Aksara Sunda Baku (ᮃᮊ᮪ᮞᮛ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮘᮊᮥ) merupakan sistem penulisan tradisional yang digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda kontemporer. Aksara ini merupakan hasil penyesuaian dari Aksara Sunda Kuno, yang digunakan di wilayah Sunda sejak sekitar abad ke-14 hingga abad ke-18. Saat ini, Aksara Sunda Baku lazim disebut sebagai Aksara Sunda.[1]
Karena susunan aksara konsonannya yang diawali dengan pola "ka-ga-nga", aksara ini sering keliru diidentifikasi sebagai Aksara Kaganga (Surat Ulu), yaitu kelompok aksara tradisional yang berkembang di wilayah Sumatera bagian selatan dan Bengkulu.
Aksara Sunda merupakan sistem tulisan yang berkembang dan digunakan oleh masyarakat Sunda di wilayah Jawa bagian barat. Tradisi tulis masyarakat Sunda telah dikenal sejak sekitar abad ke-5 Masehi pada masa Kerajaan Tarumanagara, yang dibuktikan melalui sejumlah prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Tradisi tersebut kemudian berkembang hingga melahirkan bentuk aksara khas Sunda yang dikenal sebagai Aksara Sunda Kuno, yang sebagian besar telah dibahas oleh Kern (1917) dalam karyanya yang berjudul Verspreide Geschriften: Inscripties van den Indischen Archipel.[2]
Aksara Sunda Kuno diperkirakan digunakan sejak abad ke-14 hingga abad ke-18 untuk menuliskan bahasa Sunda Kuno dalam prasasti, naskah lontar, serta dokumen keagamaan dan kesusastraan. Beberapa bukti penggunaan aksara ini dapat ditemukan pada Prasasti Kawali di Kawali, Ciamis, serta Prasasti Kebantenan di Bogor. Secara paleografis, Aksara Sunda Kuno merupakan hasil perkembangan dari aksara turunan Pallawa yang juga berkaitan dengan aksara Kawi.
Penelitian terhadap prasasti dan naskah beraksara Sunda mulai dilakukan secara intensif pada akhir abad ke-19 hingga abad ke-20 oleh sejumlah sarjana asing, seperti Karel Frederik Holle dan Cornelis Marinus Pleyte. Penelitian tersebut kemudian dilanjutkan oleh peneliti Indonesia, antara lain Atja dan Edi S. Ekadjati. Hasil penelitian tersebut berperan dalam meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan Aksara Sunda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sunda.[2]
Upaya pelestarian dan standardisasi Aksara Sunda mulai dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada akhir abad ke-20. Pada tahun 1996 diterbitkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda. Peraturan tersebut kemudian diperbarui melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2003 dan Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2014.[3]
Pada tanggal 21 Oktober 1997, diselenggarakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus Unpad, Jatinangor, yang merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Fakultas Sastra Unpad. Lokakarya tersebut menghasilkan rumusan aksara standar yang kemudian dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Berdasarkan hasil kajian tersebut, pada tanggal 16 Juni 1999 diterbitkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 434/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bentuk baku Aksara Sunda, yang kemudian dikenal sebagai Aksara Sunda Baku.
Penggunaan
Saat ini, Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas, antara lain melalui berbagai kegiatan kebudayaan daerah yang diselenggarakan di Bandung. Selain itu, aksara ini juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda serta Kantor Dinas Pariwisata Kota Bandung.
Pemerintah daerah di beberapa wilayah juga mulai mengadopsi penggunaan Aksara Sunda Baku. Pemerintah Kota Tasikmalaya, misalnya, telah menggunakan aksara ini pada papan nama jalan-jalan utama. Sementara itu, di Kota Bandung dan Kota Bogor, penggunaan bahasa Sunda dengan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan ditempatkan berdampingan dengan penulisan dalam bahasa Indonesia (alfabet Latin).[4][5][6]
Namun demikian, hingga akhir tahun 2008, pembelajaran Aksara Sunda Baku belum diwajibkan secara formal di sekolah oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, meskipun bahasa Sunda telah menjadi mata pelajaran wajib. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian aksara belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pendidikan formal.[7][8]
Sebagai perbandingan, beberapa daerah lain, seperti Provinsi Lampung dan Provinsi Jawa Tengah, telah lebih dulu mewajibkan pembelajaran aksara daerah bersamaan dengan bahasa daerah di tingkat sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi bahasa dan aksara dalam pendidikan formal dapat mempercepat pelestarian budaya tulis lokal. [9]
Dalam praktiknya, penerapan Aksara Sunda Baku di ruang publik masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait akurasi penulisan. Kesalahan penulisan pernah terjadi pada papan nama di depan Balai Kota Sukabumi yang menyebabkan perubahan makna dari "Balai Kota Sukabumi" menjadi "Nyala Kata Sukanyama". Kasus ini mendapat kritik dari pegiat budaya karena menunjukkan lemahnya validasi teknis dalam penggunaan aksara daerah.[10]
Menanggapi hal tersebut, pemerintah setempat kemudian melakukan perbaikan dengan mencopot dan memperbaiki penulisan aksara yang keliru. Beberapa laporan menyebutkan bahwa kesalahan tersebut terjadi akibat hilangnya tanda diakritik (rarangkén) pada aksara, yang berdampak signifikan terhadap perubahan makna.[11]
Penggunaan, pemeliharaan, dan pengembangan bahasa, sastra, dan Aksara Sunda di Kota Bandung sendiri diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012. Regulasi ini menjadi landasan formal dalam upaya pelestarian dan pengembangan budaya Sunda, termasuk aksaranya.[12]
Bentuk
Aksara Sunda Baku terdiri atas 32 aksara dasar, yaitu 7 aksara swara (vokal mandiri) dan 23 aksara ngalagena (konsonan bervokal /a/). Aksara swara meliputi a, é, i, o, u, e, dan eu.
^1 Vokal e[ə] (pepet) berada di tengah trapesium karena posisi lidahnya paling netral.
^2 Vokal eu[ɤ] dan o[ɔ] sama-sama berada pada posisi sedang-belakang, tetapi eu merupakan vokal tidak bulat sedangkan o vokal bulat.
^3 Vokal konsonan pangreureureu[r̩ɤ] dan pangliwetleu[l̩ɤ] dari bahasa Sanskerta tidak dimasukkan ke dalam trapesium vokal karena keduanya merupakan konsonan silabis, bukan vokal murni. Contoh berturut-turut: kata reup (ᮻᮕ᮪), artinya "gelap, merem", dan kata leuwih (ᮼᮝᮤᮂ), artinya "jauh, lebih".
Sedangkan aksara ngalagena tersusun dalam kelompok ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, dan wa-sa-ha. Lima aksara ngalagena tambahan dimunculkan untuk merekam perkembangan bahasa Sunda, termasuk merepresentasikan bunyi serapan dari bahasa asing. Namun demikian, bentuk aksara tambahan tersebut bukan merupakan kreasi baru, melainkan hasil modifikasi dari aksara yang telah ada sebelumnya. Sebagai contoh, aksara fa dan va merupakan modifikasi dari aksara pa; aksara qa dan xa merupakan modifikasi dari aksara ka; sedangkan aksara za merupakan modifikasi dari aksara ja. Dua aksara tambahan lainnya, yaitu kha dan sya, digunakan untuk melambangkan fonem yang berasal dari abjad Arabخ dan ش.
^1 fonem /nga/ [ŋa], misal kata ngagugu (ᮍᮌᮥᮌᮥ) artinya nurut kepada orang tua.
^2 fonem /nya/ [ɲa], misal kata nyanggakeun (ᮑᮀᮌᮊᮩᮔ᮪) artinya mempersembahkan.
^3 fonem /bha/ [bʰa] berasal dari aksara Sunda kuno untuk penggunaan bahasa Sanskerta dan sudah tidak digunakan lagi dalam pemakaian modern. Masih diperdebatkan apakah ini dibaca /bha/ atau sebenarnya huruf vokal /i/ [i] kuno.
Huruf yang berasal dari kata serapan asing:
^4 fonem /qa/ dibaca sama seperti /kwa/ [kʷa]; misal Qur'an dibaca [kur.an].
Di awal/tengah kata: dibaca /z/ [z]; misalnya Zendaya dibaca [zɛnˈdeɪ.ə].
Di akhir kata: dibaca /s/ [s]; misalnya hafiz dibaca hapis[ha.pis].
^6 fonem /fa/ [fa] dan /v/ [va] biasanya disesuaikan menjadi /pa/ [pa]; misalnya faedah → paedah[pa.ɛ.dah], vitamin → pitamin[pi.ta.min], dan Vespa → pespa[pɛs.pa].
Di awal kata: [sa]; misalnya xenon dibaca [sɛ.non].
Di akhir kata: /ks/ [k] dan [s]; misalnya fax dibaca [pakˈs] atau [pak], x-ray dibaca [ɛks.rɛi], atau Oxford dibaca [ɔksˈpɔrt].
Huruf berikut digunakan dalam lingkungan pesantren:
^8 fonem /kha/ [xa] berasal dari huruf serapan Arab (خ); misalnya khotbah dibaca [xot.bah].
^9 fonem /sya/ [ʃa] berasal dari huruf serapan Arab (ش); misalnya syahid dibaca [ʃa.hid].
Aksara ini juga memiliki rarangkén, yaitu tanda diakritik yang berfungsi untuk mengubah atau menambahkan bunyi serta menghilangkan rarangkén (pamaéh) pada aksara dasar. Tiga belas rarangkén tersebut, berdasarkan posisinya, dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: (1) lima rarangkén di atas huruf, (2) tiga rarangkén di bawah huruf, dan (3) lima rarangkén sejajar dengan huruf. Untuk menuliskan angka atau bilangan, aksara ini memiliki 10 angka dasar, yaitu dari 0 sampai 9.
Dari segi bentuk, huruf ngalagena dan rarangkén memiliki sudut 45°–75°. Umumnya, perbandingan dimensi huruf (tinggi:lebar) adalah 4:4, kecuali untuk huruf ra (4:3), ba dan nya (4:6), serta aksara swara i (4:3). Rarangkén memiliki perbandingan dimensi 2:2, kecuali panyecek (1:1), panglayar (4:2), panyakra (2:4), pamaéh (4:2) dan pamingkal (2:4 pada sisi bawah, 3:2 pada sisi kanan). Angka memiliki perbandingan dimensi 4:4, kecuali angka 4 dan 5 yang berukuran 4:3.
Aksara Swara
Representasi grafis aksara swara dalam Aksara Sunda Baku.
Ayeuna jam 7.20 wengi (Sekarang pukul tujuh lebih dua puluh menit malam): ᮃᮚᮩᮔ ᮏᮙ᮪ |᮷.᮲᮰| ᮝᮨᮍᮤ
Tanda baca
Pada masa kini, Aksara Sunda Baku menggunakan tanda baca yang diadopsi dari sistem tata tulis Latin, seperti koma ( , ), titik ( . ), titik koma (; ), titik dua (: ), tanda seru (! ), tanda tanya (? ), tanda kutip ( "…" ), tanda kurung ( (…) ), dan tanda kurung siku ( […] ). Namun, Aksara Sunda Kuno memiliki tanda baca tersendiri yang disebut bindu.
Dalam sistem lama, bindu surya yang menggambarkan matahari ⟨᳀⟩ digunakan pada ⟨᳆᳀᳆⟩, sedangkan bindu panglong yang menggambarkan bulan separuh ⟨᳁⟩ digunakan pada ⟨᳆᳁᳆⟩. Kedua tanda tersebut berfungsi untuk menandai naskah yang bernilai religius, termasuk ba satanga ⟨᳇᳇⟩ Adapun bindu purnama yang menggambarkan bulan purnama ⟨᳂⟩ digunakan pada ⟨᳅᳂᳅⟩ untuk menandai naskah sejarah. Bindu cakra ⟨᳃⟩ umumnya dipakai sebagai tanda koma; dalam beberapa konteks, bindu purnama juga dapat berfungsi sebagai koma ketika bindu surya dipakai sebagai penutup.
Selain itu, terdapat bindu leu satanga ⟨᳄⟩ dari aksara ⟨ᮼ⟩, bindu ka satanga ⟨᳅⟩, bindu da satanga ⟨᳆⟩, dan bindu ba satanga ⟨᳇⟩. Dari keempatnya, makna semantis bindu leu satanga masih belum jelas,[13] sedangkan tiga lainnya merupakan bentuk dekoratif yang berasal dari aksara dasar yang bersangkutan.
Penggunaan pasangan
Contoh penggunaan pasangan (gabungan dua aksara) dalam Aksara Sunda Kuno dengan teks berbunyi “Sunda”
Kata atau kalimat sederhana dalam Aksara Sunda Baku dapat ditulis secara langsung dengan menyusun aksara ngalagena yang mewakili bunyi dasar. Namun, pada kata tertentu dapat ditemukan gugus konsonan. Dalam hal ini, terdapat dua cara penulisan, yaitu menggunakan pamaéh atau pasangan.
Penggunaan pamaéh merupakan cara dasar untuk menghilangkan vokal inheren /a/ pada aksara ngalagena. Sementara itu, pasangan digunakan untuk menghindari penggunaan pamaéh di tengah kata serta untuk menghemat ruang penulisan. Bentuk pasangan ditulis dengan melekatan aksara ngalagena kedua pada aksara sebelumnya, sehingga vokal /a/ pada aksara pertama dihilangkan.
Unicode
Aksara Sunda ditambahkan ke dalam standar Unicode pada April 2008 melalui perilisan Unicode versi 5.1. Penambahan ini memungkinkan Aksara Sunda digunakan secara lebih luas pada perangkat digital, termasuk komputer, telepon genggam, dan media elektronik lainnya.
Blok Unicode untuk Aksara Sunda mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Sunda modern. Dukungan digital tersebut turut mendukung upaya pelestarian dan pengembangan Aksara Sunda di era teknologi informasi, terutama dalam bidang pendidikan, penerbitan, tipografi, dan komunikasi digital.
Pada Unicode versi 6.3, dukungan tambahan untuk bentuk pasangan serta beberapa karakter dari aksara Sunda Kuno juga diperkenalkan. Penambahan ini dilakukan untuk meningkatkan kelengkapan representasi aksara Sunda dalam sistem Unicode, termasuk untuk kebutuhan
penulisan naskah historis dan kajian filologis.
Saat ini, Aksara Sunda telah didukung ileh berbagai jenis huruf digital (font) dan dapat digunakan pada sejumlah sistem operasi serta aplikasi yang mendukung standar Unicode.
Blok Unicode untuk Aksara Sunda terletak pada rentang kode U+1B80–U+1BBF. Blok ini mencakup aksara dasar, rarangkén, angka, serta berbagai tanda baca yang digunakan dalam sistem penulisan Aksara Sunda modern.
Selain itu, Unicode juga menyediakan blok tambahan untuk Aksara Sunda pada rentang U+1CC0–U+1CCF. Blok tambahan ini memuat sejumlah karakter pelengkap yang digunakan dalam penulisan dan kajian naskah Sunda kuno.
Sakumna jalma gubrag ka alam dunya téh sipatna merdika jeung boga martabat katut hak-hak anu sarua. Maranéhna dibéré akal jeung haté nurani, campur-gaul jeung sasamana aya dina sumanget duduluran.
Galeri
Contoh-contoh penggunaan aksara Sunda baku
Sebuah papan nama jalan di Kota Bogor yang menggunakan dua aksara dalam tampilan tulisannya (Latin dan Sunda)
Papan nama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menggunakan aksara Sunda dan Latin
↑EVERSON, Michael. Proposal untuk pengkodean karakter tambahan Aksara Sunda untuk Aksara Sunda Kuno dalam UCS. Tersedia di sini (dalam bahasa Inggris). 5 September 2009.
↑Digdo, Ikhsan (2019-01-03). "Film Dread Out". MerahPutih. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-06-10. Diakses tanggal 2020-03-15.