Stasiun ini menjadi stasiun terminus untuk perjalanan Commuter Line yang melayani kawasan Jabodetabek. Selesai dibangun pada tahun 1881, stasiun ini awalnya menghadap ke arah timur. Namun, dengan berkembangnya layanan kereta api komuter Commuter Line yang semakin padat, pintu keberangkatan untuk penumpang Commuter Line dipindahkan ke arah barat. Sejak 17 Desember 2021, kedua pintu sama-sama dioperasikan. Stasiun ini disibukkan oleh kaum penglaju dari Bogor menuju Jakarta. Saat ini stasiun ini melayani Commuter Line Bogor dari dan tujuan Jakarta Kota.
Sejarah
Stasiun Bogor tempo doeloe
Pada awal tahun 1870-an, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij membangun stasiun di Buitenzorg sebagai bagian terakhir dari jalur kereta api Batavia–Buitenzorg yang menghubungkan Kleine Boom dengan Buitenzorg.[4] Stasiun ini dibuka untuk pertama kalinya untuk umum pada 31 Januari 1873.[5][6][7] Tidak kurang dari 40 tahun pertama, stasiun ini dikelola oleh NIS.
Tahun 1881, Staatsspoorwegen (SS) membangun Stasiun Buitenzorg yang kedua sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api Bogor—Bandung—Banjar–Kutoarjo—Yogyakarta. Pembangunan jalur kereta api ini mengharuskan adanya peran pemerintah mengingat biaya pembangunannya lebih mahal daripada pembangunan lintas datar.[8] Dengan menunjuk David Maarschalk sebagai kepala jawatan, dibangunlah jalur kereta api tahap pertama SS, yaitu pembangunan lintas selatan Jawa serta pembangunan jalur Surabaya–Pasuruan—Malang. Per 5 Oktober 1881, jalur kereta api segmen pertama, Bogor—Cicurug, telah selesai. Per tanggal 17 Mei 1884, jalur telah sampai di Bandung.[9]
Pada tahun 1913 jalur kereta api Batavia—Buitenzorg dibeli oleh SS.[10] Dahulu, sebuah lapangan luas bernama Taman Wilhelmina pernah menjadi bagian dari stasiun Bogor.[11]
Renovasi stasiun pernah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan tahun 2009. Bangunan stasiun yang bertuliskan "1881" ini, yang menghadap Jalan Nyi Raja Permas ini pernah tidak difungsikan sebagai pintu masuk stasiun untuk umum dengan pintu stasiun dipindah menghadap Jalan Mayor Oking.[11]
Setelah bertahun-tahun tidak dilayani, bangunan lama stasiun yang menghadap arah timur ini dibuka kembali pada tanggal 17 Desember 2021. Pintu timur ini menghadap Alun-alun Kota Bogor. Pintu keberangkatan sisi timur stasiun terintegrasi langsung dengan alun-alun tersebut. Untuk mendukung operasional pintu timur, KAI Commuter membangun satu kotak loket di pintu masuk, sepuluh e-gate, dan dua mesin tiket pada hall bangunan tersebut. Sejak adanya perubahan pelayanan Commuter Line di stasiun ini menjelang pertengahan 2022, kereta api Pangrango yang sebelumnya hanya melayani langsiran sempat melayani penumpang secara reguler di emplasemen bangunan lama stasiun per 1 Juni 2022, sebelum kemudian dikembalikan ke Stasiun Bogor Paledang sejak 18 Juni 2025 bersamaan dengan mulai dibukanya jembatan penghubung antara stasiun ini dan Stasiun Bogor Paledang.[12][13]
Pada tanggal 15 April 2026, dilakukan pengerjaan perpanjangan jalur 6, 7, dan 8 stasiun untuk meningkatkan kapasitas jalur-jalur tersebut supaya dapat digunakan oleh layanan kereta api komuter dengan stamformasi 12 kereta, yang mana sebelumnya ketiga jalur tersebut hanya dapat menampung rangkaian yang stamformasinya tidak lebih dari 10 kereta. Proyek tersebut mengakibatkan ketiga jalur tersebut tidak dapat digunakan untuk naik turun penumpang untuk sementara waktu sehingga dilakukan penyesuaian jadwal oleh KAI Commuter. Hingga kemudian ketiga jalur tersebut kembali dioperasikan dan melayani penaikan layanan kereta api komuter dengan stamformasi 12 kereta mulai tanggal 15 Juli 2026 dengan keberangkatan kereta pertama di pagi hari pada pukul 04.08 WIB.[14][15]
Revitalisasi kemudian berlanjut pada peron jalur 4 dan 5 stasiun yang berlangsung mulai tanggal 18 Juli 2026. Revitalisasi tersebut akan berfokus pada pengerjaan fisik penambahan kanopi (overcapping) pada peron tersebut sehingga tidak dapat digunakan sementara dan layanan dialihkan ke peron jalur lainnya, yakni peron jalur 2, 3, 6, 7, dan 8, tanpa mengubah jadwal perjalanan Commuter Line.[16]
Bangunan dan tata letak
Stasiun ini memiliki dua bangunan yang berdampingan. Bangunan utamanya adalah bangunan area masuk ke stasiun, lobi, kantor administrasi, tempat penjualan tiket, dan fasilitas lainnya. Sementara itu, bangunan keduanya adalah bangunan overcapping yang menaungi peron dan dua jalur kereta api.[4]
Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api. Jalur 3 merupakan sepur lurus jalur ganda ke arah Depok—Jakarta sekaligus sepur raya jalur tunggal arah Cianjur—Padalarang, sedangkan jalur 5 merupakan sepur lurus jalur ganda dari Depok—Jakarta.
B26
G
Bangunan utama stasiun (keberangkatan dan kedatangan)
Peron sisi, pintu terbuka di sebelah kanan kedatangan kereta dan kiri keberangkatan kereta
G
Bangunan keberangkatan dan kedatangan penumpang
Arsitektur bangunan lama stasiun
Stasiun ini kental dengan nuansa Eropa; kaya akan ornamental geometris seperti awan, kaki-kaki singa, dan relung yang terpengaruh gaya Yunani Klasik dengan unsur simetris dan serba geometris. Gaya bangunan stasiun adalah Indische Empire dengan sentuhan pintu masuk dan lobi utama bergaya Neoklasik[4]
Pada ruang VIP berdiri prasasti dari marmer setinggi 1 meter. Monumen ini sebagai simbol tanda ucapan selamat dari para karyawan SS kepada David Maarschalk yang memasuki masa pensiun atas usahanya mengembangkan jalur kereta api di Jawa. Prasasti ini dibuat sebagai pengganti patung David Maarschalk yang dulunya berada di tempat prasasti ini.[4]
Bentuk atap pelana dan gerbang melengkung pada fasad depan memberikan kesan anggun bangunan. Dindingnya berupa bata plesteran dengan guratan bergaris serta adanya mouldingcornice yang membingkai atap jurai di atasnya. Jendela dan pintu terbuat dari kayu dengan ukuran yang kuat sehingga memberikan kesan klasik bangunan. Peron stasiun dipayungi overcapping yang terbuat dari besi bergelombang yang ditopang kerangka baja.[4] Stasiun ini memiliki dua lantai yang dihubungkan dengan tangga meliuk-liuk.[4]
Saat ini, meski bangunan utama stasiun relatif tidak berubah, overcapping stasiun telah mengalami perubahan. Tritisan atap stasiun kini telah sebagian dilubangi dan dipotong, dan kerangka bajanya juga diiris sebagian di atas jalur 3 untuk mengakomodasi kabel listrik aliran atas saat layanan kereta api komuter Batavia—Buitenzorg dioperasikan. Layanan tersebut mulai beroperasi tahun 1925 untuk memperingati hari ulang tahun SS yang ke-50.[17]
Ciri khas
Seperti di Stasiun Cikampek dan Karawang, Stasiun Bogor mempunyai bel kedatangan kereta api, yaitu lagu pop Sunda, "Manuk Dadali" dan lagu tradisional, "Sabilulungan" dalam dikemas instrumental.
Layanan kereta api
Berikut ini adalah layanan kereta api yang berhenti di stasiun ini sesuai Gapeka 2025 revisi per 16 Juni 2025.[18]
Pada 30 Agustus2022, sebuah mobil angkutan umum kota (angkot) dengan nomor rute 08 jurusan Citeureup-Pasar Anyar diduga mengalami rem blong di perlintasan kereta api di Jalan Kebon Pedes di petak Bogor-Cilebut. Angkot pun tertabrak KRL Commuter Line arah Jakarta Kota dengan nomor KA 4073 hingga terguling ke pinggir rel. Beruntung sang sopir sempat berhasil keluar sebelum angkot tersebut ditabrak.[19] Akibatnya, beberapa perjalanan KRL mengalami pengalihan sehingga terjadi penumpukan penumpang di Stasiun Bogor dan sejumlah stasiun lainnya.[20]
Pada 19 April 2025, perjalanan Commuter Line Lin Bogor dengan nomor KA 1040 terkendala karena sebuah mobil yang tersangkut antara jalan dan bagian bawah mobil. Penumpang mobil pun segera keluar dan melambaikan tangan ke arah KRL tetapi KRL tetap melaju kencang karena pengikatan rem yang tidak memungkinkan mengingat jarak yang terlalu dekat. Penumpang tersebut pun berlarian meninggalkan mobil sebelum akhirnya mobil tertabrak KRL hingga menyebabkan KRL anjlok. Belum ada kepastian tentang penutupan perlintasan akibat kecelakaan tersebut.[21]
Pada 3 Mei 2025, seorang ibu hamil terpaksa melakukan persalinan di Stasiun Bogor. Ibu hamil tersebut didapati mengandung anaknya saat sudah berada di penghujung usia kehamilan dan tiba-tiba merasakan kontraksi pada pukul 19.35 WIB. Ibu tersebut sempat melakukan prosesi melahirkan sendiri di depan toilet, sebelum kemudian meminta pertolongan petugas stasiun. Anak dari ibu tersebut lahir di depan toilet stasiun pada pukul 20.30 WIB. Dalam kondisi ibu yang stabil, petugas pun mengamankan ibu dan anaknya dengan ditandu ke ruang pos kesehatan stasiun untuk diberikan perawatan dan pengamanan awal. Petugas kemudian mendampingi ibu dan anak ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi untuk mendapat perawatan lanjutan.[22]
Pada 4 Januari 2026, atap dari kanopi jalur 8 Stasiun Bogor terbakar, menghanguskan sebagian besi atap. Didapati bahwa kebakaran disebabkan oleh korsleting arus instalasi listrik, di luar jaringan Listrik Aliran Atas (LAA) untuk pelayanan KRL. Asap menyebar ke seluruh stasiun dan menyebabkan kepanikan di seluruh stasiun. Penumpang pun dievakuasi dari lokasi kejadian serta api dilakukan penanganan secara hati-hati untuk mencegak korsleting lebih lanjut serta dilakukan perbaikan oleh petugas PLN. Tidak ada korban jiwa dari kejadian tersebut.[23]
↑Sugiana, A.; Lee, Key-Seo; Lee, Kang-Soo; Hwang, Kyeong-Hwan; Kwak, Won-Kyu (2015). "Study on Interlocking System in Indonesia"(PDF). Nyeondo Hangugcheoldohaghoe Chungyehagsuldaehoe Nonmunjib (Korean Society for Railway) (46).
123456Murti Hariyadi, Ibnu; Basir, Ekawati; Pratiwi, Mungki Indriati; Ubaidi, Ella; Sukmono, Edi (2016). Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia. Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero). hlm.1–14. ISBN978-602-18839-3-8.
↑Burgerlijke Openbare Werken (1896). Statistiek van het vervoer op de spoorwegen en tramwegen met machinale beweegkracht in Nederlandsch-Indië. Batavia: Landsdrukkerij. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Reitsma, S.A. (1925). Buku Peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia Belanda. Weltevreden: Topografische Inrichting. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Untuk melihat daftar stasiun secara lengkap, dapat mengklik "(Kategori/Daftar)" pada masing-masing daerah atau pranala artikel. Templat ini meringkas daftar stasiun yang dioperasikan oleh KAI (hanya stasiun utama yang diswakelola oleh perusahaan induk) dan operator KA lainnya (hanya pranala).