KA Commuter Jabodetabek
| KRL Commuter Line | |||
|---|---|---|---|
KRL INKA dan KRL CRRC yang sedang dipamerkan dalam rangka 100 Tahun operasional KRL di Indonesia, Stasiun Jakarta Kota. | |||
| Info | |||
| Pemilik | Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda | ||
| Wilayah |
| ||
| Jenis | Transportasi umum, Kereta api komuter | ||
| Jumlah jalur | 7 | ||
| Jumlah stasiun | 93 | ||
| Penumpang harian | 1.039.303 (Agustus 2019) 1.154.080 (puncak, Juni 2018)[1] | ||
| Penumpang tahunan | 334.102.903 (2019)[2] | ||
| Kantor pusat | Stasiun Juanda, Gambir, Kota Jakarta Pusat | ||
| Situs web | www | ||
| Operasi | |||
| Dimulai | 6 April 1925 (sebagai Elektrische Staatsspoorwegen) April 1999 dibawah nama PT Kereta Api (sebagai Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek) 15 September 2008 (sebagai KAI Commuter Jabodetabek) 20 September 2017 (sebagai Kereta Commuter Indonesia) | ||
| Operator | KAI Commuter (PT Kereta Api Indonesia (Persero))[3] | ||
| Panjang kereta | 8, 10 dan 12 kereta per rangkaian KRL | ||
| Waktu antara | 5-60 menit | ||
| Teknis | |||
| Panjang sistem | 332,3 km (206,48 mi) (Daop 1) 65,5 km (40,7 mi) (Daop 6) | ||
| Lebar sepur | 1.067 mm (3 ft 6 in) Lebar sepur Cape | ||
| Listrik | 1.500 V DC (Listrik aliran atas) | ||
| Kecepatan rata-rata | 40 km/h (25 mph) | ||
| Kecepatan tertinggi | 70–95 km/h (43–59 mph) | ||
| |||
KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter),[3] anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.
Layanan ini dahulu dioperasikan dengan nama KRL Jabotabek sejak era 1970-an hingga pemekaran Kota Depok pada 1999 dengan nama alternatif KRL Jabodetabek. Divisi Jabotabek menjadi operator KRL pada masa itu. Pada 2008, layanan KRL dioperasikan oleh perusahaan baru bernama PT KAI Commuter Jabodetabek yang sejak 2017 berubah menjadi Kereta Commuter Indonesia (KCI, kini KAI Commuter).
Sistem kereta listrik di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada 6 April 1925 dengan lintas layanan Tanjungpriok — Meester Cornelis (kini Jatinegara).[4] Setelah kemerdekaan Indonesia, layanan ini berkembang menjadi sistem KRL komuter yang pada awalnya hanya beroperasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun sejak 10 Februari 2021, layanan KRL juga dihadirkan di daerah luar Jabodetabek melalui rute Commuter Line Yogyakarta yang menghubungkan Yogyakarta dan Surakarta.[5]
Sejarah
Elektrifikasi jalur Staatsspoorwegen


Wacana elektrifikasi jalur kereta api sudah didengungkan sejak 1917 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS). Saat itu, elektrifikasi jalur kereta api diprediksi akan menguntungkan secara ekonomi. Elektrifikasi jalur kereta api kemudian dilakukan dari Tanjung Priuk sampai dengan Meester Cornelis (Jatinegara) dimulai pada tahun 1923. Pembangunan ini selesai pada 24 Desember 1924.[6]
Proyek elektrifikasi terus berlanjut. Jalur lingkar Jakarta selesai dielektrifikasi pada 1 Mei 1927 dan pada 1930, elektrifikasi jalur Jakarta—Bogor sudah mulai dioperasikan. Kereta yang digunakan ialah lokomotif listrik seri 3000 buatan pabrik SLM—BBC (Swiss Locomotive and Machine Works—Brown, Boveri, & Cie), lokomotif listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft) Jerman, lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda serta kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik General Electric.[6] Stasiun Batavia Zuid (sekarang Jakarta Kota) ditutup sementara pada tahun 1926 dan dibuka kembali pada 8 Oktober 1929 untuk mengakomodasi tenaga penggerak listrik baru yang saat itu telah menjadi kebanggaan kawasan tersebut, yang saat itu didominasi oleh tenaga lokomotiv uap.
Pascakemerdekaan
Jalur kereta yang terelektrifikasi tersebut terus digunakan dan diperluas wilayah operasionalnya sejak kemerdekaan Indonesia. Pengoperasian jalur kereta api di Indonesia dilaksanakan oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKA) hingga era PT Kereta Api Indonesia pada saat ini.
Penghapusan trem Batavia

Pada tahun 1960-an, transportasi di Jakarta berada di titik nadir. Soekarno memerintahkan Gubernur Sudiro untuk menghapus trem listrik karena dianggap menyebabkan kemacetan. Akhirnya pada tahun 1960, trem sepenuhnya berhenti beroperasi di Jakarta.[7] Kereta listrik pun ikut dihentikan operasinya akhir 1965. Selanjutnya pada November 1966, seluruh pengangkutan kereta api jurusan Manggarai—Jakarta Kota dibatasi.[8] Hal ini berkaitan dengan merosot tajamnya jumlah penumpang dan kondisi umum kota Jakarta yang tidak kondusif. Biro Pusat Statistik mencatat, jumlah penumpang lokal yang dilayani Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1965 merosot 47 persen dibandingkan 1963. Tahun 1965, hanya 16.092 penumpang per hari yang memakai kereta lokal.[8] Semenjak kereta listrik buatan Belanda tidak dapat beroperasi lagi, rute ini terkadang digunakan oleh kereta lokal yang menggunakan lokomotif, biasanya seri BB 200 atau BB 201 digunakan sebagai penariknya.
Regenerasi

Baru pada tahun 1972, kereta listrik mulai muncul kembali. Harian Kompas tanggal 16 Mei 1972 memberitakan bahwa PNKA memesan 10 set kereta listrik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan Jakarta. Langkah ini untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kemacetan yang mulai terasa saat itu.[8]
KRL dan kereta rel diesel (KRD) dari Jepang tiba di Jakarta empat tahun kemudian, 1976. KRL-KRL ini akan menggantikan lokomotif listrik lama peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak layak. Tiap rangkaian KRL terdiri atas empat kereta dengan kapasitas angkut 134 penumpang per kereta.[8] KRL generasi pertama ini kemudian dikenal sebagai KRL Rheostatik dan telah melayani masyarakat Jakarta hingga akhir pengoperasian KRL Ekonomi pada tahun 2013.
Pada dekade 1980-an dan 1990-an, layanan KRL di Jabotabek mengalami ekspansi dan peningkatan. Elektrifikasi lintas Manggarai—Tanah Abang—Kampung Bandan menjadi pembangunan jaringan kereta listrik pertama setelah kemerdekaan. Elektrifikasi jalur ini melengkapi jaringan yang telah ada sebelumnya, yaitu Jakarta Kota—Bogor, Jakarta Kota—Tanjung Priok, dan Tanjung Priok—Jatinegara. Pengoperasian perdana dilakukan sebagian pada 17 Februari 1986 dengan layanan KRL Bogor—Tanah Abang,[9] dan kemudian beroperasi penuh mulai 30 Maret 1987. Lintas ini diresmikan secara resmi pada 7 April 1987 oleh Menteri Perhubungan Roesmin Noerjadin.[10]
Selain pengembangan infrastruktur, dilakukan juga peningkatan layanan. Pada 20 Agustus 1990, PJKA Daerah Operasi I Jakarta mulai mengoperasikan layanan KRL ekspres dengan kualitas pelayanan yang lebih baik dibandingkan layanan reguler. Layanan ini awalnya disebut sebagai KRL Utama dan melayani rute Bogor—Jakarta Kota dengan waktu tempuh sekitar 67 menit.[11] Kereta ini kemudian dikenal dengan nama Pakuan Ekspres, yang menjadi cikal bakal hadirnya berbagai layanan KRL kelas premium pada dekade 1990-an dan 2000-an.
Pada Mei 2000, pemerintah Jepang melalui JICA dan Pemerintah Kota Tokyo menghibahkan 72 unit KRL yang sebelumnya dioperasikan oleh Biro Transportasi Metropolitan Tokyo. Kereta ini diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2000 dan menjadi KRL berpendingin udara (AC) pertama di Indonesia.[12] Hibah tersebut menjadi awal dari datangnya berbagai rangkaian KRL yang sebelumnya sudah pernah beroperasi di Jepang.
Pemisahan pengelolaan KRL Jabotabek dan pendirian anak perusahaan
Gagasan untuk memisahkan pengelolaan KRL di wilayah Jabotabek dari PT Kereta Api Indonesia mulai berkembang pada awal 2000-an. Dorongan ini muncul antara lain karena tingginya jumlah penumpang harian, kepadatan pada jam sibuk, keterlambatan perjalanan, hingga persoalan keamanan dan penumpang tanpa tiket. Pada 2003, rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan diproyeksikan dapat direalisasikan pada 2005.[13]

Pada 2005, Menteri Negara BUMN Soegiharto menyatakan persetujuannya terhadap pemisahan pengelolaan KRL Jabotabek, meskipun bukan dalam bentuk pemisahan penuh (spin-off), melainkan tetap berada di bawah PT Kereta Api Indonesia dengan status entitas khusus.[14] Pemisahan ini terealisasikan pada tahun 2008 ketika PT Kereta Api Indonesia mendirikan anak perusahaan bernama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) untuk mengelola pengoperasian KRL di wilayah Daerah Operasi I Jakarta, yang saat itu mencakup 37 rute di kawasan Jabodetabek. Anak perusahaan baru ini merupakan penerus Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek.
PT KCJ memulai proyek modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011, dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi 5 rute utama, penghapusan KRL komuter ekspres, penerapan kereta khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta, serta penempatan satuan keamanan pada tiap gerbong. Saat Stasiun Tanjung Priuk diresmikan kembali setelah dilakukan renovasi total pada tahun 2009, jalur kereta listrik bertambah menjadi 6, walaupun belum sepenuhnya beroperasi. Pada Juli 2013, PT KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik COMMET (Commuter Electronic Ticketing) dan perubahan sistem tarif kereta.[15]
Penghapusan KRL Ekonomi
Sejak awal penerapan sistem operasi tunggal pada akhir 2011, wacana penghapusan KRL Ekonomi non-AC mulai mengemuka dan menimbulkan polemik di masyarakat. Pada saat itu, tarif KRL Ekonomi non-AC relatif murah dan berkisar sekitar Rp1.500, sehingga menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pada Januari 2012, Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menyatakan bahwa KRL Ekonomi non-AC akan tetap beroperasi karena masih dibutuhkan oleh kelompok tersebut.[16]
Namun, pada Maret 2013, KAI Commuter mengumumkan rencana penghentian operasional KRL Ekonomi non-AC di lintas Serpong dan Bekasi mulai 1 April 2013 dengan alasan kondisi armada yang telah tidak layak, membahayakan keselamatan penumpang, serta sering mengalami kerusakan yang mengganggu jadwal perjalanan KRL lainnya.[17][18] Pernyataan ini memicu penolakan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan menyulut aksi demonstrasi di Stasiun Bekasi pada 25 Maret 2013, yang menyebabkan terganggunya perjalanan KRL dan kereta jarak jauh yang melintasi stasiun tersebut selama sekitar tiga jam.[19] Menyusul tekanan tersebut, rencana penghapusan KRL Ekonomi non-AC sempat ditunda.[20]
Penghapusan kemudian dilakukan secara bertahap, diawali dengan penghentian operasional KRL Ekonomi non-AC relasi Tanah Abang–Serpong dan Tanah Abang–Parung Panjang pada 7 Mei 2013.[21] Pemerintah, KAI dan KAI Commuter kemudian menyepakati pemberian subsidi pada layanan KRL Ekonomi AC dengan penerapan tarif progresif berbasis jarak, menggantikan tarif sebelumnya yang berkisar sekitar Rp8.000, dan mulai diberlakukan pada 1 Juli 2013.[22] Proses tersebut berujung pada penghapusan seluruh layanan KRL Ekonomi pada 25 Juli 2013.[23]
Perluasan layanan
Perpanjangan lintas Serpong

Sehari setelah ulang tahun pertama KAI Commuter, pemerintah meresmikan elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang pada 16 September 2009. Peresmian tersebut dilakukan oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, yang sekaligus meresmikan pengoperasian Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawa Buntu. Proyek elektrifikasi jalur Serpong–Parung Panjang sepanjang sekitar 12 kilometer, pembangunan Stasiun Jurangmangu dan peremajaan Stasiun Rawabuntu tersebut menelan nilai investasi lebih dari Rp148 miliar.[24]
Elektrifikasi jalur kemudian diperpanjang hingga Stasiun Maja, yang menambah enam stasiun baru pada layanan KRL Commuterline. Proyek ini, termasuk pembangunan jalur ganda Serpong–Parung Panjang–Maja, menelan biaya Rp1,2 triliun dan dikerjakan sejak tahun 2008.[25] Pengoperasian KRL hingga Stasiun Maja dimulai pada 1 April 2013. Elektrifikasi menuju Stasiun Maja ini diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono pada 17 April 2013, bersamaan dengan peresmian jalur ganda Serpong–Parung Panjang serta pengoperasian rangkaian KRL baru produksi PT Industri Kereta Api (INKA).[26]
Jalur ganda pada segmen Parung Panjang–Maja mulai beroperasi pada Desember 2015 dan diresmikan pada 11 Mei 2016 bersamaan dengan peresmian hasil pembangunan dan revitalisasi Stasiun Kebayoran, Parung Panjang, dan Maja.[27] Selanjutnya, elektrifikasi jalur dilanjutkan hingga Rangkasbitung, yang pada awalnya masih berstatus jalur tunggal. Pengoperasian KRL pada lintas tersebut mulai diujicobakan pada Februari 2017,[28] sebelum dioperasikan secara resmi pada 1 April 2017.[29] Seiring dengan pengoperasian tersebut, layanan kereta api lokal yang sebelumnya melayani relasi Angke–Rangkasbitung diubah menjadi relasi Rangkasbitung–Merak, sehingga lintas Tanah Abang–Rangkasbitung selanjutnya hanya dilayani oleh KRL.[30]
Perpanjangan dan jalur dwiganda lintas Bekasi

Elektrifikasi jalur Bekasi–Cikarang merupakan bagian dari proyek jalur dwiganda (double double track) Manggarai–Cikarang. Awalnya proyek ini ditargetkan mulai melakukan tender pada tahun 2007 dan konstruksi elektrifikasinya pada 2008, tetapi mengalami penundaan akibat kendala pembebasan lahan.[31][32]
Kontrak Paket B1 yang mencakup pekerjaan elektrifikasi lintas Bekasi–Cikarang sepanjang sekitar 17 kilometer akhirnya ditandatangani oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan pada 10 Oktober 2012 dengan konsorsium Mitsubishi–Sumitomo. Proyek ini didanai melalui pinjaman Pemerintah Jepang melalui Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dengan nilai sekitar Rp2,6 triliun dan ditargetkan selesai pada 2016.[33] Selain pekerjaan elektrifikasi, proyek ini juga mencakup renovasi Stasiun Tambun dan Cikarang, serta pembangunan dua stasiun baru yang akan berlokasi di Bekasi Timur, Kota Bekasi dan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.[34]
Uji coba operasional elektrifikasi lintas Bekasi–Cikarang dilaksanakan pada 28 Juli 2017 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada September 2017.[35] Pengoperasian resmi layanan KRL pada lintas tersebut diresmikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada 7 Oktober 2017, bersamaan dengan peresmian Stasiun Bekasi Timur. Layanan KRL Bekasi–Cikarang merupakan relasi Jakarta Kota–Bekasi yang diperpanjang hingga Stasiun Cikarang, dengan penambahan dua stasiun baru, yaitu Stasiun Bekasi Timur dan Stasiun Cibitung.[36]
Perubahan rute 2022
Pada bulan Mei 2022, seiring dengan beroperasinya lintas layang Stasiun Manggarai, Lin Lingkar yang melayani Bogor/Nambo/Depok–Jatinegara via Kampung Bandan dihapus. Lin Cikarang yang sebelumnya melayani relasi Cikarang–Jakarta Kota kini mengisi Segmen Manggarai–Jatinegara via Kampung Bandan. Sistem ini disebut dengan full racket (Cikarang/Bekasi–Jatinegara–Manggarai–Kampung Bandan–Jatinegara–kembali ke Cikarang/Bekasi) dan half racket (Cikarang/Bekasi–Manggarai–Kampung Bandan/Angke pp).[37]
Lin lainnya, seperti Lin Sentral (Bogor/Depok–Jakarta Kota), Tangerang, Tanjung Priuk dan Rangkasbitung tidak mengalami perubahan rute.[38] Layanan menuju Stasiun Nambo dilebur dengan Lin Sentral yang berganti nama menjadi Lin Bogor.
Ekspansi di luar Jabodetabek
Pada tahun 2017, PT KAI Commuter Jabodetabek berganti nama menjadi PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), 3 hari setelah ulang tahun perusahaan tersebut yang ke-9.[39] Perubahan nama ini juga mewadahi penugasan penyelenggaraan kereta api komuter yang lebih luas di seluruh Indonesia, sehingga nantinya jalur KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya bukan lagi satu-satunya jalur kereta api perkotaan yang dioperasikan oleh PT KCI.
KRL lintas Yogyakarta—Solo

Selain di Jabodetabek, KRL Commuter Line telah dibangun untuk menghubungkan kota penting di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu Kota Yogyakarta dan Surakarta untuk menggantikan tugas KA Prambanan Ekspres.[40] Proyek tersebut telah dicanangkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) 2030 Direktorat Jenderal Perkeretaapian sejak 2011.[41] Pada Januari—Februari 2020, tiang-tiang tersebut mulai dipancang—pertama kali dilakukan di Stasiun Klaten. Untuk langkah awal, Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian wilayah Jawa bagian Tengah memutuskan untuk memulai operasi KRL Commuter Line di ruas pertama, yaitu Yogyakarta—Klaten.[42][43]
Meskipun terjadi pandemi Covid-19 di Indonesia, proyek KRL Yogyakarta—Solo tetap berjalan hingga KRL beroperasi secara penuh pada 10 Februari 2021.[44][45] Per 17 Agustus 2022, layanan KRL Yogyakarta—Solo mulai menjangkau wilayah Solo Jebres dan Palur, setelah elektrifikasi Solo Balapan—Palur telah rampung dan dilakukan uji coba sebelumnya.[46]
Rencana pengembangan
Saat ini, pemerintah sedang mengkaji untuk memperpanjang kembali elektrifikasi Lin Cikarang sampai Stasiun Cikampek[47] serta refungsionalisasi Stasiun Gambir sebagai stasiun pemberhentian dan pemberangkatan KRL Commuter Line.

Dengan beroperasinya kembali jalur kereta api Citayam—Nambo, ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali pembangunan jalur kereta api baru Parung Panjang—Tanjung Priuk yang merupakan jalur kereta api lingkar luar Jabodetabek. Jalur ini sudah pernah direncanakan oleh pemerintah Orde Baru pada dekade 1990-an, dan sudah terealisasikan sebagian dengan selesainya pembangunan jalur Citayam—Nambo. Pembangunan rute yang belum sempat terbangun antara Parung Panjang—Citayam, Nambo—Cikarang, dan Cikarang—Tanjung Priuk ini sempat dibatalkan karena Krisis finansial Asia 1997 dan jatuhnya Suharto pada tahun 1998, tetapi akhirnya rencana ini dimasukkan ke dalam rencana induk perkeretaapian nasional 2014-2030.[48][49]
Rute
Pada awal perkenalan pola loop line pada tahun 2011, KRL Commuter Line Jabodetabek memiliki 6 jalur. Saat ini jumlah tersebut bertambah menjadi 6 jalur yang melayani seluruh wilayah Jabodetabek dan Lebak di Wilayah I Jakarta; serta Yogyakarta dan Surakarta di Wilayah VI Yogyakarta. Jumlah jalur di wilayah Jabodetabek sendiri berkurang menjadi 5 sejak tahun 2022 lalu akibat dinonaktifkannya Lin Lingkar yang jalurnya diambil alih Lin Bogor dan Lin Lingkar Cikarang.
| Jalur | Relasi | Jumlah stasiun | Jarak | Dibuka | Dioperasikan sebagai
jalur KRL Commuter Line |
|---|---|---|---|---|---|
| Wilayah I Jakarta | |||||
| Jakarta Kota—Bogor | 24† | 54,8 km | 1930 | 5 Desember 2011[50] | |
| Jakarta Kota—Nambo | 23† | 51,0 km | 2002 | 28 Mei 2022[51] | |
| Cikarang—Pasar Senen/Manggarai—Kampung Bandan (full-racket) | 29^ | 87,4 km | 1924 | 5 Desember 2011[50] (Jakarta Kota-Bekasi (via Manggarai)) 1 April 2017 (Jakarta Kota-Bekasi (via Pasar Senen))[52] 8 Oktober 2017 (Jakarta Kota-Cikarang)[53] 28 Mei 2022 (Lingkar Cikarang)[51] | |
| Cikarang—Manggarai—Angke (half-racket) | 20 | 38,9 km | 2022 | 28 Mei 2022[51] | |
| Tanah Abang—Rangkasbitung | 19 | 72,8 km | 1992 | 5 Desember 2011[50] (Tanah Abang-Tigaraksa) 1 April 2017 (Tanah Abang-Rangkasbitung)[54] | |
| Duri—Tangerang | 11 | 19,3 km | 1997 | 5 Desember 2011[50] | |
| Jakarta Kota—Tanjung Priuk | 4 | 8,1 km | 2015 | 5 Desember 2011 (sebagian, hanya feeder)[50]
22 Desember 2015 (beroperasi penuh)[55] | |
| Wilayah VI Yogyakarta | |||||
| Y Commuter Line Yogyakarta | Yogyakarta—Palur | 13 | 65,5 km | 2021 | 10 Februari 2021 (Yogyakarta-Solo Balapan)
17 Agustus 2022 (Solo Balapan-Palur)[46] |
| † Tidak termasuk Stasiun Gambir (tidak melayani Commuter Line) ^ Termasuk Stasiun Pasar Senen. Stasiun ini hanya melayani perjalanan ke arah utara (menuju Kampung Bandan). Perjalanan ke arah selatan (menuju Jatinegara) tidak berhenti di stasiun ini. | |||||
Tiket elektronik dan tarif

Sebagai tahapan penerapan program e-ticketing, PT Kereta Api Indonesia dan PT KAI Commuter Jabodetabek mulai 2012 mengganti Kartu Trayek Bulanan (KTB)/Kartu Langganan Sekolah (KLS) secara bertahap hingga pada 1 Juli 2013 ditetapkan menjadi Commuter Electronic Ticketing (Commet). Kartu Commet adalah alat pembayaran pengganti uang tunai yang digunakan untuk transaksi perjalanan KA Commuter Line sebagai tiket perjalanan KA, yang disediakan dalam bentuk kartu sekali pakai (Single-Trip) dan prabayar (Multi-Trip). Penumpang diwajibkan untuk melakukan tap-in di gerbang masuk dan memasukkan kartu single-trip ke dalam gerbang keluar (card-present slot) atau cukup tap-out bagi pengguna kartu prabayar di gerbang keluar.
Bersamaan dengan pemberlakuan Commet, sistem tarif progresif diberlakukan. Sistem ini menggunakan hitungan jumlah stasiun yang dilewati sebagai dasar perhitungan tarif tiap penumpang. Awalnya berlaku tarif normal, tetapi karena adanya subsidi dana public service obligations (PSO) Kementerian Perhubungan bagi KA Commuter, maka tarif berlaku tarif subsidi.[56]
Mulai 1 April 2015, tarif progresif mengalami perubahan. Sistem tarif progresif baru menghitung tarif berdasarkan jarak.[57] Selain itu, ketentuan uang jaminan untuk THB dan minimal saldo untuk tiket multi-trip dan kartu bank berubah.
Tiket harian berjaminan (THB)
Karena penerapan tiket single trip mengakibatkan banyaknya kejadian tiket perjalanan single trip hilang, pada tanggal 11 Agustus 2013 KCJ menerapkan sistem ticketing pengganti sistem single trip untuk penumpang KRL Commuter Line tanpa berlangganan. Penghitungan tarif sesuai dengan skema tarif perjalanan single trip, tetapi penumpang diharuskan untuk membayar uang jaminan untuk THB. Uang jaminan dapat diambil kembali di stasiun hingga jangka waktu maksimal 7 hari atau ditukarkan kembali dengan THB baru dengan membayar tarif untuk perjalanan selanjutnya.
Sejak 1 Agustus 2019, khusus Stasiun UI, Sudirman, Palmerah, Cikini, dan Taman Kota, resmi menghapus penjualan kartu THB. Hal ini karena mayoritas penumpang KRL Commuter Line di kelima stasiun tersebut sudah terbiasa menggunakan kartu multi trip maupun uang elektronik.[58][59] Per 5 Desember 2020, Stasiun Bogor, Stasiun Cilebut,[60] Stasiun Rangkasbitung,[61] dan Stasiun Cikarang melaksanakan penghapusan penjualan kartu THB secara bertahap guna mengurangi kontak penumpang dalam mengantisipasi penularan COVID-19,[62] yang kemudian disusul pada 25 Maret 2021 dengan Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bekasi, Stasiun Kranji, Stasiun Bojonggede, Stasiun Citayam, Stasiun Depok, Stasiun Depok Baru, Stasiun Parung Panjang, Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Angke.[c][63]
Akhirnya pada 3 September 2022, sistem THB resmi dihapuskan dan seluruh Stasiun Commuter Line, baik di Jabodetabek maupun di Wilayah VI Yogyakarta, ditetapkan sebagai Stasiun Uang Elektronik yang hanya menerima transaksi dengan Kartu Multi Trip (KMT), Kartu Uang Elektronik Bank, dan kode QR (LinkAjaǃ dan Go Transit) untuk dapat menggunakan layanan KRL Commuter Line.[64]
Kartu multi trip (KMT)
Selain tiket harian berjaminan, penumpang dapat menggunakan Kartu Multi Trip (KMT) berteknologi FeliCa.[65] Kartu Multi Trip adalah kartu prabayar isi ulang yang dapat digunakan penumpang sebagai tiket KRL dengan ketentuan saldo minimum. Kartu tersebut dapat digunakan untuk naik Commuter Line, Transjakarta, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan Trans Jogja.[66] dan dapat di isi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek dan Yogyakarta. Saat ini, saldo KMT sudah dapat dicek melalui ponsel pintar melalui aplikasi KRL Access dengan memanfaatkan fitur NFC.[67]
Kartu prabayar (bank)
Sejak 8 Desember 2013, kartu Flazz BCA sudah dapat digunakan di Commuter Line, dan sejak tanggal 16 Juni 2014, kartu e-money (Bank Mandiri), Brizzi (Bank BRI), dan TapCash (Bank BNI kecuali Jak Lingko) juga sudah dapat digunakan di Commuter Line.[68] Cara penggunaan kartu tersebut sama halnya dengan cara penggunaan Kartu Multi Trip, akan tetapi keempat kartu tersebut tidak dapat dibeli dan diisi ulang di seluruh stasiun Commuter Line di Jabodetabek, melainkan di merchant-merchant terkait dan seluruh halte bus Transjakarta (tunai). Pengisian dapat dilakukan secara tunai maupun dengan kartu ATM bank terkait. Beberapa stasiun Commuter Line juga telah melayani pengisian ulang keempat kartu tersebut, seperti Sudirman dan Juanda, tetapi tidak bisa secara tunai dan harus menggunakan kartu ATM bank terkait (kartu debit maupun kredit). Keempat kartu tersebut juga dapat digunakan sebagai tiket LRT Jabodebek, LRT Jakarta, MRT Jakarta, dan Transjakarta.[69] Berikut ini daftar kartu uang elektronik perbankan yang beredar telah disahkan oleh KAI Commuter.
- Tapcash (Bank BNI)
- Brizzi (Bank BRI)
- e-Money (Bank Mandiri)
- Flazz (Bank BCA)
- Jakcard (Bank Jakarta, hanya berlaku di wilayah metropolitan Jabodetabek))
- Jak Lingko (Bank Jakarta (hanya berlaku di wilayah metropolitan Jabodetabek), Bank BNI, Bank BRI, Bank BCA, dan Bank Mandiri)
Denda (suplisi) dan free out
Pengguna dapat dikenakan denda (suplisi[d]) jika melakukan perjalanan tanpa tiket (anak berumur 3 tahun ke atas/tinggi badan 90 cm wajib memiliki tiket[70]), menggunakan tiket harian berjaminan (THB) yang telah kedaluwarsa atau Kartu Multi Trip (KMT) yang saldonya kurang dari tarif tertinggi. Pengguna THB yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar atau tarif dalam tiketnya kurang (turun di stasiun yang lebih jauh), THB akan diambil dan tidak mendapatkan pengembalian uang jaminan. Sedangkan untuk pengguna KMT yang tidak melakukan tapping in/tapping out dengan benar maka pengguna harus menyelesaikan di loket dengan membayar tarif tertinggi.
Dahulu pengguna THB juga mendapatkan fasilitas free out, fasilitas untuk dapat melakukan sekali tapping out pada stasiun yang sama dengan stasiun tapping in terhitung satu jam dari waktu transaksi pembelian THB di loket. Untuk pengguna KMT terhitung satu jam dari tapping in. Per tanggal 16 Desember 2015, fasilitas free out ini pun ditiadakan. Sehingga setiap penumpang yang masuk dan keluar di stasiun yang sama akan dikenakan denda. Untuk pengguna KMT atau Kartu Prabayar/Kartu Uang Elektronik Bank dikenakan pemotongan saldo sesuai tarif terendah. Untuk pengguna THB, tarif relasi perjalanan di dalam kartu akan hangus, tetapi refund kartu masih dapat dilakukan.[71]
Usai jembatan penyeberangan (JPH) Stasiun Batu Ceper diresmikan pada 18 Juli 2019, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menerapkan kebijakan tarif khusus bagi penumpang pada akses antara sisi stasiun bandara Batu Ceper dan sisi selatan stasiun tersebut yang melayani KRL Lin Tangerang untuk mempermudah akses penumpang menuju antarmoda penghubung KRL Commuter Bandara Soekarno-Hatta menuju Terminal Poris Plawad.[72][73] Serupa dengan konsep free out sebelumnya, hal yang menjadi perbedaan yakni penumpang tetap dikenakan biaya sebesar Rp1,00 (satu rupiah) dengan melakukan tapping in dan tapping out di stasiun yang sama dan berbatas waktu hingga 15 menit, dari yang mulanya 1 jam, sebelum akhirnya dikenai tarif reguler. Kebijakan yang sama juga diberlakukan di Stasiun Manggarai dan Stasiun Sudirman dengan alasan yang serupa.[74][75]
LinkAja!
LinkAja! mulai diimplementasikan pada stasiun-stasiun KRL Commuter Line sejak 1 Oktober 2019 di 200 mesin tap-in dan tap-out stasiun. Prinsip kerjanya menggunakan kode QR yang diarahkan pada scanner yang ditanam pada mesin tap-in dan tap-out berlogo LinkAja!. Aplikasi akan secara otomatis menahan saldo senilai tarif maksimal perjalanan KRL, yakni Rp 13.000,00. Saldo kemudian akan dikembalikan setelah melakukan tap-out dikurangi tarif perjalanan yang telah ditempuh. Karena itulah, aplikasi LinkAja! hanya bisa digunakan untuk naik KRL apabila saldo tidak kurang dari Rp13.000,00.[76][77]
Pada 16 Januari 2023, penggunaan LinkAja! Sebagai Pembayaran Tarif KRL Commuter Line dihentikan. Hal ini berlaku baik bagi pembayaran KRL di Jabodetabek maupun KRL di Yogyakarta—Solo (kini Palur). Penumpang KRL pun dialihkan untuk menggunakan metode pembayaran lain yang tersedia.[78]
Aplikasi Jak Lingko
Selain menggunakan kartu Jak Lingko, pengguna KRL di Jabodetabek dapat pula memanfaatkan aplikasi Jak Lingko. Dengan memanfaatkan sistem Account-based ticketing (ABT), aplikasi Jak Lingko dapat mengintegrasikan perjalanan KRL dengan moda transportasi lain baik melalui pemesanan tiket multimoda maupun dengan menunjukkan kode QR ABT (yang dipromosikan sebagai QR EasyGo/QR Pay-As-You-Go) pada mesin pembaca kode QR pada gerbang putar stasiun. Meskipun terintegrasi, penetapan tarif di KRL Commuter Line masih belum terintegrasi dan menggunakan tarif umum yang berlaku saat ini.[79][80]
GoTransit
Pada 30 Mei 2022, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk selaku penyedia aplikasi Gojek meluncurkan layanan pembelian tiket KRL untuk turut mendukung upaya orang-orang berminat menaiki transportasi publik. Pembelian tiket dilakukan melalui fitur bernama GoTransit, dengan prinsip penggunaan yang tidak jauh berbeda dengan LinkAja!. Namun, pengguna harus menentukan terlebih dahulu stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan dan melakukan pembayaran sebelum mendapatkan kode QR tiket KRL.[81]
QRIS Tap
Pada 14 Maret 2025, Bank Indonesia meluncurkan inovasi QRIS Tap, teknologi Kode QR Standar Indonesia yang dihantarkan melalui komunikasi medan dekat (near-field communication/NFC) yang dimiliki pada kebanyakan ponsel cerdas di Indonesia. Setelah implementasinya di MRT Jakarta, KAI Commuter mendukung teknologi ini dengan mulai menerapkan penggunaan QRIS Tap secara bertahap pada beberapa stasiun KRL di Jabodetabek (Daop I) dan Yogyakarta Raya (Daop VI), termasuk pula pada stasiun-stasiun di lintas pelayanan kereta api Commuter Line Prambanan Ekspres (Prameks).[82] QRIS Tap sejatinya telah direncanakan untuk diterapkan di KRL Commuter Line pada bulan September 2025.[83] Namun dengan mempertimbangkan kesiapan teknis maupun operasional, implementasinya baru dijalankan pada akhir bulan Oktober 2025. Penerapan dilakukan dengan menerapkan skema pemotongan tarif dan penahanan saldo yang serupa dengan penggunaan aplikasi LinkAja, dengan penempelan gawai yang mendukung NFC pada tempat serupa dengan KUE dan KMT.[84]
Access by KAI dan C-Access
Access by KAI diluncurkan praresmi oleh PT Kereta Api Indonesia di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada tanggal 7 Juli 2023, dan diluncurkan penuh pada 10 Agustus 2023. Aplikasi tersebut merupakan kelanjutan dari KAI Access dengan user interface yang dirombak seluruhnya untuk mengakomodasi seluruh layanan dalam Grup KAI, termasuk LRT (Jabodebek dan Sumatera Selatan), KA Bandara, semua layanan Commuter Line, dan Whoosh.[85][86]
Selain itu, KAI Commuter juga menyediakan aplikasi yang dikembangkannya sendiri, C-Access, yang diluncurkan secara praresmi pada tanggal 18 Januari 2023. Pendahulu aplikasi ini, KRL Access, awalnya hanya digunakan untuk memantau posisi KRL. Namun, seiring kebutuhan yang semakin meningkat, C-Access menyertakan opsi pembayaran digital Gopay dan OVO, isi ulang Kartu Multi-Trip, dan QR Tiket.[87] C-Access diluncurkan secara resmi di sela-sela konser tur Addie M. S. bersama Twilite Orchestra di Taman Pracima, kompleks Pura Mangkunagaran, Kota Surakarta pada tanggal 3 Desember 2023.[88][89]
Sarana
Jalur KRL Commuter Line Jabodetabek dilayani oleh beberapa tipe dan jenis kereta. Sekarang, Jalur ini hanya dilayani oleh KRL AC. KRL Ekonomi non-AC sudah dihentikan operasionalnya pada tahun 2013. Semua KRL yang diadakan sebelum pemisahan 2008 dimiliki oleh perusahaan induk, sedangkan KRL yang diadakan setelahnya dikelola langsung oleh KCJ/KCI/KAI Commuter.
KRL non-AC
| Seri | Tahun pembuatan | Produsen | Status | Referensi | Gambar |
|---|---|---|---|---|---|
| Rheostatik Mild Steel | 1976, 1978, 1983–1984 | Nippon Sharyo, Kawasaki Heavy Industries Rolling Stock, Hitachi | Tidak beroperasi setelah penghapusan layanan KRL Ekonomi pada 2013. Dibesituakan di Stasiun Purwakarta dan Stasiun Cikaum, menunggu giliran perucatan. | [90] | |
| Rheostatik Stainless Steel | 1986–1987 | Nippon Sharyo, Kawasaki Heavy Industries Rolling Stock, Hitachi, PT INKA | |||
| ABB-Hyundai | 1992 | PT INKA, ABB Group, Hyundai | |||
| INKA-Hitachi | 1997 | PT INKA, Hitachi | |||
| BN-Holec | 1994, 1996–2001 | PT INKA, La Brugeoise et Nivelles, Holec Ridderkerk |
KRL AC
KRL AC adalah KRL dengan fasilitas penyejuk udara (AC), sehingga lebih nyaman dari KRL Ekonomi. Era pemasangan AC di KRL dimulai tahun 1990-an, ketika diluncurkannya KRL Pakuan Ekspres Utama Jakarta Kota–Bogor.
Pada dekade 2000-an, Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek lebih sering mendatangkan KRL bekas Jepang guna memperkuat armadanya. Per 2014, menurut catatan Faris Fadhli dalam Majalah KA edisi Juni 2014, ada 714 unit KRL bekas Jepang yang beroperasi, yang kesemuanya menggunakan fasilitas AC.[91] Sejak dihapusnya KRL non-AC pada 2013, fasilitas AC di Commuter Line sudah menjadi standar pelayanan minimum yang wajib dipenuhi.[90]
KRL bekas Jepang
KRL produksi dalam negeri
Semua KRL yang diproduksi di Indonesia diproduksi oleh produsen kereta api nasional, PT INKA.[92] Produsen yang menjadi rekanannya disebutkan pada tabel di bawah.
| Seri | Tahun pembuatan | Tahun beroperasi | Produsen rekanan dan pemasok komponen | Gambar |
|---|---|---|---|---|
| Kereta Rel Listrik Indonesia (KRL-I) | 2001 | 2003–2014 | Toshiba, Len Industri | |
| KfW i9000 | 2009–2011 | 2011–sekarang (sempat mangkrak, kemudian dioperasikan di Commuter Line Yogyakarta mulai tahun 2021) | Bombardier Transportation | |
| BN-Holec AC | 2014 (menggunakan sasis dan bodi bekas KRL BN-Holec) | 2014–2015 | Woojin Industrial Systems, Len Industri | |
| iE305 (CLI-225) | 2025 | 2025–sekarang | J-TREC, Toyo Denki, Nabtesco |
KRL produksi Tiongkok
| Seri | Tahun pembuatan | Tahun beroperasi | Produsen rekanan dan pemasok komponen | Gambar |
|---|---|---|---|---|
| SFC120-V (CLI-125) | 2025 | 2025–sekarang | CRRC Qingdao Sifang |
Insiden
Sebelum dioperasikan KAI Commuter
- Pada tanggal 2 November 1993, KRL Ekonomi Rheostatik Stainless bertabrakan dengan KRL Ekonomi Rheostatik Mild Steel di Ratujaya, Depok. Akibatnya, 17 orang tewas dan 2 kereta dari masing-masing rangkaian hancur dan tidak bisa dipakai lagi. Sementara sisa 2 kereta lainnya dari masing-masing rangkaian digabung menjadi satu.[butuh rujukan]
- Pada 19 Agustus 2000 Gerbong KRL ekonomi jurusan Tangerang berada di atas lokomotif CC201 76R yang menarik KA pengangkut batubara, setelah terjadi kecelakaan antara kedua KA di Kelurahan Pademangan, Jakarta Utara. Kecelakaan yang diduga akibat KRL mengalami gangguan pada listrik itu merenggut dua korban jiwa dan menyebabkan empat lainnya luka parah.[93]
- Pada peristiwa mati Listrik Jawa-Bali 2005, sebanyak 42 perjalanan kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi dibatalkan dan 26 KRL yang sedang beroperasi tertahan di beberapa perlintasan. Diperkirakan hal ini menyebabkan kerugian yang mencapai Rp 200 juta. [butuh rujukan]
Setelah dioperasikan KAI Commuter
- Pada tanggal 4 Oktober 2012, KRL Commuter Line dengan nomor perjalanan 435 (Bogor-Jakarta Kota) anjlok dan menabrak peron di Stasiun Cilebut, menyebabkan perjalanan kereta dari Jakarta hanya sampai Stasiun Bojong Gede. Rangkaian yang terlibat dalam insiden ini adalah KRL TM 05-007F dengan rangkaian yang anjlok adalah gerbong ketiga bernomor rangkaian 05-307.[94]

- Pada tanggal 9 Desember 2013, KRL Commuter Line dengan nomor perjalanan 1131 (Maja-Tanah Abang) menabrak truk tangki Pertamina hingga meledak dan terbakar di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Rangkaian yang terlibat dalam insiden ini adalah KRL TM 7121F.[95]
- Pada tanggal 23 September 2015, pukul 15.25 WIB, terjadi kecelakaan yang melibatkan dua KRL JR 205 SF 10 (rangkaian 205-54F dan 205-123F) di Stasiun Juanda. Kondisi kedua kabin KRL JR 205 (KuHa 204 / 205) tersebut rusak berat. Kondisi kereta nomor 1-9 pada kedua rangkaian kereta tersebut juga mengalami kerusakan yang cukup berat, terutama di bagian persambungannya yang seluruhnya juga mengalami kerusakan berat dan remuk. Empat puluh dua orang luka-luka akibat kecelakaan tersebut.[96][97] Kejadian ini mengakibatkan sang masinis KRL 1156, Gustian, terluka parah dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.[98]
- Pada 10 Maret 2019, Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Jatinegara-Bogor terguling di kawasan Kebon Pedes, Tanah Sereal, Bogor, sekitar pukul 10.15 WIB pagi, Minggu.[99]
- Pada tanggal 4-5 Agustus 2019, terjadi lagi mati listrik Jawa 2019, mengakibatkan beberapa perjalanan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line, MRT Jakarta, LRT Jakarta & KRL Bandara terhenti. Ada sekitar 4 perjalanan MRT juga kena imbasnya. Serta LRT Jakarta harus tidak beroperasi terkait pemadaman listrik. Akibat dari peristiwa ini, kerugian mencapai lebih dari Rp 90 miliar.[butuh rujukan]
- Pada 20 Juni 2025, Kereta Commuter Line (KRL) lintas Tangerang-Duri, terlibat kecelakaan dengan sebuah truk bermuatan kardus yang menerobos palang perlintasan kereta api, tepatnya di depan Pasar Induk, Tangerang.[100]
- Sebuah rangkaian KRL Commuter Line jenis JR 203, mengalami anjlok di Stasiun Jakarta Kota, Insiden terjadi di jalur 9, tepatnya di area wesel atau titik percabangan rel. Akibat kejadian ini, perjalanan Commuter Line Bogor menuju Jakarta Kota terpaksa dipersingkat hanya sampai Stasiun Manggarai.[101]
| Foto kiri atas: Tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line Cikarang dengan sarana Tokyo Metro seri 6000 di Stasiun Bekasi Timur, Foto kanan atas: kondisi Taksi listrik Green SM setelah ditabrak oleh KRL Commuter Line Cikarang dengan sarana CLI-125 di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur, Bekasi, Foto bawah: sisa rangkaian dari sarana Kereta rel listrik Tokyo Metro seri 6000 setelah terjadi tabrakan |
- Pada 27 April 2026 sekitar pukul 20.40 WIB, Taksi listrik Green SM dilaporkan mengalami korsleting arus listrik dan berhenti di perlintasan sebidang tidak resmi di Jalan Ampera, Bekasi Timur yang berjarak 300 meter dari Stasiun Bekasi Timur. Kendaraan tersebut lalu tertabrak oleh KRL Commuter Line Cikarang (PLB 5181) relasi Cikarang–Angke dengan sarana CLI-125 (SFC120-V). Hal ini menyebabkan kedua jalur tidak dapat dilalui oleh Kereta api dari arah berlawanan. Pada pukul 20.50 WIB, PLB 5568A dengan relasi Kampung Bandan–Cikarang via Pasar Senen, berhenti normal untuk aktivitas naik dan turun penumpang di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur. Namun, karena insiden sebelumnya pada arah berlawanan, KRL tersebut ditahan di Bekasi Timur. PLB 5568A yang melayani dengan sarana Tokyo Metro seri 6000 yang terdiri dari 10 kereta. Sekitar 7 menit setelahnya, KRL Commuter Line Cikarang yang sedang berhenti di stasiun Bekasi Timur dihantam dari belakang oleh KA 4 Argo Bromo Anggrek yang melaju menuju stasiun Gambir. Lokomotif CC206 yang menarik KA 4 menembus hingga setengah panjang kereta paling belakang KRL. Setidaknya delapan puluh delapan orang luka-luka dan 16 orang meninggal akibat kecelakaan ini.[102][103][104]
Galeri
Peta rute
- Peta rute KAI Commuter (Rute Jabodetabek)
- Peta rute KAI Daop 1 Jakarta beserta beberapa operator kereta api di sekitarnya berdasarkan geografis.
Armada
- KRL Tokyu Corporation seri 8518 dengan Livery Jalita yang kini telah pensiun
- KRL seri iE305 Trainset 2 sedang menjalani ujicoba dan melintas di Stasiun Jayakarta
- KRL JR East seri 203 semasa masih beroperasi (kini telah pensiun)
- KRL Tokyo Metro seri 7000 semasa masih beroperasi (kini telah pensiun)
- KRL Tokyo Metro seri 05 saat ini sedang mejalani retrofit di PT INKA
Stasiun
- Pintu masuk timur Stasiun Manggarai
- Lantai 2 Stasiun Manggarai
- Peron Stasiun BNI City
- Tampak Stasiun Sudirman difoto dari Jalan Jenderal Sudirman
- Tampak depan Stasiun Jakarta Kota
- JPO Stasiun Jatinegara
- Emplasemen Stasiun Tanjung Priok
- Stasiun Bekasi
- Fasad bangunan baru Stasiun Tanah Abang
- Platform Stasiun Bogor
- Bangunan Stasiun Jatake
Lihat pula
Catatan Kaki
- ↑ Hanya mencakup Kecamatan Tambun Selatan, sebagian kecil Cibitung, Cikarang Barat dan Utara
- ↑ Hanya mencakup Kecamatan Bojonggede, Sukaraja, Cibinong, sebagian kecil Gunung Putri, dan Klapanunggal
- ↑ Beberapa stasiun lain juga tidak melayani penjualan THB meskipun tidak dipublikasikan secara resmi.
- ↑ Wikikamus. Diakses pada 18.27, November 26, 2024 dari https://id.wiktionary.org/wiki/suplesi
Referensi
- ↑ Fajarta, Carlos Roy (2019-11-20). Cahyadi, Iman Rahman (ed.). "Pertumbuhan Penumpang KRL di Bodetabek Meningkat Pesat". BeritaSatu. Jakarta. Diarsipkan dari asli tanggal 2025-04-21. Diakses tanggal 2025-10-31.
- ↑ Buku Statistik Bidang Perkeretaapian Tahun 2019 (PDF). Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Pratama, Adiatmaputra Fajar (2025-10-21). Haryadi, Malvyandie (ed.). "KCJ Berubah Nama Jadi Kereta Commuter Indonesia". Tribunnews. Jakarta. Diakses tanggal 2025-10-21.
- ↑ "Rayakan 100 Tahun Beroperasinya KRL KAI Commuter sebagai Operator Commuter Line Hadirkan Parade KRL Vintage Tampilkan livery seri Tokyu 8500 JALITA hingga kereta baru INKA". KAI Commuter. Diakses tanggal 2025-11-08.
- ↑ "PRESIDEN RESMIKAN PENGOPERASIAN LAYANAN KRL JOGJA-SOLO Kementerian Perhubungan Republik Indonesia". dephub.go.id. Diakses tanggal 2025-11-08.
- 1 2 Wahyuni, Tri. "Hikayat Jalur Kereta Api Listrik di Indonesia". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2017-07-13.
- ↑ "Merindu Trem di Jakarta". KOMPAS. 2009-03-30. Diarsipkan dari asli tanggal 2024-11-30. Diakses tanggal 2017-03-24.
- 1 2 3 4 Patnistik, Egidius (ed.). "Putaran Roda KRL, Bonbon, hingga KfW". Kompas.com. Diakses tanggal 2017-03-24.
- ↑ "KRL Lintas Bogor - Tanah Abang Dibuka". Berita Yudha. 1986-02-18. Diakses tanggal 2025-09-09.
- ↑ "PJKA tambah jalur operasi KRL di DKI". Bisnis Indonesia. 1987-04-01. Diakses tanggal 2025-09-09.
- ↑ "Pakuan Express, Kiat PJKA untuk "Berpacu dalam Waktu"". Harian Neraca. 1990-08-28. Diakses tanggal 2025-09-09.
- ↑ Fadhli, Faris (2016-01-17). "Perjalanan KRL Seri 6000 Hibah eks-Toei, Setelah 15 Tahun - KAORI Nusantara". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2017-07-13.
- ↑ "Pengelolaan KA Jabotabek Kemungkinan Dipisah dari KAI". Liputan6. 2023-09-28. Diakses tanggal 2025-09-09.
- ↑ "Kereta Jabotabek Akan Dikelola Terpisah". Tempo. 2005-09-07. Diakses tanggal 2025-09-09.
- ↑ "Sejarah Kereta Rel Listrik". PT KAI Commuter Jabodetabek. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-06. Diakses tanggal 20 September 2015.
- ↑ antaranews.com (2012-01-25). "Pemerintah jamin KRL ekonomi tetap beroperasi". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ Afrianti, Desy (2013-03-19). "VIDEO: Mulai April, KRL Ekonomi Resmi Dihapus". www.viva.co.id. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ antaranews.com (2013-03-25). "KRL non-AC tidak beroperasi mulai April". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ "Demo tolak penghapusan layanan kereta ekonomi berakhir". BBC News Indonesia. 2013-03-25. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ antaranews.com (2013-03-28). "Legislator sambut positif penundaan penghapusan KRL Ekonomi". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ antaranews.com (2013-05-06). "KRL Ekonomi Tanah Abang-Parung berhenti operasi besok". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ "Ada Subsidi, Tarif KRL AC Beda Tipis dengan KRL Ekonomi". Kompas.com. 2013-07-19. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ antaranews.com (2013-07-26). "Penumpang KRL Ekonomi beralih ke Commuter Line". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-26.
- ↑ antaranews.com (2009-09-16). "Menhub Resmikan Stasiun Jurangmangu". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Wedo, Henrykus F. Nuwa (2013-04-08). "JALUR GANDA KA: Mulai April Proyek Tanah Abang-Maja Beroperasi". Bisnis.com. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ "PT KAI resmikan jalur ganda Serpong-Maja". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ antaranews.com (2016-05-11). "Stasiun Kebayoran-Parung Panjang-Maja diresmikan". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Mardiastuti, Aditya. "PT KAI Uji Coba KRL ke Rangkasbitung Jelang Beroperasi". detiknews. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ antaranews.com (2017-04-01). "KRL Tanah Abang-Rangkasbitung mulai beroperasi". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ "April 2017, KA Lokal Hanya Layani Rute Rangkasbitung-Merak". April 2017, KA Lokal Hanya Layani Rute Rangkasbitung-Merak. 2017-03-20. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ antaranews.com (2007-12-10). "Konstruksi Elektrifikasi KA Bekasi-Cikarang Mulai 2008". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ antaranews.com (2007-09-12). "Proyek Rel Ganda Dwiganda Terancam Molor". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ "PENYELESAIAN PEMBANGUNAN PAKET B1 BEKASI-CIKARANG BUTUH 45 BULAN". Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2012-10-10. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ antaranews.com (2014-12-12). "KAI tambah dua stasiun baru di Bekasi". Antara News. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Laksana, Bisma Alief. "PT KCJ Uji Coba Sinyal dan Listrik KRL Rute Jakarta-Cikarang". detiknews. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Praditya, Ilyas Istianur; Nurmayanti; Saputra, Reza Deni (2017-10-05). "KRL Beroperasi dari Stasiun Cikarang Mulai 8 Oktober 2017". Liputan6. Jakarta: Liputan Enam Dot Com. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ "Rute KRL Cikarang - Bekasi dan Jadwal Keberangkatannya". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-27.
- ↑ Ema Fitriyani. "Mulai 28 Mei KRL Bogor hanya ke Jakarta Kota, Rute Bekasi ke Tanah Abang". Kumparan. Diakses tanggal 2022-05-21.
- ↑ State Run Commuter Line Operator PT KCJ Transform Into PT KCI The Jakarta Post, 20 September 2017
- ↑ Sunaryo, Arie. Putra, Idris Rusadi (ed.). "Tak Hanya Jakarta, Solo-Jogja Juga Bakal Punya Kereta Listrik". Merdeka.com. Diakses tanggal 2020-02-12.
- ↑ Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030 (PDF), Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia, 2011, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-03-31, diakses tanggal 2020-04-04
- ↑ Media, Rohmah Ermawati-Solopos Digital (2019-10-16). "Jaringan Listrik KRL Solo–Jogja Dibangun Akhir Tahun 2019". SOLOPOS.com. Diakses tanggal 2020-02-12.
- ↑ JawaPos.com (2020-02-12). "Proyek KRL Solo-Jogja Masih Tahap Konstruksi". radarsolo.jawapos.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-20. Diakses tanggal 2020-02-12.
- ↑ Trisnaningtyas, Farida (19 April 2020). "Proyek KRL Solo-Jogja Terhambat Wabah Covid-19". Solopos. Surakarta: Bisnis Indonesia. Diakses tanggal 25 Mei 2020.
- ↑ "KRL Yogyakarta-Solo Mulai Beroperasi Penuh 10 Februari 2021". KAI Commuter. Diakses tanggal 12 Februari 2021
- 1 2 Pratama, Gigih Windar (18 Agustus 2022). "KRL Solo-Jogja Berangkat 3 Kali dari Stasiun Palur, Cek Jadwalnya!". Solopos. Surakarta: Bisnis Indonesia. Diakses tanggal 18 Agustus 2022.
- ↑ Idris, Muhammad (2017-10-09). "Dari Cikarang, KRL Kemungkinan Diperpanjang Sampai Cikampek". detikfinance. Jakarta: Trans Digital Media. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ Halim, Hilmi Abdul (2017-10-06). "Kebutuhan Bogor Akan KRL Citayam-Parungpanjang Mendesak". PikiranRakyat. Jakarta: Kolaborasi Mediapreneur Nusantara. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ Rezy, Fahkri (2017-02-07). "Asik, Jalur KRL Parung Panjang-Citayam Segera Dibangun : Okezone Economy". Okezone. Jakarta: Media Nusantara Citra (MNC). Diakses tanggal 2025-11-14.
- 1 2 3 4 5 Afifah, Riana. Ebo, Aloysius Gonsaga Angi (ed.). "5 Desember, Pola Jalur Melingkar KRL Beroperasi". Kompas.com (dalam bahasa Inggris). KG Media. Diakses tanggal 2017-10-14.
- 1 2 3 Fitriyani, Ema. "Mulai 28 Mei KRL Bogor hanya ke Jakarta Kota, Rute Bekasi ke Tanah Abang". Kumparan. Diakses tanggal 2022-05-21.
- ↑ Kusuma, Hendra. "Rute KRL Bekasi-Jakarta Kota via Senen Beroperasi 1 April". detikcom. Trans Media. Diakses tanggal 30 Maret 2017.
- ↑ Idris, Muhammad. "Pengumuman! KRL Cikarang Mulai Beroperasi 8 Oktober". detikcom. Trans Media. Diakses tanggal 2017-10-14.
- ↑ "KRL Rangkasbitung - TanahAbang Beroperasi Penuh Mulai 1 April 2017". KRL (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2017-10-14.
- ↑ Fadhli, Faris (2015-12-22). "Lintas Jakarta Kota - Tanjung Priuk Dibuka, KRL Mulai Beroperasi". KAORI Nusantara (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2017-10-14.
- ↑ Keteng, Andi Muttya (2013-07-07). "Berlakukan Tarif Progresif KRL Commuter, PT KAI Merugi". Liputan6. Jakarta: Liputan Enam Dot Com. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ "Mulai 1 April 2015, tarif KRL Jabodetabek tergantung jarak". Merdeka. Jakarta: KapanLagi Dot Com Networks. 2015-02-27. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ "KCI Hapus Kartu THB Di Lima Stasiun Ini Mulai 1 Agustus 2019". Tribunnews. Jakarta: Kompas Gramedia. 2019-07-08. Diakses tanggal 2019-08-02.
- ↑ Mantalean, Vitorio. Gatra, Sandro (ed.). "PT KCI Bakal Hapus Pembelian Tiket Harian KRL di 5 Stasiun". Kompas.com. Diakses tanggal 2019-08-02.
- ↑ "Stasiun Bogor dan Cilebut Menjadi Stasiun Khusus KMT Mulai 13 Juli 2020". KAI Commuter. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-06-22. Diakses tanggal 2022-06-19.
- ↑ "Stasiun Rangkasbitung Sebagai Stasiun Khusus KMT Mulai 3 November 2020". KAI Commuter. Diakses tanggal 2022-06-19.[pranala nonaktif permanen]
- ↑ "Stasiun Bogor, Cilebut, Cikarang, dan Rangkasbitung Berlaku Stasiun Khusus Uang Elektronik Setiap Hari". Bisnis News. Diakses tanggal 2022-06-19.
- ↑ "Kini 19 Stasiun KRL Hanya Terima Kartu Uang Elektronik dan KMT". Media Indonesia. Diakses tanggal 2022-06-19.
- ↑ KAI Commuter, 'author' (2022-09-08). "#RekanCommuters sudah tau belum apa itu Stasiun Uang Elektronik..." Twitter. Diakses tanggal 2022-09-08.
- ↑ Hakim, Adli. "Dukung Integrasi Antarmoda, KCJ Ajak Pemilik Tiket KMT Tukar Kartu Dengan KMT Teknologi Terbaru Secara Gratis". KRL (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2019-03-22.
- ↑ Sulistyo, Bayu Tri (2021-10-12). "Sekarang Bisa Naik MRT Jakarta, LRT Jakarta, dan TransJakarta Pakai KMT". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2021-10-13.
- ↑ Pradana, Rio Sandy (2022-01-19). Yati, Rahmi (ed.). "Tahun Ini, Isi Ulang Saldo KMT Bisa Lewat KRL Access". Bisnis Indonesia. Jakarta. Diakses tanggal 2022-08-11.
- ↑ Werdiningsih, RR Putri. Santosa, Uji Agung (ed.). "Brizzi, E-money, dan Tap Cash bisa bayar KRL". Kontan.co.id. Diakses tanggal 2019-03-22.
- ↑ Rudi, Alsadad (2014-08-11). "Tiket Elektronik Transjakarta Bisa Digunakan untuk KRL". KOMPAS. Kompas Gramedia: Jakarta. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ Nugraha, Angga Bhagya (2025-11-14). Nugroho, Sapto (ed.). "Anak Bertinggi Badan Lebih dari 90 Cm Wajib Beli Tiket KRL". Tribunimages. Warta Kota. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ Fasilitas Free Out akan Ditiadakan, diakses 14 Desember 2015
- ↑ antaranews.com. PT KAI resmikan jembatan penghubung Stasiun Batu Ceper. Antara News. Diakses tanggal 2024-11-26.
- ↑ "Jembatan Penghubung (JPH) Stasiun Batu Ceper ..." X. KAI Bandara. 2020-09-17. Diakses tanggal 2024-11-27.
- ↑ "Untuk di stasiun Manggarai, untuk tap in dan tap out ..." X (d.h. Twitter). KAI Bandara. 2021-10-26. Diakses tanggal 2024-11-26.
- ↑ Suratmo, Yayat (2023-09-01). "Penumpang Masih Bingung Manfaatkan Konektivitas LRT dengan KRL di Stasiun Sudirman". VIBRASI.CO. Diakses tanggal 2024-11-27.
- ↑ Wardani, Agustin Setyo (2019-10-27). Iskandar (ed.). "Naik KRL Commuter Line Kini Bisa Bayar Pakai LinkAja, Begini Caranya". Liputan6.com. Diakses tanggal 2020-10-09.
- ↑ Sutianto, Feby Dwi. "Ini Cara Pakai Aplikasi LinkAja saat Naik KRL". Kumparan. Diakses tanggal 2020-10-09.
- ↑ "Bayar KRL Pakai LinkAja Bakal Disetop Mulai 16 Januari 2023". CNN Indonesia. Jakarta. 3 Januari 2023. ;
- ↑ Yati, Rahmi (2021-09-29). "Resmikan Integrasi Tarif JakLingko, Anies Bedakan Tarif Penumpang". Bisnis Indonesia. Jakarta. Diakses tanggal 2025-05-01.
- ↑ "Apakah Kartu JakLingko Bisa untuk KRL ? Ini Jawabannya". kumparan. Diakses tanggal 2025-05-01.
- ↑ "Kini Gojek Kerja Sama dengan KAI Commuter Integrasi Pembayaran KRL". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2022-06-19.
- ↑ "KAI Commuter Mendukung QRIS Tap Untuk Transaksi di Commuter Line - Implementasi Direncanakan Dapat Go Live Pada September 2025". Informasi Publik KAI Commuter. Jakarta: PT Kereta Commuter Indonesia. 2025-03-14. Diakses tanggal 2025-10-21.
- ↑ Indraini, Anisa. "Ini Transportasi Umum yang Sudah Bisa Pakai QRIS Tap, LRT-KRL Nyusul". detikfinance. Jakarta. Diakses tanggal 2025-10-30.
- ↑ Faradianti, Merinda. "Naik KRL Jabodetabek Bisa Pakai QRISTap, Tersedia di 83 Stasiun - Sektor Riil". Bloomberg Technoz. Jakarta: Properti Berita Mediatama Indonesia. Diakses tanggal 2025-10-31.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2023-08-11). "KAI Access Berubah Nama Jadi Access by KAI Mulai 10 Agustus 2023, Apa Saja Fiturnya?". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-08-12.
- ↑ Hamami, Nurul. "Soft Launching Access by KAI, KAI Tingkatkan Fitur dan Layanan KAI Access". Republika. Jakarta: MahakaX. Diakses tanggal 2023-07-12.
- ↑ Wuri, oleh Ageng (2023-01-19). "Pengguna Kereta Commuter Line Kini Bisa Mencoba Aplikasi Baru C-Access, Ada Fitur-Fitur Menarik". gadgetren.com. Diakses tanggal 2023-12-07.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2023-11-25). "Kenalkan Aplikasi C-Access, KAI Commuter Siap Gelar "MANGKUNEGARAN Garden Orchestra"". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-12-07.
- ↑ Sedayu, Agung (2023-12-04). "Gandeng Bank Mandiri, KAI Commuter Resmi Meluncurkan C-Access". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-12-07.
- 1 2 Fadhli, F. (2014). "KRL Ekonomi: Riwayatmu Tak Terlupakan". Majalah KA. 92: 16–17.
- ↑ Fadhli, F. (2014). "KRL Jepang (Masih) Merajai Jabodetabek". Majalah KA. 95: 12–15.
- ↑ Fadhli, F. (2014). "Inilah KRL Produk Dalam Negeri". Majalah KA. 95: 10–11.
- ↑ "KECELAKAAN KRL | ANTARA Foto". antarafoto.com. Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ "ジャボデタベク電気鉄道センター: Renungan: Kecelakaan KA Ratujaya 2 November 1993 - 1993年11月2日のラテゥジャヤ電車事故". 7 Nov 2011.
- ↑ "Kereta Komuter tabrak mobil tangki BBM". BBC News Indonesia. 2013-12-09. Diakses tanggal 2025-11-14.
- ↑ MetroTVNews.com: KRL Tabrak KRL di Stasiun Juanda, Korban Berjatuhan[pranala nonaktif permanen]
- ↑ Tempo: Ini 42 Korban Luka Kecelakaan KRL di Stasiun Juanda
- ↑ "MetroTVNews.com: Humas KCJ: Masinis Gustian Luka Parah". Metrotvnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-09-25. Diakses tanggal 2015-09-27.
- ↑ "KRL terguling di Bogor, jadwal perjalanan kereta terganggu: 'Tidak ada korban meninggal dunia'". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-13.
- ↑ "Kronologi Kecelakaan KRL vs Truk di Perlintasan Kereta Tangerang". kumparan. Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ ningsih, ayu. "KRL Bogor Jenis JR 203 yang Mengarah ke Jakarta Kota Ternyata Anjlok - Pojok Bogor". KRL Bogor Jenis JR 203 yang Mengarah ke Jakarta Kota Ternyata Anjlok - Pojok Bogor. Diakses tanggal 2025-12-14.
- ↑ Pranata & Rizky, Chandra Dwi & Martyasari (28 April 2026). "AHY umumkan 15 orang meninggal akibat tabrakan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL". cnbc. Diakses tanggal 2026-04-28.
- ↑ tirto, Intern. "Korsleting Taksi Picu Tabrakan KRL di Bekasi, Sopir Diamankan". tirto.id. Diakses tanggal 2026-05-10.
- ↑ "Cerita Warga Saksikan Taksi Tertabrak KRL yang Jadi Pemicu KA Argo Bromo vs KRL". kumparan. Diakses tanggal 2026-05-10.
Pranala luar
- (Indonesia) Situs web resmi
| |||||||||||||||||
| Sumatra |
| ||||||||||||||||
| Jawa |
| ||||||||||||||||
| Bali |
| ||||||||||||||||
| Kalimantan |
| ||||||||||||||||
| Sulawesi | |||||||||||||||||
| Papua |
| ||||||||||||||||
| Lainnya |
| ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||