Sang Hyang Widhi,[a] disebut pula Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Tunggal adalah sebutan bagi Tuhan dalam kepercayaan darma―khususnya Hinduisme Nusantara―masyarakat Bali dan Jawa. Dalam konsep Hinduisme Nusantara, Sang Hyang Widhi dikaitkan dengan konsep Brahman dan Acintya yang disebutkan dalam sastra HinduWeda dan Upanishad. Dalam bahasa Sanskerta, Brahman adalah realitas sejati yang menyebabkan terjadinya segala macam fenomena,[1][2] sedangkan acintya memiliki arti 'Yang tak terpikirkan', 'Yang tak dapat dipahami', atau 'Yang tak dapat dibayangkan'.[3]
Etimologi
Nama Sang Hyang Widhi Wasa mengandung unsur-unsur kata dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Kata Hyang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang sering dipakai untuk menyebut makhluk gaib atau entitas supranatural.[4] Apabila didahului dengan gelar Sang, maka istilah Sang Hyang dipakai sebagai gelar kehormatan yang mengacu kepada dewa-dewi atau makhluk gaib yang disucikan.[5] Sebagai contoh, Sang Hyang Siwa digunakan untuk menyebut Dewa Siwa. Sedangkan kata Widhi (juga dieja Widi) berasal dari bahasa Bali yang dahulu bermakna nasib, keberuntungan, atau pengetahuan,[6] tetapi juga dapat dimaknai sebagai peraturan, hukum, atau keseimbangan alam semesta.[7]Wasa adalah kata dalam bahasa Bali yang diserap dari bahasa Jawa Kuno waśa, yang berakar dari bahasa Sanskerta vaśa (वश), artinya kekuatan atau kekuasaan.[8] Dalam bahasa Indonesia, Jawa dan Bali, istilah "Sang Hyang Tunggal" juga sepadan dengan "Tuhan Yang Maha Esa", karena tunggal bermakna "satu-satunya".[9]
Dalam kepercayaan tradisional Indonesia di pulau Jawa dan Bali, "Hyang" merupakan sebutan untuk entitas gaib yang memiliki kekuatan supranatural.[4] Orang-orang Indonesia umumnya mengenal kata ini sebagai penyebutan untuk 'penyebab keindahan', 'penyebab semua ini ada (pencipta)', 'penyebab dari semua yang dapat disaksikan', atau secara sederhana disebut "Tuhan".[5]
Dalam agama Hindu Bali, Sang Hyang Widhi dimaknai sebagai entitas yang tidak berwujud, kekal, dan di luar jangkauan pemahaman manusia. Ia sudah ada sebelum penciptaan alam semesta dan diyakini sebagai asal mula, pemelihara, dan pelebur alam semesta. Seluruh dewa, makhluk gaib, dan gaya semesta ditafsirkan sebagai perwujudan atau pancaran kekuatan dari entitas tersebut.[6]
Jean Couteau, seorang antropologPrancis yang meneliti Bali berpendapat bahwa meskipun ada banyak dewa-dewi lokal yang disembah oleh umat Hindu Bali, para dewa-dewi tersebut lambat laun diyakini sebagai manifestasi (perwujudan) dari Sang Hyang Widi. Dia menilai bahwa "ada perjalanan panjang menuju konsep monoteisme, yang makin diwarnai oleh reformisme [konsep] Hindu India."[7] Eiseman, dalam buku Bali, Sekala dan Nisakala (1989) mendeskripsikan Sang Hyang Widi sebagai "penyatuan seluruh wujud dewa-dewi menjadi satu Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa, yang kira-kira setara dengan konsep Tuhan dalam agama Kristen dan Allah dalam Islam".[6]
Penggunaan istilah
Pada zaman dahulu, istilah Sang Hyang Widhi Wasa hanya diketahui oleh segelintir kaum cendekia saja. Kemudian istilah tersebut dipakai oleh para misionarisKristen di Bali yang berupaya menerjemahkan konsep Tuhan yang Maha Esa menggunakan nama yang tidak berkesan India (Sanskerta). Akhirnya istilah itu diperkenalkan sebagai nama Tuhan pada tahun 1920-an oleh para reformator pertama tradisi keagamaan Bali.[7]
Pada tahun 1950-an, konsep Sang Hyang Widhi Wasa digaungkan oleh para pemuka agama tradisional Bali untuk menegaskan paham monoteistikHinduisme ala Bali guna memenuhi persyaratan untuk diakui sebagai agama resmi oleh Kementerian Agama di Indonesia. Masyarakat adat Bali memulai serangkaian inisiatif pertukaran pelajar dan budaya antara Bali dan India untuk membantu merumuskan prinsip-prinsip pokok yang mendasari ajaran Hindu Bali. Secara khusus, gerakan penentuan nasib sendiri di Bali pada pertengahan tahun 1950-an akhirnya mengeluarkan keputusan bersama tahun 1958 yang menuntut pemerintah Indonesia untuk mengakui Hindu Dharma. Keputusan bersama ini mengutip slokaSanskerta dari kitab suci Hindu:
Om tat sat ekam eva advitiyam Terjemahan: Om, Tuhan adalah kebenaran abadi, hanya satu, tidak ada duanya.
—Keputusan Bersama Umat Hindu Bali (14 Juni 1958).[16]
Keputusan yang berfokus pada konsep "Yang Maha Esa" bertujuan untuk memenuhi persyaratan konstitusional bahwa warga negara Indonesia harus memiliki keyakinan monoteistik kepada satu Tuhan, dan "Ida Sanghyang Widhi Wasa" disembah sebagai Tuhan Yang Maha Esa oleh umat Hindu Bali. Dalam bahasa Bali, Sang Hyang Widhi memiliki dua arti: "Tuhan Penguasa Alam Semesta" dan "Hukum Alam Semesta". Arti pertama digunakan untuk memenuhi persyaratan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, sementara arti kedua demi melestarikan konsep darma menurut pustaka Hindu.[16]
123Buvelot, Eric; Couteau, Jean; Darling, Diana (2022). Bali, 50 years of changes: a conversation with Jean Couteau. Carindale, Queensland: Glass House Books. ISBN978-1-922332-90-5.