Trans Metro Dewata diresmikan oleh Gubernur Bali I Wayan Koster dan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi pada 7 September 2020 di Pasar Badung, Kota Denpasar. Koridor Trans Metro Dewata tersebar di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Total bus yang dioperasikan untuk melayani 6 koridor Trans Metro Dewata adalah sebanyak 105 unit bus.[3] Operator layanan Trans Metro Dewata adalah PT Satria Trans Jaya. Biaya operasional Trans Metro Dewata disubsidi 100% oleh pemerintah pusat.[1]
Trans Metro Dewata menjadi salah satu pengembangan angkutan massal berbasis jalan yang disubsidi oleh pemerintah, serta melengkapi layanan bus Trans Sarbagita yang telah ada sebelumnya. Bus ini hadir sebagai penunjang mobilisasi masyarakat yang terintegrasi dengan layanan angkutan massal lain. Tujuan program ini untuk meningkatkan lagi minat masyarakat menggunakan angkutan umum sehingga mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang diharapkan mampu mengurangi kemacetan dan polusi udara di Bali.
Namun, dikarenakan Pemerintah Daerah Provinsi Bali gagal mempersiapan peralihan operasional sebelum kesepakatan berakhir, untuk sementara waktu operasional Trans Metro Dewata dihentikan hingga 20 April 2025.[6]
Pada 20 April 2025, Trans Metro Dewata kembali beroperasi di 6 koridor.[7][8]
Koridor
Pranala jalur lintasan tiap koridor Trans Metro Dewata disimbolkan dengan kode koridor dalam segi empat berwarna.
Peta jaringan dan konektivitas angkutan umum perkotaan di Denpasar Raya.
Tarif yang dikenakan per penumpang sebesar Rp 4.400,00. Penumpang wajib membawa kartu uang elektronik/QRIS
Armada
Trans Metro Dewata beroperasi dengan 75 armada. Sebelum berhenti beroperasi, terdapat 105 armada dengan rincian 95 armada digunakan untuk kepentingan operasional sedangkan sisanya untuk cadangan.[9] Sebagian armada dijual oleh pengelola untuk menutupi biaya perawatan selama Trans Metro Dewata tidak beroperasi.