Prasasti Pagaruyung VI, sebelumnya dikenal sebagai Prasasti Kapalo Bukit Gombak II,[3] adalah salah satu prasasti yang ditemukan di Kapalo Bukit Gombak, Nagari Baringin, Tanah Datar, Sumatera Barat.[4] Prasasti Pagaruyung VI ini adalah prasasti batu monolit yang dipahat diatas batu berbahan andesit berwarna cokelat kekuningan.[4][5] Prasasti ini memuat teks yang bertalian erat dengan tradisi epigrafi Hindu-Budha di Nusantara yakni menggunakan bahasa Jawa Kuno, berbeda dari sebagian besar prasasti lain di Sumatera Barat yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno atau Sanskerta. Secara paleografis aksara yang digunakan merupakan aksara Pasca Pallawa pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-14 Masehi.[1][6]
Isi prasasti ini singkat, hanya terdiri atas dua baris. Bentuk goresan aksaranya tampak kurang rapi, yang mungkin berkaitan dengan tingkat keterampilan pemahat pada masa itu atau teknik pemahatan yang digunakan. Prasasti ini menyebutkan nama seorang tokoh bernama Tumanggung Kudawira, yang diduga merupakan pejabat lokal berpangkat menengah atau rendah.[4] Sejumlah peneliti memperkirakan tokoh tersebut memiliki latar belakang keturunan Jawa dan hidup sebelum atau pada masa pemerintahan Raja Adityawarman.[4]
Saat ini, Prasasti Pagaruyung VI menjadi bagian dari koleksi situs cagar budaya Sumatera Barat, dan dilestarikan oleh instansi pelindung warisan budaya bersama tujuh prasasti lainnya di Kompleks Prasasti Adityawarman, terletak di Gudam, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.[5]
Penemuan dan kajian awal
Prasasti-prasasti di Pagaruyung pertama kali diteliti oleh Dr. Nicolaas Johannes Krom, Ketua Komisi Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura. Ia ditugaskan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui Peraturan Pemerintah No.12 tertanggal 23 Maret 1912 untuk melakukan penelitian terhadap artefak dan prasasti di sekitar Benteng Van der Capellen, Batusangkar, Sumatera Barat. Penelitian tersebut dilakukannya pada minggu terakhir bulan April hingga awal Mei 1912.[7] Salah satu prasasti yang tercatat dalam hasil penelitian tersebut adalah Prasasti Pagaruyung VI, yang sebelumnya dikenal juga dengan nama Prasasti Kapalo Bukit Gombak II,[3] sesuai dengan lokasi penemuannya di Kapalo Bukit Gombak, Jorong Bukit Gombak, Nagari Baringin, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar.[4][8][9] Prasasti ini kemudian diinventarisasi sebagai barang antik oleh Krom, dan diterbitkan kembali oleh Brandes pada tahun 1913.[10][11]
Kompleks Prasasti Adityawarman
Prasasti ini merupakan salah satu dari delapan prasasti yang ditemukan di sekitar Bukit Gombak, yang kemudian dikumpulkan di satu lokasi yang kini dikenal sebagai Kompleks Prasasti Adityawarman. Di lokasi tersebut, kedelapan prasasti dinamakan sebagai Prasasti Pagaruyung I hingga VIII.[12] Kompleks ini terletak di Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di pinggiran jalan Pagaruyung-Batusangkar, Sumatera Barat.[12] Kompleks Prasasti Adityawarman saat ini berfungsi sebagai situs arkeologi yang dilindungi dan menjadi lokasi penelitian sejarah, sekaligus tujuan wisata budaya bagi masyarakat dan akademisi yang tertarik mempelajari sejarah Sumatera Barat, khususnya masa awal kerajaan-kerajaan di wilayah Minangkabau.[13]
Deskripsi
Prasasti Pagaruyung VI dipahat pada batu monolit berbahan andesit dengan warna cokelat kekuningan. Bentuk batuan bersifat vertikal memanjang dengan konfigurasi persegi panjang, tetapi bagian tepinya tampak tidak beraturan dan tidak dipahat secara simetris. Tulisan terletak pada bagian atas permukaan batu dan ditorehkan dengan goresan yang relatif kecil, kasar, serta kurang terstruktur secara visual; yang mungkin mencerminkan keterbatasan teknis atau tujuan penulisan yang bersifat ringkas.[5][14]
Secara dimensi, prasasti ini berukuran tinggi 100 cm, lebar 36 cm, dan tebal 46,5 cm.[15][16] Meskipun tinggi dan lebar batu tergolong besar, proporsi antara permukaan batu dan sebaran tulisan tampak tidak seimbang. Ruang kosong di sekeliling teks pada permukaan batu mendominasi; teks terpusat di bagian atas, menunjukkan bahwa elemen monumental mungkin lebih diutamakan daripada fungsi komunikatif yang kompleks, sebagaimana yang lazim ditemukan pada prasasti berisi narasi panjang lainnya.[17]
Alih aksara dan alih bahasa
Prasasti ini hanya terdiri dari dua baris, beberapa ahli telah mengajukan alih aksara serta alih bahasa dari teks aslinya ke dalam abjad Latin, sebagai berikut:[a]
Alih aksara
Berdasarkan kajian paleografis, aksara yang digunakan pada Prasasti Pagaruyung VI merupakan turunan dari aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan. Menurut Louis-Charles Damais (1995: 12-13), sebagaimana dikutip oleh Sri Ambarwati Kusumadewi (2012), aksara Pallava di Sumatra berkembang secara mandiri dan menghasilkan suatu varian tersendiri yang disebut aksara Sumatra Kuno, yang memiliki ciri khas yang tidak ditemukan di wilayah lain. Pada prasasti-prasasti dari masa Adityawarman, ditemukan sejumlah bentuk huruf yang menunjukkan keterkaitan langsung dengan ragam Pallawa, bukan dengan aksara Jawa Kuno. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan tradisi tulisan di Sumatra yang berlangsung secara independen dari evolusi aksara di Jawa.[8]
Berikut adalah versi pembacaan alih aksara[b] kritis Prasasti Pagaruyung VI menurut Krom (1912, Laporan Arkeologi, kuartal II, hlm. 43, nomor 28),[10] diterbitkan ulang oleh Brandes tanpa perubahan pada tahun berikutnya, sbb.:[11][18]
oṃ pagunnira tumanggung ku
ḍawira
Dalam pembacaan ulang oleh Arlo Griffiths (2012), terdapat pendapat alternatif mengenai bentuk huruf serta interpretasinya. Tanda kurung menunjukkan dua kemungkinan pembacaan, yaitu pabhunnira atau pagunnira, Berikut ini adalah alih aksara diplomatis menurut Griffith, sbb.:[19]
°om̐ pa(bh/g)unnira tumaṅguṃ ku-
ḍa vira |
Alih bahasa
Foto jarak dekat tulisan pada bagian atas batu prasasti
Simbol °om̐ (Oṁ) yang muncul pada awal sebuah prasasti merupakan awalan sakral[20][21] yang lazim ditemukan dalam manuskrip kuno dari masa Hindu-Buddha. Penggunaan simbol ini menandai dimulainya teks yang dianggap suci atau penting secara religius, terutama oleh aliran Saiwa Siddhanta yang tersebar dari India Selatan.[20][22] Di Indonesia, aliran ini memuja Tripurusa (Brahma, Wisnu, dan Siwa sebagai dewa tertinggi) serta manifestasinya berupa lingga dan suku kata suci Om.[20][21] Kehadiran simbol ini pada prasasti yang dikeluarkan pejabat pemerintah sering kali menunjukkan adanya tindakan pemujaan.[22]
Krom maupun Brandes adalah dua peneliti awal yang mengusulkan pembacaan oṃ pagunnira tumaṅguṅ kuḍavira sebagai alternatif interpretasi teks, meskipun mereka tidak memberikan saran penerjemahan.[18]
Usulan alih bahasa teks pertama kali diajukan oleh Machi Suhadi (1990), yang menerjemahkan teks tersebut sebagai:[4][14][23]
"Selamat ditetapkannya Tumanggung Kudawira"
Kemudian, Budi Istiawan (2006) mengusulkan alternatif terjemahan lainnya, yaitu:[4][14][23]
"Bahagia. Atas hasil kerja Tumanggung Kudawira"
Setelah itu, Arlo Griffiths (2012) mengkritisi kedua versi alih bahasa sebelumnya, karena kata pagunnira, baik dari segi elemen tata bahasa maupun kosakata, tidak dapat diartikan sebagai "ditetapkannya" atau "atas hasil kerja".[19] Berdasarkan analisis paleografis, kata dasar pagun (yang di sini ditambahkan akhiran -nira) menurut kamus Zoetmulder (1982:1231) berarti "dasar yang kokoh" atau "dukungan" (pagon, dalam bahasa Jawa). Maka, pagunnira ditafsirkan secara kiasan sebagai "makamnya" atau "tempat peristirahatannya". Selain itu, Griffiths juga menyarankan kemungkinan pembacaan alternatif sebagai pabhunnira (dari pa-awu-an, bahasa Jawa: "perabuan", atau "tempat penyimpanan abu").[19] Dari hasil analisis tersebut, Griffiths mengusulkan dua alih bahasa berikut:[4][19]
"Om. Tempat peristirahatan Tumanggung Kudawira", dan
"Om. Tempat penyimpanan abu Tumanggung Kudawira".
Konteks sejarah dan interpretasi
Dalam Prasasti Pagaruyung VI, disebutkan nama seorang tokoh, Tumanggung Kudawira, yang menurut Uli Kozok diperkirakan adalah seorang pejabat keturunan Jawa dengan pangkat menengah atau lebih rendah, status sosial ini belum dapat di[pastikan secara definitif dari sumber prasasti saja. Menurut analisis paleografis dan perbandingan nama dalam prasasti lain, masa hidupnya diperkirakan sebelum atau pada masa pemerintahan Adityawarman (abad ke-13-14).[4] Gelar tumanggung sendiri merupakan jabatan administratif yang lazim digunakan dalam sistem pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa, seperti Singhasari dan Majapahit.[24][25] Nama Kudawira secara etimologis dapat diartikan sebagai "kuda yang gagah perwira", yang mungkin merepresentasikan sifat kepahlawanan atau simbolis dari tokoh tersebut.[12] Berdasarkan gelar dan unsur nama tersebut, besar kemungkinan Kudawira adalah tokoh keturunan Jawa.[25] Namun, identitas lengkapnya belum dapat dipastikan karena tidak ditemukan sumber lain yang menyebutkan namanya.[14]
Prasasti Padang Roco, yang terukir di alas patung Amoghapasa, menyebutkan nama tokoh Rakryan Damung Pu Vira. Griffiths menduga ada keterhubungan dengan Tumanggung Kuda Wira pada Prasasti Pagaruyung VI, berdasarkan kemiripan nama dan gelar Jawa yang dipakainya.
Budi Istiawan memperkirakan prasasti tersebut berasal dari masa sebelum pemerintahan Raja Adityawarman. Hal ini didasarkan pada latar belakang sejarah Adityawarman, yang dipersamakan dengan putra dari Dara Petak, seorang bangsawati dari Kerajaan Melayu yang disebutkan dalam kitab Pararaton dibawa ke Jawa oleh pasukan Singhasari sekembalinya mereka dari Ekspedisi Pamalayu.[26] Istiawan berpendapat mungkin saja Tumanggung Kudawira ini adalah salah satu anggota rombongan ekspedisi tersebut, yang datang ke Sumatera sebelum masa Adityawarman.[26]
Demikian pula interpretasi terhadap fungsi prasasti ini juga beragam. Menurut Istiawan, Prasasti Pagaruyung VI dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan atau pengukuhan otoritas atas jasa Tumanggung Kudawira. Dengan demikian, prasasti ini kemungkinan berfungsi sebagai cap atau stempel otoritatif yang menandai status atau peran tokoh tersebut.[14] Sebaliknya, Arlo Griffiths berpendapat bahwa prasasti ini bukan merupakan prasasti resmi kerajaan. Ia melihat bahwa tidak terdapat nama raja, tahun, peristiwa penting, maupun informasi administratif yang lazim ditemukan dalam prasasti resmi kerajaan Adityawarman. Oleh karena itu, Griffiths menyimpulkan bahwa prasasti ini lebih tepat dipahami sebagai memorial atau penanda makam.[19]
Griffiths memperkuat argumentasinya dengan menyebutkan adanya nama-nama yang memiliki kemiripan fonetik atau struktural dalam sejumlah prasasti lain yang berasal dari periode dan wilayah yang berdekatan. Salah satu contohnya adalah tokoh Biraparākramakuda dalam Prasasti Pagaruyung VII (disebut juga Prasasti Gudam II) yang berbahasa Melayu Kuno, yang kini disimpan berdampingan dengan Prasasti Pagaruyung VI. Selain itu, Prasasti Padang Roco yang tertulis pada alas patung Amoghapāśa dan bertarikh 1286 M juga mencatat kehadiran pejabat Jawa bernama Rakryān Damuṅ Pu Vīra, yang merupakan bagian dari misi diplomatik Singhasari ke Sumatera (dari Bhūmi Jāva ka Svarṇnabhūmi).[27]
Meskipun Prasasti Padang Roco berasal dari masa yang lebih awal—sekitar beberapa dekade hingga lebih dari satu abad sebelumnya—Griffiths mengemukakan bahwa kemunculan unsur bahasa Jawa Kuno dalam prasasti-prasasti di Sumatera Barat mencerminkan kemungkinan proses migrasi langsung dari Jawa, atau bahkan adanya kesinambungan garis keturunan pejabat dari Jawa seperti Rakryān Damuṅ Pu Vīra tersebut. Ia juga menegaskan bahwa persoalan ini masih terbuka untuk kajian lebih lanjut, dan menjadi bagian dari rencana penulisan monograf epigrafisnya mengenai prasasti-prasasti Ādityawarman.[27]
Upaya pelestarian
Prasasti ini telah resmi diakui sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional. Penetapan status cagar budaya dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 77/M/2019, yang diterbitkan pada tanggal 12 Maret 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.[28]
↑Para ahli umumnya melakukan alih aksara berdasarkan standar IAST (International Alphabet of Sanskrit Transliteration)
↑Alih aksara Prasasti Pagaruyung VI telah dikaji menggunakan dua pendekatan, yaitu alih aksara diplomatis dan alih aksara kritis. Alih aksara diplomatis mempertahankan bentuk tulisan asli dengan perbandingan satu banding satu terhadap huruf Latin, sedangkan alih aksara kritis menyesuaikan bentuk huruf dengan bunyi fonem bahasa yang digunakan.
123BPCB Sumbar (30 Desember 2016). "Kompleks Prasasti Adityawarman". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 31 Agustus 2018.
12Ekawana, I Gusti Putu (1985). "Selembar Prasasti Raja Patih Kbo Parud"(PDF). Pertemuan Ilmiah Arkeologi III (PIA III): Ciloto 23-28 Mei 1983. Proyek Penelitian Purbakala Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: 513.
Istiawan, Budi (2006). Selintas Prasasti dari Melayu Kuno(PDF) (Edisi 1). Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar (Wilayah Kerja Provinsi Sumatera Barat dan Riau). hlm.39–40.