Masjid Jami' Al-Azhar di Kuala Pembuang, sekitar tahun 1970-an.
Menurut laporan Radermacher, pada tahun 1780 yang menjabat sebagai kepala daerah Pembuang (sekarang Kabupaten Seruyan) adalah Raden Jaya, yang memerintah di bawah otoritas Kesultanan Banjar.[5]
Pada tanggal 13 Agustus 1787, kekuasaan atas wilayah Pembuang Banjar diserahkan oleh Sultan Tahmidullah II dari Banjar kepada Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).[6] Pada tahun 1834, Kjai ngabei Djaja-negara menjabat sebagai kepala daerah Pambuang.
Menurut Staatsblad van Nederlandisch Indië pada tahun 1849, wilayah ini termasuk dalam Zuid-ooster-afdeeling berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[7] Kemudian, pada tahun 1855, daerah ini dimasukkan ke dalam De zuider-afdeeling van Borneo.[8]
Selama masa pemerintahan Distrik Pembuang, wilayah Seruyan terdiri dari 13 Kampung yang waktu itu disebut "Shoofd", dan pejabat pemerintahannya disebut "Asisten Kjai", sedangkan kedudukan pemerintahannya langsung dari Sampit. Kampung-kampung tersebut adalah Kampung Beratih (sekarang Kuala Pembuang), Kampung Telaga Pulang, Kampung Sembuluh, Kampung Pembuang Hulu, Kampung Asam, Kampung Durian Kait, Kampung Sandul, Kampung Sukamandang, Kampung Rantau Pulut, Kampung Tumbang Kale, Kampung Tumbang Manjul, Kampung Sepundu Hantu, Kampung Tumbang Darap.[9]
Pada tahun 1902, terjadi perpindahan pusat Pemerintahan "Onderdistrict" dari Telaga Pulang ke Pembuang Hulu. Kemudian, pada tahun 1905, ibu kota distrik dipindahkan lagi ke Kuala Pembuang, karena letaknya di pesisir selatan, sehingga dianggap strategis terutama bagi kegiatan pemerintahan, perhubungan dan perekonomian saat itu.[9]
Selama Revolusi Nasional Indonesia, Kapten Mulyono membangun sebuah basis militer Tentara Rakyat Indonesia (TRI) di Tumbang Manjul. Bersama kelompok militernya, ia menyerang sebuah pasukan Tentara Kerajaan Hindia Belanda ketika pasukan tersebut sedang beristirahat di sebuah pesanggrahan di Tumbang Manjul. Akibat dari hal itu, Kapten Mulyono dan kelompoknya diburu oleh pasukan Belanda, yang menyebabkan Mulyono terpaksa meninggalkan Tumbang Manjul dan melarikan diri ke Jepara.[10]
Kecamatan Seruyan
Pada tahun 1946, pemerintahan Distrik Pembuang diubah menjadi Kecamatan dengan nama Kecamatan Seruyan dengan Ibu Kota Pemerintahnnya di Kuala Pembuang.[9]
Pada tahun 1947, wilayah Kecamatan Seruyan dibagi menjadi 2 (dua) wilayah Kecamatan yaitu:
Kecamatan Seruyan Hilir dengan Ibu Kota Kuala Pembuang dan menjadi wilayah hukum Kawedanan Sampit Barat.
Kecamatan Seruyan Hulu dengan Ibu Kota di rantau Pulut dan menjadi wilayah hukum Kawedanan Sampit Utara.
Pada tahun 1958, wilayah Kecamatan Seruyan Hulu dibagi menjadi 2 wilayah Kecamatan yaitu:
Kecamatan Seruyan Tengah dengan Ibu Kota di Rantau Pulut.
Kecamatan Seruyan Hulu dengan Ibu Kota di Tumbang Manjul
Pada tahun 1961, wilayah Kecamatan Seruyan Hilir dibagi menjadi 2 wilayah kecamatan yaitu
Kecamatan Seruyan Hilir dengan Ibu Kota di Kuala Pembuang.
Kecamatan Hanau dengan Ibu Kota di Pembuang Hulu.
Pada tahun 1963, wilayah Kecamatan Seruyan Hilir dibagi menjadi wilayah Kecamatan yaitu:
Kecamatan Seruyan Hilir dengan Ibu Kota di Kuala Pembuang.
Kecamatan Danau Sembuluh dengan Ibu Kota di Telaga Pulang.
Kemudian, dibentuk pemerintahan Kawedanan Seruyan pada tahun 1963. Dengan semakin pesatnya perkembangan Kecamatan pemekaran di beberapa wilayah Kecamatan, maka dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor: 06/Pem.330-c-2-3/1963 tertanggal 1 Juni 1963 tentang Penetapan Kawedanan Seruyan. Kawedanan Seruyan ini membawahi 5 (lima) wilayah Kecamatan dengan Ibu Kota Kuala Pembuang. Di antara ke 5 (lima) Kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Seruyan Hilir dengan Ibu Kota di Kuala Pembuang, Kecamatan Danau Sembuluh dengan Ibu Kota di Telaga Pulang, Kecamatan Hanau dengan ibu kota di Pembuang Hulu, dan Kecamatan Seruyan Tengah dengan Ibu Kota di Rantau Pulut.[1]
Masa pemerintahan Wilayah Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan dimulai pada tahun 1965. Dengan adanya beberapa perubahan Struktur Organisasi Pemerintah, maka dengan diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimatan Tengah No: 05/Pem.232-c-2-4/1965 Tanggal 1 Mei 1965 Tentang Penetapan Wilayah Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan. Sehubungan hal itu maka Pemerintah Kawedanan Seruyan statusnya berubah menjadi Kabupaten Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan dengan ibu kota Kuala Pembuang.[1]
Pemerintahan Pembantu Kotawaringin Timur Wilayah Seruyan kemudian dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 1979 tertanggal 28 April 1979 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Pembantu Bupati Kapuas untuk Wilayah Gunung Mas, Pembantu Bupati Kotawaringin Timur untuk Wilayah Katingan, Pembantu Bupati Kotawaringin Timur untuk Wilayah Seruyan, Pembantu Bupati Barito Utara untuk Wilayah Murung Raya, Pembantu Bupati Barito Selatan untuk Wilayah Barito Timur, Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor: 148/KPTS/1979 tertanggal 28 Juni 1979 tentang Penghapusan Status Wilayah dan Kantor Daerah Tingkat II Administratif Gunung Mas, Katingan, Murung Raya dan Barito Timur serta Status Wilayah dan kantor Persiapan Daerah Tingkat II Seruyan, dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Nomor: 247/KPTS/1980 tertanggal 02 Juli 1980 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pembantu Bupati Kotawaringin Timur untuk Wilayah Seruyan. Pemerintahan Pembantu Bupati (TUBUP) Kotawaringin Timur Wilayah Seruyan dengan ibu kota berkedudukan di Kuala Pembuang.[1]
Sejak pemerintahan Darwan Ali sebagai bupati, ekonomi Kabupaten Seruyan sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian dan industri minyak kelapa sawit, dengan banyaknya pendirian perusahaan industri kelapa sawit, yang 18 di antaranya telah diidentifikasi terhubung dengan Darwan.[13] Industri minyak kelapa sawit banyak ditemukan di wilayah tengah dan utara Kabupaten Seruyan. Tercatat bahwa ada sebanyak 2.981 petani sawit swadaya di Kabupaten Seruyan.[14][15] Kabupaten ini juga mengandalkan Pelabuhan Segintung, yang pembangunannya terhambat akibat kasus korupsi, dan Bandar Udara Kapten Mulyono (Kuala Pembuang) untuk pendistribusian.[16][17]
Pada pertengahan tahun 2023, sempat terjadi bentrokan antara massa dengan perusahaan sawit di wilayah utara dan tengah Kabupaten Seruyan.[18] Masyarakat menuntut agar perusahaan segera memberikan plasma kelapa sawit yang dijanjikan akan diberikan oleh perusahaan. Tercatat ada 13 mobil yang dirusak oleh masyarakat pada bentrokan ini, sementara Bupati Seruyan saat itu, Yulhaidir dikabarkan jatuh sakit. Meskipun begitu, kepolisian telah memastikan bahwa keadaan saat ini telah kondusif.[19][20][21]
Geografi
Pembagian administrasi; Geografi; dan lokasi kecamatan, desa, dan kota di Kabupaten Seruyan
Secara astronomis, Kabupaten Seruyan terletak antara 111°49′ sampai dengan 112°84′ Bujur Timur, dan mulai 0°77′ sampai dengan
3°56′ Lintang Selatan. Kabupaten Seruyan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kotawaringin Timur. Kabupaten ini memiliki luas wilayah sebesar 16.404 km2.[4]
Dilihat dari topografinya, lahan di wilayah Kabupaten Seruyan memiliki kemiringan lereng datar hingga berbukit. yaitu dengan kemiringan lereng berkisar antara 0%-60%. Lahan dengan topografi datar (kelas lereng 2%), berombak (kelas lereng 2%-8%), hingga bergelombang (kelas lereng9%-15%) umumnya terdapat di bagian selatan wilayah Kabupaten Seruyan dan wilayah yang dekat pinggir sungai. Lahan dengan topografi berbukit kecil (kelas lereng 16%-25%) umumnya dijumpai di bagian tengah Kabupaten Seruyan, sedangkan lahan dengan topografi berbukit (kelas lereng >40%) pada umumnya dijumpai di bagian Utara wilayah Kabupaten Seruyan,
yaitu merupakan daerah limitasi untuk pengembangan.[22]
Hidrologi
Secara umum, pola sungai di Kabupaten Seruyan memiliki pola dendritik dengan salah satu sifat utamanya yaiitu apabila terjadi hujan merata di semua daerah aliran sungai, maka puncak banjirnya akan demikian tinggi sehingga mempunyai potensi besar untuk menggenangi daerah yang ada di sekitar aliran sungai, khususnya di bagian hilir sungai.[23]Sungai Seruyan dengan panjang ±350 km, merupakan sungai utama yang mengalir dari pegunungan Schwaner di utara sampai Laut Jawa di selatan.[24] Pada Sungai Seruyan, terdapat 6 (enam) buah anak sungai besar dan dapat digunakan sebagai sumber air dan sarana transportasi. Keenam anak sungai tersebut meliputi Danau Sembuluh, Kuala Besar, Manjui, Salau, Pukun dan Sungai Kale. Air sungai tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mandi, cuci, kakus (MCK), air minum, serta irigasi persawahan. Selain air sungai, masyarakat juga memanfaatkan air tanah dengan kedalaman berkisar antara 1-7 meter pada sistem lahan daratan seperti yang terdapat di Kecamatan Seruyan Hilir.[22]
Iklim
Seperti wilayah lain di Kalimantan Tengah, Kabupaten Seruyan beriklim hutan hujan tropis (Af) dengan curah hujan yang cenderung tinggi sepanjang tahunnya. Suhu udara di wilayah ini cenderung konstan antara 22°–34 °C. Tingkat kelembapan relatif di kabupaten ini pun cenderung tinggi tiap tahunnya antara 70%–90%.[25]
Dalam Pemilihan umum Bupati Seruyan 2024, pasangan calon Selanorwanda–Supian berhasil memenangkan suara mayoritas pemilihan dan menjadi bupati terpilih. Keduanya dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati pada Februari 2024.[28][29]
Kabupaten Seruyan terdiri dari 10 kecamatan, 3 kelurahan, dan 97 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 143.414 jiwa dengan luas wilayah 16.404,00 km² dan sebaran penduduk 9 jiwa/km².[32][33]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Seruyan, adalah sebagai berikut:
Pada lambang Kabupaten Seruyan, terdapat Talwang Bersegi Lima yang merupakan senjata suku Dayak yang berfungsi untuk melindungi dan mempertahankan diri dari segala bahaya yang datang. Ini mempunyai makna jiwa kepahlawanan, semangat yang tinggi dan sikap gagah berani menghadapi tantangan dan hambatan.[34] Belanga dan seutas tali tingang melambangkan hidup bersama saling tolong menolong dan menghargai,[34] sementara Bintang bersegi lima melambangkan nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.[34]
Bendera Kabupaten Seruyan, dengan lambang resmi terletak di tengahnya.
Terdapat pula Mandau dan Sumpitan (salah satu senjata tradisional suku Dayak) yang melambangkan kesiapsiagaan setiap saat untuk menghadapi segala tantangan dan hambatan dan gagah berani dalam menegakkan kebenaran.[34]Rumah Betang pada lambang ini melambangkan kehidupan yang rukun dan damai dalam semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan.[34] Adapun serumpun bulir padi melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran yang dapat dinikmati merata oleh seluruh rakyat sebagai hasil pembangunan.[34]
Rangkaian Kapas melambangkan kesucian dan semangat juang yang tinggi dalam melakukan pembangunan.[34]Ikan Balida menunjukkan potensi andalan Kabupaten Seruyan yang di anggap sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dikelola dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.[34] Motto Kabupaten Seruyan adalah Gawi Hatantiring yang berasal dari bahasa Dayak Ngaju dan memikiki arti "bekerja bersama sama".[34]
Demografi
Suku bangsa
Potret pria Dayak Ot Danum (bernama Sawang Kalong) bertato dari wilayah Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah.
Keragaman suku bangsa yang ada di Kabupaten Seruyan termasuk heterogen dengan suku yang mendominasi adalah Suku Dayak Kuhin.[35] Selain itu juga terdapat suku dan etnis lainnya seperti Suku Dayak Ot Danum, Banjar, Jawa, Melayu dan lainnya.
Berbagai tradisi masih dilaksanakan oleh suku-suku yang mendiami Kabupaten Seruyan, seperti misalnya tradisi Betangkan untuk mengangkat anak, Nanam Penuhi ketika ingin memulai masa tanam, Pemopat Asam sebagai upacara kehamilan 7 bulanan, Penoik sebagai upacara rasa syukur, Sengkolan Laman ketika menempati bangunan baru, Sengkolan Batu ketika memulai berladang, Betonong sebagai pengobatan tradisional dan lain sebagainya.[36]
Selain itu, tradisi perkawinan oleh suku Dayak Ot Danum yang memiliki beberapa nilai sosial dalam pernikahan adat mereka dalam bentuk seserahan dari mempelai, pakaian adat ataupun tradisi lawang sakepeng.[37]
Agama
Penduduk Seruyan menganut agama yang beragam, dengan mayoritas beragama Islam. Data Badan Pusat Statistik 2024 mencatat, banyaknya penduduk kabupaten ini yang beragama Islam sebanyak 120.226 orang. Kemudian penduduk yang beragama Protestan sebanyak 24.387 orang, dan Katolik sebanyak 5.602 orang. Sebagian lagi menganut agama Hindu atau Kaharingan sebanyak 6.682 orang, dan selebihnya menganut agama Buddha sebanyak 56 orang serta penganut keyakinan sebanyak 4 orang. Untuk banyaknya sarana rumah ibadah tahun 2024, yakni terdapat 112 masjid, 131 mushola, 70 gereja Protestan, 10 gereja Katolik dan 27 Balai Basarah.[38]
Pendidikan
Kabupaten Seruyan memiliki kualitas pendidikan yang cukup senjang dengan kabupaten di sekitarnya. Saat ini hanya terdapat dua perguruan tinggi di Kabupaten Seruyan, yaitu Politeknik Seruyan dan Universitas Darwan Ali.[39]
Transportasi
Klinik terapung di Sungai Seruyan, bersama longboat yang sedang sandar
Kabupaten Seruyan termasuk salah satu daerah yang memang disiapkan untuk menerima wisatawan[40] dan memiliki jaringan transportasi baik udara, laut, sungai, maupun darat yang cukup baik.
Transportasi udara di Kabupaten Seruyan masih belum berkembang dengan satu-satunya bandara yang tersedia adalah Bandar Udara Kapten Mulyono. Sedangkan transportasi laut ditunjang oleh Pelabuhan Segintung yang melayani pelayaran regional dan internasional dan menjadi pintu gerbang perekonomian untuk wilayah Kabupaten Seruyan.[41]
Sama seperti daerah lainnya di Kalimantan yang dikelilingi sungai, masyarakat Kabupaten Seruyan juga masih bergantung dengan sungai. Salah satu sungai yang dimanfaatkan menjadi sarana transportasi adalah Sungai Seruyan untuk dari dan menuju Kuala Pembuang, Kecamatan Seruyan Hilir, atau ke Pembuang Hulu, Kecamatan Hanau. Sepanjang aliran sungai ini terdapat banyak dermaga kecil maupun lanting tempat longboat atau perahu motor bersandar.[42]
Pariwisata
Pantai Seribu Cemara di Sungai Bakau
Kabupaten Seruyan memiliki berbagai objek wisata yang layak untuk dikunjungi, misalnya:[38]
↑Ekpres, Palangka (2019). Pertempuran Tumbang Manjul: Menelusuri jejak Kapten Mulyono di Tanah Dayak. Idea Press Yogyakarta. hlm. 11–14. ISBN 978-6237085058.
↑The Gecko Project (2017). "Kerajaan kecil sawit". thegeckoproject.org. Diakses tanggal 2023-10-17.
↑Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Daerah, Kabar; Internasional; Bisnis (2018-03-25). "Ini hasil pemetaan petani swadaya kelapa sawit di Seruyan". Antara News Kalteng. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-10-17. Diakses tanggal 2023-09-19.;