Luhut merupakan anak ke-1 dari 5 bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Ia menikah dengan Devi Simatupang dan memiliki 4 anak, yaitu Paulina, David, Paulus dan Kerri Pandjaitan.
Pendidikan
Pendidikan dasar dan menengah
Luhut memulai pendidikan dasar dan menengah pertamanya di SD dan SMP Yayasan Cendana, sebuah sekolah yang dimiliki oleh perusahaan minyak Caltex, tempatnya ayahnya bekerja. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMAN 1 Pekanbaru, kemudian pindah SMAK 1 Penabur Bandung. Ketika bersekolah SMA di Pekanbaru, Luhut pernah mewakili daerahnya ke Pekan Olahraga Nasional (PON) di Bandung cabang Renang. Sewaktu bersekolah SMA di Bandung, ia menjadi salah satu pendiri Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang menghimpun pelajar dan mahasiswa untuk menentang Orde Lama dan PKI.[4][5]
Pada tahun 1971, ia mengikuti 3 kursus militer. Pertama, Kursus Dasar Kecabangan Infanteri (Sussarcabif) di mana ia menjadi lulusan yang terbaik. Kedua, Kursus Komando, dengan raihan penghargaan Sangkur Perak Komando. Kemudian Kursus Lintas Udara dengan meraih penghargaan Trofi Payung Emas.Pada tahun 1976 dan 1978, ia mengikuti kursus untuk perwira, yakni Kursus Lanjutan Perwira/SUSLAPA I (1976).Kursus Lanjutan Perwira/SUSLAPA II (1978).[4][5]
Karier militernya banyak dihabiskan di KopassandhaTNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81. Berbagai medan tempur dan jabatan penting telah disandangnya—Komandan Grup 3 Kopassandha, Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), hingga Komandan Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Angkatan Darat. Ketika menjadi perwira menengah, pengalamannya berlatih di unit-unit pasukan khusus terbaik dunia memberinya bekal untuk mendirikan sekaligus menjadi komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Sat-81/Gultor) kesatuan baret merah Kopassus, menjadi salah satu pasukan khusus penanggulangan terorisme terbaik di dunia.[4][5]
Sebanyak 8 pelatihan militer ia ikuti di Amerika Serikat, di antaranya US Army Airborne, Pathfinder, and Ranger Course di Fort Bragg dan Fort Benning (1976); Free Fall Instructor Course, di Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1976); Mobile Trainning Team (MTT) Instructor Course Golden Knight, US Army Special Forces, di Fort Bragg (1978); HALO/HAHO Jumpmaster Instructor Course di US Army Jumpmaster School (1980); US Army John F. Kennedy Special Warfare Center and School (Kursus Pasukan Khusus Angkatan Darat AS), Fort Bragg (1978); Bomb Disposal Instructor Training, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1977); Jungle Warfare Instructor Training Course, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Fort Bragg (1979); dan Guerrilla & Counter-Guerrilla Warfare Instructor Training Course, Pasukan Khusus Angkatan Darat AS (1978).[4][5]
Kemudian di Jerman Barat, ia mengikuti 2 pelatihan militer pada tahun 1981, di antaranya Shooting & Anti-Terror Instructor Training dan Counter-Terrorism and Special Operations Course, Grenzschutzgrupppe 9 (GSG-9) German Federal Police. Pada tahun yang sama (1981), ia ke Britania Raya mengikuti pelatihan Royal Army Special Air Service (SAS).[5]
Luhut kemudian naik pangkat Letnan SatuInfanteri pada tahun 1973, dan menjabat sebagai Komandan Kompi A Group 1 Para Komando, Kopassandha. Belum satu tahun menjabat, ia kemudian dipindahkan sebagai Komandan Kompi A Pasukan Kontingen Garuda (KONGA VI) Wilayah Port Said, Port Fuad, Port Suez, Mesir dari Desember 1973 hingga Oktober 1974. Ia juga merangkap sebagai Ajudan Pribadi dari Brigjen TNI Yogie Suardi Memet (Komandan Brigade Selatan, Wilayah Terusan Suez) Kontingen Garuda (KONGA VI).[5]
Kapten Luhut Binsar Pandjaitan (tengah) bersama para prajurit Kopassandha tiba di Timor Timur dalam Operasi Seroja, 1976.
Usai operasinya di Mesir, ia kembali ke Indonesia. Ia menjadi Komandan Tim C Group 1 Para Komando Satuan Lintas Udara pada Operasi Seroja di Timor Portugis (kemudian Timor Timur), Komando Pasukan Sandhi Yudha pada tahun 1975. Pada saat itu ia berpangkat Kapten (TNI)Infanteri. Setahun kemudian pada 1976, ia masih di Timor Timur menjadi Komandan Kompi Pasukan Pemburu Kopasshanda pada Elemen Satgas Tempur Khusus, pada Operasi Seroja. Sewaktu menjadi Kompi Pasukan, ia meraih prestasi dan predikat sebagai Komandan Kompi Terbaik dalam Operasi Seroja.[5][8]
Ia kemudian menjadi Perwira Operasi pada Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat). Selanjutnya ia perwira Operasi Pada Satuan Tugas/Satgas Intel Badan Intelijen ABRI (BIA). Luhut naik pangkat menjadi MayorInfanteri pada tahun 1980. Pada tahun 1981, ia mendirikan Detasemen 81 Anti Teroris Kopassus (Komando Pasukan Khusus) dan ia menjadi komandan pada satuan tersebut.[5]
Dua tahun kemudian pada tahun 1983, Luhut naik pangkat menjadi Letnan Kolonel menjadi Komandan Proyek Rajawali pada Badan Intelijen ABRI. Selanjutnya, Luhut dipercayakan menjadi Komandan Satuan Pengamanan Presiden RI/VVIP Pada KTT ASEAN Manila, Filipina pada tahun 1984. Setahun berlalu (1985), Luhut kembali ke Detasemen 81, dan menjadi komandan pertama Proyek Charlie/Proyek Intelijen Teknik, proyek yang menjadi crème de la crèmeTNI saat ini.[5]
Luhut kemudian mendirikan dan menjadi Komandan Sekolah Pertempuran Khusus (Sepursus) Detasemen-81/Anti-Terror Kopassus pada Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus pada tahun 1986. Pada tahun yang sama, ia kembali ke Timor Timur menjadi Komandan Satgas Tempur Khusus Pasukan Pemburu Kopassus (Detasemen-86) di Sektor Tengah Khusus (Osu, Frekueike, Laisorobai) Timor-Timur (1986). Selama bertugas sebagai Komantan Detasemen-86, ia kembali meraih prestasi dan predikat sebagai Komandan Satgas Tempur Terbaik di Timor-Timur.[5][8]
Pada tahun 1987, ia kembali ke satuan Kopassus menjadi Komandan Sekolah Pusat Pendidikan Para Lintas Udara Pusshandalinud pada
Pusdikpassus (Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus). Selanjutnya, ia menjabat sebagai Asisten Operasi (Asops) Kopassus pada tahun 1989.[5]
Luhut naik pangkat menjadi Kolonel Infanteri dan menjabat sebagai Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus pada tahun 1990. Ia kemudian diangkat menjadi Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) dari tahun 1992 hingga 1993. Luhut dipindahkan ke Surabaya menjadi Danrem (Komandan Resor Militer) pada Korem 081/Dhirotsaha Jaya dari 1993 hingga 1995. Pada saat menjadi Danrem, ia meraih prestasi sebagai Danrem (Komandan Resor Militer) terbaik se-Indonesia pada tahun 1995.[5]
Ia kemudian dipromosikan ke pangkat Brigadir Jenderal, setelah menjadi Danrem terbaik 1995. Selanjutnya, ia kemudian ke Bandung, Jawa Barat menjadi Wakil Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri, di bawah komando Mayjen Rahmat HS Mokoginta. Luhut kemudian naik pangkat ke Mayor Jenderal, dan diangkat menjadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri pada tahun 1996 hingga 1997.[5]
Pada November 2000, Luhut Pandjaitan bersama Agum Gumelar memperoleh pangkat kehormatan Jenderal TNI (HOR) pada 1 November 2000.[9]
Karier Pemerintahan
Duta Besar Indonesia untuk Singapura (1999–2000)
Pada tahun 1999, Presiden B.J. Habibie mengangkatnya menjadi Duta Besar Republik Indonesia Untuk Republik Singapura pada awal era Reformasi. Kepiawaian Luhut dalam diplomasi dianggap mampu mengatasi hubungan kedua negara yang sempat terganggu dan kurang selarasnya komunikasi antar pemimpin negara sepeninggal Presiden Soeharto. Dalam tiga bulan pertama masa jabatannya, ia mampu memulihkan hubungan kedua negara ke tingkatan semula.
Menteri era Presiden Abdurrahman Wahid (2000–2001)
Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Luhut ditarik dari Singapura sebelum masa baktinya berakhir. Gus Dur mempercayakannya sebagai Menteri Perdagangan dan Industri Republik Indonesia. Presiden pada era pemerintahan selanjutnya pun bermaksud untuk mempercayakannya kembali sebagai menteri, tetapi Luhut menolaknya karena ia menjaga etika terhadap Gus Dur.
Menteri dan pejabat setingkat menteri era Presiden Joko Widodo (2015–2024)
Thomas Lembong, Luhut Pandjaitan, Darmin Nasution, Rizal Ramli, Pramono Anung, Sofyan Djalil pada saat perombakan Kabinet Kerja (2015)
Selama menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, ia dipercayakan Presiden Joko Widodo di banyak lembaga nonstruktural yang bertanggung jawab pada lintas sektor. Jabatan non-struktural yang dipegang Luhut Pandjaitan di antaranya: Ketua Tim Nasional Peningkatan Penggunaan Produk dalam Negeri (2018–2024),[13] Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (2020–2023), Ketua Dewan Pengarah Tim Penyelamatan Danau Prioritas Nasional (2021–2024),[14] Ketua Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (2021–2024);[15] Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung (2021–2023), Ketua Dewan Sumber Daya Air Nasional (2022–2024), dan Koordinator PPKM Wilayah Jawa-Bali (2021–2023)
Penasihat dan Ketua Dewan Ekonomi era Presiden Prabowo Subianto (2024–)
Luhut Pandjaitan usai dilantik sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto (2024)
Pada tahun 2001, Luhut memiliki ide membangun yayasan dan sekolah untuk masyarakat yang membutuhkan. Lalu bersama istrinya, Devi, Luhut membuat sebuah yayasan misi sosial, Yayasan Del, yang bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya manusia Indonesia agar menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.
Yayasan Del bergerak di sektor pendidikan, teknologi, kesehatan, kemanusiaan dan membangun panti asuhan. Selain itu Del juga memberikan program beasiswa tanpa membedakan status maupun golongan. Program pertamanya adalah dengan mendirikan Politeknik Informatika Del yang kini telah menjadi Institut Teknologi Del, di tepi Danau Toba. Tepatnya di Sitoluama, Laguboti, Kab. Tobasa. Sekarang, IT Del telah membuka program studi baru, yaitu: S1 Teknik Manajemen Rekayasa, Teknik Bioproses, Sistem Informasi dan Teknik Informatika, serta D3 Teknik Informatika.
Institut Teknologi DEL, ditujukan untuk anak berbakat dan dari keluarga tidak mampu Indonesia. Sejak didirikan, Institut Teknologi DEL bekerjasama dengan ITB Bandung, NIT India dan Wollongong University Australia.
Luhut juga mendirikan Yayasan Luhur Bakti Pertiwi yang telah melahirkan 250 alumni generasi muda berjiwa pemimpin berintegritas tinggi dari 23 provinsi. Selain itu Luhut juga mendirikan Yayasan Lingkar Bina Prakarsa sebagai lembaga independen dan non-partisan untuk menjadi Pusat Studi Kebijakan dan Pendampingan Strategis.
Kewirausahaan
Pada tahun 2004, Luhut mulai merintis bisnis di bidang energi dan pertambangan dengan mendirikan PT Toba Sejahtra Group. Kini di bawah Toba Sejahtra yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, ada anak usaha yang bergerak di sektor minyak dan gas, perkebunan, dan kelistrikan.
Selain itu ada satu perusahaan konsesi yang dipegang Toba Sejahtra Grup, yaitu PT Kutai Energi. Sedangkan di sektor migas ada PT Energi Mineral Langgeng dan PT Fairfield Indonesia. Di sektor kelistrikan ada PT Pusaka Jaya Palu Power dan PT Kartanegara energi Perkasa. Lalu di sektor perkebunan ada dua perusahaan yaitu, PT Trisena Agro Sejahtera dan PT Adimitra Lestari. Kalu di sektor industri ada PT Smartias Indo Gemilang, PT Rakabu Sejahtera dan PT Kabil Citranusa.
PT Pusaka Jaya Palu Tower yang bergerak di sektor kelistrikan sejak tahun tahun 2007, berhasil membangun pembangkit listrik tenaga uap—dan ini merupakan pembangkit listrik tenaga uap swasta pertama di Indonesia.
Untuk coal and mining, sebagian besar hasil produksinya diekspor ke China, Korea, Taiwan, India, dan Jepang.