Sejarah stasiun ini tertulis pada buku De Stoomtractie Op Java en Sumatra karangan J.J.G. Oegema.[4] Berdasarkan buku tersebut, stasiun ini mulai dikenal pada tahun 1915 ketika Hindia Belanda membangun jalur kereta Kertapati-Prabumulih sepanjang 78 km dan jalur Prabumulih-Muara Enim sejauh 73 km pada tahun 1917.
Pada tahun 1927, jalur Prabumulih-Tanjungkarang sepanjang 311 km juga dibangun. Pada masa itu, usaha kereta di Sumatera Selatan dikelola oleh perusahaan Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen, divisi dari Staatsspoorwegen (SS). Dulunya terdapat enam jenis lokomotif uap di lintasan Stasiun Prabumulih, yaitu model B51, C11, C30, C50, D50, dan D52. Untuk pengisian bahan bakar berupa air bagi kereta tersebut, digunakan cerek dan tangki pengisian air. Sekitar tahun 1982, dilakukan perombakan bangunan pada stasiun ini.[5]
Bangunan dan tata letak
Suasana Malam di Stasiun Prabumulih
Sebelum tahun 1985, stasiun ini memliki sembilan jalur kereta api dengan jalur 1 yang lama merupakan sepur lurus, kemudian jumlah jalurnya sempat dikurangi hingga tersisa empat jalur saja. Jalur-jalur di stasiun ini dahulu tidak didesain untuk persilangan kereta api batu bara. Sejak beroperasinya jalur ganda Kertapati–Prabumulih per 25 April 2018,[6][7] tata letak stasiun ini diubah sehingga jalur 1 tersebut menjadi sepur lurus dari dan ke arah Kertapati maupun arah Prabumulih Baru X6–Lubuk Linggau, sedangkan jalur 2 yang lama merupakan sepur lurus arah Prabumulih Baru X5–Tanjungkarang. Uniknya, jalur dari arah Palembang berakhir buntu (badug), sehingga agar kereta api dapat masuk stasiun, jalur tersebut dihubungkan dengan wesel ke arah kiri.
Barulah sejak beroperasinya jalur ganda dari stasiun ini menuju stasiun X6, jumlah jalur bertambah menjadi lima dengan menambahkan satu jalur baru di peron sisi stasiun. Penambahan jalur baru tersebut tidak sampai memindahkan posisi bangunan stasiun mengingat peron sisi stasiun ini cukup lebar. Tata letak stasiun ini kembali diubah sehingga jalur baru tersebut menjadi jalur 1 yang baru sebagai sepur lurus arah Lubuk Linggau, jalur 1 yang lama diubah menjadi jalur 2 yang baru sebagai sepur lurus arah Kertapati, dan jalur 2 yang lama diubah menjadi jalur 3 yang baru. Sejak saat itu, sudah tidak ada lagi kereta api batubara yang berhenti di stasiun ini, kecuali jika terjadi penyusulan dan antrean antarkereta api.
Di sebelah timur bangunan stasiun terdapat sebuah depo mekanik.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025.[8]
↑PT Kereta Api Indonesia (Persero) (2019). Selayang Pandang Divre III Palembang(PDF). e-PPID PT Kereta Api Indonesia. Diarsipkan(PDF) dari versi aslinya tanggal 2020-10-26. Diakses tanggal 2020-10-23.
↑Oegema, J.J.G. de Stoomtractie op Java en Sumatra. Kloewer Technische Boeken B.V.
↑Harry Susilo, Didit Putra, Erlangga Raharjo (14 September 2010). "Senja Kala Stasiun Prabumulih". Kompas. hlm.2.Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).