*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Sigālovāda Sutta adalah teks ke-31 yang diuraikan dalam kitab Dīghanikāya ("Khotbah Panjang Buddha").[note 1] Teks ini juga dikenal sebagai Siṅgāla Sutta,[1][2]Sīgālaka Sutta,[3][4]Sīgāla Sutta,[note 2] dan Sigālovāda Suttanta.[note 3]
Khotbah ini secara khusus memuat panduan etika, moral, dan kewajiban sosial bagi umat awam (perumah tangga). Di dalamnya, Buddha menguraikan panduan untuk menjalani kehidupan bermasyarakat yang harmonis melalui penghindaran diri dari perbuatan buruk, pengenalan terhadap teman sejati, pengelolaan kekayaan yang bijak, serta pemenuhan tanggung jawab dan hubungan timbal balik dalam enam peran sosial (orang tua, guru, pasangan, teman, pekerja, dan pembimbing spiritual) yang disimbolkan sebagai enam arah mata angin.
Penafsir Buddhaghosa merujuk sutta ini sebagai "Vinaya [aturan disiplin buddhis] bagi para perumah tangga (Pali: gihi-vinaya)."[note 4]
Pada masa modern, Bhikkhu Bodhi telah mengidentifikasi sutta ini sebagai "teks Nikāya yang paling komprehensif" yang berkaitan "dengan kebahagiaan yang terlihat secara langsung di kehidupan saat ini."[1][note 5]
Ringkasan teks
Penghormatan Sigāla kepada ayahnya
Sigālovāda Sutta berlatar belakang ketika Buddha bertemu dengan seorang pemuda bernama Sigāla dalam perjalanan pagi-Nya. Pemuda tersebut, dengan pakaian yang basah kuyup, bersujud dan memuja empat arah mata angin (timur, selatan, barat, dan utara), ditambah bumi (bawah/nadir) dan langit (atas/zenit).[note 6] Ketika ditanya oleh Buddha mengapa ia melakukan hal itu, pemuda Sigāla menjawab bahwa ia telah disuruh oleh mendiang ayahnya untuk melakukannya dan ia berpikir bahwa sudah sepatutnya ia menjunjung tinggi keinginan ayahnya. Menanggapi hal tersebut, Buddha menyampaikan bahwa di ajaran-Nya juga ada "pemujaan enam arah",[5] yang disebut sebagai cara seorang mulia (Pali: ariya) seharusnya menghormati keenam arah.[6][7][8][9] Namun, sebelum menjelaskan makna versi-Nya, Buddha terlebih dahulu meletakkan fondasi perilaku moral—seperti menghindari perbuatan buruk, mencegah pemborosan kekayaan, dan mengenali teman sejati. Pada akhir khotbah-Nya, Buddha barulah mendefinisikan ulang pemujaan enam arah tersebut ke dalam praktik pelaksanaan kewajiban dan hubungan timbal balik sosial (Lihat #Menjaga tali silaturahmi).
Menghindari jalan-jalan buruk
Buddha Gotama pertama-tama mendeskripsikan empat belas jalan buruk (kejahatan) yang harus dihindari oleh seorang perumah tangga. Buddha merinci jalan-jalan buruk yang harus dihindari ini sebagai:[6][7][8][9]
Kemudian, Buddha Gotama menguraikan pentingnya memiliki dan menjadi teman sejati. Beliau mendeskripsikan seperti apa teman sejati itu, apa yang bukan teman sejati, dan bagaimana teman sejati akan membantu seseorang dalam mencapai kehidupan yang bahagia. Dalam uraian-Nya, Buddha merinci empat jenis teman palsu (Pali: mitta-patirūpaka, musuh berkedok teman) dan empat jenis teman sejati (Pali: suhada-mitta, teman yang berhati tulus).[17]
Empat jenis teman palsu
Berdasarkan empat alasan untuk setiap jenis teman palsu, orang-orang ini patut dianggap sebagai musuh berkedok teman. Empat jenis teman palsu tersebut adalah sebagai berikut:
Menjadi kawanmu saat mabuk-mabukan (surāmerayamajjappamādaṭṭhānānuyoge sahāyo hoti)
Menjadi kawanmu saat berkeliaran di jalan pada waktu yang tidak pantas (vikālavisikhācariyānuyoge sahāyo hoti)
Menjadi kawanmu saat menonton pertunjukan dan hiburan (samajjābhicaraṇe sahāyo hoti)
Menjadi kawanmu saat kamu tergila-gila pada perjudian (jūtappamādaṭṭhānānuyoge sahāyo hoti)
Empat jenis teman sejati
Berdasarkan empat alasan untuk setiap jenis teman sejati, orang-orang ini patut dianggap sebagai teman yang berhati tulus. Empat jenis teman sejati tersebut adalah sebagai berikut:
Tidak senang atas kegagalanmu (abhavenassa na nandati)
Ikut senang atas keberhasilanmu (bhavenassa nandati)
Menahan orang yang mengucapkan celaan tentangmu (avaṇṇaṁ bhaṇamānaṁ nivāreti)
Memuji orang yang mengucapkan pujian tentangmu (vaṇṇaṁ bhaṇamānaṁ pasaṁsati)
Pengelolaan kekayaan
Sebelum menguraikan kewajiban terhadap enam arah, Buddha juga mengajarkan cara bijak mengelola kekayaan yang telah terhimpun. Kekayaan hendaknya dibagi menjadi empat bagian:
satu bagian untuk kebutuhan sehari-hari,
dua bagian diinvestasikan kembali dalam usaha, dan
satu bagian disimpan sebagai cadangan untuk kebutuhan mendesak.[26][note 12]
Menjaga tali silaturahmi
Kembali ke topik enam arah, Buddha mendeskripsikan (mendefinisikan ulang) "Pemujaan Enam Arah" sebagai penghormatan terhadap:
ibu dan ayah sebagai arah timur (puratthimā disā mātāpitaro veditabbā),
tutor/guru sebagai arah selatan (dakkhiṇā disā ācariyā veditabbā),
pasangan[note 13] dan anak-anak sebagai arah barat (pacchimā disā puttadārā veditabbā),
teman dan kolega sebagai arah utara (uttarā disā mittāmaccā veditabbā),
pelayan dan pekerja sebagai arah zenit/bawah (heṭṭhimā disā dāsakammakarā veditabbā),
petapa dan brahmana sebagai arah nadir/atas (uparimā disā samaṇabrāhmaṇā veditabbā).
Kemudian, Beliau menguraikan tentang cara-cara menghormati dan mendukung mereka, serta cara-cara keenam pihak tersebut akan membalas kebaikan dan dukungan yang telah diterima. Komitmen perumah tangga dan tindakan timbal balik dari mereka yang dihormatinya, sebagaimana diidentifikasi oleh Buddha, direpresentasikan di bawah ini sesuai dengan empat arah pada bidang horizontal (timur, selatan, barat, dan utara):[6][7][8][9]
Utara TEMAN & KOLEGA
komitmen
tindakan timbal balik
• kemurahan hati (dānena)
• kata-kata baik (peyyavajjena)
• saling membantu (atthacariyāya)
• senasib sepenanggungan (samānattatāya)
• tidak ada tipu daya (avisaṃvādanatāya)
• menjagamu saat lengah (pamattaṃ rakkhanti)
• melindungi hartamu saat lengah (pamattassa sāpateyyaṃ rakkhanti)
• memberimu tempat berlindung (bhītassa saraṇaṃ honti)
• tidak meninggalkanmu saat susah (āpadāsu na vijahanti)
• mengatur kewajibannya dengan baik (susaṃvihitakammantā)
• ramah terhadap kerabat (saṅgahitaparijanā)
• setia kepadamu (anaticārinī)
• menjaga penghasilan (sambhatañca anurakkhati)
• terampil dan tidak malas (dakkhā ca analasā)
Timur IBU & AYAH
komitmen
tindakan timbal balik
• menopang mereka (bharissāmi)
• memenuhi kewajiban mereka (kiccaṃ nesaṃ karissāmi)
• menjaga tradisi keluarga (kulavaṃsaṃ ṭhapessāmi)
• memantaskan diri atas warisan (dāyajjaṃ paṭipajjāmi)
• mempersembahkan jasa setelah mereka tiada (petānaṃ kālaṅkatānaṃ dakkhiṇaṃ anuppadassāmi)
• mencegahmu dari kejahatan (pāpā nivārenti)
• mengarahkanmu pada kebaikan (kalyāṇe nivesenti)
• mengajarkan keterampilan (sippaṃ sikkhāpenti)
• mencarikan jodoh yang sesuai (patirūpena dārena saṃyojenti)
• menyerahkan warisan (dāyajjaṃ niyyādenti)
Selatan TUTOR/GURU
komitmen
tindakan timbal balik
• bangkit menyambut mereka (uṭṭhānena)
• melayani mereka (upaṭṭhānena)
• semangat untuk belajar (sussūsāya)
• memberikan pelayanan pribadi (pāricariyāya)
• menerima ajaran dengan saksama (sakkaccaṃ sippapaṭiggahaṇena)
• melatihmu dengan baik (suvinītaṃ vinenti)
• memastikan pemahamanmu (suggahītaṃ gāhāpenti)
• mengajarkan seluruh ilmu keahliannya (sabbasippassutaṃ samakkhāyino)
• memperkenalkan pada teman-temannya (mittāmaccesu paṭiyādenti)
• melindungimu di segala penjuru (disāsu parittāṇaṃ karonti)
Selanjutnya, bagian berikut ini adalah komitmen dan tindakan timbal balik untuk dua arah vertikal, yaitu pelayan dan pekerja (mewakili arah nadir/bawah), dan petapa dan brahmana (mewakili arah zenit/atas).
• perbuatan jasmani yang penuh kasih (mettena kāyakammena)
• ucapan yang penuh kasih (mettena vacīkammena)
• pikiran yang penuh kasih (mettena manokammena)
• menyambutnya dengan pintu terbuka (anāvaṭadvāratāya)
• menyediakan kebutuhan jasmani (āmisānuppadānena)
• mencegahmu dari kejahatan (pāpā nivārenti)
• mengarahkanmu pada kebaikan (kalyāṇe nivesenti)
• mengasihimu dengan batin yang baik (kalyāṇena manasā anukampanti)
• mengajarkan hal yang belum pernah didengar (assutaṃ sāventi)
• memperjelas apa yang pernah didengar (sutaṃ pariyodāpenti)
• menunjukkan jalan menuju surga (saggassa maggaṃ ācikkhanti)
Penutup khotbah
Pada akhir khotbah, setelah mendengarkan seluruh uraian tersebut, pemuda Sigāla, yang sebelumnya merupakan penganut Brahmanisme, menyatakan dirinya sebagai pengikut Buddha.[27]
Komentar kontemporer
Bhikkhu Bodhi telah membandingkan pernyataan tanggung jawab-timbal balik yang diajarkan Sang Buddha[note 14] dengan teori sosial modern, dengan menyatakan:
Praktik 'memuja enam penjuru' ini, sebagaimana dijelaskan oleh Sang Buddha, mengandaikan bahwa masyarakat ditopang oleh jaringan hubungan yang saling terkait, yang menghadirkan keselarasan bagi tatanan sosial ketika para anggotanya memenuhi kewajiban dan tanggung jawab timbal balik mereka dalam semangat kebaikan, simpati, dan niat baik. ... Dengan demikian, bagi Buddhisme Awal, stabilitas dan keamanan sosial yang diperlukan bagi kebahagiaan dan pemenuhan diri manusia dicapai bukan melalui tuntutan 'hak' yang agresif dan berpotensi mengganggu yang diajukan oleh kelompok-kelompok yang bersaing, melainkan melalui pelepasan kepentingan diri dan pengembangan kepedulian yang tulus dan berjiwa besar terhadap kesejahteraan orang lain serta kebaikan khalayak yang lebih luas.[28]
↑Terjemahan lengkap bahasa Inggris dari sutta ini termasuk Kelly, Sawyer & Yareham 2005, Narada 1996, dan Walshe 1995, hlm.461–69. Bodhi 2005, hlm.116–18 menyediakan kutipan terjemahan bahasa Inggris tanpa menyertakan ajaran Buddha mengenai "empat belas cara buruk" dan tentang teman. Versi Pali yang diromanisasi dari sutta lengkap ini dapat ditemukan di Metta.lk atau dalam versi cetak di D.iii.180ff.
↑Lihat edisi SLTP Sinhala yang tersedia dari "MettaNet" di Metta.lk dan dari "Bodhgaya News" di Bodhgayanews.net.
↑Walshe 1995, hlm.612 catatan kaki 972 mencatat bahwa judul alternatif ini digunakan oleh Rhys Davids.
↑Julukan ini, "Vinaya-nya Perumah Tangga" (gihi-vinaya) dikaitkan dengan Buddhaghosa dalam Narada 1995. Julukan ini juga disebutkan di Bodhi 2005, hlm.109, Hinüber 2000, hlm.31, dan Law 1932–33, hlm.85, tanpa atribusi secara eksplisit.
↑Bodhi 2005, hlm.108–09 mempertahankan pandangan bahwa komentar-komentar Pali mengidentifikasi tiga manfaat dari ajaran Buddha: (1) kebahagiaan di kehidupan saat ini; (2) kebahagiaan di kehidupan selanjutnya; dan (3) Nibbāna. Beliau lebih lanjut menulis bahwa para cendekiawan buddhis Barat kerap lebih menekankan manfaat ketiga, padahal ketiga-tiganya diperlukan untuk merepresentasikan ajaran-ajaran Buddha secara berimbang.
↑Untuk gambaran mengenai praktik pemujaan arah mata angin pra-Buddhisme ini, lihat artikel Dikpala.
↑Perhatikan bahwa ini merupakan empat sila pertama dari Pañcasīla. Sila kelima (berpantang dari penggunaan minuman keras, minuman beralkohol, atau zat-zat memabukkan yang menyebabkan kelengahan) disebutkan belakangan dalam sutta ini.
↑Landasan etis untuk menghindari keempat kekotoran ini dijelaskan dalam Veḷudvāreyya Sutta (SN 55.7) melalui metode refleksi timbal balik: seorang siswa mulia merenungkan bahwa apa yang tidak menyenangkan bagi dirinya juga tidak menyenangkan bagi orang lain, sehingga ia tidak akan melakukan hal tersebut kepada orang lain.
↑Segera setelah syair awal yang mengidentifikasi empat kekotoran, empat kekotoran tersebut diulangi dengan "perilaku seksual yang salah" (kāmesu micchācāro) digantikan oleh tindakan buruk yang lebih spesifik, yaitu "berhubungan dengan pasangan orang lain" (pāradāragamanañceva).
↑Istilah Pali yang digunakan dalam naskah asli Sigālovāda Sutta adalah vikālavisikhācariyānuyoga. Kata vikāla secara harfiah berarti "waktu yang tidak tepat" atau "waktu yang salah". Menurut The Pali Text Society's Pali-English Dictionary, dalam konteks kebiasaan umat awam, istilah ini merujuk secara spesifik pada praktik berkeliaran di jalanan ketika sudah malam atau larut malam, yaitu waktu ketika orang-orang pada umumnya sedang beristirahat di rumah.
↑Istilah Pali di sini dari edisi Konsili Keenam Burma (CSCD). Edisi PTS menuliskan kva sebagai kuvaṃ.
↑Perincian lebih lanjut tentang pengelolaan kekayaan ini ditemukan dalam Vyagghapajja Sutta atau Dīghajāṇu Sutta (AN 8.54), yang menggambarkan "kehidupan seimbang" (sama jīvitā) sebagai kondisi ketika pengeluaran tidak melampaui pemasukan.
↑Dalam Tripitaka Pali, "perumah tangga" merujuk pada laki-laki dan oleh karenanya, dalam konteks hubungan pernikahan, sutta ini secara langsung ditujukan kepada para suami. Untuk sutta yang secara langsung ditujukan kepada para istri, lihat AN 8.49 (terjemahan bahasa Inggrisnya dapat ditemukan di Bodhi 2005, hlm.128–30).
↑Penggambaran Buddha tentang interaksi sosial dalam urutan tanggung jawab-timbal balik ini dalam satu sisi mencerminkan wawasan fenomenologis sentralnya tentang Kemunculan Bergantungan.
Sasanaputra, Albert Kumala, S.Ag., M.Pd. (2007). P.My. Giriputra (ed.). Budi Pekerti dan HAM dalam Pendidikan Agama Buddha. SMP Kelas IX (dalam bahasa Indonesia). Mandiri Publication House. hlm.8–9, 11. ISBN979-24-1107-0. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha (1991). "Samaggi-phala: Tipitaka: Sigalovadda Sutta". Badan Penerbit Ariya Surya Chandra. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-07-22. Diakses tanggal 2010-06-03.