Pada permukaan batu prasasti terdapat cukilan yang agak kasar menggambarkan empat orang tokoh, disamping tulisan sebanyak sembilan baris.[1] Rouffaer memperkirakan bahwa tokoh utama adalah Dewa Siwa, serta pembuatan prasasti ini antara tahun 1350 s.d. 1400.[1] Pada saat itu, tulisan prasasti belum terbaca, tetapi filolog Belanda J.G. de Casparis cenderung menyetujui pendapat Rouffaer.[1] Saat ini Balai Arkeologi Denpasar telah melakukan pembacaan terhadap prasasti ini.[4]
Dalam Pararaton dan Nagarakretagama disebutkan bahwa seorang panglima Majapahit bernama Pu Nala menaklukkan Kerajaan Dompu pada tahun 1357.[1] Selain itu Hikayat Raja Pasai juga menyebutkan adanya serangan tersebut.[1] Rouffaer berpendapat bahwa pernah terjadi perpindahan orang Jawa ke pulau Sumbawa, yang diperkirakan pertama kali menetap di Dompu dan Teluk Cempi di pantai selatan.[1] Pendapat tersebut berdasarkan adanya beberapa temuan peninggalan yang bersifat Siwais dengan corak Jawa.[1]
Alihaksara
Berikut alihaksara prasasti ini menurut pembacaan tim Balai Arkeologi Denpasar:[4]
//ni wuhani.
nira sang lumiwat
ta wani winidhi sahilangnya.......a
tani bhalang geni diuputan lani balutani
ngilang panini mahilangnya nira sang ngaji sapalu yiki
ba hanipuh apari sadatenga ni sapalu //
panglunga pidu rikasa//
.........sira sang ngangatura
.........ruwang nira sang ngaji
.........sapalu//.
Alihbahasa
Berikut alihbahasa prasasti ini menurut pembacaan tim Balai Arkeologi Denpasar:[4]
Ketahuilah
Beliau (mereka) yang melewati tempat ini (liwat)
berani ditentukan (dipilih) akan hilang...
.....melemparkan api, gugur (duputan) langit
hilang ditiadakan (panini) hilanglah (moksa?) beliau Sang ngaji raja sapalu ini
.....menghancurkan (hanipuh) ketika beliau datang di negara Sapalu