Lokasi stasiun ini kurang lebih 20 kilometer di sebelah utara pusat pemerintahan Kabupaten Garut.[3] Posisi dan ukuran stasiun yang relatif besar ini menjadikan stasiun ini menjadi stasiun utama keberangkatan bagi warga Garut untuk bepergian ke berbagai jurusan di Jawa dengan kereta api.
Stasiun ini memiliki percabangan menuju Cibatu–Cikajang, tetapi sempat dinonaktifkan sejak 1983 karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan angkutan umum. Pada 24 Maret 2022, lintas Cibatu–Garut resmi dibuka kembali setelah hampir 40 tahun nonaktif.[4]
Satu-satunya kereta api yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah KA Kahuripan.
Sejarah
Awal pengoperasian
Stasiun Cibatu pada tahun 1918, pada masa kolonial Belanda
Jalur kereta api Cicalengka–Cibatu–Garut dibuka pada 14 Agustus 1889, sebagai bagian dari proyek jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Cicalengka dengan Cilacap oleh Staatsspoorwegen, maskapai kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda.[5] Meskipun demikian, berdasarkan iklan di surat kabar Bataviaasch Handelsblad dan Java-bode, Stasiun Cibatu baru melayani pemberhentian kereta api dan penumpang umum pada 1 Oktober 1890.[6][7]
Pada era kolonial Belanda, Stasiun Cibatu merupakan stasiun primadona karena menjadi tempat pemberhentian wisatawan Eropa yang ingin berlibur ke daerah Garut. Dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997 yang ditulis oleh Haryoto Kunto, antara tahun 1935-1940 setiap hari di Stasiun Cibatu diparkir selusin taksi dan limusin milik hotel-hotel di Garut, di antaranya Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, dan Hotel Grand Ngamplang. Saat itu daerah Garut dengan kondisi alamnya yang indah memang merupakan daerah favorit wisatawan yang berasal dari Eropa.
Selain Chaplin, tokoh lain yang tercatat menjejakkan kaki di Stasiun Cibatu adalah Georges Clemenceau. Ia adalah pendiri koran La Justice (1880), L'Aurore (1897), dan L'Homme Libre (1913); sekaligus penulis politik terkemuka. Clemenceau menjadi Perdana Menteri Prancis dalam dua periode, yakni 1906-1909 dan 1917-1920.[8]
Setelah kemerdekaan Indonesia, tahun 1946, Presiden Republik Indonesia saat itu, Soekarno, juga sempat berkunjung ke Stasiun Cibatu dalam rangkaian perjalanan menggunakan kereta api luar biasa melalui jalur selatan. Sepanjang perjalanan tersebut, rakyat di kota-kota kecil meminta Soekarno untuk turun di setiap stasiun (termasuk Stasiun Cibatu) dan berpidato.[8]
Penutupan loket
Meski melayani penumpang, Stasiun Cibatu bersama dengan Stasiun Garut, Stasiun Wanaraja, Stasiun Pasirjengkol, Stasiun Leles, dan Halte Leuwigoong resmi meniadakan pemesanan tiket Kereta Api Lokal Garut Cibatuan (kini bernama Commuter Line Garut) di loket stasiun (go show), satu-satunya kereta api lokal yang dilayani di stasiun ini, terhitung mulai 1 November 2022. Pemesanan tiket kereta lokal tersebut pun dialihkan melalui aplikasi Kereta Api Indonesia Access (kini bernama Access by KAI) hingga tujuh hari sebelum keberangkatan (H-7).[9]
Sementara itu pada 1 Januari 2025, Stasiun Cibatu juga resmi meniadakan penjualan tiket kereta api antarkota (KAJJ) secara go show bersama dengan Stasiun Leles dan Stasiun Cipeundeuy. Stasiun ini hanya melayani penjualan tiket pada mesin tiket otomatis stasiun (loket box). Pemesanan tiket kereta pun juga dapat dilakukan melalui aplikasi Access by KAI, situs resmi KAI, dan kanal eksternal lain.[10]
Bangunan dan tata letak
Traksi ganda kereta api barang di Stasiun Cibatu, saat PJKA menggunakan logo segilima biru.
Stasiun Cibatu memiliki empat jalur kereta api dengan jalur 1 merupakan sepur lurus jalur percabangan ke arah Garut serta jalur 2 merupakan sepur lurus ke arah Bandung maupun Kroya.
Di sisi utara stasiun terdapat depo lokomotif yang dahulu dimanfaatkan sebagai tempat perbaikan dan pemeliharaan lokomotif uap. Depo lokomotif ini berfungsi pula sebagai depo lokomotif cadangan jika ada lokomotif yang harus diganti dalam perjalanan karena kerusakan atau jika ada lokomotif dengan rangkaian yang membutuhkan tenaga tambahan (biasanya traksi ganda). Pada tahun 1983, seiring ditutupnya jalur Cibatu-Garut-Cikajang, depo tersebut tidak lagi beroperasi sebagai salah satu depo utama. Saat ini depo tersebut hanya berstatus sebagai sub depo.[11][12]
Selain bangunan stasiun dan depo lokomotif yang masih asli, bangunan-bangunan kuno lainnya yang juga masih eksis di Stasiun Cibatu antara lain menara air, rumah sinyal, brankas, dan alat-alat persinyalan lama. Pengaturan sinyal dan wesel dilakukan pada rumah sinyal stasiun.[13]
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 11 Maret 2026.[14]
Perjalanan menuju Padalarang hanya pada pagi hari, sedangkan sebaliknya pada malam hari.
Insiden
Pada tanggal 15 November 1951, KA Ekspres Surabaya–Bandung ditahan oleh seorang prajurit TNI di Stasiun Cibatu, karena di area Stasiun Leles terjadi pertempuran. Berikutnya, pada tanggal 25 Juni 1952, KA 334 yang tengah berhenti di Stasiun Cibatu juga ditahan seorang prajurit TNI untuk menuju Garut karena terjadi pertempuran di daerah Cimanuk dan Tunggilis. Kedua pertempuran itu melawan gerombolan yang diyakini terafiliasi DI/TII.[15]
↑Djawatan Penerangan Republik Indonesia (1953). Propinsi Djawa-Barat. hlm.340–341. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Daftar pustaka
Munandar, Andi Aris; Mulyana, Agus; Santosa, Ayi Budi (2016). "Stasiun Cibatu dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Sekitarnya (1998-2010)". Factum. 5 (2): 157–174.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Cibatu Station.
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).