Sleman SEMBADA (Sejahtera, lestari, mandiri, sehat, elok dan edi, makmur dan merata, bersih dan berbudaya, aman dan adil, damai dan dinamis, agamis)[5]
Bagian utara kabupaten ini merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Merapi di perbatasan dengan Jawa Tengah, salah satu gunung berapi aktif yang paling berbahaya di Pulau Jawa. Sedangkan di bagian selatan merupakan dataran rendah yang subur. Di antara sungai-sungai besar yang melintasi kabupaten ini adalah Kali Progo (membatasi Kabupaten Sleman dengan Kabupaten Kulon Progo), kali Code, kali Kuning, kali Opak dan Kali Tapus.
Sejarah
Etimologi
Terdapat beberapa perbedaan mengenai asal-usul nama Sleman:
Versi pertama menyebutkan kata Sleman berasal dari kata Saliman, kata Liman sendiri berarti gajah dalam Bahasa Jawa. Nama tersebut muncul setelah ditemukannya sebuah patung gajah beserta dua anaknya yang di tempat yang kini menjadi Lapangan Denggung. Konon gajah itu merupakan tunggangan Sultan Hadiwijaya, penguasa Kesultanan Pajang.[8]
Versi lain menyebutkan bahwa kata Saliman sudah lama tercatat di Kakawin Ramayana, yang ditulis pada masa kepemimpinan Sri Maharaja Rakai Pikatan era kerajaan Mataram Kuno. Dalam Kakawin Ramayana, saliman adalah kata yang merujuk pada pohon Randu alas (bombax ceiba). Secara harfiah, arti kata saliman adalah api, tetapi pada masa tersebut pohon randu alas sering dilambangkan dengan api. Hal itu karena ketika berbunga, daun randu alas akan gugur semua dan digantikan oleh bunga yang berwarna merah seperti api.[8]
Sejarah
Keberadaan Kabupaten Sleman dapat dilacak pada Rijksblad no. 11 Tahun 1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta dalam 3 kabupaten, yakni Kabupaten Kalasan, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sulaiman (yang kemudian disebut Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya. Dalam rijksblad tersebut juga disebutkan bahwa kabupaten Sulaiman terdiri dari 4 distrik yakni: Distrik Mlati (terdiri 5 onderdhistrik dan 46 kalurahan), Distrik Klegoeng (terdiri 6 onderdhistrik dan 52 kalurahan), Distrik Djoemeneng (terdiri 6 onderdhistrik dan 58 kalurahan), Distrik Godean (terdiri 8 onderdhistrik dan 55 kalurahan).
Sedangkan dalam peta Vorstenlanden yang dirilis oleh pemerintah Hindia Belanda pada sensus penduduk tahun 1930, Kabupaten Sleman ditulis sebagai Kabupaten Kota Yogyakarta dan terbagi dalam tiga kawedanan, yakni Sleman, Mlathi dan Kalasan.[9]
Berdasarkan Peraturan Daerah no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari tersebut tepat pada hari Senin Kliwon, tanggal 12 Rejeb tahun Je 1846 wuku Wayang.
Berdasar pada perhitungan tahun Masehi, Hari Jadi Kabupaten Sleman ditandai dengan suryasengkala "Rasa Manunggal Hanggatra Negara" yang memiliki sifat bilangan Rasa=6, Manunggal=1, Hanggatra=9, Negara=1, sehingga terbaca tahun 1916. Sengkalan tersebut, walaupun melambangkan tahun, memiliki makna yang jelas bagi masyarakat Jawa, yakni dengan rasa persatuan membentuk negara. Sedangkan dari perhitungan tahun Jawa diperoleh candrasengkala "Anggana Catur Salira Tunggal". Anggana=6, Catur=4, Salira=8, Tunggal=1. Dengan demikian dari candrasengkala tersebut terbaca tahun 1846.
Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat diturunkan statusnya menjadi distrik di bawah wilayah Kabupaten Yogyakarta. Dan baru pada tanggal 8 April 1945, Sultan Hamengkubuwana IX melakukan penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei angka 2 (dua). Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai wilayah Kabupaten dengan K.R.T. Pringgadiningrat sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17 kapenewon/kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo. Melalui Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 tahun 1948 tentang perubahan daerah-daerah kelurahan, maka 258 kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi 86 kelurahan/desa. Kelurahan/desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan.
Pusaka dan Identitas Daerah
Kabupaten Sleman memiliki pusaka berwujud tombak dengan nama Kyai Turunsih (tangguh Ngayogyakarta) pemberian dari Raja Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana X pada Sabtu Kliwon, 29 Sapar Ehe 1932 atau 15 Mei 1999. Penyerahan pusaka tersebut kepada bupati Sleman dikawal oleh 2 bregadaprajuritKraton Yogyakarta yakni bregada Ketanggung dan bregada Mantrijero. Pusaka itu dibawa seorang abdiKraton Yogyakarta, K.R.T. Pringgahadiseputra.
Tombak Kyai Turunsih memiliki dhapur (pangkal) cekel beluluk Ngayogyakarta dan pamorberas wutah (wos wutah) wengkon. Pamor pusaka itu sesuai kondisi Sleman sebagai gudang berasnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Tombak tersebut memiliki panjang sepanjang kurang lebih 270cm dan pangkal sepanjang 49cm.
Menurut Sultan Hamengkubuwana X, tombak Kyai Turunsih mengisyaratkan laku ambeg paramarta, dilandasi olah rasa kasih sayang, yang mencakup wilayah se-Kabupaten Sleman sebagaimana sebuah keluarga besar yang harmonis, mulat sarira sesuai hari jadinya "Anggana Catur Sarira Tunggal" yang terbaca tahun 1846 Jawa. Candrasengkala tersebut mengemukakan sikap kearifan tradisional di empat penjuru yang manunggal pada jiwa kesatuan, yang menjadi unsur kasepuhannya.
Kabupaten Sleman memiliki 17 kapanewon dan 86 kalurahan. Pada tahun 2017, jumlah penduduk mencapai 1.062.861 jiwa yang tersebar di wilayah seluas 574,82 km² dengan tingkat kepadatan penduduk 1.849 jiwa/km².[14][15]
Daftar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Sleman, adalah sebagai berikut:
Sleman merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2020, tercatat produk domestik regional bruto (PDRB) lapangan usaha atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp 45,83 triliun.[17]
Perekonomian Sleman mayoritas ditopang melalui sektor pengolahan, yakni mencapai Rp 6,16 triliun (13,4%) dan sektor konstruksi yang mencapai Rp 5,04 triliun (10,99%) dari total PDRB.
Pasar tradisional tersebar di seluruh kapanewon di Sleman. Pusat perekonomian Sleman justru bukan berada di Kota Sleman. Kota Sleman difokuskan sebagai wilayah kerja pemerintahan kabupaten. Pusat perekonomian Sleman berada di wilayah yang menjadi kota satelit dari Kota Yogyakarta, seperti Depok, Mlati, Gamping, dan Ngaglik.
Pada tahun 2021, jumlah penduduk kabupaten Sleman adalah 1.125.804 jiwa, dengan kepadatan mencapai 2.076,32 per km2 nya. Kapanewon Depok menjadi wilayah dengan jumlah penduduk paling tinggi di Sleman, yakni 131.005 jiwa. Hal tersebut sangat wajar mengingat kapanewon Depok merupakan bagian dari kota satelit Kota Yogyakarta. Sedangkan kapanewon Cangkringan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk paling rendah di Sleman, yakni 31.131 jiwa.[7]
Kabupaten Sleman bersama dengan kota Yogyakarta dan kabupaten Bantul tergabung dalam wilayah penyangga urban bernama Kartamantul, yang merupakan akronim dari Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. wilayah Sleman yang masuk dalam aglomerasi Kartamantul berada di Kapanewon Depok, Mlati, Gamping dan Ngaglik. Dengan luas wilayah 1.114,15km², wilayah aglomerasi Kartamantul memiliki total jumlah penduduk lebih dari 2.4 juta jiwa.[18]
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Surat Keputusan Gubernur No.163/KEP/2017 menyatakan pembentukan sekretariat bersama Kartamantul, dengan tujuan untuk mempermudah sinergi kerjasama antar ketiga wilayah dalam hal sampah, pengolahan limbah, drainase, jalan, transportasi, dan air bersih.[19]
Islam merupakan agama mayoritas yang dianut masyarakat kabupaten Sleman dengan persentase 90,58%, dengan jumlah penganut Kristen yang relatif signifikan yakni 9,25% (Katolik 6,28% dan Protestan 2,37%). Sebagian kecil lagi adalah pemeluk agama Hindu yakni 0,10%, Buddha 0,06% dan agama Lainnya 0,01%, termasuk Konghucu dan penghayat kepercayaan.[1]
Sleman pernah menjadi basis keagamaan Hindu dan Buddha pada masa Kerajaan Mataram Kuno, hal ini dibuktikan dengan adanya temuan beberapa candi di sekitar Kalasan, Prambanan, Ngemplak dan Berbah. Sleman juga memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di era Mataram Baru, khususnya setelah dibagi ke dalam wilayah Yogyakarta. Beberapa masjid Pathok Negoro milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berada di Sleman, seperti masjid Pathok Negoro Mlangi di Gamping dan masjid Pathok Negoro Plosokuning di Ngaglik.
Transportasi
Kabupaten Sleman dilintasi jalur antarprovinsi yang menghubungkan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Jawa Tengah. Ruas jalan lingkar dalam kota Yogyakarta juga melewati kabupaten ini. Hal tersebut membuat banyak angkutan umum, angkutan kota dan angkutan antarkota dari Kota Yogyakarta dan Kota Magelang melewati Sleman.
Rute Trans Jogja yang titik awal keberangkatan berawal dari Sleman dan melewati beberapa tempat di penjuru Daerah Istimewa Yogyakarta adalah:
[[Koridor 1B Trans Jogja|]]: Terminal Jombor - Jogja City Mall - Jalan Magelang - Pasar Kranggan - Mangkubumi - Malioboro - Sosrowijayan - Stasiun Yogyakarta - Samsat - Jalan Magelang - Jogja City Mall - Terminal Jombor;
: Candi Prambanan - Bandar Udara Adisutjipto - Plaza Amabarukmo - Jalan Malioboro - Stadion Kridosono - Plaza Ambarukmo - Bandar Udara Adisutjipto - Cnadi Prambanan;
: Bandar Udara Adisutjipto - Seturan - JEC - Kebun Binatang Gembira Loka - Pura Pakualaman - Jalan Mataram - Stasiun Yogyakarta - Terminal Ngabean - Taman Pintar - Pura Pakualaman - Kebun Binatang Gembira Loka - JEC - Bandar Udara Adisutjipto;
: Terminal Condongcatur - Monumen Jogja Kembali - Terminal Jombor - Jalan Malioboro - Taman Pintar - Pura Wisata - XT Square - Kebun Binatang Gembira Loka - Stadion Mandala Krida - Stasiun Lempuyangan - Stadion Kridosono - UGM - UNY - Terminal Condongcatur;
: Terminal Condongcatur - UNY - UGM - Stadion Kridosono - Stasiun Lempuyangan - Stadion Mandala Krida - Kebun Binatang Gembira Loka - XT Square - Purawisata - Taman Pintar - Terminal Ngabean - Samsat - Terminal Jombor - Monumen Jogja Kembali - Terminal Condongcatur;
: Terminal Jombor - Stadion Kridosono - Plaza Ambarukmo - Janti - Seturan - Terminal Condongcatur - Jalan Kaliurang - UGM - Monumen Jogja Kembali - Terminal Jombor;
: Terminal Jombor - Monumen Jogja Kembali - UGM - Jalan Kaliurang - Terminal Condongcatur - Seturan - Bandar Udara Adisutjipto - Janti - Plaza Ambarukmo - Stadion Kridosono - Terminal Jombor;
: Park and Ride Gamping - RS PKU Gamping - UMY - Pabrik Gula dan Pabrik Spiritus Madukismo - Ngabean -Malioboro - Ngabean - Pabrik Gula dan Pabrik Spiritus Madukismo - UMY - RS PKU Gamping - Park and Ride Gamping;
: Terminal Jombor - RSA UGM - Jalan Siliwangi - Jalan Godean - Jalan Mangkubumi - Stadion Kridosono - Jalan Malioboro - Terminal Ngabean - Samsat - Jalan Godean - Jalan Siliwangi - RSA UGM - Terminal Jombor;
: Park and Ride Gamping - Jalan Wates - Terminal Ngabean - Jalan Mataram - Stadion Kridosono - Stasiun Lempuyangan - Jalan Mataram - Jalan Malioboro - Terminal Ngabean - Jalan Wates - Park and Ride Gamping;
: Terminal Condongcatur - Jalan Kaliurang - UGM - Jalan Kaliurang - UII - Terminal Pakem - UII - Jalan Kaliurang - UGM - Jalan Kaliurang - Terminal Condongcatur
: Pusat Kuliner Belut Godean - Jalan Godean - Stadion Kridosono - Jalan Malioboro - Terminal Ngabean - Jalan Godean - Pusat Kuliner Belut Godean
: Bandar Udara Adisutjipto - Jalan Ring Road Utara - Jalan Raya Tajem - Jangkang - UII - Terminal Pakem - UII - Jangkang - Jalan Raya Tajem - Jalan Ring Road Utara - Bandar Udara Adisutjipto
Angkutan kereta api
Stasiun Maguwo di Kapanéwon Depok merupakan satu-satunya stasiun kereta api di Sleman yang masih melayani layanan kereta api penumpang. Terletak di jalur utama selatan dan tengah Pulau Jawa, Stasiun Maguwo hanya melayani komuter Commuter Line Yogyakarta. Ada pula Stasiun Patukan yang berada di Kapanéwon Gamping, tetapi hanya melayani persilangan dan persusulan antar kereta api.
Dulu juga ada stasiun, tetapi di nonaktifkan. Berikut adalah stasiun nonaktif:
Kabupaten Sleman memiliki 25 puskesmas yang tersebar di 17 kecamatan, 19 di antaranya memenuhi standar pelayanan ISO 9001:2000/9001:2008. Tahun 2023, jumlah rumah sakit di Sleman sebanyak 19 unit, menurun dari 21 unit pada tahun 2020. Salah satu fasilitas kesehatan utama adalah RSUD Sleman, yang didukung oleh jajaran dokter spesialis. Tenaga medis spesialis di rumah sakit tersebut terdiri atas 5 dokter penyakit dalam , 4 dokter anak , 3 dokter kebidanan dan kandungan , 3 dokter jantung dan pembuluh darah , 2 dokter bedah umum , 2 dokter jiwa , 2 dokter THT , 2 dokter spesialis saraf , 2 dokter orthopedi , 2 dokter bedah onkologi , 2 dokter rehab medik , 2 psikolog , 1 dokter mata , 1 dokter kulit dan kelamin yang juga praktik di poli kecantikan , 1 dokter urologi , 1 dokter paru-paru , 1 dokter bedah saraf , 1 dokter radiologi , 1 dokter patologi anatomi , 1 dokter patologi klinik , 1 dokter bedah anak , serta 1 dokter gigi spesialis bedah mulut dan 1 dokter gigi spesialis konservasi gigi , dan 1 dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak.[20]
Jumlah puskesmas pembantu di seluruh kabupaten sebanyak 54 unit, didukung oleh 37 unit poliklinik dan 60 unit apotik. Distribusi tenaga kesehatan meliputi dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga farmasi, serta ahli gizi. Pada tahun 2023, terjadi peningkatan jumlah dokter dan tenaga farmasi dari tahun sebelumnya, sementara jumlah bidan dan ahli gizi menurun. Isu kesehatan lain pada tahun 2024 adalah temuan 2.557 kasus tuberkulosis, dengan prevalensi 228,6 per 100.000 penduduk. Mayoritas pasien berada pada rentang usia produktif 15-54 tahun. Dari sisi demografi kesehatan, Umur Harapan Hidup (UHH) penduduk Kabupaten Sleman pada tahun 2023 sebesar 75,26 tahun. Berdasarkan data BPS Juni 2024, dari total 1,12 juta jiwa penduduk, 64,75% atau 724,19 ribu jiwa berada dalam kelompok usia produktif (15-59 tahun). Sektor jasa kesehatan memberikan sumbangan 3,09 persen terhadap perekonomian daerah. Pemerintah daerah terus melanjutkan alokasi anggaran untuk program jaminan kesehatan daerah, sebuah program untuk warga miskin dan masyarakat rentan tanpa jaminan kesehatan, termasuk anak jalanan, gelandangan, dan pengemis. Kebijakan pendukung lainnya adalah Peraturan Bupati Sleman Nomor 31 Tahun 2024 tentang Penyesuaian Tarif Retribusi Pelayanan Kesehatan.[21]
Pariwisata
Kabupaten Sleman merupakan rumah bagi banyak candi, termasuk Prambanan,[22]Sari,[23]Kalasan,[24] dan Ijo.[25] Selain candi, terdapat pula reruntuhan sebuah istana kuno, yakni Ratu Boko.[26] Candi-candi dan reruntuhan ini, yang diyakini merupakan peninggalan dari dinasti Buddha Sailendra dan kerajaan Hindu Mataram,[26] semuanya terbuka untuk umum. Namun, Candi Prambanan menjadi yang paling populer bagi wisatawan, menarik ribuan pengunjung lokal dan mancanegara setiap tahunnya.[27]
Berkat pemandangannya di kaki Gunung Merapi, ekowisata juga menjadi hal yang umum di Kabupaten Sleman. Salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi adalah Kaliurang, sebuah kota wisata yang terletak di Kecamatan Pakem.[30]
Kabupaten Sleman memilki bandara domestik yaitu Bandar Udara Internasional Adisucipto. Terdapat banyak hotel di wilayah ini, mulai dari homestay dan penginapan kecil hingga hotelberbintang. Hotel-hotel berbintang umumnya terletak di sepanjang jalan antara Yogyakarta dan Surakarta, sedangkan homestay dan penginapan tersebar di seluruh wilayah kabupaten.
Tempat wisata
Logo pariwisata Sleman. Tidak seperti logo pariwisata lainnya di DIY, logo ini diluncurkan pada tahun 2017 dan diwujukan dengan basis penjenamaan Jogja Istimewa, yang disetujui oleh 60% responden yang hadir.[31]
Setelah letusan Gunung Merapi tahun 2010, daerah terdampak menjadi tujuan wisata bencana.[43] Wisatawan dari berbagai daerah datang untuk melihat langsung area terdampak, baik untuk berwisata, mengenang, maupun berduka cita.[44]
Kuliner khas
Jadah Tempe, salah satu makanan khas Sleman.
Sleman memiliki banyak makanan dan minuman khas daerah. Jadah tempe adalah makanan khas Sleman yang merupakan gabungan dari dua jenis makanan yaitu jadah yang merupakan olahan dari ketan dan tempe ataupun tahu. Baik tempe atau tahunya biasanya diolah dengan cara dibacem. Di masyarakat umum, jadah lebih dikenal dengan nama gemblong. Jadah tempe banyak ditemui di daerah Kaliurang.
Sedangkan di Sleman bagian barat, terdapat sentra industri keripik belut yang terletak di Kapanewon Godean. Keripik belut mulai dikembangkan oleh masyarakat Godean sejak dekade 1980-an dan berkembang hingga saat ini. Godean juga memiliki sentra kuliner keripik belut yang terletak tak jauh dari pasar Godean.
Ayam goreng Kalasan juga menjadi salah satu makanan utama khas sleman. Ayam goreng Kalasan memiliki cita rasa yang berbeda dikarenakan memakai bumbu yang sederhana dengan cara diungkep. Selain itu, kremes atau remahan rennyah yang terbuat dari tepung kanji juga menjadi salah satu daya tarik dari ayam goreng Kalasan. Pusat kuliner ayam goreng Kalasan berada di Dusun Bendan, Kalurahan Tirtomartani, yang terletak di pinggir jalan raya Yogyakarta-Surakarta. Kuliner ini sudah menjadi franchise restoran di Seluruh Indonesia.
Tanaman ini dipilih menjadi flora identitas Kabupaten Sleman karena merupakan jenis tanaman Salak khas di wilayah Sleman dan telah menjadi kebanggaan masyarakat Sleman. Awalnya, Partodiredjo, seorang Jogoboyo desa pada Kapanewon Tempel, pada tahun 1917 menerima kenang-kenangan empat butir biji salak dari seorang warga negara Belanda yang akan kembali ke negerinya karena masa tugasnya telah berakhir.
Biji salak yang kemudian ditanam dan dibudidayakannya dengan baik ternyata menghasilkan buah yang manis dan tidak sepat, tidak seperti buah Salak yang selama itu dikenalnya. Pada tahun 1948-an tanaman Salak tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Muhadiwinarto (putra Partodiredjo) warga Sokobinangun, Merdikorejo, Tempel. Karena kelebihannya dalam hal rasa, tanaman salak tersebut cepat berkembang pesat penyebarannya.
Burung punglor
Di wilayah Sleman, burung yang bersuara merdu ini berhabitat kebun Salak Jawa. Dengan makanan utama cacing tanah dan kumbang (uret). Punglor merupakan predator bagi hama tanaman Salak Jawa. Namun, keberadaannya semakin berkurang seiring berkurangnya habitat kebun Salak Jawa. Masyarakat lebih banyak memilih menanam salak pondoh.[45]
Sekolah Tinggi Bahasa Asing Lembaga Indonesia-Amerika
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (Akademi Administrasi Notokusumo)
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bank
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mitra Indonesia
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata API (Akademi Pariwisata Indonesia)
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Solusi Bisnis Indonesia
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (Yayasan Keluarga Pahlawan Negara)
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Guna Bangsa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Husada
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN
Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA
Sekolah Tinggi MultiMedia "MMTC"
Bahasa
Menurut Badan Bahasa, bahasa Jawa dialek Jogja-Surakarta merupakan bahasa daerah yang dituturkan mayoritas penduduk Kabupaten Sleman.[46] Menurut Statistik Kebahasaan 2019, bahasa ini menjadi satu-satunya bahasa daerah asli Kabupaten Sleman.[47] Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Sleman adalah bahasa Indonesia.
Seni budaya
Sleman sebagai salah satu bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta tentunya memiliki kebudayaan daerah yang beragam. Beberapa seni, budaya dan tradisi yang berasal dari Sleman antara lain:
Bregada rakyat berbeda dengan prajurit bregada yang ada di dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bregada rakyat dibentuk oleh masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai wujud rasa cinta mereka kepada bregada keraton.[48]
Bregada rakyat juga dapat ditemui di Sleman. Biasanya bregada ini dimiliki oleh paguyuban warga di suatu pedukuhan, dan biasanya akan ditampilkan dalam beberapa acara desa yang bertajuk budaya. Beberapa bregada rakyat dari Sleman, seperti bregada Manunggaling Kawula dari kapanewon Berbah, bregada Pager Bumi dari kapanewon Turi, dan bregada Wira Manggala dari kapanewon Gamping. Bregada-bregada ini juga menjadi daya tarik wisata di Sleman.[49]
Olahraga
Sleman memiliki fasilitas olahraga berupa dua stadion, satu berada di Maguwoharjo dan satu lagi berada di kota Sleman, yakni Stadion Tridadi. Stadion Maguwoharjo dipersiapkan untuk pergelaran sepak bola nasional maupun internasional. stadion tersebut sama-sama menjadi markas klub sepak bola PSS Sleman.
PSS Sleman merupakan klub sepak bola yang berdiri pada tanggal 20 Mei 1976 semasa periode kepemimpinan Bupati Drs. KRT. Suyoto Projosuyoto. Kini, PSS Sleman merupakan salah satu peserta kompetisi tertinggi dalam pergelaran sepak bola Indonesia, yakni Liga 1 Indonesia.
12Kabupaten Sleman Dalam Angka 2021 (Report). Sleman: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman. hlm.114. Diarsipkan dari asli(pdf) tanggal 2021-12-04. Diakses tanggal 4 Desember 2021.
↑Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta (12 Januari 2022). "Mengenal Lebih Dekat Museum Monumen Yogya Kembali". Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta. Diakses tanggal 4 Juni 2025.
↑Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. "Museum Seni Lukis Affandi". Gregah Museum. Diakses tanggal 4 Juni 2025.