Ia adalah seorang ekonom Indonesia terkemuka yang sering menulis kolom di surat kabar Kompas yang mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto pada akhir tahun 1980-an dan 1990-an. Kwik merupakan anggota pengurus PDI-Perjuangan. Pada tahun 1987, bersama dengan Djoenaedi Joesoef dan Kaharuddin Ongko, ia mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia.[3]
Kehidupan awal
Kwik merupakan anak dari kelima dari tujuh bersaudara dari Kwik Hway Gwan (The Kwie Kie), seorang pengusaha hasil bumi.[4] Kwik beragama Buddha[5] atau agama Konghucu.[6] Pada masa penjajahan Jepang, pada 1942 ayahnya ditahan oleh militer Jepang di Juwana, Pati dan pabrik tekstil miliknya disita. Ibu Kwik lantas membawa anak-anaknya termasuk Kwik pindah ke Semarang. Di Semarang, ia berpindah sekolah dasar hingga tiga kali. Setelah Jepang menyerah, ayah Kwik dibebaskan dan keluarga Kwik menempati rumah kosong bekas Jepang yang ditinggalkan yang nantinya dibeli oleh ayahnya.[7]
Setamat dari Chinese English School Semarang, Kwik melanjutkan pendidikan ke SMP Masehi, Pancol, Semarang. Saat naik kelas tiga SMA, ia pindah ke Surabaya karena menjabat ketua pusat Perhimpunan Pelajar Sekolah Menengah Indonesia yang memiliki 13 cabang di seluruh Pulau Jawa. Karena tidak berhasil menemukan SMA yang baik, dengan bantuan dua orang kaya, Kwik mendirikan SMA Erlangga Surabaya dan menjadi siswa di sekolah yang ia dirikan. Ia merekrut guru-guru terbaik dan menawarkan gaji dua kali lipat di SMA yang didirikannya sehingga kelulusan Ujian Nasional sekolah itu mencapai 98%. Ia lulus dari SMA itu pada 1955.[7]
Kwik kemudian melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1955. Karena materi kuliahnya banyak memakai bahasa Belanda, ia yang tidak bisa berbahasa Belanda menyerah dan setelah enam bulan berkuliah ia pindah ke fakultas ekonomi. Selanjutnya pada Juli 1956, ia mengikuti ujian persiapan dan lulus melanjutkan pendidikan ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam.[7]
Seusai studi di Nederlandsche Economische Hogeschool (kini bernama Erasmus Universiteit) di Rotterdam, Belanda, Juli 1963, Kwik Kian Gie tak langsung pulang ke Indonesia. Kwik muda bekerja dulu sebagai asisten atase kebudayaan dan penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, selama satu tahun. Kemudian, ia menjadi direktur perusahaan perkebunan NV Handelsonderneming IPILO, Amsterdam.
Sekembali ke Indonesia pada 1970, Kwik memasuki dunia bisnis. Awalnya ia memimpin lembaga keuangan nonbank, yaitu Indonesia Financing & Investment Company selama tiga tahun. Ia juga membuka usaha pengelolaan perkebunan di bawah PT Jasa Dharma Utama dan mendirikan PT Altron Panorama Electronics. Yang disebut terakhir menjadi agen tunggal dan distributor beberapa barang elektrik dan elektronik.
Pada 1987, Kwik hengkang dari dunia bisnis (meski hingga 1990 namanya masih tercatat sebagai direktur utama PT Altron Niagatama Nusa). Bagi analis ekonomi yang senantiasa berpenampilan konservatif ini, kegiatan bisnis bukan tujuan utama, melainkan batu loncatan ke dunia yang lebih dicintainya, yaitu pendidikan dan politik.
Sedangkan untuk dunia politik, Kwik bergabung dengan PDI. Di sana ia duduk di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) (sekaligus menjadi salah satu Ketua DPP PDI). Meski kemudian pemerintah menyingkirkan Megawati dari PDI, ia tetap konsisten membela dan mendukung putri sang proklamator itu. Menurut Kwik, kemanusiaan Megawati sangat tinggi.
Reformasi yang berkobar menyusul runtuhnya pimpinan Orde Baru Soeharto, PDI (kemudian bernama PDI Perjuangan) kemudian mendapat ruang gerak yang sebebas-bebasnya. Selanjutnya, Kwik melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR RI. Di sana, ia pun dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI.
Meskipun telah menjadi menteri, daya kritis tetap milik Kwik. Bahkan dalam kapasitasnya sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, ia sempat mengancam akan mundur dari jabatannya itu jika Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) tetap diperpanjang, karena perpanjangan waktu pembayaran utang para konglomerat bermasalah itu dianggapnya tidak adil dan mengorbankan rakyat.
Dirinya sempat dianggap layak diperhitungkan untuk menjadi calon presiden pada Pemilu Presiden 2009, bahkan wacana ini sejak Pemilu Presiden 2004. Saat itu, kelompok organisasi mengajukan Kwik sebagai calon presiden dari Independen, tetapi UU saat itu belum memperbolehkan hal ini.
Kehidupan di Belanda membawa perubahan besar bagi kehidupan pribadi Kwik. Ia berangkat ke Belanda sendirian, tapi ketika pulang ke Indonesia Kwik membawa serta tiga orang bersamanya. Mereka adalah Dirkje Johanna de Widt (gadis Rotterdam yang menjadi istrinya), serta kedua anaknya Kwik Ing Hie dan Kwik Mu Lan. Dari ketiga anaknya, hanya si bungsu Kwik Ing Lan yang lahir di Indonesia.[10]
Meninggal
Kwik Kian Gie meninggal dunia pada Senin, 28 Juli 2025 sekitar pukul 22.00 WIB dalam usia 90 tahun.[11] Kabar duka ini dikonfirmasi oleh politikus senior PDI-P, Andreas Hugo Pareira, yang menyampaikan bahwa Kwik wafat di Jakarta pada malam hari.
Sebelum meninggal dunia, Kwik sempat mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sistem pencernaannya. Menurut pernyataan politikus PDI-P Hendrawan Supratikno, Kwik sering mengeluhkan masalah pencernaan yang sudah berlangsung cukup lama.[12] Ia kemudian menjalani perawatan di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, selama kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya tutup usia.
Jenazah Kwik disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, dan dibuka untuk pelayat hingga Rabu malam. Selanjutnya, prosesi kremasi dilaksanakan secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga pada Kamis, 31 Juli 2025, pukul 11.00 WIB.[13] Menurut anak ketiganya, Kwik Ing Lan, prosesi kremasi dilakukan secara privat sesuai dengan keinginan keluarga dan mencerminkan kepribadian Kwik yang dikenal sederhana dan tidak menginginkan seremoni yang berlebihan.[13]
Kwik Kian Gie dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan keadilan ekonomi bagi masyarakat kecil. Ia bahkan dijuluki sebagai "Bapak Ekonomi Kerakyatan" karena pandangan dan sikapnya yang tegas membela kepentingan publik serta keberpihakan pada ekonomi berbasis rakyat. Hingga akhir hayatnya, Kwik tetap aktif menyuarakan pemikirannya melalui diskusi dan media sosial.[11]
Bibliografi
Saya Bermimpi Jadi Konglomerat, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (1993)
Analisa Ekonomi Politik Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta (1994)