Stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan lintas Garut–Cikajang, sebagai hasil dari percobaan jalur kereta api ekstrem lintas pegunungan serta menjaring pusat perekonomian ketiga di Garut, yaitu daerah Cikajang. Jalur ini dibuka pada tanggal 1 Agustus1930.[5]
Jalur kereta api Garut-Cikajang dibuka dengan cukup meriah. Jalur dengan panjang 23km (14mi) itu dibuka dengan diiringi penampilan kesenian Sunda berupa gamelan dan tayub. Upacara ini dihadiri oleh perwakilan dari Gouvernement Bedrijven Bandung, Residen Priangan Timur, dan Bupati Garut. dan mampu menarik perhatian warga sekitar yang awalnya tidak tertarik dengan apa yang ditampilkan.[6] Antusiasme warga untuk menghadiri upacara pembukaan tersebut bahkan mampu mengosongkan Pasar Cikajang hari itu.
Stasiun Cikajang memiliki tiga jalur, satu di antaranya merupakan sepur badug. Stasiun ini tidak memiliki turntable karena terdapat rencana memperpanjang jalur kereta api menuju Pameungpeuk. Oleh karena itu, keberadaannya di stasiun ini tidak diperlukan untuk jangka panjang. Lokomotif yang mengarah kembali ke arah Garut dari Cikajang harus berjalan hidung panjang.[6]
Pada 1942, saat masa pendudukan Jepang, stasiun ini bersama stasiun-stasiun lain di segmen Garut–Cikajang berhenti beroperasi. Hal ini karena Jepang menganggap jalur ini kurang menguntungkan sehingga memutuskan untuk membongkarnya.[7] Stasiun ini kemudian direaktivasi pada 1947 oleh gabungan perusahaan kereta api Belanda, Staatsspoorwegen Verenigd Spoowegbedjrif (SS/VS).[8]
Saat masih aktif hingga tahun 1980-an, stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh pengguna jasa angkutan yang hendak bepergian dengan kereta api hingga akhirnya ditutup pada tahun 1982 karena sarana yang sudah tua dan kalah bersaing dengan mobil pribadi maupun angkutan umum. Spot di jalur ini sebenarnya sangat indah, sehingga menarik perhatian para railfans dari luar negeri untuk menyaksikan aksi lokomotif uap di jalur ini.
Kini bangunan stasiun sudah tak lagi dipergunakan dan atap stasiun pun sudah tidak ada lagi dikarenakan terbakar, dan lapuk seiring dengan berjalannya waktu. Bangunan ini sekarang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2023.
Insiden
Pada tanggal 2 Agustus 1952, terjadi baku tembak di depan halaman Stasiun Cikajang. Akibatnya, sebuah rumah dinas milik Djawatan Kereta Api serta kantor polisi terbakar, mesin lokomotif tertembak peluru, pintu dan jendela stasiun rusak, harta benda milik kepala stasiun dan kondektur dirampok, dan seorang anggota polisi tertembak. Pelakunya diyakini merupakan gerombolan yang terafiliasi dengan DI/TII.[9]
Galeri
Bangunan Stasiun Cikajang pada 2025
Referensi
12Perusahaan Jawatan Kereta Api, Grafik Perjalanan Kereta Api 1982
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).
↑Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
↑Bruin, Jan de (2003). Het Indische Spoor In Oorlogstijdt: de spoor- en tramwegmaatschappijen in Nederlands-Indië in de vuurlinie, 1873-1949. Uquilair B.V.
↑Bolle, A.G.A. (1949). Hij Rijdt Weer! Een Spoorwegtriomf in Indonesie[Dia Berjalan Kembali] (dalam bahasa Belanda). Diterjemahkan oleh Ninar, Bagus (Edisi 1st).
↑Djawatan Penerangan Republik Indonesia (1953). Propinsi Djawa-Barat. hlm.342. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)