Purnomo Yusgiantoro (lahir 16 Juni 1951) adalah eksekutif, politisi, konsultan dan dosen berkebangsaan Indonesia, yang saat ini menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Energi.[3] Ia pernah Menteri Pertahanan Indonesia yang menjabat dari 22 Oktober2009 hingga 20 Oktober2014. Purnomo sebelumnya menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (2000–2009)[1][2]
Pendidikan
Purnomo Yusgiantoro meraih gelar sarjana (Ir.) di bidang Teknik Perminyakan dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1974.[4][5]
Kemudian ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Teknik (M.Sc.) dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat, lulus pada tahun 1986. Ia kembali mengenyam pendidikan magister di bidang Ekonomi (M.A.) dari University of Colorado, Amerika Serikat, lulus pada tahun 1988.[4][5]
Selanjutnya, ia lanjutkan pendidikan doktoral (Ph.D.) di bidang Ekonomi Mineral dari Colorado School of Mines, Amerika Serikat.[4][5]
Purnomo dikukuhkan sebagai guru besar dan mendapat gelar profesor di 2 perguruan tinggi, yakni Guru Besar Ekonomi Unika Atma Jaya di Jakarta pada tahun 2002 dan Institut Teknologi Bandung pada tahun 2009.[6]
Karier
Karier Pemerintahan
Pada tahun 1993 hingga 1998 ia ditunjuk oleh Ida Bagus Sudjana sebagai Penasihat/Staf Khusus Menteri Pertambangan dan Energi. Di periode yang sama, ia juga menjadi Ketua Kelompok Kerja II Bidang Pemasaran Dalam dan Luar Negeri, Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP).[2]
Dalam penyusunan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Pembangunan Lima Tahun (PELITA), ia ditunjuk sebagai panitia dan tim ahli. Di antaranya, Tim Ahli PAH (Panitia AdHoc) I, Badan Pekerja MPR-RI dalam mempersiapkan GBHN PELITA VII, 1997–1998; Kelompok Kerja Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas), dalam mempersiapkan GBHN PELITA VII; dan Anggota Panitia Departemen Pertambangan dan Energi, dalam menyusun GBHN Sektor Pertambangan dan Energi PELITA VII.[2]
Purnomo Yusgiantoro (paling kanan) pada Dialog Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Indonesia-Australia (2013)
Purnomo ditunjuk sebagai menteri di 4 kabinet berbeda oleh 3 presiden, menjadikannya salah satu menteri terlama menjabat, yakni selama 14 tahun, 58 hari.
Pada saat menjadi Menteri ESDM, ia menjadi Ketua Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP), 2000–2002, dan juga Sekretaris Jenderal OPEC pada tahun 2004.[10]
Kunjungan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Den Haag, Belanda (2014)
Ketika menjadi Staf Khusus Menteri Pertambangan dan Energi, ia menjadi salah satu Gubernur Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) mewakili Indonesia dari 1996 hingga 1998. Dari Januari hingga Desember 2004, ia, menjadi Sekretaris Jenderal dan Presiden OPEC.[10] dan menjadi Ketua ASEAN Meeting on Economic Ministers (AMEM) on Energy.
Ia juga beberapa kali menjadi Ketua/Anggota Delegasi RI dalam Pertemuan Multilateral, seperti APEC, UNCTAD, UNDP, ESCAP, OPEC, Produsen-Konsumen, ASEAN; Ketua/Anggota Delegasi RI dalam Pertemuan Bilateral: Australia, Jepang, Amerika, Norwegia, Korea Selatan, Taiwan, Kanada;
Purnomo juga berperan sebagai Konsultan Domestik/Internasional: Sumber Daya Alam (SDA), Ekonomi Pembangunan dan Manajemen Keuangan BESSINDO & REDECON, di Bank Dunia and Bank Pembangunan Asia.[10]
Karier sebagai pengajar dan dosen
Purnomo Yusgiantoro Beri Ceramah pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah di Lemhannas (2025)
Purnomo Yusgiantoro beristrikan Sri Murniati Sachro dan memiliki tiga anak, masing-masing bernama Luky, Inka, dan Filda.[1][2] Ia penganut agama Katolik.[13]
Publikasi
Banyak menyampaikan makalah dalam lingkup ekonomi pembangunan, ekonomi mikro, energi dan sumberdaya mineral, energi dan lingkungan hidup,dan pertahanan negara
Analisis dan Metodologi Ekonomi Indonesia (penyunting Dr. Sjahrir bersama dengan pengarang lain)