Objek wisata pantai ini mulai dibangun sejak terpilihnya bupati pertama Seruyan Darwan Ali, dan masih terus dikembangkan hingga saat ini.[2][3]
Etimologi
Nama Pantai Muara Sungai Bakau berasal dari letak geografis pantainya sendiri yang merupakan muara dari Sungai Bakau. Disebut Sungai Bakau karena air sungai tersebut berwarna hitam pekat dan ditumbuhi banyak pohon bakau. Meskipun begitu, wilayah Sungai Bakau merupakan habitat dari Buaya Muara.[4][5]
Sementara kata Sei Bakau memiliki arti yang sama dengan Sungai Bakau. Penyebutan dari dialek masyarakat sekitar membuat kata "sungai" berubah menjadi "sei".
Pada tahun 2003, Darwan Ali terpilih menjadi Bupati pertama Kabupaten Seruyan. Pembangunan yang dilakukan olehnya dimulai dari ibukota Kuala Pembuang dan dilanjutkan hingga ke Seruyan Hulu. Wilayah Desa Sungai Bakau lalu digabungkan Ke kecamatan Seruyan Hilir sebelum akhirnya menjadi bagian dari Seruyan Hilir Timur. Pantai ini lalu dikembangkan hingga menjadi objek wisata unggulan di Kabupaten Seruyan.[6][7]
Setelah Sudarsono menjabat sebagai bupati kedua Kabupaten Seruyan, pembangunan di Pantai Sungai Bakau lalu terhenti; menyebabkan pembangunan beberapa fasilitas yang ada disana tidak dselesaikan.[8][9][10]
Pada tahun 2018, Yulhaidir terpilih sebagai bupati ketiga Kabupaten Seruyan. Pada masa kepemimpinannya, wilayah desa sungai bakau yang pada mulanya tidak terlalu dirawat lalu kembali dikelola. Beberapa fasilitas yang belum rampung pembangunannya lalu diselesaikan.[11][12] Pantai Sungai Bakau lalu Kembali Menjadi Wisata Unggulan Kabupaten Seruyan.[13]
Pada tahun 2019, oleh bupati ketiga Yulhaidir, pantai yang berada di sekitar Desa Sungai Bakau dimekarkan menjadi dua pantai, yaitu Pantai Sungai Bakau dan Pantai Seribu Cemara.[14]