 September2007; sebelumnya dilakukan uji coba perjalanan di lintas Surakarta–Yogyakarta–Kutoarjo sebanyak dua kali perjalanan dalam sehari per 15 Oktober2007.[6]
Dengan bertambahnya lima rangkaian Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) yang diluncurkan pada 16 Februari2008, jumlah perjalanan kereta api Prambanan Ekspres lintas Surakarta–Yogyakarta ditingkatkan menjadi sepuluh kali perjalanan pulang-pergi, sedangkan untuk lintas Surakarta–Kutoarjo ditingkatkan menjadi empat kali perjalanan pulang-pergi.[7]
Menggunakan KRD (2021-sekarang)
Per 10 Februari2021, setelah dilakukan elektrifikasi di jalur kereta api lintas Surakarta–Yogyakarta, pengoperasian kereta api Prambanan Ekspres di lintas Surakarta–Yogyakarta digantikan dengan Lin Yogyakarta.[8][9][10] Dengan demikian, rute kereta api Prambanan Ekspres mengalami pemangkasan sehingga hanya melayani rute Yogyakarta–Kutoarjo.[11]Pada tahun 2025 kursi kereta Prambanan Ekspres menggunakan sarana Ka Feeder merah KCIC yang tidak jadi dipakai dengan kursi Ekonomi Premium bisa direbahkan.
Pada 8 April 2025, sebuah armada Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks) relasi Wates—Yogyakarta mengalami mogok di petak antara Stasiun Wates dan Stasiun Wojo kurang lebih pukul 09.30 WIB. Posisi mogoknya Commuter Line Prambanan Ekspres berada di jalur satu Stasiun Kedundang. Penumpang kereta tersebut pun dibantu turun dari kereta di tengah-tengah rel kemudian dialihkan ke kereta Prameks lain yang tersedia di emplasemen Stasiun Kedundang untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Yogyakarta. Sehingga perjalanan kereta Prameks tertunda kurang lebih 2 jam. Tiap-tiap penumpang juga diberikan air mineral sebagai bentuk kompensasi kendala perjalanan.[14]
Kereta Api Prambanan Ekpres (Prameks) anjlok di dekat RS Panti Rini, Krajan, Tritomartani, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta pada 23 Oktober 2012. Kereta tersebut anjlok sekitar pukul 17.00 WIB. Akibat kecelakaan kereta tersebut, jalur kereta api Yogyakarta-Solo terputus. Dari pantauan di tempat kejadian, ada dua kereta yang anjlok. Diperkirakan ada 20 penumpang yang mengalami luka-luka. Mereka langsung dilarikan ke RS Panti Rini yang berada di lokasi kejadian. Belum ada informasi mengenai sebab anjloknya kereta ini.[15]
Kereta api Prambanan Ekspres meninggalkan Stasiun Wates
Referensi
↑Omar Mohtar, (2014). "Peranan Kereta Rel Diesel Kuda Putih bagi Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Yogyakarta-Surakarta 1963-1980". Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
*)Tidak pernah dioperasikan KAI Commuter secara langsung, namun pernah beroperasi di layanan-layanan yang kemudian diambil alih KAI Commuter di Jabodetabek, Bandung, Yogya-Solo, dan Surabaya
*dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (hingga 20 September 2017) dan PT Kereta Commuter Indonesia (hingga saat ini)
**dioperasikan oleh PT Kereta Api Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek (hingga 15 September 2008) & PT KA Commuter Jabodetabek (hingga 2 Juli 2011)
***operasional dialihkan dari swakelola perusahaan induk karena berfokus pada layanan antarkota dan aglomerasi.
****operasional dialihkan dari KAI Bandara