10 Agustus 1955(1955-08-10) (sebagai NV Perseroan Dagang Dan Industrie Semarang Knitting Factory) 21 Februari 1957(1957-02-21) (sebagai Bank Central Asia)
Bank Central Asia (BCA) adalah bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan total aset dan kapitalisasi pasar. Bank ini didirikan pada 21 Februari 1957 dan pernah menjadi bagian penting dari Grup Salim. Saat ini BCA dikendalikan oleh keluarga Hartono melalui PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan yang terkait dengan grup Djarum.[2]
Per akhir 2025, BCA memiliki total aset sebesar Rp 1.586,8 triliun dan membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun.[1] Bank ini melayani lebih dari 43 juta rekening nasabah dan memproses lebih dari 115 juta transaksi setiap hari.[3]
Sejarah
Perkembangan hingga 1997
PT Bank Central Asia Tbk didirikan pada 10 Agustus 1955 dengan nama NV Perseroan Dagang dan Industrie Semarang Knitting Factory di Semarang.[4] Awalnya perusahaan ini bergerak di bidang tekstil. Tidak lama kemudian, perusahaan tersebut berubah menjadi bank dengan nama NV Bank Asia pada 12 Oktober 1956, kemudian menjadi Central Bank Asia, dan resmi menjadi NV (kemudian PT) Bank Central Asia pada 21 Februari 1957. Pada hari yang sama bank mulai beroperasi, dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi BCA.[4]
Bank ini kemudian dibeli oleh Liem Sioe Liong (Sudono Salim) dan rekannya Tan Lip Soin dari pemilik sebelumnya. Kantor pusat dipindahkan ke Jakarta. Pada tahun 1970-an, bankir Mochtar Riady bergabung dan membenahi operasional bank. Di bawah kepemimpinannya, BCA berkembang pesat, melakukan beberapa merger, memperoleh status bank devisa pada 1977, dan mulai memperkenalkan inovasi seperti kartu kredit BCA Card (1979) serta jaringan ATM.[4][5]
Setelah Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 (PAKTO 88), BCA meluncurkan produk unggulannya, Tabungan Hari Depan (Tahapan), dan memperluas jaringan cabang secara masif. Menjelang akhir 1990-an, BCA telah menjadi salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.[4]
BCA dalam krisis moneter
Krisis finansial Asia dan kerusuhan Mei 1998 menyebabkan penarikan dana besar-besaran (bank run) terhadap BCA. Pada 28 Mei 1998 pemerintah mengambil alih BCA sebagai Bank Take Over (BTO) dan menempatkannya di bawah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).[6] Pemerintah kemudian melakukan rekapitalisasi dan menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan mencapai 92,8%.[6]
Divestasi dan era keluarga Hartono
Pemerintah mulai melepas sahamnya melalui IPO pada 31 Mei 2000 dan secondary offering pada 2001. Pada 15 Maret 2002, konsorsium Farindo Investment (Mauritius) Limited yang melibatkan Farallon Capital dan Alaerka Investment (terkait Djarum) memenangkan tender 51% saham BCA dengan nilai Rp 5,3 triliun.[7]
Sejak 2007, keluarga Hartono secara bertahap menguasai saham pengendali. Pada 11 November 2016, saham Farindo Investment dialihkan ke PT Dwimuria Investama Andalan. Kemudian pada 12 April 2017, PT Dwimuria Investama Andalan menaikkan kepemilikannya menjadi 54,94%, yang bertahan hingga saat ini.[8]
Perkembangan modern
Pasca divestasi, BCA fokus pada penguatan perbankan transaksi dan digitalisasi. Bank ini memperkenalkan berbagai layanan elektronik seperti Debit BCA, KlikBCA, m-BCA, dan kemudian myBCA. BCA juga mengembangkan anak perusahaan di bidang pembiayaan, asuransi, sekuritas, perbankan syariah, dan perbankan digital.
Hingga akhir 2025, BCA memiliki sekitar 1.270 kantor cabang dan 20.163 ATM. Bank ini terus menambah jaringan fisik secara selektif, terutama di wilayah Indonesia Timur.[3]
Operasional dan jaringan
BCA menerapkan strategi hybrid banking yang menggabungkan jaringan fisik dengan kanal digital. Per akhir 2025, bank ini memiliki:
Meskipun frekuensi transaksi digital sudah mencapai sekitar 99,8%, nilai transaksi yang dilakukan melalui cabang masih signifikan (lebih dari 30%). BCA terus menambah jaringan fisik secara selektif, terutama di wilayah Indonesia Timur dan daerah suburban, dengan alasan bahwa kehadiran fisik masih penting untuk membangun kepercayaan nasabah dan melayani transaksi kompleks.[10]
Perbankan digital dan sistem pembayaran
BCA dikenal sebagai salah satu bank dengan infrastruktur digital terkuat di Indonesia.
Platform utama meliputi:
myBCA — aplikasi mobile utama
BCA mobile
KlikBCA — internet banking
Sakuku — uang elektronik
BCA merupakan salah satu pengadopsi awal pembayaran berbasis QR. Setelah Bank Indonesia memberlakukan standar nasional QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), BCA sepenuhnya beralih ke sistem tersebut. Nasabah dapat melakukan pembayaran dan transfer melalui QRIS dalam mode Merchant Presented Mode (MPM), Consumer Presented Mode (CPM), maupun QRIS Tap (menggunakan teknologi NFC). Fitur QRIS Tap juga telah diintegrasikan untuk pembayaran transportasi umum (TransJakarta, MRT, LRT, Commuter Line) dan fasilitas parkir.[11]
myBCA juga mendukung transaksi melalui smartwatch (Apple Watch dan Wear OS).
Cara membuka rekening
Pembukaan rekening dapat dilakukan di kantor cabang maupun secara daring melalui aplikasi myBCA atau BCA mobile.
Syarat utama untuk warga negara Indonesia:
Usia minimal 17 tahun
e-KTP yang masih berlaku
Nomor ponsel dan alamat surel aktif
Foto diri (selfie) dan tanda tangan di kertas putih (untuk pembukaan daring)
NPWP (opsional untuk beberapa produk seperti Tahapan Xpresi)
Setoran awal disesuaikan dengan jenis tabungan, misalnya Rp 50.000 untuk Tahapan Xpresi dan Rp 500.000 untuk Tahapan biasa. Proses pembukaan daring dilengkapi dengan verifikasi identitas melalui video call dengan petugas BCA.[12]
Kehadiran di luar negeri
BCA memiliki kehadiran internasional yang sangat terbatas. Bank ini pernah memiliki kantor perwakilan di Hong Kong dan Singapura. Kantor perwakilan di Hong Kong ditutup efektif 12 Agustus 2025. Anak perusahaan BCA Finance Limited di Hong Kong juga dilikuidasi pada awal 2026. Hingga kini BCA tidak memiliki jaringan cabang ritel di luar negeri dan lebih memilih fokus pada pasar domestik.[13]
Anak perusahaan
Anak perusahaan utama BCA meliputi:
PT BCA Finance — pembiayaan kendaraan dan multipurpose
PT Bank BCA Syariah — perbankan syariah
PT Bank Digital BCA — bank digital
PT BCA Sekuritas — sekuritas
PT Asuransi Umum BCA — asuransi umum
PT Asuransi Jiwa BCA — asuransi jiwa
PT Central Capital Ventura — modal ventura
Kontroversi
BCA relatif memiliki reputasi yang lebih baik dibandingkan sejumlah bank lain di Indonesia, namun tetap menghadapi beberapa isu.
Denda OJK 2023
Pada 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan denda administratif sebesar Rp 100 juta kepada BCA dalam kapasitasnya sebagai bank kustodian terkait pelanggaran yang dilakukan oleh manajer investasi PT Berlian Aset Manajemen.[14]
Kasus deposito fiktif di Kepanjen, Malang (2026)
Pada Juni 2026, sebuah kasus di cabang BCA Kepanjen, Kabupaten Malang, menjadi viral di media sosial. Seorang nasabah mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 987 juta setelah ditawari produk “deposito internal” oleh seorang petugas customer service BCA yang saat itu masih aktif bekerja, Farida Eko Setyowati, sejak akhir 2022 hingga 2025. Menurut pengakuan nasabah, transaksi dilakukan di dalam kantor cabang, dokumen berstempel resmi diberikan, dan sebagian dana diduga dialihkan. Nasabah juga mengklaim bahwa kartu ATM TabunganKu atas nama anaknya dibuat tanpa sepengetahuannya.[15][16]
Kasus ini menarik perhatian publik karena diduga terjadi di lingkungan bank selama bertahun-tahun. BCA pusat kemudian turun tangan, dan perkara dilaporkan diselesaikan melalui mediasi dengan kompensasi yang lebih rendah.[17] Publik mengkritik penanganan awal dan fakta bahwa dugaan penipuan berlangsung di dalam cabang.
Isu lainnya
Terdapat beberapa kasus isolir penyalahgunaan oleh oknum pegawai dan penipuan phishing terhadap nasabah. Privatisasi BCA tahun 2002 juga kerap dikritik karena dinilai terlalu murah. Pihak BCA menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa proses penjualan dilakukan secara transparan sesuai ketentuan pemerintah saat itu.
Penghargaan
BCA berulang kali dinobatkan sebagai bank terbaik di Indonesia oleh Forbes World’s Best Banks, termasuk pada tahun 2026. Bank ini juga menerima berbagai penghargaan di bidang literasi keuangan, digitalisasi, dan kinerja perbankan.