Prasasti Mruwak adalah sebuah prasasti berangka tahun 1108 Śaka[1] atau 1186 Masehi yang ditemukan di desa Mruwak, kecamatan Dagangan, kabupaten Madiun, Jawa Timur.[2] Prasasti ini ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno.[1][3] Prasasti ini ditemukan oleh mahasiswa Jurusan Sejarah IKIP Madiun pada bulan Juli 1975, saat melakukan kuliah kerja lokal di bawah bimbingan Drs. Koesdim Heroekoentjoro dan Drs. Arief Soekawinoto.[2] Prasasti ini tidak pernah tercantum dalam inventarisasi Dinas Purbakala pada masa pemerintah Hindia Belanda.[2]
Prasasti Mruwak berlokasi di pekuburan umum di desa Mruwak, dan saat ini masih berada di tempat penemuan aslinya (in situ).[3]
Deskripsi fisik
Prasasti ini terbuat dari batuan andesit dan berbentuk balok batu (upala prasasti) dengan puncak setengah lingkaran dan bagian bawah berbentuk bunga padma.[3][4] Prasasti ini berukuran tinggi 84 cm, lebar 60 cm di bagian atas dan 45 cm di bagian bawah, serta tebal rata-rata 8-14 cm.[1] Prasasti ini ditulis dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno, yang dipahatkan di semua sisi prasasti.[1] Bentuk hurufnya kasar dan tidak teratur,[1] serta beberapa bagian sudah aus dan ada yang ditumbuhi lumut serta jamur.[5]
Isi prasasti
Prasasti yang berangka tahun 1108 Śaka atau 1186 Masehi ini berisi penetapan desa Mrwak (ejaan asli desa Mruwak) menjadi sima.[4] Penetapan ini disebabkan karena terjadinya serangan dari pihak luar, sehingga desa Mrwak kemudian dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi dari lokasi semula. Dalam prasasti disebutkan bahwa Mrwak adalah sebuah desa tua di kaki Gunung Wilis.[4]
Prasasti ini mencatat serangan tiba-tiba terhadap desa Mrwak yang dilakukan melalui jalur sungai dengan menggunakan kapal.[4] Pertempuran yang terjadi menewaskan banyak orang, termasuk tokoh bernama Sri Kanuruhan dan bala tentaranya.[4] Akibatnya, desa Mrwak dipindahkan agak jauh ke daerah yang lebih aman di kaki Gunung Wilis, dengan bantuan tokoh bernama Juru Manutan.[4] Selanjutnya, seorang pangeran bernama Ńwara Nusa Śarwwenayāpala ditunjuk untuk mengawasi wilayah sungai di arah barat laut desa guna mencegah terulangnya serangan serupa.[4]
Penggunaan kata Mrwak dalam prasasti ini masih dipakai hingga sekarang, sebagai penyebutan nama Desa Mruwak.[4] Sedangkan sungai yang berada di dekat desa sekarang disebut penduduk setempat dengan nama Kali Catur.[5]
12345678Machdi, Suhadi; Kartakusuma, Richadiana (1996). "Laporan Penelitian Epigrafi Di Wilayah Provinsi Jawa Timur"(PDF). Berita Penelitian Arkeologi (47). Proyek Penelitian Arkeologi Jakarta, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: 41, 57–58.
123Wardhani, D.S. Setya (1982/1983). "Çri Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu"(PDF). Seminar Sejarah Nasional III, Seksi Sejarah Kuno I. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: 83–91.